Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
44. Tekad Rama


__ADS_3

Rupanya Dita masih belum ingin menyerah. Ia masih berusaha memperjuangkan pernikahannya dengan Rama. Jika dengan menemui Rama ia gagal meraih simpati, maka kali ini Dita mencoba mendekati orang terdekat di lingkungan Rama yaitu kedua sahabatnya. Namun Dita tak langsung datang pada Bayan dan Riko, ia justru mendekati Anna dan Mona.


Siang itu Dita sengaja berkunjung ke rumah Bayan. Ia berniat menemui Anna dan meminta bantuannya. Saat tiba di rumah Bayan ia melihat Mona yang sedang bersenda gurau dengan Nathan dan itu membuatnya kesal.


Selama ini Dita memang menjaga jarak dengan Mona dan Anna karena ia tak suka dengan apa yang kedua wanita itu miliki.


Dita tak menyukai Mona karena Mona punya pekerjaan dan karir yang bagus. Dan ia melihat Mona sebagai sosok mandiri yang tak mengandalkan uang suami dalam menyelesaikan masalah keuangan rumah tangganya. Hal itu jelas berbeda dengannya yang akan selalu bergantung pada sang suami karena ia tak memiliki pekerjaan selain sebagai ibu rumah tangga.


Sedangkan ketidak sukaan Dita pada Anna karena dia merasa iri dengan keberuntungan yang Anna dapatkan. Anna bisa menikahi suami yang tampan, kaya raya dan sekaligus pemilik perusahaan. Meski pun bukan perusahaan terkenal, tapi punya penghasilan yang besar karena punya banyak link bisnis yang tersebar di beberapa tempat. Dita tahu berapa banyak kekayaan Bayan dari Rama yang pernah bercerita bagaimana awal muasal kesuksesan Bayan.


Mona menghentikan tawanya saat melihat kehadiran Dita. Saat itu Mona memang sengaja berkunjung ke rumah Bayan karena jenuh. Sejak ia hamil, Riko memintanya resign karena khawatir dengan kondisinya dan calon bayi mereka. Dan untuk membuang rasa jenuhnya, Mona akan berkunjung ke rumah beberapa teman dekatnya termasuk Anna.


"Dita ...?" panggil Mona ragu.


"I-iya Mon. Apa Anna ada di rumah ?" tanya Dita gugup.


"Oh ada kok. Yuk masuk," ajak Mona sambil membuka pintu pagar.


Saat Mona melangkah mendekati pagar Dita bisa melihat perut Mona yang sedikit membuncit. Selain itu Mona juga mengenakan gaun longgar yang hampir tak pernah ia kenakan karena Mona lebih suka setelan blouse dan celana panjang.


"Apa kabar Dit ?" sapa Mona saat Dita masuk ke halaman Rumah Bayan.


"Mmm ... ga baik. Lo sendiri gimana, kok tumben jam segini ada di sini. Bukannya harusnya Lo masih kerja ya ?" tanya Dita.


"Gue resign karena permintaan Riko. Dia mau Gue fokus aja sama calon Anak Kami," sahut Mona sambil tersenyum


Ucapan Mona tak terlalu mengejutkan Dita karena ia sudah menduga sejak awal.


"Oh gitu. Selamat ya, akhirnya Lo bisa juga hamil," kata Dita dengan sinis.


Mona ikut tersenyum walau dengan perasaan tak nyaman. Sejak dulu Mona tak suka dengan sikap Dita yang selalu meremehkannya karena tak kunjung memiliki anak. Itu lah sebabnya mengapa ia memilih menjaga jarak dengan Dita.

__ADS_1


"Lo tunggu sebentar ya, Gue panggilin Anna dulu," kata Mona sambil berlalu.


Dita mendengus kesal karena Mona tak mempersilahkannya masuk ke dalam rumah. Bahkan Mona juga membawa Nathan masuk bersamanya seolah tak ingin Dita mendekatinya.


"Sia*an. Gayanya kaya yang punya rumah aja sih," gumam Dita kesal sambil duduk di kursi teras.


Di dalam rumah Mona segera menyerahkan Nathan kepada pengasuhnya. Lalu ia memanggil Anna yang saat itu sedang menyusui bayinya. Anna terkejut saat Mona memberi tahu kedatangan Dita.


"Mau ngapain dia ke sini ?" tanya Anna.


"Ga tau. Kayanya sih ada yang mau dia omongin, penting banget keliatannya," sahut Mona dengan enggan.


"Terus kenapa Lo tinggalin dia di luar, kok ga disuruh masuk ?" tanya Anna saat mengetahui Dita duduk di teras rumah.


"Ck, males. Biarin aja dia di sana. Biar dia sadar kalo dia udah ada di luar circle Kita," sahut Mona sambil tersenyum penuh makna.


Anna pun mengangguk setuju. Setelah memastikan bayinya tertidur, Anna pun keluar menemui Dita. Sendiri tanpa Mona karena Mona memilih menemani Nicko di kamar.


Saat masuk ke dalam rumah Dita nampak terkagum-kagum. Sebab ia ingat betul bagaimana design interior rumah itu sebelumnya.


"Wah bagus banget An. Pasti mahal ya," kata Dita sambil mengusap hiasan kristal di lemari kaca.


"Ga tau Dit. Itu Ayahnya anak-anak yang beli," sahut Anna dengan enggan.


Dita mengangguk lalu duduk di sofa ruang tamu. Tak lama kemudian Yumi datang dengan nampan berisi dua cangkir teh manis hangat dan sepiring makanan ringan.


Setelah mempersilakan Dita minum, Anna pun bertanya niat Dita menemuinya. Dengan gamblang Dita menyampaikan keluhannya. Ia ingin Anna membantunya membujuk Rama agar jangan menceraikannya. Tentu saja itu mengejutkan Anna dan Mona yang memang mendengarkan pembicaraan dari balik pintu.


"Kenapa ga ngomong langsung sama Bang Rama. Kan dia yang punya keputusan ?" tanya Anna.


"Udah, tapi gagal. Bang Rama tetep keukeuh mau pisah. Gue ... Gue nyesel An. Sekarang Gue sadar kalo Gue ini terlalu egois dan kekanakan. Tapi Gue janji bakal berubah dan memperbaiki semuanya. Jadi tolong bantu Gue ya An. Tolong bilang sama Bang Rama kalo Gue masih cinta sama dia, Gue ga mau kehilangan untuk yang kedua kalinya. Setelah kehilangan Kayla, Gue ga mau kehilangan dia," kata Dita sungguh-sungguh.

__ADS_1


Ucapan Dita menyentuh hati Anna. Walau ia tak yakin dengan keseriusan Dita, namun sebagai wanita ia tahu persis bagaimana rasanya kehilangan anak dan terancam perceraian.


Anna pun menghela nafas panjang karena itu merupakan permintaan berat untuknya. Anna tahu Rama akan tetap pada keputusannya dan Anna mengerti mengapa Rama seperti itu. Setelah Bayan menceritakan bagaimana buruknya sikap Dita dan keluarganya pada Rama, rasanya Anna juga tak ingin Rama rujuk dengan Dita.


Menyadari Anna tak ingin membantunya membuat Dita kesal. Ia pun berdiri lalu pergi tanpa pamit hingga membuat Anna menggelengkan kepala.


"Minta dibantu tapi ga punya sopan santun," gumam Anna.


"Ngeliat sikapnya, Gue justru setuju sama keputusan Bang Rama An !" kata Mona dari belakang Anna.


Saat Anna menoleh untuk menjawab pernyataan Mona, suara mobil Bayan memasuki halaman. Ia pun bergegas keluar untuk menyambut suaminya.


Ternyata saat itu Bayan tak sendiri. Riko dan Rama juga ada bersamanya meski dengan mobil yang berbeda.


"Gue ngeliat Dita di ujung jalan sana. Apa dia mampir ke sini An ?" tanya Rama tak sabar.


"Iya Bang," sahut Anna setelah mencium punggung tangan suaminya.


"Mau ngapain dia ke sini ?" tanya Rama kesal.


"Minta tolong ssma Anna supaya mau ngebujuk Lo buat batalin niat Lo bercerai sama dia Bang !" sahut Mona mewakili Anna.


Jawaban Mona membuat Rama kesal. Ia bertambah kesal saat melihat Riko memeluk Mona dengan posessif.


"Bisa ga sih ga usah bermesraan di depan Gue ?!" kata Rama gusar namun justru membuat Bayan dan Riko tertawa geli.


"Jangan marah Ram. Ini salah satu upaya Kita biar Lo batalin niat Lo itu. Lo tau kan gimana rasanya memeluk Istri sendiri," kata Riko sambil tersenyum penuh makna.


"Gue tau. Dan Gue emang pengen memeluk Istri Gue tapi yang jelas itu bukan Dita !" sahut Rama tegas sambil bergegas masuk ke dslam rumah meninggalkan kedua sahabatnya dengan istri mereka masing-masing.


Jawaban Rama mengejutkan semua orang.Karena selain tekadnya telah bulat untuk menceraikan Dita, tampaknya Rama juga telah memiliki wanita lain yang akan menggantikan posisi Dita.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2