
Berita tentang kematian Ira pun sampai di telinga Nathan. Meski pun hubungannya dengan Ira telah lama berakhir, namun ternyata Nathan masih merasa sedih saat mendengar berita itu.
Nathan menangis diam-diam saat menerima kabar yang disampaikan melalui sambungan telepon itu.
"Ada berita ga enak nih Nath," kata Ferdi dari seberang telephon.
"Berita apaan ?" tanya Nathan sambil mengerutkan keningnya.
"Ira meninggal Nath," sahut Ferdi.
"Inna Lillahi wainna ilaihi roji'uun ...," kata Nathan dengan suara bergetar.
Untuk sejenak Ferdi terdiam karena bingung bagaimana menyampaikan kondisi terakhir Ira. Meski Ferdi tahu Ira hanya mantan kekasih, tapi ia yakin Nathan masih menyayangi gadis itu.
"Nathan ..., Lo masih di sana kan ?" panggil Ferdi hati-hati.
"Iya Fer. Terus kalo boleh tau, apa penyebab Ira meninggal Fer ?" tanya Nathan setelah berhasil menguasai diri.
"Mmm ... kayanya susah kalo diomongin lewat telepon Nath. Gimana kalo Kita ketemuan aja ?" tanya Ferdi.
Nathan pun setuju. Kemudian dia dan Ferdi mengatur pertemuan agar bisa lebih leluasa bicara banyak hal. Dan sore harinya mereka telah duduk berhadapan di sebuah kafe.
Setelah memesan dua cangkir kopi, Ferdi pun menceritakan apa yang terjadi pada Ira. Nathan tampak mendengarkan dengan serius tanpa menjedanya sekali pun. Sesekali Nathan nampak mengusap wajahnya seolah tak percaya jika wanita yang pernah sangat ia sayangi adalah sosok wanita jelmaan kuyang.
Dan saat Ferdi menceritakan jasad Ira yang tanpa kepala itu, Nathan nampak bergidik sambil memejamkan mata karena ngeri. Bayangan saat kepala Ira kembali menyatu dengan tubuhnya setelah berhasil mendapatkan mangsa di luar sana pun melintas dan itu membuat Nathan tak nyaman.
"Jadi sekarang jasadnya masih ada di Rumah Sakit ?" tanya Nathan setelah terdiam beberapa saat.
"Iya. Tapi Gue denger sore atau malam ini bakal dikembalikan ke pihak keluarga. Dan rencananya bakal dimakamin besok," sahut Ferdi.
__ADS_1
"Berarti jasadnya udah busuk dong," kata Nathan.
"Ga mungkin lah. Kan di Rumah Sakit dikasih obat biar jasadnya ga cepet busuk. Apalagi jasadnya juga harus diautopsi untuk mencari penyebab kematiannya. Gimana, Lo mau ikut makamin Ira ga ?" tanya Ferdi.
"Insya Allah Gue ikut. Sekalian mau takziah ke Ibu kost," sahut Nathan cepat.
"Bagus. Gue seneng karena Lo bisa menyikapi ini dengan dewasa Nath," kata Ferdi sambil tersenyum.
"Harus lah. Bagaimana pun Gue dan Ira sempet deket dan pernah punya keinginan buat bersama sampe tua. Yah, walau akhirnya harus putus karena emang ga jodoh," kata Nathan sambil tersenyum getir.
Ferdi mengangguk. Walau ia penasaran mengapa hubungan Nathan dan Ira berakhir, namun Ferdi sangat menghargai privacy Nathan. Ia tak mencoba mengorek lebih dalam lagi rahasia yang disimpan Nathan. Ferdi menduga jika Nathan telah mengetahui jati diri Ira yang sesungguhnya hingga memutuskan pergi meninggalkan Ira dulu.
\=\=\=\=\=
Keesokan harinya Nathan pun datang bertakziah ke rumah duka. Nathan juga ikut serta mengantar Ira ke pemakaman.
Nathan pun bergegas menemui orangtua Ira yang masih menangis di samping peti berisi jasad Ira. Rupanya pihak Rumah Sakit memulangkan jasad Ira dalam kondisi terbungkus peti sesuai prosedur. Apalagi saat itu kepala Ira belum berhasil ditemukan. Jadi bisa dipastikan jika jasad Ira akan dimakamkan tanpa kepala.
"Maafin Ira ya Mas Nathan ...," kata ibu Ira di sela tangisnya saat Nathan datang mendekat.
"Iya Bu. Saya udah lama maafin Ira. Saya juga minta maaf karena ga bisa memenuhi keinginan Ibu dulu," sahut Nathan lirih.
Ternyata sebelumnya ibu Ira sempat meminta Nathan untuk menjadi menantunya. Saat itu ibu Ira merasa Nathan adalah pria yang tepat untuk mendampingi Ira. Ibu Ira juga percaya Nathan adalah orang yang amanah dan mampu mengolah semua harta yang akan ia wariskan pada Ira kelak. Dan saat Nathan memilih mengakhiri hubungan lalu pergi menjauh, ibu Ira sangat kecewa.
"Gapapa Mas. Sekarang Saya ngerti kenapa Kamu menolak menikahi Ira dulu. Siapa sih yang mau punya Istri siluman ?. Andai Saya tau sejak awal kalo Ira itu titisan siluman, Saya juga ga akan membawa Ira ke rumah ini dan mengadopsinya," kata ibu Ira sambil mengusap matanya yang basah.
"Sabar Bu. Jangan sesali apa yang udah Ibu lakukan. Bagaimana pun Ira pernah mengisi hari-hari Ibu dan Bapak dengan kebahagiaan. Lupakan Ira sebagai titisan siluman, tapi kenang dia sebagai Anak yang manis. Saya yakin, Ira juga ga mau dilahirkan sebagai titisan siluman. Jadi tolong jangan membenci Ira karena sesuatu yang ga dia sadari," kata Nathan bijak.
Ucapan Nathan membuat kedua orangtua Ira tersentak kaget. Bak mendapat oase di Padang pasir, kedua orangtua angkat Ira itu saling menatap sejenak lalu tersenyum. Bahkan sesaat kemudian ayah Ira nampak menghambur memeluk Nathan.
__ADS_1
"Kamu benar Mas. Kenapa Kami ga berpikir seperti ini sebelumnya. Kami terlanjur hanyut sama opini orang yang menyudutkan Ira hingga tak menyadari kebaikan yang pernah Ira lakukan untuk Kami. Harusnya Kami bisa bersikap bijak seperti Mas Nathan dengan mengenang Ira sebagai Anak yang manis dan menyenangkan. Makasih Mas Nathan. Makasih karena udah datang dan mengingatkan Kami," kata ayah Ira sambil mengusap punggung Nathan lembut.
"Sama-sama Pak," sahut Nathan sambil tersenyum saat ayah Ira mengurai pelukannya.
Setelah mendengar petuah bijak dari Nathan, kedua orangtua Ira terlihat jauh lebih tenang seolah punya kekuatan baru untuk menghadapi semuanya. Mereka nampak lebih siap melepas kepergian Ira termasuk menghadapi gosip panas yang menyertainya.
"Ayo Bu, bangun dan cuci mukamu sana. Kita harus siap-siap nganterin Ira ke tempat peristirahatan terakhirnya !" kata ayah Ira.
"Iya Yah !" sahut ibu Ira sambil berusaha bangkit.
"Kalo bisa dandan yang cantik ya Bu biar Ira senang. Kan selama ini Ira selalu protes kalo Ibu ga dandan," kata ayah Ira saat sang istri hendak naik ke lantai atas.
"Ga mungkin Ibu dandan di saat berduka kaya gini Yah. Nanti apa kata orang," sahut ibu Ira.
"Iya juga sih. Ya udah gapapa, tapi Ibu ganti baju ya biar ga keliatan kusut," pinta ayah Ira.
"Ayah juga dong. Kan Ira juga ga suka ngeliat Ayah pake baju yang sama dalam waktu lama," sahut ibu Ira sambil tersenyum.
Ayah Ira mengangguk. Seulas senyum nampak terlihat di wajah lelahnya itu. Nathan pun menghela nafas lega karena berhasil membuat kedua orangtua Ira kembali tersenyum setelah beberapa hari dirundung duka.
Tak lama kemudian iring-iringan mobil nampak bergerak meninggalkan rumah orangtua Ira. Nathan, Ferdi, Mario dan teman-teman mereka ada di dalam rombongan.
Saat mobil melintas di depan rumah orangtua Yulia, Nathan pun menoleh. Ia menatap rumah yang kini tak berpenghuni itu dengan tatapan nanar.
Bagaimana tidak. Nathan melihat sosok benda bulat berwarna hitam tengah melayang-layang di dalam rumah Yulia. Dan Nathan membeku saat menyadari jika benda bulat berwarna hitam itu adalah kepala Ira yang telah dibakar oleh ayah Yulia.
"Sekali siluman ya tetap siluman. Meski pun jasadnya udah mati, toh kepalanya masih hidup walau ga bisa keluar dari rumah itu," batin Nathan gusar.
\=\=\=\=\=
__ADS_1