Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
116. Bayan Pulang


__ADS_3

Mak Ejah nampak duduk di tepi pantai sambil menatap ke laut lepas. Wajahnya yang pucat nampak sembab karena terlalu banyak menangis. Syal yang biasanya ia gunakan untuk menutup kepalanya pun ia biarkan jatuh di bahunya. Rambutnya pun nampak ia biarkan lepas tergerai begitu saja.


Sejak ia mengetahui bahwa Fikri adalah anaknya yang hilang, sejak saat itu lah Mak Ejah terus menyesali diri. Bayangan saat ia menyakiti Ayu lalu merenggut janin dari rahimnya kembali melintas dan itu membuatnya sakit.


"Pantas saja darahnya terasa berbeda. Aku hampir ga bisa menikmati darahnya meski pun Aku ingin. Ternyata ..., darah itu adalah darah Cucuku sendiri," gumam Mak Ejah sambil mengusap matanya yang basah.


Mak Ejah menoleh saat melihat seorang batita seusia Arafah berlari kecil di atas pasir. Anak laki-laki yang lucu itu berkali-kali jatuh lalu bangkit lagi sambil tertawa bahagia. Di belakangnya nampak sang ayah berlari mengejarnya hingga membuat batita itu kembali menjerit.


Mak Ejah nampak tersenyum getir mengingat Arafah yang sama lucunya dengan anak itu. Mak Ejah bingung, mengapa ia tak menyadari pria yang bersama Ayu adalah Saba. Seolah teringat sesuatu, Mak Ejah pun nampak berpikir keras.


"Tunggu sebentar. Kenapa namanya bukan Saba ?. Aku mendengar orang memanggilnya Fikri. Apa Bapak lupa kalo Aku meminta agar memberi nama Saba untuk Anakku ?. Jadi bukan salahku kan kalo Aku tak mengenali Anakku," gumam Mak Ejah sambil melangkah menyusuri pantai.


Sementara itu di sisi lain di pantai yang sama.


Bayan nampak sedang duduk sambil mengamati laut. Sesekali Bayan menghela nafas panjang untuk menghalau kegelisahannya.


"Sebaiknya Lo pulang. Udah terlalu lama Lo sembunyi Yan," kata Jojo.


"Lo ngusir Gue ?" tanya Bayan tak suka.


"Terserah Lo mau bilang apa. Jujur Gue ga nyaman duduk bareng sama orang yang pikirannya ga di sini," kata Jojo ketus.


"Maksud Lo apa sih Jo ?" tanya Bayan pura-pura tak mengerti.


"Ini udah sebulan lebih Yan. Biar ga pulang, tapi Lo mantau mereka dari jauh. Artinya Lo masih peduli sama mereka kan ?. Emangnya Lo ga capek terus sembunyi kaya gini. Kalo sembunyi ga menyelesaikan masalah, lebih baik Lo pulang. Kasian Anna. Dia pasti bingung ditinggalin tanpa pesan kaya gitu. Untung Anak-anak Lo udah dewasa dan bisa diandalkan. Jadi Anna ga terlalu terpukul dijauhi sama Suaminya sendiri karena sesuatu yang bukan salahnya," kata Jojo sambil mencibir.


Bayan tersentak mendengar ucapan sepupunya itu. Ia memang menjauh karena terusik dengan kehadiran wanita yang katanya ibu angkat Rosiana itu. Dan Bayan mencoba mencari informasi siapa wanita itu sesungguhnya melalui orang kepercayaannya. Tapi nihil. Hingga detik ini siapa Mak Ejah sesungguhnya juga tak pernah diketahui.


Kemudian Bayan teringat dengan Anna, istri yang ia tinggalkan begitu saja hanya demi ketenangan. Bayan mungkin bisa berbohong pada orang lain dan mengatakan semuanya baik-baik saja. Tapi Bayan tak bisa membohongi hatinya. Ia merindukan istrinya dan kedua anaknya itu.


Bayan menghela nafas panjang. Setelah mengusap wajahnya, Bayan pun berdiri. Jojo menoleh kearahnya sambil mengerutkan keningnya.


"Kenapa ?, ngambek Lo ?" tanya Jojo.


"Ga. Gue mau pulang," sahut Bayan cepat hingga membuat Jojo tersenyum.


"Bagus. Titip salam buat Anna dan Anak-anak ya," kata Jojo.

__ADS_1


"Ok," sahut Bayan sambil berlalu.


Jojo tersenyum melepas kepergian Bayan. Ia kembali teringat saat pertama kali Bayan datang dalam kondisi lusuh dan berantakan. Jojo sempat mengira Bayan mengalami kecelakaan kala itu. Tapi saat Bayan menjelaskan apa yang terjadi, Jojo pun mengerti.


Selama sebulan lebih Bayan sembunyi di rumahnya, Jojo selalu melihat Bayan yang gelisah dan sibuk menelepon. Jojo tahu itu adalah cara Bayan mengontrol semua orang termasuk perusahaannya.


Dan mendengar Bayan akan pulang membuat Jojo bahagia. Ia tahu, berkumpul dengan anak dan istri adalah sumber kebahagiaan Bayan.


Jojo melambaikan tangannya saat Bayan memanggil namanya sambil melambaikan tangan kearahnya. Setelahnya Bayan masuk ke dalam mobil yang entah sejak kapan telah datang menjemput. Sesaat kemudian mobil itu melaju meninggalkan pantai diiringi senyum Jojo yang mengembang.


Saat mobil Bayan tak terlihat lagi, Jojo menghela nafas panjang lalu membalikkan tubuhnya. Jojo berniat melanjutkan kegiatan akhir pekannya yaitu memancing.


Namun Jojo menghentikan langkahnya saat matanya melihat wanita yang berjalan di tepi pantai seorang diri. Jojo bisa menebak jika wanita itu sedang galau. Sebagai relawan di pantai itu, Jojo hapal bagaimana ciri-ciri orang yang depresi karena ia kerap menghalangi warga yang berniat mengakhiri hidup di pantai itu.


"Kenapa harus di pantai ini sih. Apa ga bisa cari pantai lain untuk lokasi bunuh diri," gerutu Jojo sambil berlari cepat kearah wanita yang berjalan kearah laut itu.


Situasi pantai yang mulai sepi dan ditinggalkan warga karena saat itu hari menjelang malam, membuat wanita itu leluasa melancarkan aksinya. Namun sebelum niatnya terlaksana, sebuah tangan berhasil menariknya lalu membawanya ke tepi.


"Kalo mau bunuh diri jangan di sini. Percuma !. Ombak dan karangnya kecil. Cari tempat lain yang berombak besar dan banyak batu karangnya biar kalo nyemplung langsung mati karena terbawa ombak atau terbentur karang !" kata Jojo kesal.


Wanita itu meronta dan menjerit marah. Ia merasa kesal karena niat untuk menyakiti diri sebagai bentuk hukuman dihalangi oleh seseorang. Setelah tiba di tepi pantai, wanita itu menoleh kearah pria yang terus memarahinya.


"Kamu ?!" kata Jojo dan wanita itu bersamaan.


Wanita itu berdiri lalu mengibas rambutnya yang basah. Kemudian wanita itu melangkah pelan meninggalkan pantai. Jojo menatap kepergian wanita itu dengan tatapan tak percaya dan jantung berdebar.


Seolah tersadar karena telah membiarkan wanita itu pergi, Jojo pun mengejar wanita itu.


"Tunggu !" panggil Jojo.


"Jangan ikuti Aku Jo. Anggap saja Kita ga pernah ketemu !" kata wanita itu tanpa menoleh.


Jojo berhenti dan membiarkan wanita itu berlalu. Ia mengusap wajahnya sekali lagi sambil berdzikir.


"Masya Allah. Itu dia kan ...," gumam Jojo berkali-kali sambil melangkah berlawanan arah dengan wanita yang ditolongnya tadi.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Bayan sedang dalam perjalanan ke rumah setelah membersihkan diri dan berganti pakaian di toilet SPBU tadi.


Bayan nampak mengulum senyum membayangkan pertemuannya dengan anak dan istrinya nanti. Nampaknya Bayan pun telah siap menanggung kemarahan istrinya.


Saat memasuki jalan menuju rumah, Bayan melihat keramaian di salah satu rumah tetangganya.


"Ada apa di sana Nus ?" tanya Bayan.


"Lagi ada tasyakuran masuk ke rumah baru Pak," sahut Yunus.


"Oh, rumahnya Pak Beni udah laku rupanya," kata Bayan.


"Iya Pak. Mas Nathan dan Mas Nicko juga udah akrab sama yang beli rumah itu. Mereka bahkan ikut bantuin pindahan," sahut Yunus hingga membuat Bayan tersenyum.


"Nah itu Mas Nathan sama Mas Nicko Pak !" kata Yunus sambil menunjuk kearah dua pemuda yang sibuk menyalami warga.


Bayan pun mengangguk. Ia menatap kedua anaknya dengan tatapan kagum. Dan senyum Bayan makin mengembang saat melihat Anna berdiri di teras rumah. Bayan bergegas turun lalu memeluk istrinya dengan erat.


Anna yang terkejut pun hanya bisa membeku di pelukan suaminya. Namun hanya sesaat. Karena detik berikutnya tangis Anna pun pecah.


"Kamu pulang Ayah ...," bisik Anna lirih sambil memeluk suaminya dengan erat.


"Iya Bund. Aku pulang. Maafin Aku ya Sayang," kata Bayan sambil mencium kepala Anna dengan sayang.


"Jangan pergi lagi ya Yah. Jangan tinggalin Aku kaya kemarin. Kalo Aku salah, tolong kasih tau tapi jangan pergi tanpa kabar," pinta Anna sambil mengurai pelukannya.


"Iya Bund. Aku janji ga akan kaya gini lagi," sahut Bayan lalu kembali memeluk sang istri.


Bayan dan Anna akan melangkah masuk ke dalam rumah saat Nathan dan Nicko datang.


"Ayah ...!" panggil Nathan dan Nicko bersamaan.


Bayan menoleh dan tersenyum. Ia juga merentangkan kedua tangannya sambil menyapa kedua anaknya itu.


"Hai Anak-anak. Apa kabar ?" sapa Bayan.


Nathan dan Nicko pun menghambur ke pelukan sang ayah. Anna yang menyaksikan aksi anak dan suaminya pun ikut tersenyum bahagia.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2