Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
108. Bahagia Di Tengah Duka


__ADS_3

Fikri meninggalkan klinik milik ustadz Zulkifli saat jam menunjukkan pukul sembilan malam. Fikri mempercepat laju motornya karena teringat pada istri dan anaknya.


Saat ini istri Fikri yang bernama Ayu sedang hamil anak kedua. Anak pertama mereka perempuan dan kini sudah berusia dua tahun. Namanya Arafah.


Sejak kehamilan Ayu memasuki usia ke delapan bulan, maka Arafah tinggal bersama kedua orangtua Ayu demi keamanan. Fikri dan mertuanya khawatir jika Ayu kelelahan mengurus Arafah hingga berakibat melahirkan sebelum waktunya.


Fikri tiba di rumah kontrakannya dan merasa sedikit bingung karena kondisi rumah dalam keadaan sepi.


Fikri bergegas turun dari motor lalu melangkah cepat menuju pintu rumah. Ia mengetuk berkali-kali sambil memanggil sang istri.


"Assalamualaikum Ummi. Assalamualaikum Ummi. Ayu ... Ayu ...!" panggil Fikri.


Sunyi tak ada sahutan dan itu membuat Fikri panik. Saat itu lah salah seorang tetangga Fikri datang dan mengabarkan jika istrinya dibawa ke Rumah Sakit karena pendarahan.


"Inna Lillahi wainna ilaihi roji'uun ..., ke Rumah Sakit mana Bu ?" tanya Fikri.


"Rumah Sakit JJ Mas," sahut tetangga Fikri.


"Kok ga ada yang nelephon Saya buat ngasih tau Bu ?" tanya Fikri.


"Udah Mas. Tapi ponsel Mas Fikri ga aktif," sahut sang tetangga.


Fikri meraih ponselnya lalu menepuk dahi karena ponselnya dalam kondisi lowbatt.


Setelah mengucapkan terima kasih Fikri pun masuk ke dalam rumah dengan kunci cadangan yang ia miliki. Ia bermaksud mengambil dokumen yang mungkin dibutuhkan istrinya nanti.


Betapa terkejutnya Fikri saat melihat kondisi di dalam rumah yang berantakan. Tetangga Fikri yang masih berdiri di sana pun menjelaskan apa yang terjadi tadi.


"Mbak Ayu tiba-tiba menjerit Mas. Kenceng banget sampe Saya dan keluarga Saya yang lagi nonton tivi di rumah aja kaget. Padahal rumah Saya kan jauh dari sini. Pas Saya dan Suami keluar, ternyata tetangga yang lain juga udah berdatangan. Untung pintu rumah ga dikunci tadi. Makanya warga bisa masuk ke dalam rumah. Waktu warga masuk, Mbak Ayu tergeletak di depan kamar itu Mas. Kondisinya mengenaskan. Mukanya pucat, darah udah membanjir di lantai, terus tangannya juga nunjuk-nunjuk jendela di atas kamar mandi itu kaya mau bilang ada sesuatu di sana. Jangan-jangan Mbak Ayu liat setan terus kaget dan jatuh. Tapi setau Saya kontrakan di sekitar sini aman-aman aja kok," kata tetangga Fikri sambil bergidik.


Fikri nampak mengusap wajahnya dengan kasar pertanda ia sangat cemas saat itu. Fikri pun mengabaikan kondisi rumahnya dan memilih pergi menyusul istrinya setelah mengambil dokumen pribadi milik Ayu.


"Saya pergi ke Rumah Sakit dulu ya Bu. Tolong sampaikan rasa terima kasih Saya sama tetangga di sini," kata Fikri.


"Iya Mas, tapi hati-hati di jalan ya Mas. Ga usah ngebut," sahut tetangga Fikri.

__ADS_1


Fikri mengangguk lalu melajukan motornya dengan cepat menuju Rumah Sakit JJ.


Tiba di Rumah Sakit, Fikri melangkah cepat menuju UGD. Saat itu lah Fikri berpapasan dengan tetangga yang mengantar istrinya ke Rumah Sakit itu. Mereka meminta Fikri menemui Ayu segera.


Saat Ayu melihat Fikri, tangisnya pun pecah. Fikri memeluk sang istri dengan erat sambil membacakan beberapa doa untuk menenangkan wanita itu.


"Aku takut Biii ..., ada setan di jendela kamar mandi. Setan itu masuk dan nyerang Aku dan bayi Kita Biii ...," kata Ayu di sela isak tangisnya.


"Mana mungkin ada setan kaya gitu Sayang. Kamu cuma halu aja kali," kata Fikri sambil merapikan jilbab sang istri.


"Kamu ga percaya sama Aku Mas ?!" kata istri Fikri sambil melepaskan diri dari pelukan sang suami.


Ayu memang selalu merubah panggilan dari 'Abi' jadi 'Mas' jika sedang marah. Fikri nampak menggelengkan kepala karena menyadari kemarahan Ayu. Ia kembali meraih Ayu ke dalam pelukannya dan mencium kening sang istri.


"Istighfar Sayang. Jangan turuti kemarahanmu saat ini. Kalo bener ada setan di sana, jangan biarkan dia mempengaruhi Kamu dan membuat Kita bertengkar. Kalo itu terjadi, dia pasti sedang bersorak senang sekarang karena berhasil membuat Kita bertengkar," kata Fikri dengan lembut sambil menatap kedua mata Ayu lekat.


Ayu tersentak lalu mengucap istighfar. Setelahnya ia tersenyum lalu memeluk Fikri erat.


"Maafin Aku Mas," bisik Ayu lirih.


Saat seorang perawat datang, Fikri dan Ayu pun mengurai pelukan mereka. Sang perawat mengecek cairan infus dan memberi suntikan vitamin untuk Ayu.


"Gimana kondisi kandungan Istri Saya Suster?" tanya Fikri.


"Apa Bapak Suami Ibu Ayu ?" tanya sang perawat.


"Betul," sahut Fikri.


"Kebetulan sekali. Bapak bisa menemui dokter Dina sekarang karena ada hal yang ingin dokter bicarakan langsung dengan Suami Bu Ayu," kata sang perawat.


"Ok. Dimana Saya bisa ketemu sama dokter Dina Sus ?" tanya Fikri.


"Mari ikut Saya Pak," kata sang perawat.


Fikri menoleh kearah sang istri. Saat Ayu mengangguk pertanda ia baik-baik saja jika ditinggal sendiri, Fikri pun tersenyum lalu bergegas mengikuti sang perawat.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Fikri baru saja keluar dari ruangan dokter Dina saat sebuah suara memanggilnya. Ia menoleh dan terkejut melihat Bayan dan Nathan. Ketiganya saling berjabat tangan dengan akrab.


"Siapa yang sakit Bang ?" tanya Nathan.


Entah mengapa mendengar Nathan memanggilnya Abang membuat perasaan Fikri yang semula sedih jadi sedikit terhibur.


Fikri pun menjelaskan apa yang terjadi termasuk apa yang dikatakan tetangganya tadi. Bayan dan Nathan tampak terkejut lalu saling menatap sejenak.


"Boleh Kami jenguk ga Bang ?" tanya Nathan yang mewakili perasaan Bayan juga.


"Tentu saja. Tapi ngomong-ngomong Kalian lagi ngapain di sini, siapa yang sakit ?" tanya Fikri sambil mulai melangkah.


"Kami di sini untuk nyari informasi tentang kondisi almarhumah Mia saat pertama kali dibawa ke sini. Ini penting untuk Nathan karena bisa menentukan sikapnya ke Rosiana nanti," sahut Bayan sambil melirik Nathan.


"Oh gitu," kata Fikri sambil mengangguk.


"Aku udah maafin Rosiana kok Yah, Bang. Tapi hukum tetap harus ditegakkan. Dan Rosiana harus mempertanggung jawabkan perbuatannya dengan menjalani hukuman di penjara. Tentang berapa lama dia di penjara itu bukan lagi urusanku," kata Nathan hingga membuat Bayan dan Fikri tersenyum.


Tak lama kemudian ketiganya tiba di depan UGD. Saat itu bersamaan dengan proses pemindahan Ayu ke ruang rawat inap. Fikri pun dibuat sibuk karena harus mengurus istrinya.


Bayan dan Nathan tetap sabar menemani Fikri menjalani proses pemindahan Ayu ke ruangan. Bahkan Bayan meminta agar Ayu dipindahkan ke ruangan VIP agar Ayu bisa lebih nyaman. Bayan juga mengatakan akan menanggung semua biaya pengobatan Ayu hingga sembuh nanti.


"Tapi Pak ...," ucapan Fikri terputus karena Bayan memotong cepat.


"Ga usah pikirin biaya Fikri. Biar Saya yang tanggung nanti. Kamu dan Nathan kan berteman, jadi ijinkan Saya membantumu kali ini. Gimana, boleh kan ?" tanya Bayan.


"Baik lah. Makasih Pak," sahut Fikri dengan mata berkaca-kaca hingga membuat Nathan dan Bayan tersenyum.


Kemudian Ayu pun dibawa ke ruang rawat inap VIP sesuai permintaan Bayan.


Semula Ayu nampak bingung. Ia khawatir suaminya tak akan mampu membayar biaya kamar dan pengobatannya nanti. Tapi saat Fikri menjelaskan siapa yang menanggung biaya pengobatan Ayu termasuk kamar itu, Ayu pun tersenyum lega.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2