
Mia masih menangis terisak dalam pelukan Nathan. Ia enggan melepaskan pria yang telah mengisi hatinya itu dengan alasan apa pun. Sedangkan hujan yang turun pun perlahan bertambah lebat hingga membasahi pakaian Nathan dan Mia.
"Kenapa ... kenapa pergi Nathan ...?" tanya Mia di sela tangisnya.
"Maafkan Aku Mia. Tapi Aku ... Ada tanggung jawab besar yang harus Aku pikul. Aku ...," ucapan Nathan terputus karena Mia memotong cepat.
"Tanggung jawab apa ?!. Jangan bilang Kamu menghamili gadis lain Nathan !" kata Mia marah sambil mendorong tubuh Nathan hingga Nathan terpaksa melepaskan pelukannya dan mundur beberapa langkah.
"Aku ga kaya gitu Mia !" sahut Nathan lantang hingga membuat Mia terkejut.
"Terus apa alasannya ?!" tanya Mia gusar.
Nathan pun terpaksa mengulangi lagi penjelasannya tentang apa alasan yang menyebabkan dia resign dari pekerjaannya. Entah mengapa mendengar penjelasan Nathan membuat air mata Mia kembali menderas di wajahnya.
"Jadi hanya itu ?" tanya Mia.
"Iya !" sahut Nathan.
"Bukan karena gadis lain ?" tanya Mia.
"Bukan," sahut Nathan sambil menggeleng.
Jawaban Nathan membuat Mia tersenyum. Sedetik kemudian Mia kembali menghambur ke pelukan Nathan.
"Pergi lah Nathan. Aku senang akhirnya Kamu mengerti apa yang harus Kamu lakukan," kata Mia.
Nathan pun membalas pelukan Mia. Ia bahkan mengusap punggung gadis itu dengan lembut. Sesaat kemudian keduanya saling mengurai pelukan.
"Terima kasih Mia. Ini ga akan terjadi tanpa dukungan darimu. Tolong tunggu Aku sebentar saja. Aku janji akan kembali untukmu. Apa Kamu mau menungguku Mia ?" tanya Nathan sambil menatap gadis itu lekat.
"Tentu. Aku akan menunggumu di sini," sahut Mia sambil tersenyum manis.
Nathan pun tersenyum lalu kembali memeluk gadis itu.
Saat petir menggelegar Mia pun menjerit dan makin mengeratkan pelukannya. Nathan tertawa terbahak-bahak sedangkan Mia nampak menyembunyikan wajahnya di pelukan Nathan.
Tiba-tiba Nathan membisikkan sesuatu di telinga Mia hingga membuat gadis itu tersipu. Dan saat Mia mendongakkan wajahnya, saat itu pula Nathan mendaratkan ciuman di bibir Mia.
Marco dan istrinya yang menyaksikan interaksi Nathan dan Mia dari balik jendela pun nampak membeku melihat apa yang dua sejoli itu lakukan.
__ADS_1
Dengan sigap Marco menurunkan tirai jendela lalu membawa istrinya menjauhi jendela karena merasa tak enak hati mengintip anaknya yang sedang berciuman.
"Papa liat itu kan ?. Nathan nyium Mia Pa !. Jangan-jangan mereka pacaran Pa !" kata istri Marco sambil mengguncang lengan sang suami.
"Iya iya Ma. Papa liat kok. Tapi Mama ga usah gini dong," pinta Marco sambil menepis tangan istrinya dengan lembut.
"Ini benar-benar di luar dugaan. Ternyata Mia sama Nathan pacaran. Tapi sejak kapan ?. Bukannya Mama ngelarang Mia untuk jatuh hati sama Nathan ?!" kata istri Marco gusar.
"Ck, udah lah Ma. Ga usah lagi Kamu larang Mia buat deket sama Nathan. Jujur Papa ga keberatan Nathan jadi menantu Kita. Eits ..., Papa ngomong gini bukan karena Nathan Anak dari rekan bisnis Papa lho Ma," kata Bayan mengingatkan.
"Iya Mama tau. Sejak awal Papa emang udah berniat mendekatkan Mia sama Nathan kan ?. Mama emang jahat karena sempet ga merestui mereka dulu," kata istri Marco sambil menundukkan kepalanya.
Ucapan istrinya membuat Marco tertawa bahagia. Itu artinya kini sang istri merestui hubungan Mia dan Nathan. Marco pun memeluk istrinya sambil menjelaskan alasannya memilih Nathan menjadi body guard Mia dulu.
"Papa punya alasan kenapa Papa mempercayakan Mia untuk dijaga sama Nathan dulu Ma. Papa ngeliat ketulusan Nathan dan sikap tanggung jawabnya. Selain itu Nathan juga ganteng dan keren, rasanya cocok kalo mendampingi Mia. Apalagi setelah Papa tau kalo Nathan Anaknya Pak Bayan, rasanya Papa ga punya alasan untuk nolak Nathan jika dia ingin menikahi Mia," kata Bayan sambil tersenyum.
"Iya Pa. Mama juga ga keberatan Mia menikah sama Nathan. Cuma masalahnya, apa Pak Bayan dan Bu Anna bersedia menerima Anak Kita jadi menantunya ?" tanya istri Marco.
"Itu tugas Mama buat meyakinkan Bu Anna," sahut Marco sambil mengurai pelukannya.
"Kok tugas Mama sih Pa ?!" protes istri Marco.
Istri Marco nampak menatap punggung suaminya dengan nanar. Ia ingat bagaimana sikapnya saat menyeleksi setiap pria yang tertarik pada putri cantiknya itu.
"Kayanya Aku kena batunya sekarang," gumam istri Marco sambil terduduk di sofa.
Ssmentara di luar sana Nathan dan Mia masih asyik bertukar saliva. Mereka baru berhenti saat petir kembali menggelegar.
Nathan pun menarik Mia ke teras agar tak tersambar petir.
"Sekarang Kamu masuk ya. Bajumu basah semua nih, nanti Kamu sakit," kata Nathan.
"Iya. Tapi Aku boleh nganter Kamu ke bandara kan ?" tanya Mia penuh harap.
"Tentu saja. Aku bakal kabarin Kamu kapan Aku berangkat. Tapi ingat, jangan telat !" kata Nathan sambil mencubit pipi Mia dengan gemas.
"Siap Bos. Aku masuk sekarang. Kamu hati-hati di jalan ya ...," kata Mia sambil tersenyum.
Nathan pun mengangguk lalu membiarkan Mia masuk ke dalam rumah lebih dulu. Setelahnya Nathan melangkah menuju motornya yang terparkir di halaman. Sesaat kemudian Nathan pun pergi meninggalkan rumah Marco, tempat dimana ia mengukir kisah cintanya dengan Mia.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Anna dan Bayan kembali melepas kepergian putra sulung mereka untuk menuntut ilmu. Meski pun kali ini lebih jauh karena Nathan memilih melanjutkan pendidikannya di luar negeri.
Di bandara Soekarno Hatta itu lah pertama kali Anna bertemu dengan Mia, kekasih Nathan. Perasaan Anna membuncah saat mengetahui kekasih Nathan adalah anak dari rekan bisnis suaminya.
"Assalamualaikum, apa kabar Tante. Saya Mia...," kata Mia sambil mencium punggung tangan Anna.
"Wa alaikumsalam. Oh, hallo Mia," sahut Anna dengan ramah sambil menatap Nathan seolah bertanya siapa gadis itu.
"Ini pacar Aku Bund," kata Nathan.
Anna pun tersenyum sedangkan Mia nampak tersipu malu. Nicko yang juga baru pertama kali bertemu Mia pun nampak terpaku menatap Mia. Nampaknya Nicko kagum akan kecantikan Mia.
"Hush ...!. Biasa aja dong matanya," kata Nathan sambil menjentikkan jarinya di depan wajah sang adik.
"Iya Bang. Aku juga biasa aja kok," sahut Nicko sambil membuang pandangannya kearah lain.
"Kenapa, cantik ya ?" tanya Nathan menggoda adiknya.
"Iya. Boleh ga kalo Aku lukis kapan-kapan Bang ?" tanya Nathan.
"Ga boleh !" sahut Nathan cepat sambil melotot.
"Dasar pelit !" kata Nicko.
"Biarin. Makanya cari pacar sana. Jangan gangguin pacar Abang ya!" gurau Nathan saat melihat Nicko terdiam.
Mia yang sedang berbincang dengan Anna pun menoleh lalu tersenyum kearah Nicko. Mia bahkan menyapa Nicko dengan ramah hingga membuat Nicko bahagia.
"Kapan-kapan Aku lukis Kakak boleh ya," pinta Nicko to the point.
"Boleh dong. Tapi yang bagus ya," gurau Mia hingga membuat Nicko tertawa sambil mengacungkan jempolnya.
Tak lama kemudian Nathan tampak bersiap untuk berangkat. Sekali lagi ia memeluk kedua orangtuanya juga adiknya. Khusus untuk ssng bunda Nathan memperlskukannya lebih spesial. Nathan memeluk Anna lama untuk mendengarkan pesan sang bunda.
Setelahnya Nathan beralih pada Mia. Kali ini ia hanya menjabat tangan Mia erat sambil mengusap kepala sang kekasih dengan lembut. Tak ada kata yang ia ucapkan namun nampaknya Mia mengerti. Gadis itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum seolah meyakinkan Nathan jika ia akan setia menunggu hingga sang kekasih kembali nanti.
\=\=\=\=\=
__ADS_1