Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
225. Lebih Menyeramkan


__ADS_3

Kini di hadapan Rosi berdiri dua orang pria yang ia kenali sebagai Bayan dan Nathan. Meski pun Rosi tak pernah berhadapan langsung dengan Bayan, namun Rosi mengenalinya sebagai ayah kandung Nathan dan mertua Hilya.


Dari balik perban yang membalut wajahnya Rosi mengamati penampilan Bayan dan Nathan yang terlihat tak biasa karena menggunakan celana panjang dengan banyak saku pertanda mereka menyimpan banyak benda di sana. Rosi mengerutkan keningnya karena bingung. Meski pun ia tahu dua pria di hadapannya bisa mengenali sosok lain dari dirinya, namun Rosi masih berpura-pura tak tahu apa-apa.


"Siapa Kalian ?" tanya Rosi dengan suara bergetar.


"Masa ga kenal sama Kami Bu Rosi ?" tanya Nathan balik.


Rosi menghela nafas panjang karena sadar dirinya dikenali oleh Nathan karena pria itu memanggil namanya dengan lantang tadi.


"Kenapa masuk dengan cara seperti ini. Apa ga bisa masuk dengan cara baik-baik ?" tanya Rosi ketus.


"Rasanya ga perlu pake sopan santun untuk berhadapan dengan siluman seperti Kamu Rosi !" sahut Bayan dengan tatapan menghunus tajam.


"Kita ga pernah punya masalah apa pun Bayan. Dulu, kemarin atau sekarang. Jadi ga usah ganggu kesenangan ku Sia*an !" kata Rosi marah.


"Sejak Kau menargetkan ketiga Anak Hilya, itu artinya Kau berurusan dengan ku Rosi. Karena mereka adalah Cucuku, darah dagingku !" kata Bayan sambil melempar serbuk kayu kamper di tangannya kearah Rosi.


Rosi yang tak mempersiapkan diri nampak terkejut melihat sesuatu yang disebar oleh Bayan. Meski ia tak tahu apa yang disebarkan Bayan, namun Rosi bisa menduga jika bubuk itu adalah bubuk yang sama yang digunakan Bayan untuk menyakiti matanya tadi.


Saat bubuk kayu kamper ditaburkan, Rosi pun refleks menutupi kepalanya dengan kedua lengannya. Akibatnya sangat mengejutkan. Meski Rosi berhasil melindungi wajah dan matanya, namun lengan Rosi jutru terluka akibat bubuk kayu kamper itu.


Rosi meringis saat menyadari permukaan kulit lengannya terluka. Ada suara bak besi panas yang dimasukkan ke dalam air saat bubuk kamper mengenai kulitnya. Saat diamati dengan seksama luka itu berupa lubang kecil-kecil yang menyebar di seluruh permukaan lengannya. Terasa perih dan sakit.


"Bubuk apa ini. Aku tak suka baunya," batin Rosi gusar sambil mengibaskan telapak tangan di depan hidungnya.

__ADS_1


Belum lagi Rosi selesai dengan rasa terkejutnya, Bayan kembali bersiap menyerang. Karena tak ingin keduluan, Rosi pun melempar tubuhnya sendiri kearah Bayan. Melihat tubuh Rosi melayang kearahnya, Bayan pun menghindar dan berhasil. Tentu saja itu membuat tubuh Rosi terjerembab jatuh menghantam lantai dengan keras. Rosi menjerit marah karena benturan dengan lantai membuat sekujur tubuhnya bertambah sakit.


Nathan yang juga menepi nampak sibuk membersihkan pecahan kaca di lantai dengan ujung sepatunya karena khawatir membahayakan dia dan ayahnya.


Suara jeritan Rosi memancing rasa penasaran perawat yang kebetulan melintas di depan kamar rawat inap Rosi. Wanita itu bergegas membuka pintu karena khawatir dengan kondisi Rosi. Sayangnya itu membuat Rosi bertambah marah dan makin menggila.


Bukan menyerang Bayan tapi Rosi justru menyerang perawat yang baru saja masuk. Rosi menghambur kearah perawat itu lalu memeluknya dengan erat. Bersamaan itu seringai iblis nampak tersungging di wajahnya yang tertutup perban saat ia mencium aroma bayi dari tubuh perawat itu.


Aksi Rosi tentu saja mengejutkan Bayan dan Nathan.


"Kenapa dia malah menyerang perawat itu Yah ?!" tanya Nathan sambil berusaha mengejar Rosi.


Kemudian Nathan berusaha membebaskan sang perawat yang ditarik ke sudut ruangan oleh Rosi. Sedangkan sang perawat terus menjerit ketakutan sambil terus berusaha melepaskan diri. Posisi Rosi sangat diuntungkan karena ia memeluk sang perawat dari belakang.


Rasa tak nyaman mulai dirasakan sang perawat saat Rosi mulai mengendus lehernya. Apalagi saat kedua telapak tangan Rosi meraba perutnya. Meski pun ia tahu pasien yang sedang memeluknya adalah wanita, tapi aksi Rosi membuatnya bertanya-tanya. Tiba-tiba perawat itu merintih karena persendian tubuhnya melemah. Tubuh perawat itu nampak mulai oleng dan hampir tersungkur jatuh.


Melihat kondisi sang perawat yang hampir jatuh pingsan membuat Bayan cemas. Ia meminta Nathan menarik perawat itu karena posisi Nathan lebih dekat dengan Rosi dan perawat itu.


"Astaghfirullah aladziim ..., bantu lepaskan perawat itu segera Nath !" kata Bayan.


"Iya Aku tau. Tapi kenapa harus segera Yah ?" tanya Nathan.


"Perawat itu lagi hamil muda sekarang !" sahut Bayan lantang hingga mengejutkan Nathan.


Nathan pun merangsek maju dan berusaha menggapai tangan perawat itu. Nathan tahu jika Rosi menyandera sang perawat karena ingin memangsa janin dalam rahim wanita itu. Nathan tak ingin Rosi berhasil memangsa sang janin. Sebab jika itu berhasil, bisa dipastikan kekuatannya akan bertambah dan itu akan menyulitkan dia dan ayahnya.

__ADS_1


Upaya Nathan menemui jalan buntu karena Rosi memeluk sang perawat dengan erat dan nampak kian possesif. Padahal sang perawat sudah mulai kehabisan nafas akibat pelukan yang terlalu erat itu menyebabkan tulangnya mengeluarkan suara berderak yang sangat nyaring.


Karena gagal meraih tubuh sang perawat, Nathan pun mundur untuk memberi jarak. Dan saat itu dimanfaatkan oleh Rosi.


Rosi menangkap wajah perawat itu dengan telapak tangannya lalu memaksanya agar menoleh kearahnya. Meski enggan tapi sang perawat tampak tak berdaya. Mau tak mau ia menatap kedua mata Rosi yang merah dan berair itu. Entah mengapa saat bersitatap dengan mata Rosi membuat perawat itu ketakutan. Ia mengira Rosi sedang dirasuki makhluk halus alias kesurupan.


Perawat itu nampak kian tak berdaya saat mendengar kalimat yang diucapkan Rosi dengan susah payah.


"A- Aku ... i-ngin ... ba- yi- mu ...," kata Rosi terbata-bata.


Saat mengatakan itu darah siluman di dalam tubuh Rosi mulai menggelegak. Kepala Rosi mulai bergerak liar ke kanan dan ke kiri seolah ingin segera lepas dari pangkal lehernya. Beruntung balutan perban yang menutupi wajah dan lehernya menghalangi Rosi hingga wanita itu tak bisa menunjukkan jati dirinya saat itu.


Tapi balutan perban itu hanya mampu menahan kepala Rosi sesaat. Karena detik berikutnya kepala Rosi benar-benar lepas dari tubuhnya lalu melayang cepat di udara bersamaan dengan sobeknya balutan perban menjadi beberapa bagian.


Perawat itu pun terkejut lalu menjerit histeris menyaksikan kepala pasien yang memeluknya tanggal dari tempatnya lalu melayang di udara. Dan saat kepala itu berbalik menghadap kearahnya sambil memperlihatkan isi rongga mulutnya yang dipenuhi taring dan lidah menjulur berwarna merah darah, perawat itu pun jatuh pingsan.


Menyaksikan calon mangsanya jatuh pingsan membuat siluman kuyang jelmaan Rosi menyeringai puas. Siluman kuyang melesat ke atas untuk mengambil ancang-ancang sebelum menyerang mangsanya.


Di sisi lain Nathan nampak berdiri membeku sambil mengamati pergerakan Rosi dan tubuh yang ditinggalkannya. Menyaksikan wujud asli Rosi saat menjelma jadi siluman kuyang membuat Nathan sedikit gentar. Tanpa sadar Nathan mundur beberapa langkah ke belakang saking terkejutnya. Bagi Nathan wujud Rosi saat menjelma jadi siluman kuyang lebih menyeramkan dari sosok siluman Kuyang yang pernah dilihatnya selama ini.


Mengetahui sang anak yang sedikit gentar itu membuat Bayan menggelengkan kepala. Ia mendekati Nathan, menepuk punggungnya, lalu memberikan sesuatu yang ada di genggamannya sejak tadi.


"Fokus Nath. Akhiri sekarang atau bayi-bayi itu akan mati sia-sia," kata Bayan sambil menatap Nathan lekat.


Nathan tersentak mendengar ucapan sang ayah. Sesaat kemudian ia menatap sang ayah, mengangguk lalu berdiri dengan kuda-kuda sempurna pertanda ia siap menyerang siluman kuyang itu.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2