
Bayan bangkit dari duduknya lalu melangkah menuju meja kerjanya. Ia meraih kotak alat tulis di sana lalu mengeluarkan semua isinya. Bayan pun tersenyum saat melihat benda yang dicarinya ada diantara alat tulisnya.
Dengan ragu Bayan mengulurkan tangannya untuk meraih benda sebesar setengah ibu jari orang dewasa itu. Saat menyentuhnya Bayan nampak menahan nafas karena bayangan Senja kembali berkelebat di benaknya.
Kemudian Bayan mengamati benda itu sejenak sambil tersenyum getir. Ia ingat benda itu diberikan Senja sebelum mereka bercinta untuk terakhir kalinya. Disebut terakhir karena setelah itu Senja pergi untuk menantang takdirnya dan tak pernah kembali lagi.
Bayan ingat jika ia dan Senja terpaksa menuruti saran ayah kandung Senja agar menjauh selama masa kehamilan Senja. Karena merasa tak akan sanggup tinggal berdua di kamar yang sama tanpa menyentuh istrinya, akhirnya Bayan dan Senja sepakat untuk pisah kamar.
Usaha mereka untuk menjauh tak berhasil memadamkan hasrat siluman dalam diri Senja. Selain itu, di masa kehamilannya Senja justru merasa hasrat bercintanya makin tinggi layaknya wanita hamil di luar sana. Dan jauh dari Bayan membuatnya tersiksa.
Senja sadar jika ia melanggar aturan yang diberikan ayahnya, maka ia akan membahayakan bayinya. Tapi desakan dalam dirinya juga rasa rindu Bayan perlu dilampiaskan. Hingga akhirnya Senja dan Bayan pun bertemu untuk menuntaskan hasrat mereka.
Rupanya sebelum menemui Bayan dan menjalankan kewajibannya malam itu, Senja telah berpikir masak-masak. Senja memutuskan mengakhiri semuanya karena tak sanggup hidup dengan menanggung kutukan itu. Tak hanya sendiri, tapi Senja juga membawa serta bayi dalam kandungannya itu.
Setelah bercinta dengan suaminya, Senja pergi ke peternakan. Bayan yang terbangun dan tak mendapati Senja di sisinya pun panik. Ia menyusul istrinya ke peternakan tapi terlambat. Di sana Senja sudah meminta Karto menyelesaikan semuanya.
Bayan mengusap wajahnya yang basah dengan air mata itu dengan telapak tangan gemetar.
"Senja ... Sayangku. Ternyata masa sulit ini datang lagi. Masa dimana Aku merasa dilema karena harus memilih sesuatu yang jelas endingnya. Kenapa harus Arafah yang Kalian pilih untuk mewarisi darah siluman itu. Apa salah Arafah sampe dia harus menanggung kutukan itu. Dia masih terlalu muda dan ringkih. Aku ga bisa bayangin Arafah berubah jadi siluman seperti Kamu dan Ejah," gumam Bayan sambil memejamkan matanya.
Tak lama kemudian Bayan membuka mata karena mendengar pintu terbuka. Bayan menoleh dan melihat Anna tengah berdiri sambil menatap cemas kearahnya. Entah mengapa melihat Anna membuat hasratnya bangkit. Ia tersenyum sambil mengulurkan tangannya meminta Anna untuk mendekat.
"Katanya mau tidur, kok malah di sini. Ayah lagi ngapain ?" tanya Anna sambil melangkah mendekati suaminya.
"Baru aja selesai ngecek laporan Bund," sahut Bayan berbohong.
"Udah kan ?. Tidur yuk, Kamu juga kan perlu istirahat," ajak Anna sambil merengkuh bahu suaminya dengan lembut.
"Tapi Aku ga bisa tidur Sayang. Aku perlu sesuatu supaya bisa tidur," kata Bayan sambil menarik Anna ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Anna tersenyum karena paham maksud suaminya.
"Tapi ga di sini kan ?" tanya Anna karena khawatir Nathan masuk untuk mencari sesuatu di ruangan itu.
Yah, sejak Nathan bergabung di perusahaan ayahnya, sejak saat itu ruang kerja Bayan juga jadi ruang kerjanya. Karena di sana lah semua dokumen perusahaan berada. Dan Nathan biasanya akan mengecek beberapa dokumen penting di ruangan itu juga.
Ucapan Anna membuat Bayan tersenyum lalu mengangguk. Ia berdiri sambil tetap memeluk Anna lalu membawanya ke kamar tidur.
Akhirnya malam itu Bayan melampiaskan rasa rindunya pada istri pertamanya dengan menggauli Anna. Saat itu Anna sedikit terusik dengan sikap Bayan yang berbeda. Namun sebagai seorang istri yang baik Anna berusaha memberi pelayanan maksimal.
Dan usai mencapai kepuasan yang entah untuk ke berapa kalinya malam itu, Bayan pun ambruk di sisi sang istri.
"Makasih Sayang. Maafin Aku ya ...," bisik Bayan sambil memeluk Anna dengan erat.
"Ternyata Kamu sadar ya kalo udah bikin Aku ga nyaman. Kirain karena fokus mengejar rasa puas, Kamu jadi abai sama kondisi Aku yang hampir pingsan ini," gurau Anna sambil tersenyum.
"Apa sakit ?" tanya Bayan sambil menatap wajah sang istri dengan intens.
"Lumayan," sahut Anna jujur.
"Ya Allah. Sayang, maafin Aku ya. Gimana kalo Aku siapin air hangat untuk Kamu. Nanti Kamu bisa berendam sebentar supaya rasa sakitnya hilang," kata Bayan sambil bersiap turun dari tempat tidur.
"Ga perlu. Aku pikir tidur aja udah cukup. Mungkin pas bangun nanti udah ga sakit lagi," sahut Anna sambil memejamkan mata.
Tapi Bayan tak mengindahkan ucapan istrinya. Ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi lalu menyiapkan air hangat dalam bathtub dengan bubuhan aroma therapy kesukaan Anna. Setelahnya ia menggendong Anna yang telah terlelap itu lalu meletakkannya perlahan di dalam bathtub.
"Ini ... Kamu ga harus kaya gini Sayang. Aku gapapa kok," kata Anna saat menyadari dirinya ada di kamar mandi.
"Sssttt ..., udah Kamu santai aja. Biar Aku yang mandiin Kamu ya," kata Bayan sambil mulai mengusap punggung Anna dengan lembut.
__ADS_1
Anna pun mengangguk karena tahu tak akan mudah menentang keinginan Bayan. Anna kembali memejamkan mata sambil meresapi usapan Bayan di tubuhnya.
Tanpa Anna sadari, kedua mata Bayan nampak berkaca-kaca saat menyabuni tubuhnya. Rupanya Bayan menyesal telah menjadikan Anna pelampiasan dari rasa rindunya yang salah.
"Maafkan Aku Sayang. Ga seharusnya Kamu menanggung rasa sakit akibat perbuatanku tadi. Kamu terlalu baik untuk menjadi pelampiasan. Maaf. Aku janji, ini terakhir kalinya Aku merindukan dia ...," bisik Bayan lirih namun masih bisa didengar oleh Anna.
"Kamu ga harus minta maaf Sayang. Aku bahagia bisa jadi tempat pelampiasan rindumu itu," kata Anna sambil menoleh kearah Bayan.
Ucapan Anna membuat Bayan terkejut. Ia tak menyangka Anna mendengar semua pengakuannya tadi.
"Itu ... bukan rindu yang salah. Mbak Senja hadir lebih dulu di hidupmu. Walau Aku belum pernah ketemu, tapi Aku yakin Mbak Senja adalah wanita yang hebat karena bisa mendapatkan cinta yang besar darimu. Jadi wajar kan kalo Kamu merasa sangat kehilangan saat dia pergi. Dan wajar juga kalo Kamu masih mengingatnya dan merindukannya sampe sekarang ...," kata Anna dengan suara bergetar.
Bayan tersentuh dengan ucapan Anna. Ia memeluk Anna untuk menenangkannya.
"Kamu betul. Tapi satu yang harus Kamu tau. Kamu telah lama memenangkan cintaku Sayang. Entah sejak kapan Aku ga tau, tapi Aku merasa tak akan sanggup kalo kehilangan Kamu," sahut Bayan sambil mendaratkan ciuman panjang di kening sang istri.
Jawaban Bayan membuat Anna terharu. Anna percaya karena selama ini ia memang merasakan cinta yang luar biasa dari suaminya itu.
"Aku hanya merasa akan ada sesuatu yang terjadi pada Arafah. Dan suasananya mirip dengan suasana menjelang kepergian Senja. Itu sebabnya kenapa Aku ingat sama Senja malam ini," kata Bayan tiba-tiba karena tak ingin Anna salah paham.
"Apa maksud Kamu Yah ?" tanya Anna sambil mendongakkan kepalanya untuk menatap Bayan.
"Kita bicara di kamar nanti ya. Sekarang biar Aku selesaikan dulu pekerjaanku ini," sahut Bayan sambil mengedipkan sebelah matanya.
Anna nampak mendengus kesal. Bagaimana tidak, setelah minta maaf karena telah membuatnya kesakitan tadi, Bayan justru nampak mulai bersiap 'menghajarnya' lagi.
Melihat reaksi Anna membuat Bayan tak kuasa menahan tawa. Ia senang karena berhasil mengerjai istri cantiknya itu. Sesaat kemudian Anna pun ikut tertawa karena sadar telah berburuk sangka pada suaminya.
\=\=\=\=\=
__ADS_1