
Bayan mulai merenovasi rumahnya. Sesuai anjuran ustadz Mustafa, Bayan juga menambahkan ornamen pecahan kaca pada semua ventilasi dberkali-kali. Dan anehnya, Bayan meminta agar pecahan kaca dipasang dengan posisi berdiri, dengan sisi runcing menghadap ke atas dan ke bawah atau saling berhadapan. Meski awalnya tak mengerti, namun tukang yang dibayar Bayan akhirnya mampu mewujudkan keinginan Bayan.
Saat masih dalam tahap pengerjaan, Rama dan Riko pun menyempatkan diri untuk bertandang ke rumah Bayan. Mereka terkagum-kagum dengan design interior yang dibuat Bayan.
"Ventilasi nya jadi keliatan kinclong Yan. Kelap-kelip kalo kena cahaya. Seru kaya di lantai disko !" gurau Rama sambil tertawa.
"Sengaja Ram. Biar tambah rame. Kan sekarang di rumah ini ada dua anak. Makanya dekorasinya juga disesuaikan sama dunia anak-anak yang ceria dan merdeka," sahut Bayan asal.
"Tapi baru kali ini Gue liat ada ventilasi dikasih pecahan kaca warna warni gitu Yan," kata Riko.
"Itu kan cuma teknik pemasangannya aja Rik. Biasa lah biar bisa sedikit neken budget," sahut Bayan sambil nyengir.
Jawaban Bayan mau tak mau membuat Rama dan Riko tertawa. Namun tawa ketiga terhenti saat ponsel Rama berdering. Rama pun meraih ponselnya dari saku baju lalu bergeser menjauh dari kedua sahabatnya.
"Pasti Dita," kata Riko sambil mendengus kesal.
"Sssttt ..., jangan kenceng-kenceng. Ga enak kalo Rama denger," kata Bayan mengingatkan.
"Biarin aja. Gue sengaja kok. Heran deh sama si Dita, posessif banget jadi Istri. Beda banget kan sama Mona dan Anna. Mereka ga pernah keberatan kalo Kita bertiga kumpul, yang penting jelas dimana dan sama siapa," sahut Riko kesal.
Bayan terdiam karena tak ingin membahas lebih jauh tentang istri sahabatnya itu. Diantara mereka bertiga hanya Rama yang punya istri pencemburu. Padahal setahu Bayan, Rama adalah sosok yang setia dan bertanggung jawab. Rasanya aneh saat Dita marah hanya karena Riko meluangkan sedikit waktu dengan Bayan dan Riko. Bukan kah harusnya Dita sadar jika persahabatan mereka bertiga lebih dulu ada dibandingkan pernikahannya dengan Rama.
Selain kerap mengekang kebebasan Rama, Dita juga enggan bergaul dengan Mona dan Anna. Nampaknya Dita tak suka dengan istri Riko dan Bayan itu. Karena sikapnya yang tak bersahabat membuat Mona dan Anna pun enggan mendekat. Apalagi Dita seringkali absen dalam acara yang menghendaki kehadiran ketiga sahabat itu dengan pasangannya masing-masing. Hal itu makin membuat hubungan Anna, Mona dan Dita tak harmonis sama sekali.
__ADS_1
Awalnya Rama tak menyadari sikap istrinya yang tak bersahabat itu. Ia mengira Mona dan Anna lah yang tak berkenan dengan kehadiran Dita. Tapi belakangan akhirnya Rama tahu jika istrinya lah yang sulit membaur dengan kedua istri sahabatnya itu.
Setelah mengakhiri pembicaraan dengan istrinya, Rama nampak melangkah mendekati Bayan dan Riko yang masih pura-pura asyik berbincang. Wajah Rama terlihat kusut dan itu membuat Riko penasaran.
"Kenapa lagi sih Ram, ribut lagi sama Dita ?. Kali ini Istri Lo itu minta apaan sih, kenapa ga diturutin aja biar ga rame, " kata Riko tak sabar.
"Kalo mintanya cuma martabak telor Gue mah ga bakal sepusing ini Rik. Dita nelephon barusan gara-gara tetangga Gue ada yang beli mobil baru. Dan dia minta Gue beliin mobil baru juga gimana pun caranya. Kalo ga, dia ngancam mau pulang ke rumah orangtuanya," sahut Rama kesal.
Jawaban Rama mengejutkan Bayan dan Riko. Keduanya saling menatap sejenak kemudian tertawa geli. Rama yang semula kesal pun ikut tertawa setelah menyadari permintaan istrinya yang kekanakan itu.
"Jangan ketawa aja Lo Ram. Ntar kalo Dita beneran minggat gimana ?" tanya Bayan setelah tawanya mereda.
"Biarin aja deh. Kan minggatnya cuma ke rumah orangtuanya. Mudah-mudahan selama minggat Dita sadar kalo Suaminya ini ga sekaya dulu. Lagian daripada beli mobil baru yang harganya selangit, mendingan uangnya ditabung buat masa depan Anak. Hari gini kok masih nurutin gengsi, ngambek terus pergi. Dasar payah," sahut Rama sambil membaringkan diri di sofa.
"Jujur sih emang gitu Rik. Kepala Gue nih mau pecah rasanya dengerin permintaan Dita yang ga ada habisnya. Kalo ga inget anak, rasanya Gue pengen cerai aja sama si Dita. Udah tau nyari duit susah, eh seenaknya aja minta ini itu. Tabungan yang kepake buat beli berlian kemaren aja Gue masih bingung cara nutupinnya gimana. Udah ga bisa bantuin, yang ada malah ngerongrong Suami aja bisanya !" omel Rama.
"Istighfar Ram. Jangan asal ngomong Lo. Ntar kalo ada malaikat lewat, omongan Lo dicatet, terus kejadian, nyesel Lo," kata Bayan mengingatkan.
Rama menghela nafas panjang sambil mengucap istighfar berkali-kali. Nampaknya kali ini Rama benar-benar lelah menghadapi sikap Dita, istri yang dinikahinya tiga tahun lalu.
Terkadang Rama juga tak mengerti mengapa ia bisa gelap mata hingga menikahi Dita. Meski pun cantik, namun Dita bukan lah sosok wanita ideal impiannya.
Rama ingat saat ia mengatakan akan menikahi Dita, Bayan dan Riko terkejut bukan kepalang. Saat itu Bayan dan Riko mencoba menasehati Rama agar tak perlu terburu-buru menikah. Mereka mengira Rama memutuskan menikah karena tak ingin dicap bujang lapuk. Sebab diantara mereka bertiga hanya Rama yang belum menikah.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan Bayan dan Riko mengingatkan Rama berkali-kali. Sebagai sahabat, mereka juga mencurigai niat buruk Dita. Apalagi seminggu sebelum pernikahan Dita juga mengajukan banyak syarat yang tak masuk akal. Diantaranya Dita meminta agar Riko memberi mahar pernikahan yang jumlahnya dua kali lipat dari kesepakatan kedua keluarga. Dan itu lumayan menguras tabungan Rama.
Namun Rama yang telah dibutakan oleh cinta itu nampak tak peduli. Ia menikahi Dita walau pun belum paham seperti apa sifat dan karakter Dita sebenarnya termasuk seperti apa keluarganya. Dan saat Rama menyesali keputusannya di kemudian hari, Bayan dan Riko tak bisa berbuat apa-apa.
\=\=\=\=\=
Dita nampak mondar-mandir di ruang tamu. Berkali-kali ia melihat keluar jendela berharap Rama segera kembali. Namun yang ditunggu tak juga menampakkan batang hidungnya meski pun batas waktu yang Dita berikan telah lewat.
Dengan kesal Dita menyeret koper besarnya lalu menggendong buah hatinya yang berusia dua tahun itu. Dita pun bergegas keluar dari rumah.
Untuk tiba di persimpangan jalan, Dita masih harus berjalan sejauh tiga ratus meter dari rumah. Dan sepanjang jalan Dita terus mengomel karena merasa Rama tak lagi menyayanginya.
Namun saat di tengah perjalanan Dita menghentikan langkahnya. Ia seolah baru tersadar jika saat itu dirinya ada di tempat yang tak seharusnya. Dita menoleh ke kanan dan ke kiri dan sedikit bergidik saat menyadari jalanan yang ia lalui lengang tak seorang pun terlihat melintas.
Dita pun mulai gelisah. Apalagi di depan sana terlihat tiga pohon besar berdaun rimbun yang berdiri kokoh. Saat siang hari pun sudah membuat Dita tak nyaman saat melewatinya apalagi malam hari seperti ini.
Dita makin gelisah saat anaknya mulai merengek. Sesuatu yang lupa ia perhitungkan saat kabur dari rumah tadi.
Dita pun mempercepat langkahnya sambil berusaha menenangkan anaknya, namun gagal. Dan tangis sang anak kian keras saat kedua matanya melihat sesuatu yang menyeramkan tengah melayang di langit malam.
Tiba-tiba tangis anak Dita berhenti dan itu membuat Dita lega. Dita pun menoleh kearah sang anak untuk sekedar mengucapkan kalimat pujian karena sang anak telah kembali tenang. Namun Dita terkejut lalu menjerit histeris saat mengetahui anak yang ada dalam gendongannya raib, hilang entah kemana.
\=\=\=\=\=
__ADS_1