Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
89. Hampir Terjebak Hasrat


__ADS_3

Nathan tiba di Rumah Sakit setengah jam kemudian. Ia bergegas ke ruang IGD karena di sana lah saat ini Mia berada.


Di depan IGD Nathan melihat Marco dan istrinya sedang duduk dengan gelisah. Marco tersenyum saat melihat Nathan datang.


"Selamat malam Pak. Maaf Saya telat karena harus menjelaskan sama Ibu Saya dulu kenapa Saya pergi selarut ini," kata Nathan sambil menjabat tangan Marco dan istrinya bergantian.


"Gapapa Nathan. Saya maklum kenapa Ibu Kamu bersikap begitu. Karena Kami juga pasti begitu saat Anak Kami pamit keluar di jam yang ga wajar seperti sekarang," sahut Marco bijak.


"Terus gimana kondisi Mbak Mia Pak ?. Apa yang sebenarnya terjadi ?" tanya Nathan.


"Gimana Ma ?" tanya Marco sambil menoleh kearah istrinya.


"Awalnya Mia biasa aja kok. Waktu pulang tadi dia keliatan normal. Masuk kamar, mandi terus makan malam. Tapi tiba-tiba Mia menjerit, keras banget sampe Kami semua yang ada di rumah kaget. Terus pas disamperin ga taunya Mia lagi kejang-kejang di lantai. Badannya dingin banget, matanya mendelik ke atas, mulutnya juga berbusa. Terus ya kaya yang Papa liat tadi. Kami panik dan berusaha membantu Mia supaya sadar tapi gagal," sahut istri Marco sambil mengusap matanya yang basah.


"Begitu lah Nath. Makanya Saya manggil Kamu ke sini karena pengen tau apa aja yang Mia lakuin hari ini dan apa aja yang dia makan. Saya pribadi mengira kalo Mia keracunan. Tapi daritadi dokter ga ngasih keterangan apa pun. Mereka cuma keluar masuk ruangan sambil bawa sample darah dan apa lah itu. Jelas Kami khawatir dong," kata Marco gusar.


"Hari ini Saya nganterin Mbak Mia ke kampus kaya biasa Pak. Setelah itu Mbak Mia makan di kantin sama teman-temannya, ke toko buku sebentar, terus pulang ke rumah. Ga ada yang aneh kok. Semua masih on the track," sahut Nathan.


Tiba-tiba seorang dokter dan perawat keluar menemui Marco dan istrinya. Sang dokter mengatakan sesuatu yang membuat Marco bingung.


"Selamat malam Pak. Kami baru saja selesai mengecek kondisi pasien Mia. Setelah hampir dua jam melakukan pemeriksaan, untuk sementara ini Kami tak menemukan penyakit apa pun dalam tubuh pasien. Sekedar virus atau demam juga tidak. Kami akan coba lakukan pemeriksaan menyeluruh besok. Sekarang Kami hanya memberi obat agar pasien bisa tidur dan istirahat," kata dokter.


"Baik dokter. Tolong lakukan yang terbaik untuk Anak Kami ya dok. Berapa pun biayanya pasti Kami bayar," kata Marco penuh harap.


"Tentu Pak. Sekarang ruang rawat inap untuk pasien sedang diurus. Bapak dan keluarga bisa menemani pasien nanti," kata sang dokter sebelum berlalu.

__ADS_1


"Makasih dok," kata Marco yang diangguki sang dokter.


Setelah sang dokter berlalu, Marco mengajak istrinya dsn Nathan pergi mengantar Mia ke ruang rawat inap.


\=\=\=\=\=


Nathan terpaksa menunggui Mia yang dirawat di Rumah Sakit seorang diri karena Marco dan istrinya harus pulang untuk mengambil perlengkapan Mia. Sebelumnya Nathan juga sudah mengabari Bayan dan Anna jika ia tak pulang malam itu karena harus menemani Mia di Rumah Sakit.


"Sama siapa Kamu di sana Nak ?" tanya Anna.


"Sendiri Bund. Pak Marco dan Istrinya baru aja pulang buat ngambil keperluan Mia," sahut Nathan.


"Kok sendiri sih ?, ga etis dong Nak. Kamu kan laki-laki, Mia perempuan. Gimana kalo terjadi sesuatu sama Kalian nanti," kata Anna cemas.


"Terjadi sesuatu gimana sih maksud Bunda ?" tanya Nathan tak mengerti.


"Astaghfirullah aladziim ..., kok Bunda ngomong begitu sih. Aku nih masih waras dan ga bakal ngelakuin itu Bund !" kata Nathan tak suka.


"Aamiin ..., syukur lah kalo begitu. Ingat ya Nak, jangan lengah. Banyak dzikir dan tetep fokus. Insya Allah Bunda sama Ayah jenguk Mia besok," kata Anna sebelum mengakhiri pembicaraan.


Setelahnya Nathan pun keluar dari ruangan. Saat menunjukkan jam satu dini hari, Nathan kembali ke dslsm ruangan.


Nathan pun melangkah menuju sofa bukan ke tempat tidur cadangan yang tersedia di ruangan itu. Setelahnya ia membaringkan tubuhnya di atas sofa dan mulai memejamkan mata untuk tidur.


Tiba-tiba Nathan terbangun karena merasa ada sesuatu yang mengganggunya. Entah mengapa saat Nathan menoleh kearah Mia, ia merasa ada sesuatu yang membuatnya ingin 'menyentuh' Mia.

__ADS_1


Nathan berusaha mengendalikan diri dengan berdzikir sambil mengepalkan tangannya dengan erat. Nathan melakukan itu hingga beberapa waktu hingga seluruh tubuhnya basah dengan keringat.


"Ada apa ini. Kenapa badanku terasa panas. Dan kenapa Aku ingin sekali memeluk Mia dan melakukan sesuatu pada gadis itu," gumam Nathan.


Karena rasa panas yang mendera membuat Nathan melepaskan jaketnya. Ia juga hampir membuka T-shirt dan semua pakaian yang ia kenakan jika tak ingat ada sesuatu yang aneh di sana. Nathan ingat ruangan itu memiliki alat pendingin ruangan, jadi mustahil rasanya jika ia kegerahan.


Perlahan Nathan melangkah mendekati Mia. Ia mengamati Mia dari dekat. Gadis itu terlihat cantik saat tidur. Nathan mengulurkan tangannya untuk menyingkirkan rambut yang sebagian tergerai menutupi wajah Mia.


"Kenapa Aku baru sadar Mia secantik ini. Padahal biasanya juga ga kaya gini," gumam Nathan bingung.


Saat Mia menggeliat, Nathan nampak menelan salivanya dengan sulit. Ia melihat selimut Mia yang tersingkap hingga menampilkan sebagian kulitnya yang putih itu.


Dengan tangan gemetar Nathan meraih selimut yang terjuntai lalu menariknya untuk menutupi bagian tubuh Mia yang tersingkap. Nathan melakukannya dengan cepat dan sambil menatap Mia lekat.


Setelahnya Nathan berbalik menuju sofa, mengambil jaketnya, lalu melangkah cepat keluar ruangan.


Di luar kamar Nathan menghirup udara sebanyak-banyaknya karena merasa sesak dan cemas di saat bersamaan. Bagaimana pun Nathan adalah pria dewasa yang memiliki ketertarikan dengan lawan jenis.


Nathan bersyukur karena berhasil menepis godaan untuk 'menyentuh' Mia tadi. Bahkan ia masih bisa berpikir jernih untuk tak melakukan sesuatu yang bisa merusak Mia, dirinya dan keluarga mereka.


"Gila !. Ternyata kiriman santet itu bukan hanya untuk Mia tapi juga Aku. Keliatannya cuma orang yang sakit hati dan pendendam yang bisa ngelakuin hal sejahat ini," gumam Nathan sambil menyigar rambutnya.


Nampaknya Nathan sadar apa yang sedang terjadi. Jika Mia dibuat sakit tanpa sebab, maka drinya dibuat terlena dalam hasrat ingin menyetub*hi Mia.


Beruntung Nathan berhasil keluar dari jerat tak kasat mata yang sengaja dikirim untuk menjebaknya.

__ADS_1


Nathan pun kembali mengenakan jaketnya lalu bergegas pergi ke toilet. Di sana Nathan membasuh wajahnya dengan air. Setelahnya Nathan kembali menunggui Mia, tidak di dalam ruangan tapi di luar ruangan.


\=\=\=\=\=


__ADS_2