
Di sebuah taman terlihat Rosi yang duduk seorang diri. Ia nampak sedang duduk sambil menatap kejauhan. Wanita itu tampak bingung. Bagaimana tidak. Setelah penemuan jasad seorang wanita di kamar mandi klinik, ia 'terusir' dari Klinik Bersalin Hilya.
Saat polisi mengatakan jika klinik disegel dan ditutup untuk sementara waktu, mau tak mau Rosi juga harus hengkang dari sana.
Selama ini Rosi yang mendapat fasilitas tempat tinggal dari Hilya terpaksa pergi dan mencari rumah lain agar bisa ia tempati. Rosi mengeluh karena kesulitan mencari tempat tinggal yang cocok.
"Ternyata susah banget cari rumah di kota sebesar ini. Semua bagus dan semua mahal," gumam Rosi.
Rosi nampak mengacak rambutnya. Ia kesal bukan kepalang saat kembali teringat dengan Endah, wanita yang meninggal di kamar mandi klinik itu.
"Ini semua gara-gara dia. Kalo aja dia ga datang dan mencoba memprovokasi Aku, pasti ga bakal begini jadinya," gumam Rosi sambil mengepalkan tangannya.
Rosi kembali teringat dengan hari dimana Endah ditemukan meninggal.
Pagi itu Rosi sedang menyirami tanaman di halaman klinik seperti biasa. Ada beberapa jenis tanaman hias yang ditanam di sana. Rosi melakukannya dengan senang hati karena ia memang menyukai tanaman.
Saat itu lah seorang wanita datang lalu mendekati Rosi. Ia menyapa Rosi dari belakang hingga membuat Rosi terkejut.
"Rupanya Kamu udah nemu tempat yang aman untuk sembunyi Rosi !" sapa wanita yang kemudian diketahui bernama Endah itu dengan lantang.
"Endah !. Mau apa Kamu ke sini. Dan apa maksudmu Aku sembunyi ?!" tanya Rosi tak suka.
Endah tertawa namun tidak dengan Rosi. Ia menatap Endah dengan tatapan tak bersahabat.
"Mau apa ke sini ?" ulang Rosi setelah tawa Endah mereda.
"Aku cuma kebetulan lewat dan ga sengaja liat Kamu di sini. Awalnya ragu, tapi pas yakin kalo itu Kamu ya Aku masuk aja," sahut Endah sambil tersenyum.
Rosi nampak tak menggubris Endah. Ia tetap melanjutkan pekerjaannya tanpa sekali pun menatap Endah.
"Wah, tempat ini nyaman ya. Keliatannya ada banyak duit di sini, iya kan ?" tanya Endah sambil menatap ke sekelilingnya dengan tatapan yang mencurigakan.
"Jangan macem-macem di sini Ndah. Aku ga akan tinggal diam kalo Kamu mengacau di sini !" ancam Rosi.
"Ups, takuuutt ...," sahut Endah dengan mimik wajah mengejek.
__ADS_1
Rosi berdecak sebal lalu berjalan menjauhi Endah. Namun tiba-tiba Endah mencekal tangan Rosi dengan kuat hingga membuat Rosi marah.
"Lepasin Ndah !. Jangan ganggu Aku lagi karena kali ini Aku ga bakal diam !" kata Rosi sambil menatap Endah dengan tatapan tajam.
Tatapan Rosi membuat Endah sedikit gentar. Ia melepaskan cekalan tangannya perlahan lalu tersenyum penuh makna.
"Ok. Aku cuma lapar dan ingin makan. Bisa kan Kamu kasih Aku uang untuk beli makanan?" tanya Endah.
Rosi tampak membisu. Ia berpikir sejenak lalu mengangguk.
"Tunggu di sini sebentar. Aku ambil uang dulu," kata Rosi.
Endah mengangguk lalu membiarkan Rosi melangkah masuk ke dalam klinik. Namun tanpa sepengetahuan Rosi, Endah mengikutinya dari belakang. Tak ada yang curiga karena saat itu klinik sedang ramai.
Endah nampak takjub melihat kondisi Klinik Bersalin Hilya yang nyaman itu. Ia berdecak kagum mengetahui Rosi mendapat tempat 'sembunyi' yang nyaman dan bagus di belakang klinik.
Rosi terkejut saat membuka pintu kamar dan mendapati Endah sedang berdiri di balik pintu kamarnya.
"Aku udah bilang tunggu di luar. Kenapa Kamu masuk juga ke sini ?" tanya Rosi sambil menarik lengan Endah.
"Ga usah penasaran karena ga ada yang menarik di sini. Nah, ini uangnya dan cepat Kamu pergi dari sini sekarang !" pinta Rosi sambil menyeret Endah keluar.
"Aku ga mau uang. Aku cuma mau tinggal di sini !" kata Endah yang tentu saja membuat Rosi terkejut.
"Jangan konyol Ndah. Ga ada tempat untukmu di sini. Sekarang pergi lah dan jangan bikin kekacauan di sini !" kata Rosi lantang.
"Kenapa Kamu ngelarang Aku tinggal di sini Rosi. Jangan bilang Kamu takut Aku membocorkan jati dirimu yang sebenarnya sama mereka," kata Endah.
"Jati diri apa maksudmu ?. Aku ga punya rahasia dan emang ga ada rahasia apa pun," sahut Rosi.
Jawaban Rosi membuat Endah tertawa. Kemudian wanita itu mengambil uang yang digenggam Rosi dan mulai menghitungnya. Sesaat kemudian Endah mendengus kesal karena jumlah uang yang Rosi berikan tak sesuai dengan keinginannya.
"Apa ini Rosi ?. Apa Kau pikir uang segini cukup untuk membuatku tutup mulut. Jangan lupa kalo Aku punya rahasia gelapmu Rosi," kata Endah sambil mendorong Rosi ke dinding dengan keras.
"Berhenti mengancamku karena Aku muak !" kata Rosi sambil balas mendorong Endah.
__ADS_1
Aksi dorong mendorong pun terjadi dan berakhir saat Rosi berhasil mendorong Endah ke kamar mandi dan menjatuhkannya di sana. Setelah berhasil membuat Endah jatuh terjengkang di lantai, Rosi pun memasukkan tangannya ke bagian bawah tubuh Endah lalu melakukan sesuatu di sana.
Entah apa yang dilakukan Rosi namun mampu membuat Endah mengejang kesakitan. Saat Endah hendak menjerit, Rosi mencekik lehernya dengan tangan yang lain hingga Endah tak bisa bersuara. Dan dalam hitungan menit Endah pun meregang nyawa dalam posisi duduk bersandar dengan darah yang menggenangi bagian bawah tubuhnya.
Setelahnya Rosi keluar dari kamar mandi dan meninggalkan jasad Endah begitu saja di sana. Karena tak ingin repot dan dicurigai, Rosi sengaja menempelkan kertas bertuliskan 'RUSAK' di pintu kamar mandi.
Hingga menjelang makan siang tak seorang pun menggunakan kamar mandi itu. Rosi mengarahkan semua orang untuk menggunakan kamar mandi yang ada di dekat ruang adminitrasi.
Namun rupanya kertas yang ditempel Rosi di pintu itu terlepas. Tak lama kemudian masuk lah seorang wanita yang langaung menjerit histeris saat melihat jasad Endah di sana.
Rosi mengusap wajahnya kasar usai mengingat apa yang dia lakukan. Ia menyesal karena terprovokasi oleh ucapan Endah.
Dulu Endah dan Rosi adalah teman. Meski bukan sahabat namun keduanya saling mengetahui kehidupan masing-masing.
Endah adalah seorang istri yang dikhianati suaminya. Status Endah sebagai istri kedua yang hanya dimanfaatkan suaminya membuat Rosi iba. Kemudian Rosi membantu Endah membalaskan dendam pada suaminya.
Rosi menjebak suami Endah dan membunuhnya. Tak hanya membunuh suami Endah, Rosi juga membunuh wanita selingkuhannya yang tengah hamil. Kemudian Rosi melarikan diri menghindari kejaran polisi.
Saat tertangkap Rosi pura-pura gila supaya terbebas dari jerat hukum.
Endah pun rutin menjenguk Rosi yang dirawat di Rumah Sakit Jiwa. Ia bertingkah seolah tak terlibat dan memaafkan Rosi. Namun ucapan Endah justru membuat Rosi kecewa dan marah.
Bagaimana tidak. Endah mengatakan jika Rosi memang terobsesi pada mendiang suaminya itu. Semua orang termasuk perawat dan dokter yang merawat Rosi pun iba lalu memberi Rosi perhatian khusus. Bahkan mereka mendonasikan sejumlah uang untuk diberikan pada Rosi nanti. Sayangnya uang itu tak pernah sampai ke tangan Rosi karena diambil oleh Endah dan dimafaatkan untuk kepentingan pribadinya.
Rosi marah dan protes namun Endah hanya menganggapnya angin lalu.
"Kenapa Kamu bilang Aku naksir sama Suamimu itu Ndah. Kamu tau kan kalo Aku jijik sama dia !" kata Rosi.
"Lho bukannya Kamu sempet akan tidur sama dia Ros ?. Tapi ga jadi gara-gara ketauan sama si ja*ang itu. Akhirnya Kamu membunuh mereka karena kesal hasratmu tertunda. Iya kan ?" tanya Endah dengan nada mengejek.
"Sia*an !. Aku membantumu melampiaskan dendammu tapi Kau justru menuduhku tertarik sama si breng*ek itu ?!" kata Rosi tak terima.
Pertengkaran pun tak terelakkan. Rosi dan Endah bergulat di ruangan rawat inap Rosi dan berakhir dengan kaburnya Rosi.
Belasan tahun Rosi berhasil menata hidupnya. Ia mengaku sebagai orang asing yang tak punya pekerjaan dan keluarga. Namun kenyamanan Rosi terusik dengan kehadiran Endah. Rosi khawatir Endah akan mengungkap siapa dia sebenarnya dan membuat hidupnya kembali sengsara.
__ADS_1
\=\=\=\=\=