Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
238. Dikejar Anjing


__ADS_3

Setelah bergeser menjauh, Bayan dan Nathan menyaksikan Rosi menangis di atas makam Senja. Terdengar memilukan karena saat itu kondisi Rosi yang juga mengenaskan. Jangankan untuk bicara, bersuara saja rasanya sulit dan perlu tenaga besar. Apalagi untuk menangis seperti itu.


Rosi memang sedih bukan kepalang mengetahui anak semata wayangnya meninggal dunia. Semua kilasan peristiwa saat ia mengandung Senja pun seolah kembali berputar di benaknya.


Rosi ingat saat ia dinyatakan hamil oleh bidan kampung alias paraji. Saat itu pernikahannya dengan Genta telah memasuki tahun ke empat.


Sebelum menikah Rosi pernah mengatakan jika ia memiliki masalah dengan rahimnya, tapi Genta tak peduli dan tetap menikahinya. Rosi bahagia karena memiliki suami yang tulus mencintainya dan mau menerima segala kekurangannya.


Pagi itu setelah Genta pergi ke ladang, Rosi alias Rusti pun mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti biasa. Namun tiba-tiba seorang tetangga bernama Muah datang dan meminta bantuannya. Rupanya sang tetangga merasa sakit di sekitar perut dan meminta Rusti mengantarnya ke rumah seorang paraji.


Tanpa membuang waktu Rusti mengantar Muah ke rumah sang paraji. Ternyata tiba di sana sang paraji sedang belanja ke pasar. Karenanya Rusti dan Muah terpaksa menunggu di teras rumah sang paraji.


Setengah jam kemudian sang paraji kembali dan tersenyum melihat Rusti dan Muah yang sedang duduk di teras rumahnya.


"Mau periksa kehamilan ya ?" tanya sang paraji sambil menatap Rusti.


"Iya Mak," sahut Rusti dan Muah bersamaan.


"Kalo gitu silakan masuk," kata sang paraji sambil membuka pintu lebar-lebar.


"Saya di sini aja Mak. Kan Muah yang mau periksa bukan Saya," kata Rusti kala itu.


"Lho buat apa Saya periksa Muah. Kan yang hamil Kamu bukan Muah," kata sang paraji sambil menatap Rusti dan Muah bergantian.


Ucapan sang paraji membuat Rusti dan Muah terkejut. Mereka saling menatap bingung.


"Tapi Mak ...," ucapan Muah terputus karena sang paraji memotong cepat.

__ADS_1


"Udah lah, percaya sama Mak. Yang hamil sekarang ini Rusti bukan Kamu. Gapapa Kamu di sini. Mudah-mudahan Kamu cepet ketularan hamil biar bisa ngerasain apa yang Rusti rasain sekarang," kata sang paraji sambil tersenyum.


"Ah, Mak. Mana ada hamil gara-gara ketularan. Emangnya hamil itu penyakit ya Mak ?" tanya Muah sambil tertawa.


"Terserah mau percaya atau ga. Yang penting Saya udah ngasih tau ya," kata sang paraji lagi.


Akhirnya Rusti mau diperiksa oleh sang paraji meski pun sebelumnya Rusti meminta agar paraji mau memeriksa kondisi perut Muah lebih dulu.


Ternyata setelah perutnya disentuh oleh sang paraji, sakit di perut Muah pun lenyap. Bahkan sesaat kemudian Muah mengalami menstruasi. Muah nampak kecewa karena ia juga ingin segera hamil sama seperti Rusti. Melihat kekecewaan di wajah Muah sang paraji pun iba lalu menghiburnya.


"Tenang lah Muah. Dua atau tiga bulan lagi Kamu juga bisa hamil kaya Rusti. Anggap aja darah yang keluar kali ini untuk membersihkan rahimmu dari kotoran biar saat hamil nanti Anakmu sehat dan ga penyakitan," kata sang paraji.


Mendengar ucapan sang paraji Muah pun senang. Ia menganggukkan kepala sambil tersenyum.


"Iya Mak," kata Muah antusias.


Rusti mengangguk lalu masuk ke kamar untuk menjalani pemeriksaan. Saat sang paraji menyentuh perutnya, Rusti merasa ingin tertawa. Selama hampir dua ratus tahun hidup di dunia ini, tak sekali pun Rusti pernah hamil meski pun telah menikah berkali-kali.


Namun saat sang paraji mengerutkan keningnya lalu tersenyum, Rusti mulai gelisah.


"Kenapa Mak ?" tanya Rusti tak sabar.


"Dugaanku memang ga pernah salah. Kamu hamil Rus, selamat ya. Ini sudah masuk bulan ke empat lho," kata sang paraji sambil tersenyum.


"Apa ?!" kata Rusti tak percaya.


"Iya Kamu hamil empat bulan Rusti. Mulai sekarang Kamu harus hati-hati. Jangan melakukan pekerjaan berat ya Rus. Jangan sering-sering nyampur juga sama Genta. Oh, kalo soal itu biar Aku yang ngomong sama Genta nanti. Laki-laki tuh ga bakal ngerti kalo ga dikasih tau langsung," kata sang paraji.

__ADS_1


Rusti tak ingat lagi kalimat apa yang diucapkan sang paraji karena saat itu pikirannya mengembara entah kemana.


Bayangan saat membantai para bayi dan wanita hamil pun terlintas di kepalanya. Bagaimana ia tertawa setelah puas menikmati darah mereka pun membayang. Rusti tak percaya, setelah apa yang ia lakukan ia masih bisa hamil dan akan punya keturunan.


Saat Rusti memberitahu kabar gembira itu, Genta bahagia bukan kepalang. Pria itu memang memanjakan Rusti dengan kasih sayang yang berlimpah yang tak pernah Rusti dapatkan dari suami-suaminya terdahulu. Dan sejak Rusti hamil, kasih sayang Genta pun dirasa kian bertambah. Mungkin itu lah sebabnya Rusti sangat mencintai Genta.


Kehamilan Rusti berjalan sebagaimana mestinya. Ia makan dan minum dengan lahap apa pun yang disuguhkan suaminya. Rupanya Genta memasakkan berbagai macam makanan untuk memanjakan Rusti dan calon bayi mereka.


Namun satu hal yang membuat Genta bertanya-tanya adalah kenapa selama hamil Rusti seringkali dikejar anjing saat sedang melintas hampir di semua tempat di kampung itu. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali.


Seperti siang itu, usai Rusti dan Genta belanja ke pasar mereka berjalan kaki menyusuri jalan yang melintas dekat perkebunan milik warga. Mereka sengaja memilih jalan itu untuk menghindari kejaran anjing. Tapi ternyata usaha mereka sia-sia. Tiba-tiba tiga ekor anjing penjaga kebun lari kearah Rusti. Kemudian ketiga anjing itu berputar mengelilingi Rusti seolah melihat sesuatu yang menyeramkan dan harus diwaspadai. Meski pun hanya menyalak, tapi itu sangat mengganggu dan menarik perhatian warga.


Warga pun berdatangan lalu membantu Genta mengusir ketiga anjing itu. Setelahnya warga berinisiatif mengikat anjing-anjing itu sampai Rusti dan Genta keluar dari area perkebunan.


"Kamu gapapa kan Sayang ?" tanya Genta setelah mereka berada jauh dari perkebunan.


"Gapapa," sahut Rusti kesal.


"Kenapa sih anjing-anjing itu. Apa yang mereka liat dari Kamu sampe terus mengejar Kamu. Ini bukan pertama kalinya Kamu dikejar anjing lho Sayang ?" tanya Genta sambil menatap Rusti lekat.


"Ya mana Aku tau. Tanya aja sama anjing-anjing itu kenapa mereka ngejar wanità hamil kaya Aku. Padahal Kami kan ga kenal sama sekali," sahut Rusti ketus.


Jawaban Rusti membuat Genta tertawa kala itu. Meski Genta tertawa, tapi dalam hati dia curiga jika ada sesuatu pada bayi mereka. Karena tak ingin ribut dan menyakiti perasaan istrinya, Genta memilih diam dan menyimpan sendiri kecurigaannya.


Waktu yang ditunggu pun tiba. Rusti melahirkan bayi perempuan tepat di waktu senja. Itu sebabnya Genta menamai bayi cantik mereka dengan nama Senja.


Namun kelahiran Senja pun diiringi beberapa pertanda alam yang tak biasa hingga membuat Rusti khawatir.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2