
Usai membantu Anna membersihkan diri dan berganti pakaian, Bayan pun pergi ke dapur karena ingin membuatkan nasi goreng untuk istrinya.
Semerbak aroma bumbu menguar ke seluruh penjuru rumah dan menyapa hidung Nathan yang masih terjaga itu. Nathan pun bergegas menyusul ke dapur untuk melihat apa yang dilakukan ayahnya.
"Lagi ngapain Yah ?" tanya Nathan.
"Lagi masak nasi goreng. Kamu mau Nath ?" tanya Bayan sambil mengaduk nasi.
"Ga Yah, masih kenyang. Kenapa bikin nasi goreng, bukannya tadi Ayah udah makan malam ?" tanya Nathan.
"Abis olah raga malam Nath, makanya jadi lapar," sahut Bayan sambil tersenyum penuh makna.
Ucapan Bayan membuat pikiran Nathan melanglang buana entah kemana. Sesaat kemudian wajahnya pun merona karena paham apa maksud ucapan ayahnya itu.
Nathan bersiap meninggalkan ayahnya namun urung karena Bayan memanggilnya.
"Nathan ...!" panggil Bayan.
"Iya, ada apa Yah ?" tanya Nathan.
"Ayah mau bicara serius sama Kamu. Harus sekarang karena ini penting," kata Bayan sambil mematikan kompor.
"Tentang apa Yah ?" tanya Nathan.
"Tentang ... Arafah," sahut Bayan ragu hingga membuat Nathan mengerutkan keningnya karena curiga.
"Arafah kenapa Yah ?" tanya Nathan setelah terdiam sejenak.
Bayan menghela nafas panjang lalu menarik kursi dan duduk. Ia nampak berpikir sejenak sebelum menyampaikan uneg-unegnya.
"Arafah ... dia ...," Bayan menggantung ucapannya hingga membuat Nathan makin penasaran.
__ADS_1
"Arafah kenapa Yah ?. Apa sakitnya serius ?" tanya Nathan karena ingat Arafah baru saja keluar dari Rumah Sakit.
Bayan menggeleng lalu menatap Nathan lekat.
"Ternyata Arafah juga memiliki darah siluman kuyang dalam dirinya," sahut Bayan lirih.
"Apa ...?!" kata Nathan tak percaya.
"Ayah juga awalnya ga percaya. Tapi akhirnya Ayah yakin Arafah juga menanggung kutukan itu setelah melihat tanda tak biasa dalam dirinya," kata Bayan gusar.
Kemudian Bayan menceritakan apa yang ia temukan pada diri Arafah. Sambil bercerita Bayan meletakkan nasi goreng yang dimasaknya tadi ke atas piring. Nathan mendengarkan sambil sesekali mengusap wajahnya dengan kasar. Ada air mengambang di kedua matanya pertanda pria itu sangat terpukul mendengar berita itu.
"Terus Kita harus gimana Yah. Apa Bang Fikri tau kalo Anaknya juga siluman ?" tanya Nathan hati-hati.
"Fikri belum tau soal ini. Ayah pikir ada baiknya dia ga usah tau karena itu bakal bikin dia shock nanti. Mengetahui Ibunya jadi siluman kuyang aja udah bikin dia terpukul. Ayah khawatir dia jadi gila kalo tau Anaknya juga memiliki darah siluman itu," sahut Bayan cemas.
"Ayah betul. Aku setuju sama Ayah, Bang Fikri emang ga perlu tau soal ini. Terus gimana Yah, Kita harus melakukan apa sama Arafah untuk meredam hasrat silumannya itu ?" tanya Nathan.
"Ayah udah punya satu cara pamungkas. Terpaksa Ayah lakukan supaya dia ga makin besar dan menggila nanti," sahut Bayan.
"Ayah belum bisa cerita sekarang Nath. Ayah cuma mau ngasih tau Kamu dan minta Kamu untuk membantu mengawasi Arafah. Sekarang Ayah harus nganterin ini ke kamar. Kasian Ibumu kelelahan dan butuh asupan makanan untuk mengembalikan staminanya," sahut Bayan sambil berlalu meninggalkan Nathan seorang diri.
Nathan menganga tak percaya mendengar jawaban ayahnya. Bagaimana pun Nathan adalah pria dewasa yang paham maksud dari ucapan ambigu sang ayah.
Sambil menggelengkan kepala Nathan pun memadamkan lampu dapur dan ruang makan. Setelahnya ia melangkah menuju ke kamarnya untuk istirahat.
\=\=\=\=\=
Sejak mengetahui Arafah juga memiliki darah siluman dalam dirinya, sejak saat itu lah Nathan dan Bayan menjadi over protektif. Mereka cenderung menjauhkan Arafah dari jangkauan anak lain yang sebaya dengannya.
Seperti sore itu. Bayan sengaja membawa Arafah pulang dengan cara menggendongnya. Tentu saja Arafah menangis keras. Itu karena Arafah sedang bermain bersama teman-teman sebayanya di jalan depan rumah. Mereka adalah anak-anak kecil berusia balita dan bayi-bayi yang diasuh oleh pengasuh masing-masing.
__ADS_1
Sikap protektif Bayan membuat Fikri dan istrinya tak nyaman. Namun saat Bayan menjelaskan jika yang ia lakukan adalah demi kebaikan Arafah, mereka pun mengerti.
"Kita tau kalo diagnosa dokter atas penyakit yang diidap Arafah kan belum keluar. Dokter cuma bilang Arafah sehat, itu aja. Tapi Ayah justru curiga kalo Arafah mengidap penyakit berbahaya. Bisa jadi dokter masih ragu ngasih tau Kamu karena hasil akhirnya juga meragukan. Nah untuk berjaga-jaga, ada baiknya Kita usahakan Arafah bermain yang aman aja. Hindari dari benturan atau jatuh karena Anak seusia Arafah kan lagi senang berlari," kata Bayan sore itu.
Fikri dan Ayu saling menatap sejenak kemudian mengangguk setuju.
"Iya Yah," sahut Fikri dan Ayu bersamaan.
Bayan tersenyum lega mendengar jawaban Fikri dan istrinya.
Sesungguhnya Bayan sengaja menjauhkan Arafah dari lingkungan anak-anak seusianya karena Bayan ingin melindungi mereka. Bayan khawatir Arafah tak bisa menguasai diri lalu menyerang teman sebayanya itu. Bagaimana pun juga Arafah belum bisa mengendalikan hasrat membunuh dalam dirinya layaknya orang dewasa.
Dengan sigap Ayu meraih Arafah dari gendongan Bayan lalu membawanya masuk ke dalam rumah. Masih terdengar jerit tangis Arafah di dalam sana. Beberapa saat kemudian tangis Arafah tak lagi terdengar. Rupanya Anna berhasil membujuk balita itu hingga berhenti menangis. Dan kini Anna nampak menggendong Arafah sambil memperlihatkan beberapa jenis ikan hias kesayangan Nathan di dalam aquarium. Gadis cilik itu tampak tertawa bahagia hingga membuat Anna dan Ayu ikut tertawa.
Bayan pun menatap Arafah dengan tatapan iba. Ia tahu jika Arafah ingin bermain. Tapi ia juga tak ingin Arafah memangsa temannya tanpa dia sadari.
"Ayah ...," panggil Fikri.
"Iya, kenapa Fik ?" tanya Bayan.
"Kenapa Ayah ngeliatin Arafah kaya gitu. Apa ada sesuatu yang Ayah sembunyikan ?" tanya Fikri.
"Ga ada. Ayah cuma kasian sama Arafah. Gadis sekecil dan semanis itu harus ngidap penyakit yang mungkin belum ada obatnya," sahut Bayan jujur.
"Jadi Ayah tau kalo Arafah mengidap penyakit berbahaya. Penyakit apa Yah ?. Kenapa ga ada obatnya. Dan kenapa Ayah ga bilang sama Aku ?" desak Fikri.
"Ayah cuma nebak aja Fik. Feeling Ayah bilang penyakit Arafah itu belum ada obatnya. Makanya Ayah bilang gitu tadi," sahut Bayan sambil berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.
Fikri terdiam sambil menatap Arafah lekat. Jauh di lubuk hatinya Fikri berharap jika penyakit yang diidap Arafah bukan penyakit mematikan apalagi penyakit kutukan yang diturunkan oleh Mak Ejah sebagai neneknya.
Namun harapan Fikri nampaknya hanya tinggal harapan. Perlahan namun pasti Bayan menemukan perubahan pada sosok Arafah, sang balita cantik yang menggemaskan itu.
__ADS_1
Dan nampaknya Bayan harus segera bertindak untuk mengantisipasi agar darah siluman dalam diri Arafah tak berkembang cepat hingga membahayakan Arafah dan orang-orang di sekitar mereka.
\=\=\=\=\=