Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
149. Kasih Dia Waktu


__ADS_3

Akad nikah Nicko dan Ramadhanti digelar di kediaman ustadz Zulkifli. Rencananya resepsi akan digelar sore hari bada Ashar hingga menjelang Maghrib di aula yang ada di samping rumah mertua Nicko itu.


Suasana terasa khidmat saat Nicko melantunkan ijab kabul dan janji suci pernikahannya dengan lantang. Anna yang awalnya tak menangis pun akhirnya tak kuasa menahan air mata saat Nicko menghadap padanya.


"Maafin Aku Bunda. Dan terima kasih atas semua pengorbanan, didikan, peluh dan air mata yang Bunda keluarkan untukku. Aku tak mungkin sanggup membalas semuanya tapi Aku janji untuk membuat Bunda bahagia," kata Nicko dengan suara bergetar.


"Sayangi Istrimu, didik dia supaya jadi wanita yang baik agar bisa menghargai semua orang. Melihatnya patuh, menghormatimu dan mematuhi semua ucapan baikmu adalah hal yang bikin Bunda bahagia," kata Anna lirih.


"Siap Bunda ...," sahut Nicko tegas hingga membuat Anna tersenyum.


Keduanya pun berpelukan, disusul Bayan dan Nathan. Kemudian gantian Ramadhanti yang menghadap. Anna tak berpesan banyak pada menantunya itu karena ia yakin besannya yaitu ustadz Zulkifli dan istrinya, pasti telah memberi banyak wejangan pada gadis cantik itu.


Setelahnya acara dilanjutkan dengan makan siang bersama. Usai menikmati makan siang, kedua pengantin diminta masuk ke kamar untuk bersiap ganti kostum. Karena Ramadhanti sedang datang bulan, maka ia yang lebih dulu dirias. Sedangkan Nicko hanya perlu berganti kostum.


Sambil menunggu dua pengantin dirias, Anna dan Bayan pun duduk bercengkrama dengan ustadz Zulkifli dan istrinya. Sedangkan Nathan nampak duduk di teras sambil mencoba menghubungi Hilya.


"Kenapa Nath, kok gelisah gitu ?" tanya Fikri.


"Gapapa Bang," sahut Nathan.


"Yakin ?" tanya Fikri.


"Yakin lah. Kenapa Abang tanya kaya gitu ?" tanya Nathan.


"Gapapa sih. Cuma berasa ada yang kurang aja. Kan semua berpasangan, Ayah sama Bunda, Aku sama Mbak Ayu dan Arafah, Nicko sama Danti. Terus Kamu sama siapa Nath ?" tanya Fikri pura-pura bingung.


"Ga usah ngeledek bisa ga sih Bang. Aku juga ga mau kaya gini. Tapi Hilya tuh ga ngerespon telepon Aku daritadi, jadi gimana bisa Aku ajak ke sini !" sahut Nathan gusar.


"Jemput aja Nath, mungkin dia lupa," sela Ayu tiba-tiba.


"Ga mungkin lupa dong Sayang. Kan undangannya udah disebar. Kamu juga udah telephon dia juga kemarin," kata Fikri sambil menatap Ayu.


"Iya sih. Tapi bisa jadi dia beneran lupa karena sibuk di Rumah Sakit. Makanya Nathan jemput aja ke Rumah Sakit sekarang. Udah deket waktunya dia pulang kan ?" tanya Ayu.


"Ntar kalo dia ngambek gimana Mbak. Tau sendiri kan gimana Hilya ?" tanya Nathan.


"Gampang. Kamu tinggal ingetin pesan Bunda aja. Seingat Mbak waktu itu Bunda udah wanti-wanti Hilya supaya datang di pernikahan Nicko. Bilang aja Bunda nyariin, biar Hilya mau datang ke sini," sahut Ayu santai.

__ADS_1


Nathan nampak berpikir sejenak kemudian tersenyum.


"Boleh juga tuh idenya Mbak Ayu. Ok deh, Aku jemput Hilya sekarang," kata Nathan antusias sambil melangkah kearah parkiran.


Ayu dan Fikri pun tersenyum melihat Nathan yang sigap melajukan motornya meninggalkan tempat itu.


"Kok Abi jadi kasian sama Nathan ya Mi," kata Fikri setelah Nathan tak lagi terlihat.


"Kasian kenapa Bi ?" tanya Ayu tak mengerti.


"Kayanya cinta Nathan bertepuk sebelah tangan. Iya ga sih Mi ?" tanya Fikri ragu.


"Kalo menurut Aku sih ga Bi. Nathan sama Hilya tuh sama-sama suka, mungkin juga cinta. Tapi Hilya minder karena merasa berasal dari keluarga yang ga sehebat keluarga Nathan. Padahal Ayah sama Bunda dan Kita semua udah menerima dia dengan tangan terbuka. Mungkin Nathan hanya perlu berjuang sedikit lagi untuk meluluhkan hati Hilya. Kalo kali ini berhasil, insya Allah ke depannya hubungan mereka bakal lancar kaya jalan tol," kata Ayu sambil tersenyum.


Fikri pun ikut tersenyum mendengar ucapan istrinya itu. Setelahnya ia mengajak Ayu melihat persiapan acara di aula yang terletak tak jauh dari rumah ustadz Zulkifli.


\=\=\=\=\=


Hilya baru saja keluar dari loby Rumah Sakit saat matanya menangkap sosok Nathan yang berjalan kearahnya. Saat itu Hilya menjadi gugup. Ia menghentikan langkahnya sambil menunggu Nathan mendekat.


"Kebetulan ketemu di sini. Kamu baru pulang Hil ?" sapa Nathan dengan ramah.


"Mau jemput Kamu," sahut Nathan cepat.


"Jemput Aku ?" ulang Hilya tak percaya.


"Iya. Kamu ga lupa kan kalo hari ini Nicko menikah. Acara akad nikahnya sih udah tadi, tinggal resepsinya aja nanti. Bunda nyariin Kamu karena katanya Bunda udah ngundang Kamu. Makanya Aku datang ke sini buat jemput Kamu biar ga nyasar" sahut Nathan cepat.


"Astaghfirullah aladziim ..., Aku lupa Nath !. Duh gimana nih ?!" kata Hilya panik.


Nathan tersenyum diam-diam karena dugaannya jika Hilya menghindar darinya salah besar. Ternyata Hilya memang lupa dengan undangan itu.


"Kamu tenang aja. Kita belum terlambat datang kok," kata Nathan.


"Maksud Kamu Kita ke sana sekarang ?. Tapi Aku ga mungkin pake baju ini ke acara pernikahan Nicko !" sahut Hilya gusar.


"Gampang. Kita bisa mampir ke butik dulu buat beli baju. Abis itu Kita langsung ke acaranya Nicko. Gimana ?" tanya Nathan.

__ADS_1


"Ok deh," sahut Hilya cepat.


Kemudian Nathan dan Hilya bergegas meninggalkan area Rumah Sakit dengan berboncengan.


Nathan pun menepikan motornya di sebuah butik lalu meminta Hilya masuk untuk memilih pakaian di sana.


"Harga pakaian di butik ini kan mahal Nath. Kayanya Aku harus mikir ulang kalo mau belanja di sini," bisik Hilya.


"Aku yang bayar karena ini kan acara pernikahan Adikku. Ayo buruan," ajak Nathan sambil menggamit tangan Hilya.


Hilya nampak sedikit ragu. Apalagi Nathan memilihkan gaun yang warnanya senada dengan kemeja batik yang ia kenakan saat itu. Namun karena terus mendapat tatapan yang mengintimidasi dari Nathan, mau tak mau Hilya pun terpaksa mengalah.


Sesaat setelah mengganti seragam perawatnya dengan gaun berwarna ungu cerah sekaligus mempercantik penampilannya, Hilya pun melangkah menemui Nathan.


Nathan nampak termangu takjub melihat penampilan Hilya yang berbeda dari biasanya itu.


"Kamu cantik banget Hilya," kata Nathan sungguh-sungguh.


"Makasih Nath. Terus kapan Kita berangkat ?" tanya Hilya untuk menyembunyikan rasa bahagianya karena pujian Nathan tadi.


"Sekarang dong," sahut Nathan sambil meraih jemari Hilya lalu menggandengnya menuju motor.


Tak lama kemudian Nathan dan Hilya pun kembali duduk di atas motor lalu bergegas pergi menuju aula tempat resepsi pernikahan Nicko dan Ramadhanti digelar.


Tiba di sana acara baru saja dimulai. Sepasang pengantin nampak duduk di pelaminan ditemani kedua orangtua masing-masing.


Melihat kehadiran Hilya bersama Nathan membuat Ayu tersenyum lebar. Ia memberi isyarat pada suaminya seolah memberitahu jika hubungan Nathan dan Hilya baik-baik saja.


Ayu menyambut kedatangan Hilya dengan hangat. Lalu ia membawa Hilya berkeliling setelah menyapa Bayan, Anna dan sepasang pengantin.


"Jangan diliatin mulu Nath, ntar dia malah takut," tegur Fikri saat dilihatnya Nathan menatap Hilya tanpa berkedip.


"Iya Bang. Aku cuma mikir kenapa Hilya ga peka juga sama perasaanku. Padahal Aku udah ngasih sinyal yang jelas buat dia," sahut Nathan sambil mengusap wajahnya.


"Hilya udah tau kok kalo Kamu serius sama dia. Dia cuma lagi menata hati untuk nerima Kamu. Kasih dia waktu sedikit lagi dan jangan terus menerus ditekan. Kalo Kalian berjodoh, pasti menikah juga nanti," kata Fikri bijak.


Nathan pun terdiam seolah memikirkan ucapan Fikri. Sesaat kemudian ia mengangguk sambil tersenyum pertanda telah menemukan cara menaklukkan Hilya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2