Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
114. Mau Ngejar Maling


__ADS_3

Malam itu mak Ejah harus sedikit bersabar. Ia tak bisa melancarkan aksinya karena Usman masih bertahan di teras rumah sambil menunggu hujan reda.


Meski hanya gerimis tapi bisa membuat basah kuyup. Apalagi jarak rumah kontrakan yang ditempati mak Ejah dengan jalan raya lumayan jauh. Selain itu mak Ejah tak memiliki payung. Mak Ejah pikir tak perlu beli banyak perabot karena tak kan lama tinggal di sana. Untuk meminjam pada tetangga pun rasanya sungkan.


"Saya pulang sekarang aja ya Mak," kata Usman tiba-tiba.


"Tapi kan masih gerimis Man. Kalo Kamu sakit gara-gara kehujanan gimana ?" tanya mak Ejah basa basi.


"Kalo sakit kan tinggal minum obat Mak. Daripada bertahan di sini terus Saya ketinggalan kendaraan, lebih baik Saya pulang sekarang," sahut Usman sambil berdiri.


"Ya udah kalo menurut Kamu itu yang terbaik. Makasih Man, jangan lupa jenguk Oci ya," pinta mak Ejah saat Usman mencium punggung tangannya.


"Iya, Mak juga jangan lupa jaga kesehatan. Saya pulang ya Mak, Assalamualaikum ...," pamit Usman sambil melangkah meninggalkan rumah kontrakan yang ditempati mak Ejah.


Mak Ejah pun menatap kepergian Usman sambil bersorak dalam hati. Setelah Usman menghilang di ujung gang, mak Ejah bergegas menutup pintu rumah.


Sambil menunggu waktu yang pas, mak Ejah nampak mondar-mandir di dalam rumah.


Sedangkan di rumah kontrakan Fikri terlihat Arafah yang gelisah. Batita itu terus menangis padahal sudah dibujuk dan diberi susu. Malam pun mulai merambat naik artinya jam tidur Arafah pun terlewati.


Karena Ayu tak mungkin menggendong Arafah mengingat luka di perutnya belum sembuh, maka Fikri lah yang bertugas menidurkan Arafah. Ia menggendong Arafah sambil membacakan sholawat. Biasanya batita cantik itu akan terlelap mendengar sholawat yang disenandungkan ayahnya. Tapi kali ini berbeda. Arafah justru menangis makin kencang sambil menatap nanar kearah jendela.


"Tumben susah banget boboknya Nak. Arafah mau apa sih ?" tanya Ayu sambil memegangi perutnya saat turun dari tempat tidur.


"Udah gapapa Mi. Biar Arafah sama Aku aja. Kalo Ummi capek, istirahat aja. Ummi kan juga perlu istirahat biar cepet pulih," kata Fikri sambil tersenyum.


"Gimana Aku bisa tidur kalo Arafah nangis terus Bi. Ga tega Aku," sahut Ayu sambil mengusap air mata di wajah Arafah.


"Yah dicoba dong Mi," kata Fikri.


"Susah Bi. Aku juga khawatir sama Arafah. Apalagi dia ngeliat ke jendela terus daritadi. Apa jangan-jangan Arafah ngeliat makhluk yang udah merenggut Adiknya itu ya Bi. Kan kata orang anak balita masih suci dan masih bisa ngeliat penampakan tak kasat mata alias hantu Bi," kata Ayu sambil bergidik ngeri


Ucapan Ayu membuat Fikri sedikit kesal. Ia menatap wajah sang istri dengan lekat lalu menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Ga usah pikir macam-macam ya Mi. Please deh, jangan bikin Aku tambah pusing. Kalo Kamu sakit lagi apa ga tambah panik Aku nanti ?" kata Fikri dengan sabar.


Ayu pun menatap suaminya sejenak lalu mengangguk. Ia kembali duduk di tempat tidur dengan kedua kaki diluruskan dan punggung bersandar ke sandaran tempat tidur. Kemudian Ayu mulai berdzikir seperti yang sering dilakukannya selama ini.


Mendengar sholawat yang disenandungkan Fikri membuat Ayu mengantuk dan perlahan mulai memejamkan matanya. Sesaat kemudian Ayu nampak tertidur sambil duduk bersandar. Begitu pula dengan Arafah. Gadis cilik itu nampak mulai memejamkan matanya karena kelelahan usai menangis dan menjerit tadi.


Mengetahui anak dan istrinya terlelap, Fikri pun tersenyum. Ia masih bertahan menggendong Arafah karena khawatir batita itu terbangun saat diletakkan di tempat tidur. Karena bobot Arafah yang mulai berat, maka Fikri membutuhkan kain untuk menggendongnya.


Meski Ayu memiliki beberapa alat gendong bayi praktis dan kekinian, tapi Fikri lebih suka menggunakan selendang batik untuk menggendong anaknya. Alasannya sederhana. Fikri merasa dekat dengan Ibu yang melahirkannya karena ia yakin juga digendong dengan selendang dulu.


Fikri pun bergegas mencari selendang di tumpukan pakaian sang anak di keranjang pakaian.


"Alhamdulillah ketemu," gumam Fikti sambil tersenyum.


Kemudian Fikri menarik selendang batik berwarna merah itu perlahan. Sebelum menggunakannya Fikri mengibaskannya tiga kali sambil membaca sholawat. Tujuannya hanya agar sesuatu yang tak kasat mata yang bersembunyi di balik lipatan selendang pergi dan tak mengganggu Arafah.


Saat kibasan yang ketiga, tak sengaja mata Fikri menatap ke jendela. Saat itu lah Fikri melihat penampakan wajah seorang wanita tengah mengamati dari balik jendela. Hanya kepala dan tanpa tubuh.


"Astaghfirullah aladziim ..., apaan tuh," gumam Fikri sambil memeluk Arafah lebih erat.


Fikri menghela nafas panjang lalu menoleh kearah istrinya yang tertidur dalam posisi duduk. Fikri senang karena Ayu tak ikut menyaksikan apa yang dilihatnya tadi.


Dengan cepat Fikri mengalungkan selendang di bahunya agar bisa segera menggendong Arafah. Setelahnya ia menghampiri Ayu dan mengecek kondisi sang istri.


"Mi ..., Ummi ...," panggil Fikri sambil menepuk lembut pipi sang istri.


Ayu pun membuka matanya lalu tersenyum.


"Ada apa Bi ?. Udah tidur ya Arafahnya. Sini taro di samping Aku aja," pinta Ayu sambil menepuk tempat kosong di sampingnya.


"Ga usah. Arafah biar Aku gendong aja. Mmm ..., Kamu bangun ya jangan tidur dulu. Dzikir yang banyak jangan lengah. Aku mau keluar sebentar," kata Fikri.


"Keluar sebentar ?, mau ngapain ?" tanya Ayu bingung.

__ADS_1


"Mau ngejar maling," sahut Fikri berbohong sambil bergerak meninggalkan Ayu.


Dengan sigap Ayu menahan lengan suaminya. Dia menggelengkan kepala saat Fikri menoleh padanya.


"Jangan pergi kemana-mana Bi. Aku takuuutt ...," bisik Ayu cemas.


"Aku ga kemana-mana, cuma ke teras aja Mi," kata Fikri.


"Sama aja. Pokoknya Aku ga mau ditinggal sendirian. Kalo Kamu keluar, Aku ikut. Kamu ke dapur atau kamar mandi, Aku juga ikut," sahut Ayu cepat.


"Kalo Aku mau pup, Kamu juga ikut ?" tanya Fikri sambil menahan tawa.


"Iya. Biarin deh bau, yang penting Kamu ga jauh-jauh dari Aku," sahut Ayu hingga membuat Fikri tertawa.


"Ish, kenapa Istriku yang cantik ini jadi penakut gini sih," kata Fikri sambil mencubit pipi Ayu dengan gemas.


"Aku jadi penakut gara-gara siluman itu Bi. Lagian Kamu mau kemana sih malam-malam begini, pake ngajak Arafah segala. Ntar kalo Arafah diserang sama siluman yang nyamar jadi maling gimana ?" tanya Ayu cemas.


"Justru itu Aku bawa Arafah. Kalo Kamu kan bisa jaga diri, tapi Arafah kan ga. Makanya Aku gendong Arafah biar Kamu lebih fokus sama diri Kamu sendiri," sahut Fikri sambil menepuk punggung Arafah dengan lembut.


Ucapan Fikri membuat Ayu membulatkan matanya karena kesal. Ia meraih sapu lidi yang tergeletak di atas tempat tidur lalu mengayunkannya kearah Fikri.


"Kamu mau biarin Aku dimangsa sama makhluk itu Bii ...?!" kata Ayu lantang.


"Sssttt ..., ga usah teriak Mi. Udah malam, malu sama tetangga," kata Fikri mengingatkan.


"Biarin !. Abis Kamu juga tega sama Aku. Kok bisa-bisanya Kamu nyelamatin Arafah tapi ga nyelamatin Aku," sahut Ayu dengan mata berkaca-kaca.


"Ya Allah. Bukan gitu maksudku Mi ...!" kata Fikri gemas.


Namun Ayu tak peduli. Ia justru menangis dan itu membuat Fikri kesal. Bagaimana ia bisa menangkap sesuatu atau seseorang yang mengintai rumahnya jika Ayu terus merengek seperti itu.


"Ya udah gini aja. Kamu ikut Aku ke depan. Bawa sapu lidinya sekalian. Jangan berisik dan dengerin aba-abaku. Ngerti ga ?" tanya Fikri.

__ADS_1


Ayu pun mengangguk lalu bergegas menghapus air matanya. Sebelum keluar dari kamar Ayu mengenakan jilbab. Setelahnya ia berjalan pelan mengekori Fikri sambil menggenggam sapu lidi dengan erat.


\=\=\=\=\=


__ADS_2