
Sementara itu di rumah dimana Rosi disandera.
Rosi nampak sedang duduk sambil menikmati sarapan paginya. Wanita itu tampak tenang. Raut wajahnya pun datar seolah tak merasa terganggu dengan tatapan semua orang yang saat itu sedang menatapnya.
Kemudian Rosi meneguk teh manis hangat di hadapannya. Setelah meneguk setengah isinya, Rosi melempar cangkir itu ke lantai begitu saja hingga mengejutkan semua orang.
"Berhenti menatapku seperti itu !. Meski Aku hanya tawanan, tapi Aku juga Nyonya di rumah ini !" kata Rosi lantang.
Semua orang yang terdiri dari empat wanita dan dua orang pria itu tersentak kaget lalu menundukkan pandangan karena tersadar dengan sikap tak patut mereka tadi. Disebut tak patut karena yang mereka tatap adalah nyonya di rumah itu. Istri sah dari pria yang menggaji mereka.
Setelah mendengar makian Rosi, mereka bergerak menjauh dari Rosi untuk kembali melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing. Satu orang diantaranya mendekati Rosi untuk membersihkan lantai yang kotor karena pecahan cangkir tadi.
Rosi mendengus kesal lalu beranjak meninggalkan ruang makan. Ia melangkah menuju halaman belakang dan duduk di gazebo yang ada di sana.
Rosi menghela nafas sekali lagi untuk meredakan amarah yang sempat menguasai dirinya tadi. Rosi kesal karena tak bisa keluar rumah untuk melakukan sesuatu yang ia sukai. Sejak kembali tertangkap, Rosi tak diijinkan keluar rumah meski hanya untuk membeli baso di kios langganannya.
Rosi menatap jauh ke depan sambil termenung. Ia sadar kedudukannya saat ini hanya tawanan. Tapi Rosi bukan tawanan biasa. Ia tawanan berkelas karena ditawan oleh suaminya sendiri dan di rumahnya sendiri. Bagaimana tidak. Rumah itu dan semua isinya adalah milik Rosi, pemberian dari suami yang dinikahi Rosi belasan tahun lalu.
Pria tua yang menampar Rosi malam ketika Rosi tiba di rumah itu adalah suaminya. Pria bernama Suro itu marah karena Rosi pergi darinya tanpa kabar berita.
Rosi kembali teringat dengan pertemuan pertamanya hingga dia bisa menikahi pria tua itu.
Kala itu Rosi terlunta-lunta karena kehilangan keluarganya. Mereka adalah suami dan anak tunggalnya. Ia kehilangan arah dan tak tahu akan pergi kemana. Berhari-hari atau mungkin berminggu-minggu Rosi berkelana dari satu tenpat ke tempat lain. Ia makan apa pun yang ia temui. Mengemis dan memohon belas kasih orang adalah pekerjaannya. Hingga siang itu tak sengaja ia bertemu Suro.
Saat itu Suro sedang melintas dengan mobil mewahnya. Rosi yang berdiri di tepi jalan nampak mengagumi mobil Suro. Dan saat mobil itu berhenti, Rosi bergegas menghampiri. Rosi menyentuh mobil itu untuk menuntaskan rasa penasarannya.
Namun apa yang dilakukan Rosi membuat anak buah Suro marah. Mereka menarik Rosi dengan kasar hingga Rosi menjerit.
Jeritan Rosi terdengar oleh Suro yang saat itu tengah bicara dengan pemilik warung nasi. Ia menoleh dan melihat anak buahnya tengah memegangi seorang wanita.
"Lepaskan dia !" kata Suro lantang.
__ADS_1
Dua anak buah Suro bergegas melepaskan Rosi lalu menjauh. Suro menatap Rosi dengan tatapan tak terbaca. Seulas senyum tipis tersungging di bibirnya saat seorang anak buahnya menjelaskan apa yang terjadi.
"Bawa dia kemari," kata Suro yang segera diangguki oleh anak buahnya.
Dua orang menyeret Rosi dan membawanya ke hadapan Suro. Untuk sejenak tatapan keduanya bertemu. Sesaat kemudian Suro mengulurkan tangannya kearah Rosi yang langsung ditepis oleh wanita itu.
"Jadi ... Kamu suka mobilku hmmm ...?" tanya Suro.
"Bu-bukan begitu. A-Aku cuma mau menyentuhnya sebentar karena ada debu di sana," sahut Rosi berbohong.
"Aku tak pernah mengijinkan orang lain menyentuh barang milikku sembarangan. Jika itu terjadi, maka akan ada hukuman yang Aku berikan. Dan hukumannya adalah ...," Suro sengaja menggantung ucapannya karena ingin anak buahnya yang melanjutkan.
"Potong tangan," sela anak buah Suro menegaskan.
"Betul," kata Suro cepat.
Rosi menelan saliva dengan sulit mendengar ucapan Suro dan anak buahnya. Ia tak menyangka jika rasa penasarannya akan membuatnya celaka.
Suro tersenyum lebar lalu mengagguk cepat.
"Tentu. Kau bisa menebusnya dengan dirimu," kata Suro.
"Di-diriku. Maksud Tuan, tu-tubuhku ?" tanya Rosi ragu namun membuat Suro tertawa.
Rosi mundur beberapa langkah karena tak menyangka jika tebusan yang diminta Suro sekejam itu.
"Aku suka wanita cerdas sepertimu. Katakan siapa namamu," kata Suro.
Rosi terdiam sejenak. Ia menatap Suro dengan tatapan tajam.
"Rosi," kata Rosi kemudian saat melihat anak buah Suro mulai bergerak mendekatinya.
__ADS_1
"Baik lah Rosi. Ikut denganku, menikah denganku, maka Kamu akan bahagia," kata Suro tanpa ragu.
"Me-menikah ?" tanya Rosi tak percaya.
"Ya. Walau Kau bukan Istri pertama dan satu-satunya, tapi percaya lah, Aku sanggup membahagiakanmu !" kata Suro lantang lalu melirik anak buahnya.
Rosi belum sempat menjawab pernyataan Suro saat anak buah Suro menangkapnya. Rosi ingin menjerit tapi suaranya hilang entah kemana. Dan Rosi pun jatuh pingsan. Rosi tak tahu bagaimana cara Suro membawanya. Ia hanya tahu sudah berada di rumah itu saat membuka mata.
Awalnya Rosi ingin lari. Tapi dengan lantang Suro menyatakan bahwa dia adalah Istrinya dan menunjukkan bukti yang entah mengapa membuat Rosi membeku. Dan malam itu untuk pertama kalinya Rosi menjalankan tugasnya sebagai istri Suro.
Rosi kembali menghela nafas panjang saat ingatannya berakhir.
"Menikah ...," gumam Rosi sambil tersenyum getir.
Rosi mengepalkan tangannya karena menahan marah.
Pernikahannya dengan Suro bukan lah pernikahan impian seperti yang Rosi inginkan. Suro hanya memanfaatkan Rosi untuk melampiaskan hasratnya. Hasrat yang katanya tak pernah bisa terpenuhi oleh istri-istrinya yang lain.
Rosi benci, marah dan muak saat ingat cara Suro memacu tubuhnya dengan kasar. Ia merasa jadi perempuan murahan saat itu. Bagaimana tidak. Suro memperlakukannya bak binatang. Karena biasanya Suro akan menyiksanya terlebih dulu sebelum 'menggunakannya' di ranjang. Suro memukul, menampar, mencambuk dan melakukan berbagai jenis penyiksaan lain yang tentu saja menyakiti mental dan fisik Rosi.
Harusnya Rosi lari. Sayangnya ia tak bisa. Karena tiap kali Rosi berhasil melarikan diri, maka dengan mudah Suro akan menemukannya lalu kembali membawanya pulang.
Satu hal yang membuat Rosi tak pernah bisa lari jauh dari pria tua itu adalah karena Suro memegang rahasia dan kelemahannya. Rahasia kelam di hidupnya yang tak akan mungkin bisa ia tolak.
Rupanya Suro pernah menyaksikan Rosi menjelma jadi kuyang. Bukannya takut, Suro justru menunggu Rosi kembali menjadi manusia biasa.
Rosi ingat betapa terkejutnya dia saat melihat Suro tengah duduk di sofa saat dirinya baru saja siuman. Dan lebih terkejut lagi saat Suro mengatakan jika dia lah yang menunggui tubuh Rosi yang tanpa kepala itu tadi.
"Jangan berpikir untuk lari karena Aku menggenggam rahasiamu !" kata Suro sambil membanting pintu kamar.
Dan ancaman Suro kembali terngiang di telinganya hingga memaksa Rosi menutup kedua telinganya itu dengan telapak tangan.
__ADS_1
\=\=\=\=\=