Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
152. Kabar Gembira


__ADS_3

Kondisi Arafah yang membaik membuat Ayu tenang. Meski pun hasil laboratorium baru akan keluar besok, Ayu terlihat lebih santai dan tak terlalu khawatir. Apalagi Arafah nampak tidur dengan lelap setelah dokter memberinya obat melalui cairan infus.


Kemudian Ayu meminta Bayan dan Anna pulang karena iba melihat kondisi keduanya yang kelelahan. Bayan pun setuju dan meminta Nicko menemani Ayu.


"Jangan biarin Mbakmu sendirian ya Nick. Kasian dia kalo sampe Arafah demam lagi. Keliatannya Abangmu bakal lama ngobrol sama Hilya dan ga tau balik jam berapa nanti," kata Bayan sambil melangkah menuju pintu.


"Siap Yah. Ayah tenang aja. Aku bakal temenin Mbak Ayu di sini," sahut Nicko sambil membuka pintu.


"Terus gimana sama Danti, apa dia gapapa ditinggalin sendirian Nick ?" tanya Anna.


"Insya Allah gapapa Bund. Justru Danti yang nyuruh Aku stay di sini karena khawatir sama Arafah," sahut Nicko sambil tersenyum.


"Syukur lah. Ternyata selain cantik dan sholehah, Danti juga pengertian. Bunda bangga punya menantu seperti dia," kata Anna sambil mengusak rambut Nicko dengan lembut hingga membuat Nicko tertawa.


Setelah mengantar Bayan dan Anna hingga keluar ruangan, Nicko pun kembali lalu menutup pintu.


Tak lama kemudian Nathan masuk ke ruang rawat Arafah dengan wajah yang berbinar bahagia. Dan tentu saja itu membuat Nicko dan Ayu mengerutkan keningnya lalu saling menatap bingung.


"Kenapa Abang keliatan happy gitu ya Mbak. Beda banget sama tadi," bisik Nicko.


"Iya. Oh mungkin abis dapat kabar yang menggembirakan," tebak Ayu.


"Ga usah nebak-nebak deh. Aku bakal kasih tau apa yang bikin Aku happy," sela Nathan sambil duduk di hadapan Ayu dan Nicko.


"Apaan Bang ?" tanya Nicko tak sabar.


"Aku sama Hilya baru aja jadian. Ternyata selama ini Hilya juga punya perasaan yang sama kaya Aku. Setelah ngobrol sebentar, Aku baru tau kalo Kami punya visi dan misi yang sama di masa depan. Insya Allah ga sampe setahun Aku udah nyandang status baru sebagai Suami nanti," sahut Nathan sambil tersenyum bahagia.


Nicko dan Ayu pun ikut bahagia mendengar ucapan Nathan.


"Selamat ya Bang. Udah ga jomblo lagi deh sekarang," kata Nicko sambil merengkuh bahu Nathan.


"Makasih Nick. Ternyata saran Bang Fikri ampuh buat ngatasin sikap cueknya Hilya," sahut Nathan sambil tersenyum penuh makna.


"Emang Abinya Arafah ngasih saran apa Nath ?" tanya Ayu penasaran.


"Cuma saran sederhana Mbak. Bang Fikri nyuruh Aku jangan terlalu menekan Hilya dengan perhatian bertubi-tubi karena itu bikin dia takut. Dan terbukti. Saat Aku mulai menjauh, Hilya justru mulai berpikir dan sadar kalo dia sebenernya juga suka sama Aku dan kehilangan saat Aku jauh," sahut Nathan sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


Jawaban Nathan membuat Ayu tersenyum. Ia teringat dengan dirinya dulu. Sikapnya juga mirip dengan sikap yang ditunjukkan Hilya pada Nathan sekarang. Dulu Ayu juga berupaya menghindar dari Fikri. Karena lelah menghindari Fikri, akhirnya Ayu mencoba berdamai dan mulai menerima perhatian Fikri. Endingnya mereka pun menikah hingga punya dua anak yaitu Arafah dan adiknya yang meninggal karena dimangsa kuyang itu.


"Ternyata satu keluarga punya cara yang sama dalam mengejar cewek ya," gumam Ayu lirih.


Meski hanya gumaman namun masih bisa didengar oleh Nathan dan Nicko. Keduanya saling menatap sejenak lalu tertawa. Tawa mereka terhenti saat Arafah menggeliat dan merengek.


\=\=\=\=\=


Setelah memantapkan diri untuk menjalin hubungan dengan Nathan, suasana hati Hilya pun berubah. Dan tentu saja itu berpengaruh pada sikap Hilya. Perawat cantik itu lebih sering tersenyum hingga membuat rekan-rekannya sesama perawat pun curiga.


"Gue perhatiin sejak kemarin Lo senyum terus Hil. Tambah ramah pake banget lho," kata seorang perawat.


"Masa sih. Biasa aja kok," sahut Hilya cepat.


"Iya. Jangan bilang kalo Lo abis menang undian," kata perawat lain.


"Undian apaan ?" tanya Hilya tak mengerti.


"Bukan undian tapi judi kali. Judi on line lebih tepatnya. Kan lumayan tuh, ga perlu hadir satu meja. Tapi kalo menang, uangnya langsung masuk ke rekening Kita," kata seorang perawat pria bernama Daniel dengan cuek.


"Aduuuhh ... sakit Hil !" jerit Daniel sambil berusaha menepis tangan Hilya dari rambutnya.


"Rasain !. Makanya jangan asal kalo ngomong. Gue tuh bukan Lo yang mau dibegoin situs online kaya gitu. Jangan-jangan Lo yang kecanduan judi sampe Istri Lo ngamuk di sini kemarin !" kata Hilya kesal.


"Enak aja. Istri Gue ngamuk bukan karena itu. Udah Hil, please lepasin Gue !" kata Daniel sambil meringis kesakitan.


Bukannya melepaskan cengkramannya, Hilya justru menarik rambut rekannya itu lebih keras hingga beberapa helai rambut Daniel rontok. Para perawat yang mengerubungi Hilya pun nampak bersorak gembira karena Hilya telah mewakili mereka untuk membungkam mulut perawat pria itu.


"Rasain !. Masih berani Lo sama Gue ?!" tantang Hilya.


"Ga kok, ampuun ... !" kata perawat Daniel sambil lari menjauh dari Hilya dan rekan-rekannya.


Sorak sorai pun kembali terdengar mengiringi kepergian Daniel. Hilya tertawa puas karena berhasil membungkam mulut Daniel yang terkenal ceriwis dan suka mengomentari sesuatu tanpa kenal tempat itu. Namun tawa Hilya terhenti saat ia melihat Daniel menabrak Nathan. Bukannya minta maaf, Daniel justru berlalu begitu saja.


Hilya pun bergegas menghampiri Nathan yang nampak menatap kesal kearah Daniel.


"Kamu gapapa kan Nath ?" tanya Hilya.

__ADS_1


"Gapapa. Siapa sih dia, teman Kamu ya. Kok ga punya atittude gitu sih ?" tanya Nathan kesal sambil melirik kearah kumpulan perawat yang berdiri di belakang Hilya.


"Iya," sahut Hilya tak enak hati.


"Maaf karena udah bikin ga nyaman ya Mas," kata rekan-rekan Hilya.


"Ga perlu minta maaf Suster. Kan bukan Kalian yang nabrak Saya tadi," sahut Nathan.


"Iya juga sih," kata para perawat itu sambil tersenyum.


Setelah basa basi, para perawat pun membubarkan diri dan kembali melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.


"Tapi Mas perlu tau. Barusan Hilya udah ngasih pelajaran sama perawat ga punya atittude itu. Dia lari karena takut dikejar sama Hilya tadi," sela seorang perawat saat melintas di samping Nathan dan Hilya.


"Oh begitu ...," kata Nathan sambil manatap Hilya lekat.


"Jangan dengerin dia Nath, Aku cuma ngasih teguran dikit aja kok," sahut Hilya cepat.


"Teguran dikit yang Kamu maksud tuh kaya gimana Hil ?" tanya Nathan penasaran.


"Aku cuma narik rambut Daniel dikit aja tadi," sahut Hilya.


"Tapi narik dikit kan ga harus sampe rontok Hil ...," kata rekan Hilya sambil berlalu.


Hilya pun melotot namun rekannya pura-pura tak peduli. Setelah rekannya menjauh terpaksa Hilya menjelaskan apa yang terjadi meski pun Nathan tak meminta.


"Abis bercandanya keterlaluan. Masa dia nuduh Aku ikutan judi online. Aku khawatir kalo ada yang denger dan ngira itu beneran kan gawat. Bisa-bisa Aku kena SP nanti. Sikap Daniel itu emang meresahkan. Apalagi ceriwisnya ngelebihin cewek. Ga jarang bikin mood orang berantakan gara-gara omongannya yang ga pake filter itu. Udah lama banget pengen ngasih dia pelajaran, eh keturutan juga. Pas dia nyerang Aku, langsung Aku hajar dia," kata Hilya berapi-api.


Mendengar cerita Hilya, Nathan pun tertawa. Hilya ikut tertawa melihat pria yang berstatus kekasihnya itu tertawa lepas tanpa beban.


"Terus shift kerja Kamu udah selesai kan ?. Gimana kalo temenin Aku sarapan ?" tanya Nathan sambil menggamit tangan Hilya dengan lembut.


"Boleh. Tapi tunggu Aku ganti baju dulu sebentar ya," pinta Hilya.


Nathan pun mengangguk. Sesaat kemudian keduanya nampak melangkah beriringan menyusuri koridor Rumah Sakit.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2