
Bayan masih menatap Arafah tanpa berkedip sambil terus berdzikir dalam hati. Ia berharap sesuatu yang datang itu tak membahayakan jiwa mereka yang ada di ruangan itu terutama Arafah.
Tiba-tiba kedua mata Bayan membulat saat melihat Arafah bangkit lalu duduk tegak dengan kedua mata menatap ke depan tepat kearah matanya. Bayan sedikit bergidik karena mengenali tatapan itu bukan lah milik Arafah.
Bayan baru saja membuka mulut untuk bertanya namun suara jendela terbuka membuat perhatian Bayan teralihkan. Bayan menoleh kearah jendela dan melihat bayangan hitam menyerupai sosok wanita berambut panjang berdiri di sana. Sosok hitam itu nampak menatap lekat kearah Arafah.
"Siapa Kamu ?. Apa maumu ?!" tanya Bayan lantang.
Meski pun suara Bayan sangat lantang, namun tak membuat Fikri, Anna dan Ayu terjaga. Ketiganya nampak terlelap seolah tak terusik dengan suara lantang Bayan tadi.
Bukan jawaban yang Bayan terima, tapi justru aksi mencengangkan dari sosok wanita itu. Ia berubah menjadi asap hitam yang perlahan melayang masuk ke dalam ruangan lalu berhenti tepat di hadapan Arafah. Setelahnya asap hitam itu kembali membentuk wujud yang solid. Wanita itu berdiri mengamati Arafah yang tengah duduk tegak dan mata melotot.
Melihat hal itu membuat Bayan panik. Ia berusaha merangsek maju untuk menghalangi sosok hitam itu mendekati Arafah namun gagal. Tubuhnya mendadak kaku dan sulit digerakkan. Meski pun Bayan berupaya sekuat tenaga, toh ia tetap tak mampu lepas dari belenggu tak kasat mata yang menjeratnya.
Saat Bayan tengah berusaha melepaskan diri, sebuah suara terdengar menyapanya. Sangat lirih hingga membuat Bayan menoleh ke kanan dan ke kiri mencari asal suara. Bayan terkejut mengetahui suara itu berasal dari sosok hitam di hadapannya itu.
"Terima kasih telah menjaganya untukku ...," kata sosok hitam itu sambil berdiri membelakangi Bayan.
"Menjaga ?. Apa maksudmu, siapa yang Aku jaga ?!" tanya Bayan gusar.
"Dia ... Anak cantik ini ...," sahut sosok hitam itu sambil menoleh kearah Bayan.
Saat itu lah Bayan tertegun karena melihat jelas wajah dari sosok hitam itu. Ternyata sosok hitam itu memiliki wajah yang sangat menyeramkan. Dengan mulut dipenuhi taring mencuat, tanpa hidung, kedua mata yang besar menyala, alis yang menyatu dan kulit hitam berkerut. Rambut panjang berwarna putih keperakan yang terurai menutupi punggung makin memperjelas usia sosok wanita itu.
Sontak penampakan tak lazim itu membuat Bayan sadar jika yang dihadapinya adalah makhluk jadi-jadian alias siluman.
Bayan menelan salivanya dengan sulit saat sosok wanita itu mengulurkan tangannya dan menyentuh kepala Arafah.
"Jangan ... Kumohon jangan sakiti dia ...," pinta Bayan penuh harap.
Wanita itu nampak menggelengkan kepalanya sambil tertawa lirih. Ia menertawakan Bayan yang mengira ia akan menyakiti Arafah.
"Mana mungkin Aku menyakiti pewarisku ...," sahut wanita itu sambil menyeringai.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan kalimatnya, wanita itu merenggut Arafah dengan keras. Lalu tubuh Arafah yang terhentak ke depan itu jatuh tersungkur di pelukan wanita itu. Bayan menjerit marah menyaksikan wanita itu menggendong Arafah dengan satu tangan lalu membawanya pergi.
Wanita itu melesat cepat menuju jendela yang terbuka. Sebelum benar-benar pergi, wanita itu menoleh kearah Bayan sambil tersenyum. Namun di mata Bayan senyum wanita lebih mirip seringai mengejek daripada sebuah senyuman tulus.
Bayan pun memaki. Ia memanggil-manggil Arafah sambil berusaha melepaskan diri.
"Arafaaahh ... Arafaahh !. Jangan bawa Arafah !. Kembalikan Arafah !" kata Bayan lantang.
Namun sebuah tepukan di pipinya menyadarkan Bayan. Ia membuka mata dan melihat Anna ada di depannya bersama Fikri dan Ayu yang nampak menatap cemas kearahnya.
"Ayah ...!" panggil Anna lembut.
Bayan membisu sambil berusaha bangkit dari posisi berbaringnya.
"Arafah ...," panggil Bayan sambil menoleh cepat kearah tempat tidur Arafah.
"Arafah masih tidur Yah. Ayah kenapa ?, mimpi buruk ya ?" tanya Anna sambil menyodorkan segelas air.
Bayan mengerjapkan matanya saat menyaksikan Arafah masih terlelap di tempat tidur lengkap dengan selang infus di lengannya. Bayan pun menghela nafas panjang. Setelahnya ia menerima gelas yang disodorkan Anna lalu meneguk isinya hingga tandas.
"Sama-sama Yah," sahut Anna sambil meletakkan gelas di atas meja.
Setelah cukup tenang, Bayan pun bangkit lalu melangkah mendekati Arafah. Ia menyentuh kepala Arafah dengan perasaan kacau. Meski saat itu Arafah nampak bernafas dengan tenang, Bayan tahu jika Arafah sedang tak baik-baik saja.
"Ayah ...," panggil Fikri.
Bayan menoleh dan mendapati Fikri tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca. Bayan kembali menghela nafas panjang lalu mengangguk.
"Iya. Ayah mimpi buruk tadi," kata Bayan sambil menatap Arafah.
"Mimpi apa Yah ?" tanya Anna tak sabar.
"Ga enak kalo diceritain di sini. Sekarang masih larut, sebaiknya Kalian istirahat. Biar Ayah duduk di sini sambil menjaga Arafah," kata Bayan sambil duduk di kursi tepat di samping tempat tidur.
__ADS_1
Fikri, Anna dan Ayu saling menatap sejenak lalu mengangguk. Mereka tahu tak akan mudah membujuk Bayan dan memintanya istirahat.
Kemudian Anna dan Ayu bergeser lalu memilih berbaring di sofa bed, sedangkan Fikri pamit keluar untuk membeli kopi.
Tak butuh waktu lama keheningan kembali menyapa ruangan itu. Bayan masih duduk menunggui Arafah. Ia menatap lekat kearah Arafah sambil berdzikir.
Tiba-tiba Bayan menarik tangannya yang mengusap kepala Arafah karena terkejut. Ia melihat mulut Arafah sedikit terbuka bersamaan dengan gigi-gigi yang perlahan mencuat keluar. Yang mengejutkan karena gigi Arafah bukan seperti gigi anak-anak pada umumnya. Gigi Arafah lebih menyerupai taring tajam. Bukan hanya satu atau dua gigi tapi semua. Seolah gigi-gigi itu dipersiapkan untuk mengoyak sesuatu yang keras.
"Astaghfirullah aladziim .... Laa haula wala quwwata ilaa billahill aliyyil adziim ...," gumam Bayan dengan jantung berdetak cepat.
Bayan tahu jika saat itu Arafah tengah bertransformasi menjadi siluman kuyang.
Jika biasanya ia melihat penampakan kuyang dari jarak lumayan jauh, tapi melihat penampakan titisan kuyang di hadapannya itu membuat Bayan bergidik ngeri sekaligus sedih. Ia tak menyangka jika anak semanis dan selucu Arafah ternyata memiliki darah siluman dalam dirinya.
Suara geraman lirih terdengar dari mulut Arafah bersamaan dengan kedua mata yang mendelik ke atas. Selain itu tubuh balita itu pun nampak mengejang hebat seolah ada sesuatu yang mendesak ingin keluar.
Bayan refleks memeluk Arafah agar balita itu tak meronta sambil terus memegangi kepala Arafah. Bayan juga berusaha menahan kepala Arafah agar tetap berada di tempatnya.
Di saat genting itu Fikri masuk dan terkejut melihat Bayan tengah memeluk Arafah dengan erat. Ia berlari mendekati tempat tidur dan membantu Bayan. Nampaknya Fikri sadar jika Bayan tengah 'memperjuangkan' Arafah.
"Tolong basuh wajah dan lehernya dengan air Fik," pinta Bayan sambil menatap Fikri lekat.
Fikri tersentak melihat kedua mata Bayan yang basah. Ia tahu sang ayah tak mungkin menangis jika sesuatu di hadapannya tak mengkhawatirkan. Fikri pun bergegas mengambil gelas berisi air. Ia menuang isinya ke telapak tangan lalu membasuh wajah dan leher Arafah sambil berdzikir.
Rupanya apa yang dilakukan Fikri berhasil meredam panas yang menyerang Arafah. Perlahan namun pasti tubuh balita itu tak lagi mengejang. Kedua matanya yang semula mendelik kembali menutup dan nafasnya pun mulai teratur. Setelah Arafah tenang, Bayan melepaskan pelukannya perlahan.
Fikri meraih tubuh Arafah dari pelukan Bayan lalu membaringkannya dengan hati-hati. Saat Fikri menoleh dan ingin bertanya apa yang terjadi, Bayan nampak melangkah ke kamar mandi. Fikri pun hanya bisa menghela nafas panjang karena harus menunda rasa penasarannya.
Sesaat kemudian Fikri tersenyum melihat sang ayah keluar dari kamar mandi dalam kondisi basah. Rupanya Bayan baru saja membasuh wajahnya dengan air.
"Jadi Arafah kenapa Yah ?" tanya Fikri saat Bayan meneguk kopi dari gelas yang dibelinya tadi.
Bayan menghentikan aksinya lalu menatap keluar jendela. Fikri pun ikut menatap keluar jendela karena penasaran dengan apa yang dilihat Bayan.
__ADS_1
\=\=\=\=\=