Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
59. Kok Ada Juga ?


__ADS_3

Ratri mengatakan jika ia merasa lebih relaks sekarang karena tak harus melihat sesuatu yang membuatnya bingung sekaligus takut. Awalnya Nicko tak ingin meladeni ucapan Ratri namun ia merasa sedikit tak sopan jika mengabaikannya begitu saja.


"Bingung gimana sih Mbak ?" tanya Nicko.


"Soalnya Aku ngeliat sosok perempuan yang wajahnya mirip sama Aku tapi pake pakaian jaman dulu banget. Dia berdiri sambil meringis menahan sakit. Di belakangnya ada bayangan beberapa orang yang ga jelas wajahnya. Aku takut, makanya merapat sama Kalian tadi," sahut Ratri gusar.


"Masa sih. Di sebelah mana ?" tanya Nicko penasaran.


"Di tempat terakhir sebelum Kita keluar tadi," sahut Ratri cepat.


Kemudian Nicko menasehati Ratri agar tak terlalu memikirkan apa yang dilihatnya tadi. Sebab tempat yang menyimpan energi negatif seperti itu memang kerap memperlihatkan sesuatu yang kadang tak masuk akal.


"Apalagi guidenya juga bilang kalo dulunya tempat itu sebagai tempat penyiksaan. Mungkin salah satu korban penyiksaan adalah perempuan dan mukanya mirip sama Mbak Ratri. Makanya dia nongol di depan Mbak tadi. Bisa jadi dia ga sadar kalo dirinya udah meninggal dan datang untuk minta tolong sama Mbak karena merasa wajah Kalian mirip. Cara meninggalnya yang tragis pasti bikin arwahnya ga tenang dan gentayangan. Makanya doain aja Mbak. Cuma itu yang mereka butuhkan sekarang," kata Nicko.


Ucapan Nicko mengejutkan sekaligus membuat Ratri kagum. Di usia Nicko yang masih belia tapi sudah bisa berpikir dewasa seperti itu. Sedangkan Nathan yang duduk tepat di belakang Nicko nampak tersenyum bangga mendengar ucapan sang adik.


Pembicaraan Nicko dan Ratri berakhir saat mini bus berhenti di tugu muda Semarang. Semua penumpang diminta turun untuk berfoto. Nicko pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk berfoto bersama sang kakak. Ratri yang tahu jika Nicko berasal dari Jakarta pun dengan senang hati membantu mengambilkan gambar Nicko dan Nathan saat berada tepat di bawah tugu.


Saat itu lah perasaan kesal Nathan pada Ratri perlahan memudar. Ia sadar jika telah bersikap sedikit keterlaluan tadi. Untuk menebus sikapnya yang tak bersahabat tadi, Nathan pun mulai mengajak Ratri bicara banyak hal. Bahkan Nathan menawarkan diri untuk memotret Ratri bersama sang adik.


Melihat sikap Nathan yang melunak membuat Nicko tersenyum. Sedangkan Ratri yang semula ragu menerima kebaikan Nathan pun akhirnya ikut mencair dan bersedia difoto.


Beberapa saat kemudian mini bus kembali melaju. Kali ini menuju kota lama yang dijadikan sebagai tempat persinggahan terakhir peserta wisata malam.


Wajah Nicko nampak berbinar bahagia saat memasuki wilayah kota lama Semarang yang dipenuhi bangunan khas peninggalan jaman kolonial yang masih terawat itu.


Ratri tak henti menjelaskan apa saja yang mereka lewati. Nampaknya Ratri paham dengan sejarah semua bangunan. Selain Ratri memang lahir dan besar di Semarang, Ratri juga mendalami sejarah. Dan itu sangat menguntungkan untuk Nicko. Dia bisa memperoleh banyak informasi tentang bangunan kuno yang ada di tempat itu.

__ADS_1


Melihat kebahagiaan di wajah sang adik membuat Nathan ikut bahagia. Dan wisata malam diakhiri dengan makan bersama di sebuah tempat yang telah dipesan khusus oleh panitya penyelenggara acara.


Sebelum berpisah, Nicko dan Ratri saling bertukar nomor ponsel. Mereka berharap bisa bertemu lagi dalam event lomba selanjutnya entah di kota mana.


\=\=\=\=\=


Kini Nathan dan Nicko sedang berada di dalam perjalanan pulang menuju rumah kost. Keduanya asyik bicara mengenai pengalaman seru mereka malam itu hingga membuat supir Taxi menoleh karena tertarik dengan pembicaraan mereka.


" Emangnya Mas berdua ini abis darimana. Kok jam segini baru pulang ?" tanya supir Taxi basa basi.


Sebenarnya supir Taxi itu sudah biasa mendapat penumpang anak muda yang pulang dini hari seperti saat itu. Biasanya dia tak akan banyak bertanya karena yakin jika penumpangnya baru saja pulang dari tempat tongkrongan anak muda yang diwarnai maksiat. Namun kali ini ia merasa penumpangnya sedikit berbeda. Apalagi isi pembicaraan keduanya jauh dari kata kotor dan tempat maksiat.


"Kami baru aja ikutan wisata malam sama rombongan yang tadi Pak," sahut Nicko cepat.


"Maksudnya wisatanya emang dilakukan malam hari Mas ?" tanya supir Taxi takjub.


"Ga juga. Saya udah beberapa kali dapet penumpang yang katanya abis wisata malam. Tapi kebanyakan dari mereka pulang dalam kondisi mabuk. Makanya Saya salut ngeliat Mas berdua masih dalam kondisi sadar dan bugar di jam segini," sahut sang supir Taxi sambil tersenyum penuh makna.


Ucapan supir Taxi membuat Nathan dan Nicko saling menatap kemudian tersenyum. Mereka paham apa yang dimaksud supir Taxi.


"Mungkin wisatanya beda sama Kami Pak. Kalo Kami kan wisata malamnya ke Lawang Sewu, Tugu Muda sama Kota Lama. Situasinya ga memungkinkan Kami untuk mabuk. Makanya Kami harus tetap sadar dan bugar supaya ga ketinggalan bus," sahut Nathan sekenanya.


Supir Taxi nampak menganggukkan kepalanya tanda mengerti apa yang diucapkan Nathan.


Tak lama kemudian Taxi tiba di depan rumah kost. Setelah melebihkan pembayaran ongkos Taxi, Nathan pun turun menyusul sang adik. Supir Taxi nampak senang menerima kebaikan dua anak muda di hadapannya itu. Sebelum berlalu ia mengucapkan terimakasih berulang-ulang. Nathan dan Nicko pun membalas lambaian tangan sang supir Taxi saat ia kembali melajukan mobilnya meninggalkan mereka.


"Alhamdulillah sampe rumah juga akhirnya," kata Nathan sambil melirik jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul dua dini hari.

__ADS_1


"Alhamdulillah. Capek tapi seneng ya Bang," kata Nicko sambil meregangkan tubuhnya.


"Iya," sahut Nathan.


Kemudian Nathan mengeluarkan kunci dari dalam saku bajunya untuk membuka pintu.Karena mereka pulang lewat dari jam malam yang ditentukan pemilik kost, maka saat tiba di rumah kondisi semua pintu sudah dalam keadaan terkunci.


Beruntung sebelumnya Nathan telah meminta ijin pada pemilik kost jika akan mengantar adiknya berkeliling kota Semarang. Karenanya ia diberi kunci cadangan agar bisa masuk ke dalam rumah.


Nathan dan Nicko pun berhasil masuk ke halaman Rumah kost. Saat Nathan sedang mengunci pagar, ia dikejutkan dengan penampakan sosok kepala tanpa tubuh di atas langit. Terlihat jelas karena sosok kepala tanpa tubuh itu melintas di bawah lampu penerang jalan.


Ternyata bukan hanya Nathan yang melihat penampakan itu tapi juga Nicko. Bahkan Nicko mencengkeram bahu sang kakak sambil menunjuk kearah sosok yang melayang itu.


"Liat Bang !" kata Nicko dengan suara tertahan.


"Iya, Abang udah liat," sahut Nathan cepat.


"Kok bisa-bisanya ada kuyang juga di sini," kata Nicko dengan suara bergetar.


"Ya bisa aja. Itu kan sejenis siluman yang bisa menyebrang dimensi dan waktu," sahut Nathan.


"Maksud Aku. Di sini kan dipadati rumah kost yang diisi mahasiswa. Masa ada kuyang juga. Bukannya kuyang itu nyerang ibu hamil dan bayi ?" tanya Nicko gusar.


Ucapan polos sang adik membuat Nathan tersenyum sambil menggelengkan kepala.


"Tapi di sekitar sini juga ada kost-kost an cewek. Siapa tau ada diantara mereka yang hamil dan melahirkan diam-diam. Makanya ga heran kuyang datang menyatroni tempat ini," kata Nathan santai namun membuat Nicko terkejut.


Kedua mata Nicko nampak membulat setelah berhasil mencerna ucapan sang kakak. Nathan pun tersenyum melihat reaksi sang adik. Setelahnya Nathan merengkuh bahu sang adik lalu membawanya masuk ke dalam rumah untuk istirahat.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2