Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
140. Siapa Ibuku ...?


__ADS_3

Ayu pun terbangun saat merasa gerakan di sampingnya. Ia menoleh dan melihat Fikri yang masih terjaga.


"Kenapa Bi, ga bisa tidur ya ?" tanya Ayu.


"Iya," sahut Fikri singkat.


"Mikirin apa ?" tanya Ayu.


"Mmm ..., Aku lagi mikirin Ibu," sahut Fikri ragu.


"Ibu ?" ulang Ayu sambil mengerutkan keningnya.


Bukan tanpa alasan Ayu bingung. Karena seingatnya Fikri tak pernah menyebut 'ibu' pada orangtua angkatnya. Fikri memanggil orangtua angkatnya itu dengan sebutan Papa dan Mama. Sedangkan Ayu memanggil Abba dan Umma pada kedua orangtuanya. Lalu mereka sepakat memanggil Bayan dan Anna seperti Nathan dan Nicko memanggil mereka yaitu Ayah dan Bunda. Lalu siapa ibu yang dimaksud Fikri ?.


"Maksud Abi, Ibu siapa ?, Ibu yang mana ?" tanya Ayu.


"Ibu kandungku ...," sahut Fikri lesu.


Ayu tersentak kaget saat mendengar ucapan suaminya. Ia bangkit lalu memeluk Fikri erat seolah ingin memberi kekuatan pada suaminya. Ayu mengerti mengapa Fikri mengingat ibu kandungnya. Fikri pasti iri melihat Nicko didampingi kedua orangtua kandungnya saat melamar gadis impiannya kemarin. Bukan kah itu wajar ?.


"Maaf ya Bi. Ummi lupa ...," bisik Ayu lirih.


"Gapapa Mi," sahut Fikri sambil mengecup kening Ayu dengan sayang.


"Kenapa Abi tiba-tiba inget sama Ibu ?. Padahal sslama ini Abi kaya ga mau tau gitu. Maaf ya Bi. Soalnya setelah tau Ayah Bayan adalah Paman kandungmu, Kamu kaya lupa semuanya. Lupa nanya siapa dan bagaimana Ayah kandungmu. Juga lupa sama siapa Ibu kandungmu. Aku memang ga bertanya karena ga mau merusak kebahagiaanmu yang baru aja ketemu sama keluarga aslimu," kata Ayu.


Fikri nampak menghela nafas panjang.


"Bukan ga mau tau Mi. Aku cuma merasa Ibu kandungku bukan sosok yang baik. Ga tau kenapa, Aku juga merasa Ibuku itu ..., jahat," kata Fikri ragu.


"Jahat gimana sih maksud Abi ?" tanya Ayu tak mengerti.

__ADS_1


"Abi ga bisa jelasin Mi. Ini kaya semacam firasat aja. Dan Kamu tau kan kalo selama ini firasatku ga pernah salah," sahut Fikri.


Ayu berpikir sejenak kemudian mengangguk. Dan sesaat kemudian ia nampak cemas.


"Kalo Ibu kandungmu orang jahat, terus kejahatan apa yang udah beliau lakukan ?" tanya Ayu.


"Aku juga ga tau Mi. Kan Aku belum pernah ketemu," sahut Fikri.


"Ya tanya dong Bi sama Ayah," pinta Ayu setengah memaksa.


"Emang gapapa ya kalo nanya ?" tanya Fikri ragu.


"Kamu berhak tau asal usulmu Bi. Tanya aja, insya Allah bikin Kamu tenang. Dan siapa tau firasatmu kali ini salah total," sahut Ayu.


Fikri tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


"Kalo gitu Kamu bisa cari waktu yang tepat untuk nanyain tentang Ibu sama Ayah Bayan," kata Ayu.


Tak butuh waktu lama Fikri pun terlelap. Ayu tersenyum mengetahui suaminya berhasil melalui kegelisahannya malam itu. Sesaat kemudian Ayu pun balas memeluk suaminya dan ikut terlelap.


\=\=\=\=\=


Dan di taman itu lah Fikri dan Bayan bertemu untuk bicara empat mata. Bayan sengaja memilih tempat itu karena ia ingin menjaga privacy Fikri.


"Jadi gimana Yah. Apa Aku bisa ketemu sama Ibu kandungku ?" tanya Fikri setelah mereka berbasa basi.


"Insya Allah Ayah bakal bantu. Cuma masalahnya ... Ibu Kamu mau ga ketemu sama Kamu," sahut Bayan hati-hati.


Fikri nampak menghela nafas berat. Ia sudah menduga akan sulit bertemu dengan wanita yang melahirkannya ke dunia ini karena alasan klasik.


Rupanya Fikri menduga jika ibu kandungnya meninggalkannya begitu saja di panti asuhan karena ingin bebas. Dan kini, setelah puluhan tahun berlalu, Fikri yakin jika sang ibu pasti telah memiliki keluarga baru. Jadi wajar jika wanita itu lebih memilih suami dan anak-anaknya daripada bertemu dengan masa lalunya karena dianggap bisa merusak kebahagiaannya.

__ADS_1


"Aku tau Yah. Ibuku pasti udah punya kehidupan dan keluarga baru sekarang. Aku maklum kalo dia menolak bertemu denganku," kata Fikri sedih.


"Maaf Nak," kata Bayan tak enak hati.


"Gapapa Yah. Kalo boleh Ayah kasih tau aja siapa beliau dan tinggal dimana. Biar Aku cari cara buat nemuin beliau nanti. Kalo emang Ibuku malu mengakui Aku, Aku bakal pergi dari hidupnya selamanya. Aku cuma mau kenal sama Ibu supaya Aku bisa menjalankan kewajibanku sebagai Anak," kata Fikri dengan suara bergetar.


Bayan pun merengkuh bahu Fikri lalu mengusapnya pelan. Setelahnya ia bercerita tentang masa lalu yang melibatkannya dan kedua orangtua kandung Fikri.


"Ayahmu, Alan. Memilih kabur dan menikahi wanita bernama Ejah. Tapi dia sama sekali ga pernah mempertemukan Kami dengan wanita bernama Ejah itu. Setelah beberapa bulan kabur, Ayahmu pulang ke rumah sendiri. Hanya sendiri tanpa Ejah. Waktu itu Aku bingung karena melihatnya sangat depresi. Rupanya Alan ditinggal pergi oleh Istrinya. Dia balik jadi sosok yang menyebalkan karena suka mabuk, berjudi dan main perempuan. Lalu Kakek dan Nenekmu membayar orang untuk membantu mencari Ejah sekaligus mencari penyebab Ejah meninggalkan Alan. Sulit karena Ejah menghilang bak ditelan bumi," kata Bayan menjeda ceritanya untuk menghela nafas panjang.


"Hilang begitu aja Yah ?" tanya Fikri.


"Iya. Keliatannya Ayahmu kena batunya. Dia yang biasa main perempuan dan meninggalkan mereka justru ditinggal pergi oleh perempuan yang dia cintai. Ayahmu depresi berat saat Ibumu pergi. Saking depresinya Alan jatuh sakit lalu meninggal dunia. Nah saat Alan meninggal itu lah orang suruhan kakekmu berhasil menemukan Ibumu. Kakek dan Nenekmu terlanjur kecewa dan sakit hati. Mereka merasa semuanya terlambat. Karena andai dipertemukan pun Alan tak akan pernah bisa melihat Ejah. Karena itu Kakek dan Nenekmu urung memanggil Ejah pulang. Aku ga bisa berbuat apa-apa karena keputusan Kakek Nenekmu itu mutlak dan ga bisa diganggu gugat. Saat itu ga seorang pun diantara Kami tau kalo Ejah sedang mengandung saat kabur. Belakangan Kami tau Ejah melahirkan tapi Kami kehilangan jejaknya. Sampe akhir hayatnya Kakek dan Nenekmu ga pernah tau kalo Alan punya seorang Anak dari Ejah," kata Bayan sambil menatap jauh ke depan.


Kedua mata Fikri nampak berkaca-kaca. Ia bahagia karena punya keluarga yang kompak dan saling menyayangi. Meski pun sang ayah telah melakukan kesalahan besar dan mempermalukan keluarga, tapi mereka masih mau membantu ayahnya untuk mencari ibunya.


"Belum lama ini Aku ketemu sama Ibumu. Aku memintanya untuk bertobat," kata Bayan setelah terdiam beberapa saat.


Ucapan Bayan membuat Fikri merasa pusing, jantungnya pun berdetak lebih cepat. Fikri khawatir jika dugaannya benar. Fikri yakin ibunya seorang kriminal.


"Bertobat ?" gumam Fikri sambil memijit pelipisnya.


"Iya," sahut Bayan sambil menoleh kearah Fikri.


Fikri berusaha mengatur nafasnya yang mulai terasa sesak. Ia harus mengetahui semuanya sekarang karena tak ingin terlalu lama diam dalam penasaran.


"Kejahatan apa yang udah Ibu lakukan Yah ?" tanya Fikri dengan suara bergetar.


"Membunuh ...," sahut Bayan lirih.


Jawaban Bayan membuat Fikri terkejut. Walau ia berusaha siap, namun mendengar kenyataan bahwa ibunya seorang pembunuh membuat Fikri shock. Kedua tangannya terkepal erat, mulutnya rapat dan keringat pun membanjiri tubuhnya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2