
Setelah Avin berhasil diselamatkan, papa Avin pun mengabari ketua RT. Ia menyerahkan segala urusan tentang Rosi kepada ketua RT.
Karena saat itu proses pemakaman Serena akan dilaksanakan, mau tak mau perhatian warga pun terpecah. Satu sisi mereka ingin mengantar Serena ke pembaringan terakhirnya tapi di sisi lain mereka khawatir jika kepergian mereka akan memberi kesempatan pada Rosi untuk melarikan diri.
"Bu Rosi memang terbukti melukai Avin. Tapi apa dia juga yang udah bikin Anak-anak di lingkungan ini sakit, itu baru dugaan. Faktanya masih belum ditemukan karena ga ada bukti dan saksi," kata ketua RT kala itu.
"Terus maksud Pak RT, Bu Rosi dibebasin gitu ?" tanya seorang warga dengan mimik wajah tak suka.
"Ga juga. Bu Rosi harus dijaga oleh orang yang tepat. Karena Saya kan harus mengantar almarhumah Rena. Walau dia masih batita, ini juga kewajiban Saya mengantarnya ke pemakaman karena dia kan warga di sini," kata ketua RT memberi alasan.
"Kami ga keberatan menjaga Bu Rosi. Tapi harus ada orang lain yang menemani karena Kami ga mau kesalahan," kata Nathan menawarkan diri.
Untuk sejenak warga tampak berdiskusi. Setelahnya ketua RT meminta dua orang warga tetap tinggal di sana untuk menemani Nathan dan Bayan mengawasi Rosi.
Saat prosesi pemakaman Serena berlangsung, Rosi pun membuat ulah. Ia meminta ikatan tangannya dilepas dengan alasan ingin ke toilet. Karena yakin Rosi tak akan lari, maka warga yang menjaganya pun menuruti keinginan wanita itu. Mereka melepaskan ikatan tangan Rosi sambil berpesan agar Rosi tak melakukan tindakan yang membuat mereka marah.
Rosi mengangguk lalu bergegas masuk ke toilet dan dua warga yang tadi menjaganya menunggu di luar rumah. Di saat yang sama Bayan dan Nathan ikut menyolati jenasah Serena di musholla yang letaknya tak jauh dari rumah kontrakan Rosi.
"Lho, kemana Bu Rosi ?" tanya Nathan saat tak melihat Rosi bersama dua pria yang menjaganya itu.
"Ke toilet dulu sebentar, katanya sih kebelet," sahut salah satu pria dengan santai.
"Astaghfirullah aladziim ..., kok bisa dilepasin sih Pak ?!" tanya Nathan panik.
"Bu Rosi ijin ke toilet Mas, masa Kami tahan. Ntar kalo dia ngompol atau pup di sini kan berabe," sahut salah seorang pria tak mau disalahkan.
"Tapi itu cuma alasan Bu Rosi biar bisa kabur Pak. Sekarang Saya tanya, udah berapa lama Bu Rosi ke toilet ?" tanya Nathan.
"Eh, mana Kami tau. Emangnya Kami hitungin waktunya. Ayo lah Mas, Bu Rosi udah tua. Dia ga bakal bisa kabur dari sini," kata seorang pria sambil tersenyum mengejek.
"Ok. Kalo gitu tolong panggil Bu Rosi sekarang. Kalo dia nyaut, artinya dia masih di dalam," kata Nathan
__ADS_1
" Tapi ...," ucapan warga terhenti saat rekannya menyela.
"Ok, siapa takut," kata pria itu lalu segera menerobos masuk ke dalam rumah kontrakan Rosi.
Tak lama kemudian pria itu keluar dari dalam rumah kontrakan Rosi dengan wajah pucat. Bayan dan Nathan sudah bisa menduga apa yang terjadi.
"Bu Rosi ga ada di toilet," kata pria itu gugup.
"Di kamar kali," sahut rekannya.
"Ga ada. Kayanya dia beneran kabur deh," kata pria itu sambil melirik kearah Bayan dan Nathan.
Bayan dan Nathan hanya bisa menghela nafas panjang saat mengetahui dugaan mereka terbukti.
Bersamaan dengan itu ketua RT bersama warga lainnya baru saja kembali usai memakamkan Serena. Mereka terkejut melihat empat pria yang katanya menjaga Rosi kini nampak saling menatap tak bersahabat.
"Ada apa ini. Kemana Bu Rosi ?" tanya ketua RT.
"Padahal Saya baru aja mau gelar sidang dadakan biar tau apa yang terjadi sebenarnya. Saya juga udah ngundang warga yang punya Anak kecil. Mungkin mereka punya pengalaman selama Anaknya dijagain sama Bu Rosi. Tapi sekarang semuanya kacau karena Bu Rosi kabur," kata ketua RT sambil menatap dua warga yang menjaga Rosi dengan tatapan kesal.
"Maafin Kami Pak RT," kata kedua warga tersebut dengan nada penuh sesal.
Ketua RT hanya mengangguk karena tak bisa berbuat apa-apa. Tak lama kemudian Bayan dan Nathan pun pamit karena tak ada lagi yang bisa mereka kerjakan di sana.
"Saran Saya awasi aja rumah Bu Rosi. Saya yakin sewaktu-waktu dia pasti kembali untuk mengambil barang pribadinya," kata Bayan sebelum masuk ke dalam mobil.
"Baik Pak, makasih sarannya. Dan sekali lagi Saya mewakili warga mohon maaf karena lalai menjaga Bu Rosi," kata ketua RT.
"Iya Pak, gapapa. Tapi tolong hubungi Kami kalo ada warga yang ngeliat Bu Rosi ya. Kami butuh sekali informasi itu. Selain Kami menjalankan amanah dari Suaminya, Bu Rosi juga terlalu berbahaya jika dibiarkan berkeliaran," pinta Bayan sungguh-sungguh.
"Siap Pak. Insya Allah Saya akan kabari nanti," sahut ketua RT sambil tersenyum.
__ADS_1
Sesaat kemudian Nathan pun melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
"Kemana Kita sekarang Yah ?" tanya Nathan.
"Ke Rumah Sakit tempat Avin dirawat Nath," sahut Bayan sambil mengamati jalan.
"Kok ke sana Yah. Untuk apa ?" tanya Nathan tak mengerti.
"Kata Pak RT, Papanya Avin minta nomor telepon Ayah tadi. Ayah merasa ada sesuatu yang mau dia sampein. Daripada kelamaan, Kita aja yang nyamperin ke sana sekalian jenguk Avin. Siapa tau Kita nemu sesuatu nanti," sahut Bayan.
Nathan mengangguk lalu mempercepat laju mobilnya menuju Rumah Sakit dimana Avin dirawat.
Tiba di sana Bayan dan Nathan bergegas menuju ke ruang UGD. Mereka dengan mudah menemukan Avin karena batita itu cukup menyita perhatian team medis tadi.
Saat itu kebetulan Avin akan dipindahkan ke kamar rawat inap. Nathan pun turun tangan membantu. Ia membayar semua biaya perawatan Avin termasuk semua fasilitas selama Avin dirawat. Kedua orangtua Avin nampak senang dan berterima kasih kepada Bayan dan Nathan.
"Alhamdulillah ..., makasih ya Pak, Mas," kata papa Avin sambil menjabat tangan Bayan dan Nathan bergantian.
"Sama-sama Pak. Kami senang bisa membantu. Apalagi ngeliat Avin mengingatkan Saya sama Cucu laki-laki Saya," sahut Bayan sambil tersenyum.
"Cucu laki-laki. Apa Cucu Bapak juga sakit seperti Avin dan Serena ?" tanya papa Avin.
"Oh ga. Alhamdulillah Cucu Saya baik-baik aja kok," sahut Bayan cepat.
"Oh syukur lah. Saya kirain Cucu Bapak sakit. Karena jujur sakitnya Avin sempet bikin repot team medis di sini tadi. Bahkan dokter Yusuf yang menangani Avin minta Saya untuk mengenalkan Bapak dan Mas padanya. Katanya ada hal penting yang mau Beliau omongin," kata papa Avin.
"Oh ya. Kalo gitu pas banget. Saya juga mau ngomongin sesuatu sama dokter yang menangani Avin," sahut Bayan antusias.
"Kalo gitu sebentar ya Pak. Saya hubungi dokter Yusuf sebentar," kata papa Avin.
Bayan mengangguk lalu membiarkan papa Avin pergi menemui dokter Yusuf sedangkan ia dan Nathan menunggu di depan kamar rawat inap Avin.
__ADS_1
\=\=\=\=\=