Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
200. Tanda Tanya


__ADS_3

Rosi mendongak menatap langit. Saat itu malam telah tiba dan artinya Rosi harus pergi. Saat Rosi bangkit dan akan beranjak pergi, dua orang pria menghadangnya. Rosi terkejut karena ia mengenali dua pria itu.


"Apalagi ini. Kenapa Kalian menghadangku. Minggir !" kata Rosi marah.


"Ga bisa. Kamu tau kalo Kamu harus pulang untuk mempertanggung jawabkan perbuatanmu !" sahut salah seorang pria.


Setelahnya dua pria itu menyeret Rosi lalu memasukkannya ke dalam mobil. Meski pun dilakukan dengan kasar tapi itu tak menyakiti Rosi sama sekali. Wanita itu pura-pura menjerit dan meronta agar dua pria itu yakin Rosi menolak dibawa pergi.


Saat mobil mulai melaju, Rosi pun tersenyum diam-diam. Kini ia tahu dimana ia harus tinggal setelah terusir dari Klinik Bersalin Hilya.


Dari kejauhan sepasang mata menyaksikan kejadian itu dengan seksama. Pria itu adalah Bayan. Ia berniat membantu Rosi tàdi. Tapi saat melihat senyum tipis di wajah Rosi, Bayan pun mengurungkan niatnya.


"Dia bukan wanita biasa. Ada sesuatu yang dia sembunyikan dan nampaknya Aku harus mengingatkan Hilya nanti," gumam Bayan.


Bayan membungkukkan tubuhnya saat mobil yang membawa Rosi melintas di sampingnya. Bayan tak ingin Rosi dan dua pria itu tahu jika aksi mereka terlihat olehnya.


Setelah mobil yang membawa Rosi menjauh, Bayan pun menstarter mobilnya lalu mengikuti mobil itu.


Bayan tak kesulitan mengikuti mobil itu karena jalan raya yang lumayan padat membuat laju mobil sedikit terhambat. Dan saat kepadatan berakhir, Bayan pun kembali mengikuti mobil yang nampak memasuki gerbang tol menuju keluar kota.


Dari jarak sekitar sepuluh meter dan dengan kecepatan yang stabil, Bayan terus mengikuti mobil itu.


Bayan baru berhenti saat mobil memasuki sebuah pekarangan rumah yang besar. Dari tempatnya Bayan bisa melihat dua pria yang membawa paksa Rosi itu keluar dari mobil. Mereka kembali menarik Rosi keluar meski Rosi berusaha menepis tangan mereka.


Dengan mudah kedua pria itu meringkus Rosi lalu membawanya masuk ke dalam rumah. Namun sebelum masuk, seorang pria tua menghadang mereka. Ia nampak menampar wajah Rosi dengan keras hingga kepala wanita itu menoleh ke samping.


Setelahnya pria tua itu juga menjambak rambut Rosi hingga wajah wanita itu mendongak ke atas. Tak jelas apa yang dikatakan pria itu tapi Bayan yakin jika pria itu sangat marah pada Rosi.


Tak lama kemudian Rosi diseret masuk ke dalam rumah. Tak ada jeritan atau penolakan karena nampaknya Rosi pun takut dengan ancaman pria itu.


Mengetahui Rosi dibawa masuk, Bayan pun segera meninggalkan tempat itu. Ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi dan berharap bisa tiba di rumah dengan cepat.


"Aku kan ga kenal sama dia, ga tau siapa dia, tapi kenapa Aku dengan sukarela mengikuti dia sampe di sana. Ini sungguh ga masuk akal," gumam Bayan sambil menggelengkan kepala karena tak mengerti mengapa ia mengikuti Rosi tadi.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Bayan sedang mempelajari dokumen kerja sama antara perusahaannya dengan perusahaan lain saat Nathan masuk ke dalam ruangannya.


"Ayah ...," panggil Nathan sambil menutup pintu.


"Iya Nak, ada apa ?" tanya Bayan sambil meletakkan dokumen di meja.


"Apa Ayah menunjuk Pak Alex jadi pengacara untuk Klinik Hilya ?" tanya Nathan.


"Iya. Ayah pikir itu bagus supaya Hilya ga perlu kebingungan saat menghadapi Polisi. Hilya pasti cemas karena pernah ada di posisi yang sama seperti dulu," sahut Bayan.


"Makasih ya Yah. Aku kira Pak Alex hanya mendampingi Hilya secara pribadi. Tapi tadi Pak Alex bilang kalo dia juga ditunjuk untuk membantu Klinik Hilya agar terbebas dari tuduhan pembunuhan. Jujur Aku senang karena itu artinya Hilya ga perlu menguras energi untuk memenuhi panggilan polisi," kata Nathan sambil tersenyum.


Bayan ikut tersenyum lalu bangkit dari duduknya lalu mengajak Nathan duduk di sofa.


"Terus Pak Alex bilang apa lagi sama Kamu ?" tanya Bayan.


"Pak Alex bingung melihat rekaman CCTV yang terputus dan ga nyambung itu Yah. Kaya ada seseorang atau sesuatu yang udah merusak kamera," sahut Nathan.


"Kamera yang ada di lorong kamar mandi Yah. Kata Pak Alex, di rekaman terlihat kalo Endah masuk ke sana sendiri. Tapi aneh karena setelahnya Endah ga keluar lagi dan ditemukan meninggal dunia saat siang hari," sahut Nathan.


Jawaban Nathan membuat Bayan ikut bingung. Apalagi setelahnya Nathan juga mengatakan tak ada seorang pun yang terlihat keluar masuk kamar mandi kecuali wanita yang menjerit histeris itu.


Saat sedang kebingungan, pintu ruang kerja Bayan diketuk. Bayan dan Nathan menoleh lalu tersenyum melihat sekretaris Bayan berdiri di ambang pintu. Wanita itu memberitahu jika Alex datang dan ingin bicara dengan Bayan.


"Tolong suruh masuk sekarang ya Wat. Makasih," kata Bayan.


Wati mengangguk takzim lalu kembali bersama Alex. Setelahnya Wati keluar dari ruangan.


Bayan dan Nathan pun menyambut Alex dengan antusias. Mereka melanjutkan pembicaraan mereka yang terhenti tadi.


"Jadi apa Kamu liat ada yang aneh di rekaman CCTV itu Lex ?" tanya Bayan penasaran.

__ADS_1


"Ada Pak. Setelah Bu Endah masuk, dia ga pernah keluar lagi. Cuma ada sedikit yang mengganjal dan Saya ga ngomomg sama Polisi karena khawatir ditertawai," sahut Alex.


"Kok gitu. Emangnya apa lagi yang Kamu liat ?" tanya Bayan.


"Mmm ..., Saya sempet merasa kalo Saya cuma salah liat. Tapi menurut Saya, gerakan dan mimik wajah Bu Endah saat masuk ke dalam kamar mandi itu sedikit aneh Pak. Apalagi tak lama setelah Bu Endah masuk, Saya ngeliat pintu kamar mandi terbuka sendiri kaya ada seseorang yang menarik dan menutup pintu. Awalnya cuma Saya yang menyadari hal itu. Tapi ternyata ada polisi lain yang juga ngamatin itu. Dan untuk sementara polisi menganggap pintu bergerak karena angin Pak," sahut Alex.


"Begitu ya. Terus, denger-denger wanita itu terluka juga. Dibagian mana ?" tanya Bayan.


"Ini juga yang jadi pertanyaan Pak. Untuk wanita seusia Bu Endah ini rasanya ga mungkin hamil apalagi mengalami keguguran. Tapi darah yang keluar dari organ int*mnya itu mirip seperti orang yang keguguran. Kalo Saya pribadi sih berpikir darah itu berasal dari luka di bagian dalam," sahut Alex.


Bayan dan Nathan saling menatap sejenak karena menemukan kejanggalan pada cerita Alex. Untuk sejenak ruangan itu hening karena ketiganya sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Jadi ga ada siapa pun termasuk menantu Saya yang keluar masuk di kamar mandi itu kan Lex ?" tanya Bayan beberapa saat kemudian.


"Iya Pak. Saat kejadian Mbak Hilya sedang ada di ruangannya menangani pasien," sahut Alex cepat.


"Bagus, terima kasih infonya. Tolong kawal terus kasus ini ya. Dan kabari Kami jika ada hal yang aneh seperti tadi," pinta Bayan.


"Siap Pak. Kalo gitu Saya permisi. Mari Mas Nathan," kata Alex.


"Iya Pak Alex," sahut Nathan sambil tersenyum.


Setelah kepergian Alex, Nathan pun mengemukakan apa yang ada di benaknya sejak tadi.


"Apa Ayah juga berpikir sama sepertiku. Ada sesuatu tak kasat mata yang bekerja dan melukai wanita itu. Dan kalo boleh Aku nebak, mungkin ini berkaitan dengan siluman kuyang yang menyerang Mbak Ayu dan bayinya. Apalagi Pak Alex bilang kalo wanita itu juga terluka di bagian organ int*imnya," kata Nathan.


"Masuk akal. Karena sampe sekarang kan Kita belum nemuin siapa yang menganut ilmu hitam itu. Jujur Ayah juga kesulitan nemuin jejaknya. Sepertinya kekuatan kuyang yang ini udah mencapai tingkatan tertinggi. Makanya ga ninggalin jejak dan sulit dilacak," sahut Bayan gusar.


"Jadi gimana Yah ?" tanya Nathan.


"Kita ga bisa berbuat apa-apa selain menunggu. Dan untuk sementara Kita bisa tenang karena kuyang itu ga bakal bisa beroperasi di Kliniknya Hilya," sahut Bayan.


Nathan pun mengangguk setuju. Ia cukup tenang karena kuyang itu tak akan membahayakan istrinya dan wanita hamil lainnya saat ini.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2