
Sepanjang perjalanan Hilya dan Nathan tak bicara sepatah kata pun. Mereka diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Saat motor melintas di depan ruang IGD, Hilya pun melompat turun hingga mengejutkan Nathan.
"Ya Allah, hati-hati Hilya !. Bilang dong kalo mau turun ...!" pekik Nathan sambil menoleh kearah Hilya.
Gadis itu nampak nyengir lalu berlari kecil meninggalkan Nathan yang masih mengatur detak jantungnya. Nathan tak bisa membayangkan jika gadis itu jatuh saat melompat dari motor yang masih melaju tadi. Meski pun laju motor pelan tapi tetap membahayakan bukan ?.
Nathan pun melajukan motor ke parkiran dan bergegas menyusul Hilya. Saat itu Hilya baru saja keluar dari sebuah ruangan dengan pakaian lain. Ia juga nampak berbincang akrab dengan para perawat hingga membuat Nathan mengerutkan keningnya.
Hilya menoleh kearah Nathan saat beberapa perawat memberi kode padanya tentang pria yang terus menatapnya. Hilya pun tersenyum lalu melambaikan tangannya kearah Nathan.
Nathan mengangguk lalu menghampiri Hilya.
"Gimana ?" tanya Nathan.
"Alhamdulillah beres. Ibu yang melahirkan tadi udah ditangani dan bayinya udah dibersihkan. Sekarang bayinya ada di kamar bayi," sahut Hilya.
"Syukur lah. Kamu ... kerja di sini juga ?" tanya Nathan sambil mengamati pakaian yang Hilya kenakan.
"Iya. Aku Bidan di sini," sahut Hilya sambil tersenyum.
Seorang perawat datang mendekat lalu memberitahu Hilya tentang wanita yang melahirkan tadi. Hilya mengangguk lalu mengajak Nathan menjenguk ibu dan bayi yang tadi ditolongnya.
"Aku mau jenguk Ibu dan bayi yang tadi Kita bantu. Kamu mau ikut ga ?" tanya Hilya ragu.
"Kita ?" ulang Nathan.
"Iya. Kan Aku ga sendirian nolong Ibu tadi. Berkat kerja sama yang baik dengan warga dan diantaranya Kamu, akhirnya Ibu itu bisa melahirkan dengan tenang dan bayinya selamat," sahut Hilya.
Ucapan bijak Hilya membuat Nathan tersenyum.
"Emang boleh jenguk, Aku kan bukan siapa-siapa ?" tanya Nathan.
"Boleh," sahut Hilya cepat.
"Ok, Aku ikut kalo gitu," kata Nathan hingga membuat Hilya tersenyum.
__ADS_1
Kemudian Nathan dan Hilya pun melangkah beriringan menuju ruang rawat inap. Wanita yang kemudian diketahui bernama Intan itu pun tersenyum melihat kedatangan Hilya dan Nathan. Ia mengucapkan terima kasih berkali-kali hingga membuat Hilya risih.
Tak lama kemudian seorang pria yang ternyata adalah suami Intan masuk ke dalam ruangan. Intan pun memperkenalkan Hilya pada sang suami.
"Bu Bidan ini yang bantuin Aku melahirkan tadi Pa," kata Intan pada suaminya.
"Masya Allah. Terima kasih ya Bu bidan. Eh, Saya bingung manggilnya, abis Bidannya masih muda banget ternyata," kata suami Intan sambil menggaruk kepalanya.
Ucapan suami Intan membuat Hilya dan Nathan tertawa. Hilya menyerahkan panggilan apa yang akan disematkan untuknya pada Intan dan suaminya karena ia sadar jika usia pasangan suami istri di hadapannya jauh lebih dewasa dibanding dirinya.
"Beneran nih ?" tanya Intan.
"Iya," sahut Hilya.
"Panggil nama aja boleh ?" tanya Intan ragu.
"Boleh kok," sahut Hilya cepat.
"Jangan gitu Ma, ga sopan. Kalo di luar Rumah Sakit boleh lah. Tapi kalo masih di Rumah Sakit panggil Bidan Hilya aja. Lebih enak dengernya," kata suami Intan menengahi.
Semua pun mengangguk mengiyakan ucapan suami Intan itu. Setelah berbincang sejenak Hilya pamit untuk menjenguk bayi Intan di ruang bayi. Suami Intan pun ikut serta karena tak sabar ingin melihat bayinya.
"Bayi laki-laki ini adalah bayi yang udah lama Saya nanti Mas Nathan," kata suami Intan sambil mengusap matanya yang basah.
"Bukannya ini Anak ke empat ya Mas," kata Nathan mengingatkan karena merasa suami Intan sedikit berlebihan.
"Iya. Keluarga Saya masih kolot Mas. Mereka hanya menghargai keturunan laki-laki. Makanya Saya sengaja menjauh dari keluarga besar Saya karena ga ingin melukai perasaan Intan yang hanya bisa melahirkan Anak perempuan," sahut suami Intan sedih.
Jawaban suami Intan membuat wajah Hilya merah padam. Ia ingin memarahi suami Intan yang tak bisa membela diri. Nathan yang melihat kemarahan Hilya hampir meledak pun segera membawa gadis itu menjauh dari ruang bayi.
"Apaan sih Kamu. Biar Aku kasih pelajaran tuh Suaminya Kak Intan. Enak aja ngomong Istrinya gagal. Lepasin ga ?!" kata Hilya lantang sambil berusaha menepis tangan Nathan yang mencekal tangannya.
Nathan pun melepaskan cekalan tangannya saat tiba di taman Rumah Sakit. Karena kesal Hilya pun melampiaskan kemarahannya dengan menggigit lengan Nathan. Beruntung Nathan tak menjerit karena bisa menimbulkan salah paham nanti. Nathan hanya mengatupkan bibirnya rapat-rapat saat merasakan gigi Hilya menggigit lengannya yang berotot itu.
Setelahnya Hilya menjauh sambil melengos.
__ADS_1
"Udah puas belum. Kalo belum, nih satu lagi. Aku masih kuat kok," kata Nathan sambil menyodorkan lengannya yang lain.
Hilya nampak mendengus kesal mendengar ucapan Nathan. Gadis itu duduk di kursi sambil berusaha mengatur nafasnya. Melihat Hilya berangsur tenang, Nathan pun duduk di sampingnya. Hanya duduk tanpa bicara karena Nathan ingin memberi kesempatan pada Hilya mengatur emosinya.
"Kenapa perempuan cuma dijadiin pabrik pencetak Anak. Apa Kami ga punya hak bahagia dengan Anak yang Kami lahirkan. Apa salahnya melahirkan Anak perempuan ?. Kenapa jenis kelamin Anak diserahkan sama perempuan padahal Anak adalah anugrah dari Allah. Andai bisa memilih Kami juga pasti melahirkan Anak yang sesuai dengan yang Kalian inginkan. Yang laki-laki lah, yang tanpan lah, yang begini lah, yang begitu lah. Apa pun kalo Kami mampu pasti Kami lakukan. Tapi Kami kan juga manusia yang cuma jadi media lahirnya manusia baru ke muka bumi ini. Kenapa Kalian ga ngerti juga sih," kata Hilya dengan suara bergetar.
Nathan terkejut lalu menoleh kearah Hilya. Dari samping ia bisa melihat kesedihan di wajah Hilya. Beberapa kali gadis itu juga nampak mengusap matanya yang basah. Entah mengapa ada rasa iba di hati Nathan. Refleks ia menarik Hilya ke dalam pelukannya dan membiarkan gadis itu menangis di sana.
Hilya menangis selama beberapa saat. Rasa sakit hati, marah dan kecewa ia lampiaskan melalui air mata. Nathan pun mengusap punggung gadis itu seolah bisa merasakan apa yang Hilya rasakan saat itu.
Usapan lembut di punggungnya membuat Hilya merasa nyaman. Namun saat ingat jika Nathan lah yang mengusap punggungnya, Hilya pun tersentak lalu melepaskan diri dari pelukan Nathan.
"Maaf ...," kata Hilya lirih.
"Gapapa. Aku senang bisa sedikit membantu mengurai kesedihanmu itu. Aku tau Kamu pasti udah lama menanggung beban ini," sahut Nathan.
"Sok tau," kata Hilya ketus sambil menghapus air matanya.
Ucapan Hilya membuat Nathan tersenyum. Ia tahu kondisi gadis itu sudah baik-baik saja sekarang.
Tak lama kemudian Hilya bangkit lalu merapikan pakaiannya. Ia menoleh kearah Nathan dan tersenyum.
"Makasih udah membantu Kami. Maaf bukannya ngusir, tapi sebaiknya Kamu pulang sekarang. Aku harus kembali ke dalam karena sekarang shift kerjaku," kata Hilya.
Nathan menghela nafas panjang lalu mengangguk karena merasa diusir.
"Ok. Kalo gitu Aku pulang sekarang," kata Nathan sambil menyerahkan kunci motor milik Hilya yang masih dipegangnya sejak tadi.
Setelah itu Nathan melangkah meninggalkan Hilya di taman itu. Saat langkahnya hampir mencapai gerbang Nathan menoleh karena mendengar Hilya memanggilnya.
"Apa ?" tanya Nathan.
"Aku traktir makan siang besok. Tempatnya biar Aku share lock nanti !" sahut Hilya.
Setelah mengatakan itu Hilya berlari kecil menuju ke loby Rumah Sakit. Nathan pun tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat tingkah absurd Hilya.
__ADS_1
"Dasar cewek aneh," gumam Nathan sambil melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti tadi.
\=\=\=\=\=