
Ustadz Zulkifli yang semula diam akhirnya pun bersuara.
"Udah Umma, jangan marah-marah terus. Coba denger dulu apa kata Nicko. Daritadi Anti terus bicara dan itu bikin dia pusing tau," tegur ustadz Zulkifli pada istrinya.
Istri ustadz Zulkifli nampak menghela nafas panjang. Meski kesal tapi mau tak mau ia harus mendengarkan ucapan suaminya.
"Iya Bi," kata istri ustadz Zulkifli sambil duduk di samping suaminya.
"Nah sekarang coba jelaskan apa yang terjadi. Kenapa Dhanti bisa kabur ?" tanya ustadz Zulkifli.
Nicko pun mengangguk lalu mulai menjelaskan apa yang terjadi. Tapi Nicko sengaja tak menyebutkan apa yang Ayu lakukan karena ia tak ingin melibatkan orang lain dalam permasalahan rumah tangganya itu.
Ustadz Zulkifli dan istrinya nampak saling menatap sejenak kemudian menggelengkan kepala.
"Ini cuma kesalah pahaman biasa Nicko. Ga mungkin hal sepele kaya gini bikin Dhanti kabur !" kata istri ustadz Zulkifli tak percaya.
"Aku juga ga ngerti Umma. Sejak melahirkan Nira, Dhanti jadi berubah. Lebih sensitif dan gampang marah," sahut Nicko lirih.
"Istrimu itu kan baru aja melahirkan Nicko. Dia harus membiasakan diri dengan kondisi dan status barunya. Harusnya Kamu sebagai Suami mendukung dia dan jangan memojokkan dia dong. Bantu lah pekerjaan Istrimu selagi Kamu mampu. Jangan bebankan semuanya sama Dhanti karena sekarang kan dia juga sibuk mengurus bayi. Apalagi bayi Kalian belum genap empat puluh hari. Itu artinya masih ringkih dan perlu perhatian extra. Coba lah mengalah, jangan ikutan marah saat Dhanti marah. Istri itu cuma perlu didengar aja kok. Setelah dia melampiaskan kekesalannya, dia pasti baik lagi," kata istri ustadz Zulkifli menasehati.
"Iya Umma," sahut Nicko.
"Sekarang udah malam, Dhanti ga mungkin pergi jauh. Sebaiknya Kamu susul dia Nicko. Ajak pulang kalo dia mau. Tapi kalo ga mau ya jangan dipaksa. Sekarang bukan waktunya membicarakan yang benar atau yang salah. Kita bahas itu nanti saat kondisi tenang," kata ustadz Zulkifli.
"Baik Bi. Tapi Aku harus cari Dhanti kemana Bi ?" tanya Nicko.
"Cari ke rumah Uwak Idrus. Insya Allah Dhanti ada di sana. Tapi ingat, jangan paksa Dhanti melakukan sesuatu yang ga dia mau. Tunggu sampe dia tenang. Karena kalo dia marah bisa-bisa berimbas sama ASI yang harus ia berikan untuk Nira nanti," kata ustadz Zulkifli mengingatkan.
"Baik Bi. Aku pergi ke rumah Wak Idrus sekarang. Assalamualaikum ...," pamit Nicko sambil mencium punggung tangan kedua mertuanya bergantian.
"Wa alaikumsalam ...," sahut ustadz Zulkifli dan istrinya bersamaan.
__ADS_1
Setelah Nicko pergi, ustadz Zulkifli dan istrinya melanjutkan pembicaraan mereka.
"Pasti ada sesuatu yang besar yang bikin Dhanti kabur Bi. Ga biasanya kan Dhanti kaya gini. Apalagi ini kaburnya bukan ke sini tapi ke tempat Bang Idrus. Kayanya ada yang mau Dhanti sembunyiin deh dari Kita," kata istri ustadz Zulkifli gusar.
"Iya, Ane tau. Tapi Kita ga bisa ikut campur Umma. Biarkan Dhanti dan Nicko menyelesaikan masalah mereka dengan cara mereka sendiri. Kalo mereka perlu bantuan Kita, pasti mereka bakal datang ke sini kok," kata ustadz Zulkifli bijak.
Istri ustadz Zulkifli pun mengangguk. Dalam hati ia berharap agar masalah yang tengah dihadapi Nicko dan Ramadhanti segera berakhir agar mereka bisa rukun kembali seperti semula.
\=\=\=\=\=
Nicko tiba di rumah wak Idrus, kakak kandung umma Ramadhanti. Ia tahu rumah itu karena beberapa kali berkunjung ke sana bersama sang istri. Tapi ia tak pernah tahu jika Ramadhanti lebih suka curhat pada wak Idrus dan istrinya dibanding dengan kedua orangtuanya.
Kedatangan Nicko disambut hangat oleh wak Idrus dan istrinya. Setelah berbasa-basi, wak Idrus mempersilakan Nicko masuk ke kamar dimana Ramadhani dan bayinya berada.
"Apa Dhanti ga marah kalo Aku ganggu Wak ?" tanya Nicko.
"Udah resiko kalo dia marah. Kenapa, apa Kamu takut Dhanti marah ?. Jangan-jangan yang Dhanti bilang itu benar ya ?" tanya Wak Idrus sambil menatap Nicko lekat.
Jawaban Nicko membuat wak Idrus dan istrinya tersenyum. Mereka yakin jika Nicko akan mampu menyelesaikan masalah yang tengah dihadapi dengan bijak nanti.
"Ya udah, masuk sana. Ngapain masih duduk di sini ?!" tegur istri Wak Idrus pura-pura galak.
"Eh, i-iya Wak ...," sahut Nicko gugup lalu bergegas masuk ke bagian dalam rumah.
Di depan kamar Nicko berdiri sejenak lalu mengetuk pintu kamar. Ia mendorong pintu perlahan setelah mendengar suara Ramadhanti yang mengijinkannya masuk. Nicko tersenyum melihat Ramadhanti sedang berbaring membelakangi pintu sambil menyusui bayinya.
Nampaknya Ramadhanti tak menyadari kehadiran suaminya. Ia mengira jika istri Wak Idrus yang masuk ke kamar karena memang hanya dua orangtua itu yang ada di rumah saat ini.
Melihat istrinya berbaring tanpa penutup kepala dan hanya mengenakan daster, Nicko pun tak sabar untuk memeluknya. Ia ikut berbaring di belakang Ramadhanti lalu memeluk sang istri dengan erat.
"Assalamualaikum Sayang," sapa Nicko.
__ADS_1
"Wa alaikum..., Mas !. Kamu ... Kamu ngapain di sini ?!" tanya Ramadhanti sambil menepis kasar tangan Nicko yang memeluk pinggangnya.
Nicko pun sigap bangkit dari posisi berbaringnya karena hampir terjatuh dari tempat tidur. Sedangkan Ramadhanti langsung terduduk sambil memperbaiki pakaiannya yang tersibak.
Akibat gerakan dan nada suara Ramadhanti yang tinggi membuat Nira Asshifa yang hampir terpejam itu terkejut lalu menangis keras.
"Ya Allah ..., maaf ya Nak. Cup cup ..., sini sini, Nira mimik lagi ya ...," bujuk Ramadhanti sambil mencoba menyusui bayinya.
Beruntung Nira Asshifa mudah dibujuk. Dengan singkat bayi itu menghentikan tangisnya lalu kembali memejamkan mata. Sedangkan Ramadhanti nampak menatap kesal kearah suaminya.
"Mau ngapain ke sini ?. Ga bisa ya biarin Aku tenang sebentar. Aku capek Mas !. Aku butuh istirahat !" kata Ramdhanti kesal.
"Iya maaf. Tapi bisa kan istirahatnya di rumah Kita aja. Kenapa harus istirahat di sini, kan ga enak sama Wak Idrus," kata Nicko.
"Ga enak kenapa ?. Justru di sini enak kok !. Aku bisa punya waktu untuk diriku sendiri, bisa makan, bisa mandi, bisa tidur. Beda sama di rumah. Jangankan untuk tidur, Aku hampir ga bisa makan karena Nira nangis terus gara-gara Kakak iparmu itu selalu datang mengganggu ketenangan Nira dan membuatnya menangis. Apa dia lupa kalo bayi juga perlu tidur supaya bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Kan dia juga pernah punya Anak dulu ?!" kata Ramadhanti berapi-api.
Usai mengatakan itu Ramadhanti menangis. Nicko pun tergerak memeluk istrinya meski pun Ramadhanti menolak. Namun karena Nicko terus berusaha memeluknya, Ramadhanti pun akhirnya menyerah. Ia menangis di pelukan Nicko sambil terus menyusui bayinya.
Setelah Ramadhanti tenang, Nicko pun mengurai pelukannya. Ia menghapus air mata di wajah sang istri lalu mengecupnya dengan lembut.
"Maafin Aku ya kalo ga bisa tegas selama ini. Kalo ini mengganggu Kamu, Aku bakal bicarain ini sama Bang Fikri. Iya Aku tau. Aku bakal ajak Ayah dan Bang Nathan untuk nemenin biar ga jadi salah paham nanti," kata Nicko saat melihat mulut Ramadhanti akan terbuka untuk melayangkan protes.
Ramadhanti pun tersenyum lalu mengangguk.
"Aku bukan melarang Mbak Ayu datang ke Rumah Mas. Tapi dia datang saat jamnya Nira tidur. Terus dia bangunin Nira dan ngajak ngobrol seolah Nira ini udah ngerti apa yang dia omongin. Dan akibatnya Nira jadi rewel, dia nangis karena ga bisa tidur nyenyak. Tiap kali dia mulai rewel Aku langsung kasih ASI. Tapi baru Aku taro di tempat tidur dan Aku tinggal sebentar, tau-tau dia nangis lagi. Ternyata Mbak Ayu yang bangunin dia. Apa Aku ga kesel jadinya ?!" kata Ramadhanti gusar.
"Kenapa ga Kamu tegur aja ?" tanya Nicko.
"Udah Mas. Tapi Mbak Ayu bilang Nira itu lucu banget dan bikin dia gemes. Makanya dia gangguin karena senang denger suara tangisan Nira !" sahut Ramadhanti.
Jawaban Ramadhanti membuat Nicko menepuk dahi karena tak mengerti dengan jalan pikiran Ayu.
__ADS_1
\=\=\=\=\=