
Bayan berhenti bercerita saat tiba pada masa menjelang Senja memilih mengakhiri semuanya di peternakan itu.
"Ke ... napa diam ?" tanya Rosi setelah beberapa saat menunggu namun Bayan masih membisu dan tak nampak ingin melanjutkan ceritanya.
"Karena sebentar lagi cerita ini akan berakhir," sahut Bayan dengan suara bergetar.
Rosi menganggukkan kepala pertanda ia mengerti. Setelah Bayan menghela nafas panjang sekali lagi, kemudian mengalir lah cerita tentang malam terakhirnya bersama Senja. Bayan hampir tak sanggup mengingat kembali saat-saat menegangkan itu. Suaranya kini terputus-putus bahkan sesekali Bayan mengusap matanya yang basah dengan air mata.
Rosi pun tahu jika saat itu pria yang juga mantan menantunya tengah mengumpulkan kekuatan agar bisa menceritakan semuanya hingga tuntas.
Dan tiba lah di detik-detik menegangkan saat Bayan menyaksikan Senja berubah menjadi siluman kuyang. Saat Genta alias Karto membekap mulutnya sekaligus menahan tubuhnya agar tak jatuh terhuyung ke lantai di malam itu.
Bayan juga menceritakan jika Genta lah yang telah menaburkan pecahan benda tajam di leher Senja saat wanita itu menjelma menjadi siluman kuyang dan pergi meninggalkan tubuhnya yang tanpa kepala itu.
"A-pa ?, jadi Gen-ta yang me ... laku-kannya ?. Apa dia ga tau ka-lo i-tu bi-sa mem-bu-nuh Sen ... ja ...?!" tanya Rosi dengan suara terputus-putus.
"Iya. Tapi beliau melakukannya atas permintaan Senja," sahut Bayan cepat.
Rosi menggeleng tak percaya mendengar jawaban Genta. Ia tak menyangka jika Senja sangat putus asa hingga memutuskan mengakhiri kutukan itu. Dan yang lebih menyakitkan adalah karena Senja dibantu oleh Genta yang notabene adalah ayah kandungnya.
Seolah mengerti apa yang ada di benak Rosi, Bayan pun menjelaskan jika Senja tak ingin menjadikan diri dan anak kandungnya sebagai penebar bencana untuk orang lain. Senja juga tak ingin anak kandungnya menanggung kutukan itu.
Rosi pun kembali mengangguk karena ia tak mungkin marah pada dua orang tercinta yang telah pergi mendahuluinya itu.
Bayan pun kembali melanjutkan ceritanya dan keduanya terdiam sejenak saat Bayan tiba di akhir cerita. Bayan mengatakan jika jasad Senja hancur jadi debu dan terbang tertiup angin pagi lalu hilang entah kemana.
"Jadi ini makam siapa ?" tanya Rosi beberapa saat kemudian.
"Bukan makam siapa-siapa. Aku hanya menguburkan pakaian terakhir Senja di sini. Pak Genta tau itu. Aku melakukannya agar Aku bisa mengikhlaskan kepergian Senja yang mendadak itu. Aku ... Aku ga mungkin mengakui siapa Senja di depan semua orang yang mengenalnya bukan ?. Jadi untuk menutupi kematiannya yang ga wajar itu, Aku sengaja mengarang cerita dan mengatakan jika Senja meninggal karena keguguran. Aku pikir semua orang akan percaya karena saat itu Senja memang sedang hamil," sahut Bayan sambil menatap makam bernisankan nama Senja itu dengan tatapan sedih.
__ADS_1
Rosi menatap Bayan dan makam bernisankan Senja itu bergantian. Meski pun hanya ada pakaian terakhir Senja di sana, tapi Rosi melihat betapa kuatnya ikatan Bayan dengan sang pemilik pakaian. Dan Rosi terharu saat mengetahui betapa besarnya cinta Bayan pada putri semata wayangnya itu.
"Ka ... mu o-rang baik. Aku baha-gia Sen ... ja me-mi-li-ki suami sebaik Kamu. Te... rima ka-sih karena sudah mencintai Senjaku ...," kata Rosi sambil tersenyum dan menitikkan air mata.
"Aku yang berterima kasih karena Kamu sudah melahirkan wanita hebat itu Rosi. Senja adalah masa lalu yang tak akan pernah Aku lupakan sampai kapan pun. Kenangannya akan abadi di sini ...," sahut Bayan sambil tersenyum lalu menunjuk kepalanya, dadanya dan makam di hadapan mereka.
Rosi pun ikut tersenyum. Kebahagiaan jelas terpancar di wajahnya. Tiba-tiba ia menoleh kearah Nathan.
"Dia ..., Anakmu. Apa dia tau ra-ha-sia ini ...?" tanya Rosi.
"Ga ada yang tau termasuk Anak dan Istriku. Bahkan sahabat terdekatku yang mengenal Senja juga tak tau tentang ini. Aku sengaja menyimpannya rapat-rapat. Hanya Aku dan Pak Genta yang tau Rahasia ini. Insya Allah rahasia ini akan aman selamanya," sahut Bayan mantap.
Rosi pun mengangguk tanda mengerti. Setelahnya ia menghela nafas panjang sekali lagi meski pun tampak sulit.
Bayan pun menjauh dengan maksud memberi Rosi ruang untuk menyendiri dan merenungi semuanya.
"Apa sih yang Ayah dan Bu Rosi omongin. Serius banget keliatannya ?" tanya Nathan.
"Ngomongin masa lalu Nath," sahut Bayan singkat.
"Oh ya. Apa serahasia itu sampe Aku ga boleh ikut dengerin ?" tanya Nathan.
"Begitu lah. Wanita, siapa pun dia dan apa pun kondisinya pasti punya rahasia. Begitu pula dengan Rosi. Dia ga nyaman membicarakan rahasianya di depan Kamu. Makanya dia meminta Kamu menyingkir," sahut Nathan sambil tersenyum.
"Kenapa begitu Yah ?. Padahal sekarang aja Aku udah megang separuh rahasianya termasuk hubungannya demgan Mama Senja. Terus apa lagi yang bikin dia ga nyaman ?" tanya Nathan bingung.
"Mungkin usiamu Nath !" sahut Bayan asal.
"Kenapa sama usiaku Yah. Aku juga udah dewasa dan bukan Anak-anak lagi. Jadi segala sesuatu bisa diomongin karena Aku pasti paham apa yang diomongin," kata Nathan tak mau kalah.
__ADS_1
"Belum tentu Nath," kata Bayan sambil menggelengkan kepala.
"Kok belum tentu ?" tanya Nathan tak mengerti.
"Jangan lupakan kenyataan kalo Rosi itu udah sangat tua Nath. Usianya udah dua ratus tahun lebih meski penampilannya masih sama seperti Bundamu," kata Bayan mengingatkan.
Ucapan Bayan membuat Nathan tersentak kaget. Ia memang menduga jika usia Rosi sudah sangat tua. Tapi ia tak pernah tahu jika Rosi sudah berusia dua ratus tahun lebih.
Tiba-tiba Bayan dan Nathan menoleh kearah Rosi yang memanggil nama mereka. Terdengar lirih namun cukup jelas karena saat itu mereka ada di ruangan terbuka.
"Bi-sa ban-tu Aku ...?" tanya Rosi sambil melambaikan tangannya kearah Bayan dan Nathan.
Sepasang anak dan ayah itu nampak saling menatap sejenak mendengar pertanyaan Rosi yang ambigu itu. Sesaat kemudian keduanya mengangguk lalu bergegas melangkah kearah Rosi. Mereka berhenti pada jarak dua meter karena khawatir Rosi akan kembali menyerang mereka.
"Apa yang Kamu ingin Kami lakukan Rosi ?. Jangan aneh-aneh karena Kami ga bakal menurutimu," kata Bayan sambil menatap Rosi lekat.
"Ba ... karrr Aku ...," pinta Rosi singkat, jelas dan padat.
Tentu saja permintaan Rosi mengejutkan Bayan dan Nathan. Mereka menggelengkan kepala.
"Kami punya cara lain untuk mengakhiri kutukan itu dan semua penderitaanmu Rosi," kata Bayan.
Rosi menggelengkan kepalanya berulang kali sebagai jawaban atas pernyataan Bayan tadi.
"Tak ada ... yang bi-sa Ka-lian lakukan. Jika ... Kalian ingin meng-hen-ti-kan Aku se-lamanya ..., maka bakar Aku. Ini adalah per-min-ta-an terakhir-ku ...," kata Rosi terbata-bata.
Permintaan terakhir Rosi itu membuat Bayan dan Nathan terdiam sambil saling menatap.
\=\=\=\=\=
__ADS_1