Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
127. Ternyata Keluarga ...


__ADS_3

Malam hari usai makan malam. Bayan menyampaikan niatnya untuk mengakui hubungannya dengan Fikri. Anna yang memang telah menduga hubungan darah Bayan dan Fikri pun nampak tak keberatan. Sedangkan Nicko nampak antusias mengetahui Fikri adalah sepupu yang dicarinya selama ini.


"Masya Allah. Jadi Bang Fikri beneran saudaraku Yah ?!" tanya Nicko.


"Iya. Gimana ?, apa Kamu senang ?" tanya Bayan.


"Seneng dong Yah. Selama ini Bang Fikri udah jadi Kakak yang baik buat Aku sama Bang Nathan. Dengan bukti tes DNA ini akan makin menguatkan hubungan Kita. Dan ke depannya Aku ga perlu sungkan lagi kalo mau minta apa pun sama Bang Fikri," sahut Nicko sambil tersenyum penuh makna.


"Emangnya Kamu mau minta apa sama Bang Fikri Nick ?" tanya Nathan.


"Rahasia lah Bang. Ga seru kalo diceritain. Ntar aja kalo udah keliatan hasilnya," sahut Nicko.


"Ck, paling soal cewek," kata Nathan hingga membuat Nicko terbatuk-batuk sedangkan Bayan dan Anna nampak tertawa.


\=\=\=\=\=


Sesuai rencana, Bayan dan keluarga kecilnya mendatangi rumah Bayan siang itu. Jarak yang hanya beberapa meter saja dari rumah terasa sangat jauh bagi Nathan dan Nicko yang tak sabar ingin memproklamirkan status mereka.


"Assalamualaikum !" sapa Nicko lantang dari pintu pagar.


"Wa alaikumsalam. Eh, ada Om Nicko ...," kata Fikri sambil terssnyum kearah Nicko.


Saat itu Fikri sedang menggendong Arafah yang menangis karena ditinggal ibunya belanja ke mini market.


Sambil membuka pintu Fikri nampak mengerutkan keningnya karena melihat Nicko tak datang sendiri. Melihat kebingungan di wajah Fikri Bayan pun tersenyum.


"Apa Kami mengganggumu Nak ?" tanya Bayan.


"Oh ga Pak. Mari silakan masuk," ajak Fikri sambil membuka pintu lebar-lebar.


"Sini Arafahnya biar sama Oma aja ya," kata Anna sambil meraih Arafah dari gendongan Fikri.


Arafah pun dengan senang hati berpindah dari gendongan ayahnya ke gendongan Anna. Batita itu nampak menghentikan tangisnya dan mulai tertawa saat Anna mengajaknya bicara. Tentu saja itu membuat Fikri senang karena merasa terbantu dengan kehadiran Anna.


Anna memilih berdiri saja saat suami dan kedua anaknya duduk di hadapan Fikri.

__ADS_1


Di saat bersamaan masuk lah Ayu sambil membawa tas berisi barang-barang keperluan rumah tangga. Wanita itu tersenyum melihat kehadiran Bayan dan keluarganya. Ayu pun pamit ke dapur untuk meletakkan barang belanjaannya.


Suasana di ruang tamu terasa tak nyaman untuk Fikri. Ia merasa terintimidasi dengan tatapan Bayan, Nathan dan Nicko yang notabene adalah tamu di rumahnya.


"Kan Aku yang punya rumah, kenapa justru mereka yang ngeliatin kaya gitu. Harusnya tatapan itu kan milikku," batin Fikri gusar.


"Panggil Ayu ke sini, Saya mau dia denger juga apa yang mau Saya sampaikan," pinta Bayan tiba-tiba.


"Baik Pak. Tunggu sebentar ya," sahut Fikri sambil bergegas menyusul istrinya ke dapur.


Ternyata Ayu sedang menyiapkan hidangan untuk tamunya. Fikri pun membantu Ayu membawa nampan berisi minuman dingin itu lalu Ayu mengekor di belakangnya.


Bayan meminta Ayu duduk hingga membuat wanita itu bingung sekaligus cemas.


"Gapapa Yu, duduk aja," kata Anna menenangkan Ayu sambil tersenyum.


"Iya Bu," sahut Ayu.


"Alhamdulillah udah lengkap ya. Sekarang ijinkan Saya bicara satu hal penting. Ini tentang Kamu Fikri," kata Bayan sambil menatap Fikri lekat.


"Iya. Nah sekarang Kamu baca ini," kata Bayan sambil menyodorkan amplop berisi bukti tes DNA.


Fikri meraih amplop, mengeluarkan isinya lalu membacanya perlahan. Ia mengerutkan keningnya karena tak mengerti dengan isi surat itu. Kemudian Fikri menoleh kearah istrinya yang nampak menggelengkan kepala karena juga tak mengerti dengan isi surat itu.


"Maaf, jujur Saya masih bingung. Bisa tolong dipermudah aja ga Pak ?. Saya ga sepandai Nathan atau Nicko dalam menerka sesuatu," gurau Fikri hingga membuat semua orang tertawa.


"Kenapa Kamu membandingkan dirimu sama Nathan dan Nicko ?" tanya Bayan penasaran.


"Yah ... karena Saya merasa melihat diri Saya di diri mereka Pak. Cuma nasib Kami aja yang berbeda. Kalo Nathan dan Nicko bisa mewujudkan semua keinginannya karena mereka punya orangtua yang hebat seperti Bapak dan Ibu. Sedangkan Saya harus berjuang keras bahkan untuk sampe di titik ini," sahut Fikri sambil tersenyum getir.


Ucapan Fikri membuat Bayan tak kuasa menahan haru. Ia maju untuk merengkuh pundak Fikri.


"Wajar kalo Kamu melihat dirimu di Nathan dan Nicko karena mereka memang sepupumu. Dan andai Kita dipertemukan lebih awal, mungkin Saya bisa lebih leluasa menggantikan tugas Ayahmu. Saya ga akan biarkan Kamu sendirian menghadapi kerasnya hidup ini Fikri," kata Bayan dengan suara bergetar.


"Ada apa ini, kenapa Bapak ngomong kaya gitu ?. Dan surat itu ...," ucapan Fikri terputus karena Bayan memotong cepat.

__ADS_1


"Iya Fikri. Surat itu adalah hasil tes DNA yang Saya lakukan. Itu adalah bukti bahwa Kamu adalah keponakan kandung Saya. Anak dari kembaran Saya Alan," kata Bayan sambil menatap Fikri lekat.


Fikri terkejut bukan kepalang. Ia menatap Bayan beberapa saat lalu beralih pada Nathan dan Nicko. Saat melihat Nathan dan Nicko mengangguk, Fikri pun tersenyum lalu memeluk Bayan erat. Hal yang telah lama ingin ia lakukan.


Rupanya setiap melihat Bayan selalu ada desakan kuat dalam diri Fikri untuk memeluknya. Kadang Fikri membayangkan rasa nyaman saat memeluk Bayan, namun detik kemudian ia menggeleng karena merasa keinginannya aneh dan tak masuk akal meski pun Fikri ingin memeluk Bayan layaknya anak yang memeluk ayahnya.


Dan saat Bayan mengatakan dia adalah keponakan kandungnya, saat itu lah Fikri mengerti mengapa memiliki perasaan aneh itu tiap berdekatan dengan Bayan.


Fikri mengurai pelukannya lalu mengusap matanya yang basah.


"Maaf Pak," kata Fikri.


"Panggil Om aja atau Ayah kalo Kamu mau. Karena Saya dan Ayah Kamu kan saudara kembar," pinta Bayan.


"Baik lah ... Ayah ...," sahut Fikri ragu dan suara bergetar.


Panggilan Fikri untuknya membuat Bayan tersenyum lebar. Ia kembali merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Fikri. Tapi belum sempat ia memeluk Fikri, Nathan dan Nicko sudah lebih dulu memeluk Fikri hingga ia hanya memeluk angin.


Aksi Nathan dan Nicko membuat Anna dan Ayu tak kuasa menahan tawa. Bahkan Arafah juga ikut tertawa melihat ayahnya dipeluk sedemikian rupa oleh Nathan dan Nicko.


"Ga sabaran banget sih jadi orang. Kalian kan bisa tunggu sampe Ayah selesai ngomong sama Fikri," gerutu Bayan.


"Sorry Yah, kelamaan !" kata Nathan disambut tawa semua orang.


Setelah mengurai pelukannya dengan Nathan dan Nicko, Fikri pun beralih memeluk istrinya.


"Ternyata mereka benar-benar keluarga Kita Mi," kata Fikri.


"Iya Bi. Keinginan Kamu untuk menjadikan keluarga Pak Bayan sebagai keluarga Kita kesampean. Ternyata Kamu memang keluarga mereka karena punya darah yang sama dengan mereka," sahut Ayu sambil mengusap punggung Fikri dengan lembut.


Ucapan Ayu membuat suasana kembali dilingkupi rasa haru.


Setelahnya Bayan pun mulai bercerita tentang Alan. Wajah Fikri, Nathan dan Nicko nampak tegang. Sesekali Nathan menepuk punggung Fikri lembut agar Fikri tak larut dalam kesedihan. Nathan tahu jika saat itu Fikri sedang merasa bahagia sekaligus sedih. Bahagia saat jati dirinya terungkap tapi sedih karena ayah yang selama ini ia rindukan ternyata telah meninggal dunia.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2