
Setelah berkenalan dengan teman-teman Nathan, Nicko pun diajak masuk ke dalam kamar sang kakak.
Saat masuk ke dalam kamar, Nicko langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Nathan nampak menggelengkan kepala melihat tingkah sang adik.
"Mandi dulu sana, jorok amat sih baru dateng langsung tidur !" kata Nathan pura-pura marah.
"Ga tidur Bang, rebahan doang kok," sahut Nicko sambil meregangkan tubuhnya.
"Tapi lama-lama bisa tidur juga. Nih handuknya, mandi dulu gih," kata Nathan sambil menyodorkan handuk miliknya kepada Nicko.
Nicko pun menerima handuk sang kakak lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi yang ada di luar kamar. Setelah membersihkan diri Nicko kembali ke kamar Nathan. Di depan kamar ia berpapasan dengan penghuni lain yang baru saja tiba. Ia menyapa mereka sambil tersenyum.
"Calon penghuni baru ya ?" tanya salah satu diantara mereka.
"Bukan Mas. Saya Adiknya Bang Nathan," sahut Nicko sambil tersenyum.
"Wah, jadi ini Adiknya Nathan. Ganteng banget," puji seorang diantara mereka.
"Ga usah lebay. Tetep aja ga ada oleh-oleh buat Lo !" sahut Nathan dari ambang pintu kamar.
Suara Nathan membuat Nicko dan teman-teman Nathan menoleh. Jika Nicko tersenyum, teman-teman Nathan justru mendengus kesal lalu menyingkir.
"Abang kok ngomong gitu sih, Aku kan ga enak jadinya," tegur Nicko.
"Santai aja. Kita semua udah biasa kaya gini. Ga bakal tersinggung kalo cuma ngomong gitu mah. Yang ngomong lebih parah daritadi juga ada, tapi Kami ga masukin ke dalam hati. Cuek aja," sahut Nathan sambil tersenyum.
"Ooh ... gitu," kata Nicko sambil menghela nafas lega.
Nathan mengangguk lalu masuk ke dalam kamar diikuti Nicko. Kemudian Nicko membongkar isi tasnya. Ia mengeluarkan beberapa makanan ringan juga lauk buatan sang bunda. Kedua mata Nathan nampak berbinar bahagia melihat lauk yang dimasak sang bunda berupa cumi-cumi sambal balado dan ayam ungkep.
"Bunda bilang ayamnya tinggal digoreng aja kalo mau makan Bang," kata Nicko.
"Iya, udah tau. Kok banyak banget sih bawanya Nick ?" tanya Nathan.
"Iya. Kan temen Abang di sini banyak. Jadi Bunda sengaja bikin banyak biar semua ikut ngerasain masakan Bunda," sahut Nicko sambil menguap.
"Ok, kalo gitu Aku taro ini dulu di kulkas," kata Nathan sambil membawa dua wadah berisi masakan sang bunda ke dapur.
Tak ada sahutan. Saat Nathan menoleh, ia melihat Nicko sudah terlelap di atas tempat tidur. Nathan pun tersenyum lalu menutup pintu kamar agar tidur Nicko tak terganggu.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Lomba melukis diadakan di sebuah gedung. Saat pergi ke sana Nicko diantar oleh Nathan.
"Ga usah ditunggu Bang, kayanya bakal lama nih," kata Nicko.
"Iya. Sekarang Abang harus ke kampus balikin buku dulu. Kalo emang sempet, Abang jemput Kamu. Kalo ga, Kamu naik Taxi aja ya. Inget kan alamat rumah kost Abang ?" tanya Nathan.
"Inget lah," sahut Nicko cepat.
"Ok. Abang duluan ya. Tetep semangat, semoga berhasil. Assalamualaikum !" kata Nathan sambil melajukan motornya meninggalkan Nicko.
"Aamiin, Wa alaikumsalam. Hati-hati Bang !" kata Nicko lantang dibalas lambaian tangan sang kakak yang menjauh.
Setelah kepergian sang kakak, Nicko pun membalikkan tubuhnya lalu bergegas masuk ke area gedung. Oleh seorang security Nicko diarahkan masuk ke sebuah aula. Di depan aula Nicko memperlihatkan kartu peserta lomba. Setelah mengisi buku tamu, Nicko pun dipersilakan masuk ke dalam aula.
Nicko mengedarkan pandangan untuk mencari tempat kosong. Semua sudut yang menjadi tempat favoritnya sudah terisi. Nicko pun menghela nafas panjang karena mendapat tempat di tengah ruangan. Ia terpaksa ke sana karena hanya itu yang tersisa.
Saat Nicko baru saja meletakkan perlengkapan melukisnya, suara ketua panitya penyelenggara acara terdengar menyambut. Semua peserta lomba pun dipaksa melihat kearah depan dimana sebuah panggung mini berada.
Setelah menyampaikan kalimat sambutan, ketua panitya acara pun menyebutkan tema lomba kali ini.
Ucapan ketua panitya lomba melukis itu membuat suasana di dalam gedung menjadi gaduh sejenak. Mereka bertanya-tanya siapa kah pemenang lomba tiga tahun berturut-turut itu. Mereka saling menatap satu sama lain dengan tatapan curiga tapi tidak dengan Nicko. Ia justru terlihat santai dan tak ingin tahu dengan sosok sang juara bertahan itu.
Saat bel berbunyi tanda perlombaan dimulai, semua peserta pun tampak mulai sibuk melukis.
Sementara itu Nathan telah tiba di kampus. Ia memarkirkan motornya di parkiran kampus lalu bergegas melangkah menuju perpustakaan. Nathan menghela nafas lega saat tiba tepat waktu sebelum petugas perpustakaan pulang.
"Alhamdulillah masih sempet," gumam Nathan.
"Kenapa siang banget sih Mas. Udah ada tiga mahasiswa yang nyari buku ini tadi. Kasian kan mereka," kata petugas perpustakaan bernama Sulastri itu sambil mengetik sesuatu.
"Iya, maaf Bu. Saya harus nganterin Adik Saya ke gedung X dulu tadi," sahut Nathan.
"Emang ga bisa jalan sendiri, kenapa harus dianter segala. Pasti Adiknya udah dewasa kan ?" tanya Sulastri nyinyir.
"Adik Saya dari Jakarta Bu. Dia ga tau daerah sini. Daripada nyasar, lebih baik Saya anterin dulu tadi," sahut Nathan dengan enggan.
"Oh gitu," kata Sulastri yang diangguki Nathan.
__ADS_1
Setelah mengembalikan buku yang dipinjamnya, Nathan pun berjalan menuju kantin. Ia bermaksud menemui teman sekelasnya di sana.
\=\=\=\=\=
Sore harinya Nathan kembali ke gedung tempat Nicko mengikuti lomba melukis. Ia bermaksud menjemput sang adik yang katanya sedang menunggu pengumuman pemenang lomba.
Nicko tersrnyum lebar melihat kedatangan sang kakak. Ia mendekati Nathan sambil menyerahkan sebotol air mineral.
"Gimana hasilnya, Kamu menang ga ?" tanya Nathan setelah meneguk air dari botol yang disodorkan padanya.
"Belum Bang. Emangnya kalo Aku ga menang kenapa Bang ?" tanya Nicko.
"Ya gapapa, jadiin ini pengalaman kan bagus. Jadi ke depannya Kamu tau kelemahan Kamu dan ga mengulangi kesalahan yang sama. Tapi kalo Kamu menang, itu harus disyukuri. Tetap rendah hati dan jangan sok," sahut Nathan bijak.
"Iya Bang," kata Nicko sambil tersenyum karena senang sang Abang tak menekannya.
Setelah Nathan menunggu hampir satu jam, panitya penyelenggara acara pun mengumumkan siapa pemenang lomba melukis kali ini. Rupanya selain juara satu, dua dan tiga, penyelenggara juga menyediakan hadiah untuk juara harapan satu dan dua.
Nampaknya Nicko harus puas menjadi juara harapan satu. Meski pun begitu Nathan ikut bersorak bahagia mendengar nama sang adik disebut oleh panitya.
"Selamat ya Nick !. Ga sia-sia jauh-jauh datang dari Jakarta. Ini bagus, Abang bangga sama Kamu !" kata Nathan sambil merengkuh bahu sang adik usai Nicko menerima Thropy, piala dan hadiah lainnya.
"Alhamdulillah, Iya Bang. Makasih," sahut Nicko sambil tersenyum.
"Eh, itu amplop apaan ?" tanya Nathan sambil menunjuk amplop besar berwarna coklat.
"Oh, ini tiket wisata malam Bang. Semua juara dapat dua tiket, Abang mau ikut ga ?" tanya Nicko.
"Wisata malam apaan sih maksudnya ?" tanya Nathan tak mengerti.
"Namanya aja wisata malam, pastinya Kita berangkat malam hari Bang. Dan tempat yang dikunjungi bukan tempat biasa tapi tempat yang luar biasa," kata Nicko.
"Kaya jurit malam gitu ya ?" tanya Nathan.
"Iya. Abang mau ikut ga ?" tanya Nicko lagi.
"Mau dong !. Pasti seru nih !" sahut Nathan antusias.
Jawaban Nathan membuat Nicko tertawa. Kemudian Nathan dan Nicko pun pergi meninggalkan tempat itu sambil berboncengan di atas motor Nathan.
__ADS_1
\=\=\=\=\=