Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
131. Siapa Yah ?


__ADS_3

"Apa Kamu ingat sesuatu ?" tanya Nathan saat melihat Hilya tak kunjung bicara.


"Iya. I-itu ... cewek yang mirip Ranti itu, wajahnya pucat, jalannya juga cepet banget, luruuuss ... aja, kaya ga nyentuh lantai," sahut Hilya sambil menutup mulutnya.


"Melayang ?" tanya Nathan.


"Iya. Ya Allah, jangan-jangan itu beneran hantu !" kata Hilya setengah menjerit.


"Sssttt ..., pelanin suara Kamu Hilya. Ga enak kalo kedengeran sama orang lain. Selain khawatir mereka menertawai Kita karena dianggap aneh, masalah ini juga kan lagi ditangani Polisi. Jadi Kamu harus hati-hati," kata Nathan mengingatkan.


Hilya mengangguk lalu berdehem untuk menetralisir rasa takutnya.


"Waktu Kamu liat wanita itu, apa Kamu ga coba negur dia ?" tanya Nathan.


"Ga. Aku malah kesel, kan barusan dia nawarin kopi, eh tau-tau malah jalan ke kamar bayi. Aku merasa dipehapein aja," sahut Hilya cepat.


"Terus jasad bayi yang kepalanya luka kaya digerogotin tikus itu dimana sekarang ?" tanya Nathan.


"Ada di kamar jenasah. Belum bisa dimakamin karena masih harus diautopsi untuk melengkapi berkas laporan ke Polisi," sahut Hilya.


"Terus gimana reaksi Ibu bayi itu saat tau Anaknya meninggal dengan cara ga wajar ?" tanya Nathan.


"Shock, nangis, pingsan. Apalagi emangnya. Apalagi itu bayi pertamanya setelah tiga tahun menikah," sahut Hilya sedih.


Nathan mengulurkan tangannya lalu menepuk punggung tangan Hilya dengan lembut untuk menghibur gadis itu. Hilya pun tersenyum tapi hanya sejenak. Ia tersentak karena teringat sesuatu. Ia bahkan menarik tangannya dengan cepat. Sikap Hilya membuat Nathan bingung.


"Mmm ... maaf Nath. Kita ga seharusnya kaya gini kan. Aku pergi sekarang, makasih ya buat traktirannya," kata Hilya sambil bergegas bangkit dari duduknya.


"Eh ada apa Hilya. Kenapa Kamu ...," ucapan Nathan terputus karena Hilya telah melangkah cepat meninggalkannya begitu saja.


Nathan pun bangkit untuk mengejar Hilya. Namun karena tergesa-gesa, ia tak sengaja menabrak pengunjung lain. Terpaksa Nathan berhenti untuk meminta maaf dan itu memberi Hilya kesempatan untuk lari dan menghilang darinya.


Nathan mendengus kesal saat tak menjumpai Hilya di parkiran. Karena tak melihat keberadaan Hilya, Nathan pun memutuskan pergi meninggalkan tempat itu dengan mobilnya.


Saat mobil Nathan melaju, saat itu lah Hilya menghela nafas panjang. Ternyata Hilya sembunyi di balik gapura yang menghiasi pintu masuk kafe. Ia menepuk dadanya untuk menetralisir detak jantungnya yang berpacu cepat.

__ADS_1


"Astaghfirullah aladziim .... Gue lupa kalo Nathan udah nikah. Apa kata orang kalo Gue jalan sama Suami orang. Ya Allah, ampuni lah dosa hambaMu ini. Tolong jangan hukum hamba karena udah ga sengaja naksir sama Suami orang ...," gumam Hilya.


Tersadar dengan ucapannya sendiri, Hilya pun menepuk bibirnya beberapa kali seolah menyesali ucapannya. Sikap Hilya membuat security kafe yang mengamatinya sejak tadi itu pun tersenyum dan menggelengkan kepala.


Hilya pun ikut tersenyum lalu bergegas keluar dari persembunyiannya. Setelahnya ia menghentikan Taxi yang melintas agar bisa pergi dari tempat itu secepatnya.


\=\=\=\=\=


Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Nathan pun menemui ayahnya di ruang kerja. Bayan yang saat itu tengah mempelajari beberapa dokumen penting pun tersenyum melihat kedatangan sang anak.


"Kebetulan Kamu datang. Sini, bantu Ayah mempelajari dokumen kerja sama ini. Kalo ada kalimat yang ganjil dan merugikan Kita, garis bawahi aja," kata Bayan sambil menyerahkan beberapa lembar dokumen kepada Nathan.


Nathan pun mengangguk. Ia duduk di kursi di hadapan sang ayah dan mulai membaca dokumen itu dengan serius.


Anna yang masuk ke ruang kerja untuk mengantarkan kopi pun tersenyum melihat Nathan di sana. Setelah meletakkan kopi di meja, Anna pun keluar dari ruangan karena tak ingin mengganggu suami dan anaknya yang nampak sedang serius itu.


Satu jam kemudian Bayan dan Nathan telah selesai membaca dokumen kerjasama itu.


"Yang ini menurut Aku ambigu Yah. Karena ga jelas berapa persen pembagian keuntungan yang dimaksud. Walau di lembar sebelumnya udah disebut, tapi khusus point ini harusnya ditulis lagi berapa persen keuntungan yang diperoleh tiap investor saat proyek ini jadi digarap. Aku khawatir mereka sengaja mengabaikan lembar sebelumnya dan hanya fokus di point ini saat ada masalah yang tak diharapkan nanti," kata Nathan sambil menunjuk point yang dimaksud.


"Ok. Sekarang ada apa, Apa yang mau Kamu bahas sama Ayah ?" tanya Bayan setelah merapikan semua dokumen.


"Mmm ... hantu Yah," sahut Nathan ragu.


"Hantu ?" ulang Bayan tak yakin.


"Iya. Tapi kalo Ayah ga tertarik, abaikan aja," kata Nathan pasrah.


Ucapan Nathan membuat Bayan tersenyum. Ia tahu jika saat ini Nathan tengah galau dan nampaknya butuh seseorang untuk berbagi cerita. Bayan bangkit lalu mengajak Nathan keluar dari ruang kerjanya.


"Kita ngobrol di luar aja biar lebih santai. Kamu tau kan gimana Bunda Kamu. Yang ada Kita bakal diceramahi karena ga tidur di jam segini," kata Bayan sambil menaik turunkan alisnya.


"Iya Yah," sahut Nathan sambil tersenyum.


Dalam waktu singkat sepasang anak dan ayah itu telah berada di sebuah warung nasi goreng. Perbincangan keduanya berlangsung santai sejak keluar dari rumah tadi. Rupanya Bayan dan Nathan memilih jalan kaki menuju warung yang selalu ramai pembeli itu.

__ADS_1


Sambil menunggu pesanan mereka dibuat, Nathan dan Bayan pun duduk di taman tak jauh dari lapak penjual nasi goreng itu berada.


"Gimana Yah ?" tanya Nathan usai menceritakan apa yang didengarnya dari Hilya tadi.


"Ayah setuju sama Kamu. Itu pasti ulah hantu pemangsa bayi. Keliatannya dia belum kapok juga," sahut Bayan kesal sambil mengepalkan tangannya.


Sikap Bayan membuat Nathan terkejut. Karena ia yakin jika sang ayah mengenal wujud asli siluman pemangsa bayi itu.


"Ayah kenal sama orang yang udah jadi makhluk siluman itu ?" tanya Nathan hati-hati.


"Iya," sahut Bayan cepat karena tak mungkin menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya.


"Siapa Yah ?" tanya Nathan.


"Maaf Nak. Untuk yang satu itu Ayah belum bisa ngomong sama Kamu. Rasanya ga etis karena saat ini Ayah juga lagi berusaha membujuk dia untuk berhenti dan membuang ilmu hitamnya itu," kata Bayan.


Nathan mengangguk. Ia tak memaksa sang ayah untuk bercerita karena ia menghormati keputusan sang ayah.


"Kamu belum jawab pertanyaan Ayah tadi Nath. Darimana Kamu tau kalo ada kejadian tragis di kamar bayi Rumah Sakit. Apa dari Hilya ?" tanya Bayan.


"Iya Yah," sahut Nathan cepat.


"Jadi dia juga kan yang mau Kamu lamar waktu itu ?" tebak Bayan hingga membuat Nathan salah tingkah.


"Iya, tapi sayangnya dia nolak Yah. Dan Aku udah nyerah ngejar dia karena dia ga suka sama Aku," sahut Nathan sambil membuang pandangannya kearah lain.


"Ayah yakin dia juga suka sama Kamu. Mana ada sih cewek yang bisa nolak pesona Anak Ayah yang ganteng ini. Mungkin masih nunggu waktu yang tepat aja. Keliatannya dia punya trauma sama pernikahan makanya selalu menghindar saat Kamu ngajak bicara serius. Kan Kamu sendiri yang bilang kalo Hilya berasal dari keluarga yang broken home," kata Bayan.


Wajah Nathan berbinar mendengar ucapan sang ayah. Ia pun ingin tahu pendapat sang ayah tentang Hilya.


"Apa orang yang berasal dari keluarga broken home juga punya kecenderungan untuk meninggalkan pasangannya suatu saat nanti Yah ?" tanya Nathan.


"Ga juga. Banyak pasangan di dunia ini yang berasal dari keluarga broken home tapi bisa membangun rumah tangganya dengan baik hingga beranak cucu. Itu karena mereka tau rasa sakitnya saat hidup tanpa orangtua yang utuh. Makanya mereka berusaha tak melakukan sesuatu yang akan menyakiti Anak-anak mereka. Sebisa mungkin mereka menyelesaikan masalah agar tak berujung perpisahan. Kalo Kamu dan Hilya saling mencintai, harusnya Kalian bisa mengerti dan saling menguatkan. Teguhkan niat. Jika menikah karena ingin menyempurnakan sebagian agama agar mendapat ridho Allah, insya Allah Kalian akan tiba di ujung sana dengan selamat nanti," kata Bayan bijak.


Jawaban sang ayah membuat Nathan lega karena mengetahui perasaannya tak bertepuk sebelah tangan.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2