
Kehadiran bayi perempuan Lupita membuat kehidupan Ayu kembali ceria. Ia sangat menyayangi sang bayi yang kemudian ia panggil Pita itu dengan sepenuh hati. Fikri pun senang melihat istrinya bahagia. Namun ia tak henti mengingatkan Ayu jika Pita hanya titipan yang suatu saat akan diambil oleh polisi untuk diserahkan ke pihak yang berhak mengasuhnya.
"Jangan terlalu berlebihan menyayangi Pita. Abi ga mau Kamu drop lagi saat Pita dijemput nanti Mi," kata Fikri.
Pagi itu Ayu nampak menimang Pita sambil menemani suaminya menikmati sarapan sebelum berangkat bekerja.
"Iya Bi, Ummi inget kok. Tapi bisa kan ga usah dibahas tiap hari. Ini bikin ga nyaman Bi," protes Ayu sambil menatap suaminya lekat.
Fikri menghela nafas panjang lalu mengangguk.
"Abi cuma ga mau Ummi sakit nanti," kata Fikri sambil berlalu.
Ayu tertegun menatap punggung suaminya yang menjauh. Ia bergegas menyusul Fikri ke depan saat mendengar suaminya itu menstarter motornya.
"Abi marah ya. Maafin Ummi kalo tadi sedikit keras sama Abi," kata Ayu sambil mencium punggung tangan suaminya.
Mendapati sikap Ayu membuat Fikri tersentuh. Ia tersenyum lalu mengusap kepala Ayu dengan lembut.
"Iya, Abi maafin. Sekarang Abi berangkat ya. Assalamualaikum ...," kata Fikri usai mengecup kening Ayu.
"Wa alaikumsalam. Hati-hati ya Bi ...," kata Ayu yang disambut senyuman oleh Fikri.
Kemudian Ayu bersiap menutup pintu pagar, tapi urung saat melihat Hilya berjalan kearahnya.
"Assalamualaikum Mbak !" sapa Hilya dengan riang.
"Wa alaikumsalam. Wah, seneng banget keliatannya Hil. Ada kabar apa nih ?" tanya Ayu.
"Kabar baik dong Mbak," sahut Hilya.
"Kabar baik apaan ?" tanya Ayu penasaran.
Tapi Hilya tak langsung menjawab pertanyaan Ayu. Ia justru menciumi Pita yang saat itu ada di gendongan Ayu. Ayu pun tersenyum melihat sikap Hilya.
"Gemes ya Hil," kata Ayu.
"Banget Mbak. Anak ini lucu banget ya. Tapi sayang Ibunya stress," sahut Hilya prihatin.
"Hush !, jangan sembarangan ngomong di depan bayi. Biar dia belum bisa ngomong, tapi dia ngerti apa yang orang dewasa omongin lho Hil !" kata Ayu mengingatkan.
"Oh iya. Astaghfirullah aladziim ..., maafin Bu Bidan ya cantik," kata Hilya sambil mencubit pipi gembil Pita dengan lembut.
Ayu pun tertawa sambil menggelengkan kepala. Namun tawa Ayu lenyap saat Hilya mengatakan kabar baik yang diterimanya.
"Oh iya Mbak. Polisi bilang udah nemuin keluarganya Pita lho. Mungkin beberapa hari ke depan Pita bakal dijemput untuk diserahin ke keluarganya," kata Hilya.
"Yakin itu keluarganya ?" tanya Ayu.
__ADS_1
"Harusnya sih iya. Kan Polisi yang menyelidiki. Saat mereka dihubungi, mereka ngaku sebagai keluarganya Lupita. Mereka juga nanyain dimana bayinya Lupita karena mereka tau Lupita pergi sebelum melahirkan. Dan waktu dites DNA, darah mereka cocok. Itu artinya mereka memang keluarga Pita dan Lupita," sahut Hilya.
Ayu terdiam. Meski pun dia pernah berjanji tak akan sedih jika Pita akan dijemput oleh keluarganya, namun saat waktunya tiba ia tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya.
\=\=\=\=\=
Malam itu suasana Klinik Bersalin Hilya nampak sepi. Dua pasien dan keluarganya baru saja keluar dari dalam klinik. Hilya dan Ayu nampak berdiri mengantar hingga ke pagar klinik.
"Gimana reaksinya Bu Ersa waktu Kamu bilang bakal mengakhiri kerjasama Kalian Hil ?" tanya Ayu sambil melangkah.
"Sempet marah-marah juga Mbak," sahut Hilya sambil tersenyum kecut.
"Udah Kuduga. Orangnya kan egois dan mau menang sendiri," kata Ayu.
"Iya. Tapi pas Aku sebutin semua kesalahannya yang berderet itu, dia langsung diem. Dia minta maaf dan minta dikasih kesempatan sekali lagi tapi Aku bilang Aku mau pikir-pikir dulu," kata Hilya sambil mendengus kesal.
"Terus, apa Kamu bakal kasih kesempatan lagi sama dia ?" tanya Ayu.
"Kayanya ga Mbak, kapok. Mendingan cari yang lain aja deh," sahut Hilya yang diangguki Ayu.
Tiba-tiba Hilya dan Ayu dikejutkan dengan suara benda berjatuhan di dalam klinik. Keduanya bergegas melangkah masuk ke dalam klinik setelah mengunci pintu.
Hilya dan Ayu bingung melihat benda-benda di salah satu kamar inap pasien tampak berantakan dan sebagian berserakan di lantai. Keduanya saling menatap sejenak seolah ingin bertanya siapa yang telah melakukan itu.
" Bukan Aku," kata Ayu cepat karena tak ingin Hilya menuduhnya.
"Terus siapa dong. Cuma ada Kita berdua di sini sekarang. Kan Bi Reni baru aja pulang sambil bawa cucian kotor tadi," kata Ayu gusar.
"Aku juga ga tau Mbak. Ya udah, mungkin cuma angin atau tikus. Kita bersihin aja yuk Mbak," ajak Hilya sambil memperbaiki posisi benda yang berantakan itu.
"Kalo angin ga mungkin Hil. Tapi kalo tikus ya harus dibasmi. Ga lucu kan Klinik Bersalin kok didatengin tikus," kata Ayu sambil mulai meraih barang yang berserakan di lantai.
Ucapan Ayu pun membuat Hilya tertawa. Kemudian keduanya mulai merapikan kamar. Hilya nampak mendengus kesal saat mengetahui lampu meja rusak karena terjatuh tadi. Kalender dan lukisan dinding tampak bergesar dan miring, sedangkan sprei dan bantal nampak berantakan seolah ada seseorang yang baru saja menempatinya.
Tiba-tiba pintu kamar yang terbuka itu tertutup dengan sendirinya. Suaranya sangat keras hingga membuat Ayu dan Hilya terkejut bukan kepalang.
"Braakkk !"
"Astaghfirullah aladziim ...!" kata Ayu dan Hilya bersamaan.
Bersamaan dengan itu lampu di dalam kamar itu berkedip-kedip hingga membuat kedua wanita itu gentar. Bahkan gorden jendela terbuka dan tertutup dengan sendirinya seolah ada seseorang yang menggerakkan.
Tak ingin buang waktu, Hilya dan Ayu pun bergegas menuju pintu untuk keluar tapi sayang pintu itu terkunci.
"Terkunci Hil !" kata Ayu gusar.
"Iya Mbak. Duh gimana nih," kata Hilya mulai panik.
__ADS_1
"Telephon Nathan Hil. Aku ga bisa telephon Bang Fikri karena ponselku ada di meja depan," pinta Ayu.
Hilya mengangguk. Namun karena panik ia salah mendial nomor dan justru menghubungi mertuanya. Saat telephon tersambung, Hilya dan Ayu sedang menjerit karena terkejut melihat sosok wanita berdiri di sudut kamar.
Bayan yang saat itu sedang di dalam perjalanan menuju ke rumah pun terkejut mendengar jeritan menantunya di seberang telephon. Bayan pun bergegas melajukan mobilnya menuju klinik. Ia yakin sesuatu telah terjadi pada menantunya itu. Sambil terus mengemudi ia menghubungi Nathan dan memintanya menyusul ke klinik.
Bayan tiba di halaman Klinik Bersalin Hilya dan langsung menerobos ke dalam. Namun karena pintu terkunci menyebabkan Bayan sedikit kesulitan. Beruntung Nathan datang dan membantu sang ayah mendobrak pintu.
"Hilya ...!" panggil Bayan dan Nathan bersamaan.
Tak ada sahutan selain suara pintu kamar yang digedor dari dalam pertanda ada orang di sana.
"Keliatannya Hilya ga sendiri Nath," kata Bayan.
"Iya Yah. Sama Mbak Ayu kalo ga salah," sahut Nathan cepat.
Nathan dan Bayan meminta Hilya dan Ayu bergeser karena mereka akan mendobrak pintu.
Pintu berhasil didobrak lalu menghambur lah Hilya dan Ayu. Keduanya keluar dengan wajah pucat.
"Ada apa Anak-anak ?!" tanya Bayan.
"A-ada hantu Yah !" sahut Hilya gugup.
Kemudian Ayu dan Hilya menceritakan apa yang mereka lihat dan alami. Nathan dan Bayan saling menatap sejenak kemudian mengangguk.
"Kalian di luar dulu, biar Ayah cek ke dalam," kata Bayan.
Hilya dan Ayu mengangguk sedangkan Nathan nampak mengulurkan dua botol air mineral kearah dua wanita itu.
Bayan melangkah masuk ke dalam kamar yang tampak berantakan itu. Ia mengamati sekeliling kamar sejenak lalu menggelengkan kepala saat melihat sosok wanita tengah berdiri di sudut ruangan.
"Kenapa mengganggu ?. Kan bisa ngomong baik-baik," kata Bayan.
"A ... nak-ku. A-nak ... ku," sahut wanita itu lirih hampir seperti bisikan.
Bayan mengangguk paham lalu meminta hantu wanita itu pergi. Setelahnya Bayan keluar dari kamar itu untuk menemui Ayu, Hilya dan Nathan.
"Dia mencari Anaknya. Keliatannya dia hantu pasien yang melahirkan dan meninggal di sini," kata Bayan.
Ucapan Bayan membuat Hilya dan Ayu saling menatap sejenak kemudian menyebut satu nama.
"Lupita ...!" kata Hilya dan Ayu bersamaan.
Nathan yang tahu kisah Lupita itu pun nampak menggelengkan kepala dengan gusar.
\=\=\=\=\=
__ADS_1