
Dari kejauhan Bayan dan Nathan juga melihat dokter Yusuf yang nampak kebingungan melihat mereka. Sang dokter bahkan berhenti melangkah karena ingin tahu apa yang terjadi.
"Ada apa ?, kenapa lari ?" tanya dokter Yusuf.
Nathan yang berada di depan pun menjawab sambil terus berlari.
"Siluman itu kabur ke ruang bersalin dok !" sahut Nathan sambil berlalu.
"Apa ?!" kata dokter Yusuf tak percaya.
"Siluman itu kabur lewat jendela dok. Ayo Kita ke sana sebelum terlambat !" sahut Bayan sambil menggamit lengan dokter Yusuf lalu membawa pria itu berlari bersamanya.
Setelah berlari hampir sepuluh meter, dokter Yusuf berhenti dan itu membuat Bayan gusar.
"Pak Bayan duluan aja, Saya nyusul nanti. Saya harus mengunci pintu kamar karena Saya ga mau ada yang ngeliat potongan tubuh manusia tanpa kepala itu. Pasti menakutkan bagi yang melihat dan bisa-bisa bikin gempar satu Rumah Sakit. Ini proyek rahasia, biarkan tetap jadi rahasia diantara Kita aja," kata dokter Yusuf sambil menepis lembut tangan Bayan.
Bayan pun mengerti lalu mengangguk. Setelahnya ia kembali berlari menyusul Nathan.
Sesuai dugaan, siluman kuyang jelmaan Rosi memang melesat cepat menuju ruang bersalin. Suasana sore hari menjelang Maghrib yang temaram itu sangat menguntungkannya. Dengan mudah siluman kuyang itu melesat diantara pepohonan dan bangunan Rumah Sakit tanpa khawatir terlihat oleh orang lain.
Siluman kuyang itu berhasil tiba di ruang bersalin. Kini ia sedang melayang di belakang ruang bersalin sambil mengamati situasi. Namun sayang ia tak bisa masuk ke sana karena tak ada celah sedikit pun yang memungkinkan untuk masuk. Siluman kuyang itu nampak menggeram marah. Ia berputar-putar liar di atas ruang bersalin sambil terus mencari celah untuk masuk.
Tiba-tiba terdengar suara tangis bayi, sangat lantang hingga membuat siluman itu berhenti bergerak. Nampaknya siluman kuyang itu sedang menikmati tangisan sang bayi dan aroma darah yang mengiringinya.
Sementara itu di dalam ruang bersalin, ucapan hamdalah lah yang menggema mengiringi tangis sang bayi. Dokter Abraham tampak menyerahkan bayi kedua yang baru saja dilahirkan Hilya itu kepada perawat.
"Satu lagi Mbak Hilya. Semangat dan jangan menyerah ya," gumam dokter Abraham sambil menatap wajah Hilya yang kian memucat.
Bukan tanpa alasan dokter Abraham mengatakan itu. Kondisi Hilya saat ini tampak makin melemah dan sangat mengkhawatirkan.
Anna yang ada di ruangan itu tak henti berdoa kepada Allah memohon keselamatan menantu dan tiga cucunya. Sesekali ia mengusap pipi Hilya dan mengecup keningnya dengan sayang untuk memberikan suportnya kepada sang menantu.
Dan tiap kali Anna melakukannya semangat Hilya pun bangkit. Wanita itu nampak tersenyum bahagia karena merasa disayangi dan dibutuhkan di waktu yang sama.
"Satu lagi Nak. Yang kuat ya," pinta Anna sungguh-sungguh sambil menggenggam jemari Hilya dengan erat.
Hilya mengangguk. Baginya tak masalah melahirkan tiga bayi sekaligus. Apalagi dokter Abraham melakukannya dengan cepat.
Sesaat kemudian bayi ketiga pun lahir. Lagi-lagi ucapan hamdalah terdengar menggema di ruangan itu.
__ADS_1
"Selamat Mbak Hilya. Ketiga bayi sehat dan lengkap !" kata dokter Abraham sambil tersenyum lebar.
"Alhamdulillah ..., makasih dok," kata Hilya lirih.
"Sama-sama. Tahan sebentar lagi ya. Saya harus menutup lukanya sekarang," kata dokter Abraham yang diangguki Hilya.
Hilya menoleh kearah Anna yang masih setia menungguinya. Ia bingung kenapa Anna tak juga beranjak dari tempat duduknya untuk melihat tiga cucunya itu. Namun pertanyaan itu Hilya simpan karena ia merasa kondisi tubuhnya kian melemah. Dan sesaat kemudian Hilya merasa semuanya gelap dan hilang.
Rupanya Hilya jatuh pingsan. Tentu saja Anna panik bukan kepalang. Ia menepuk pipi Hilya sambil memanggil namanya berulang kali.
"Hilya, Hilya !, bangun Nak. Jangan pergi, tolong jangan pergi. Tiga bayimu butuh Kamu Nak ...!" kata Anna dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca.
Dokter Abraham bergegas mendekati Hilya, mengeceknya sebentar lalu tersenyum tipis.
"Tenang Bu. Mbak Hilya hanya pingsan kok. Keliatannya dia kelelahan. Biar istirahat sebentar ya," kata dokter Abraham berusaha menenangkan Anna.
"Cuma pingsan dok ?" tanya Anna tak percaya.
"Iya Bu. Apa Ibu berharap sesuatu yang buruk terjadi sama Mbak Hilya ?" goda dokter Abraham sambil tersenyum.
"Nauzubillahi min dzalik !. Amit-amit ya dok !" sahut Anna sambil memukul lengan dokter Abraham dengan keras hingga sang dokter meringis kesakitan.
Ketiga bayi yang berada di gendongan tiga perawat itu menangis keras saat didekatkan kepada Hilya. Mereka menangis seolah memanggil sang ibu yang tak kunjung siuman. Tentu saja itu membuat semua orang yang ada di dalam ruangan terharu. Karena iba mendengar tangis ketiga cucunya, Anna pun tergerak untuk membantu.
"Hilya bangun, liat bayimu. Mereka menangis memanggilmu. Ayo bangun Hilya. Bukannya Kamu bilang ga sabar mau ngeliat mereka ?. Hilya ... Hilya ...," panggil Anna sambil menepuk pipi Hilya dengan lembut.
Suara tangis bayi dan tepukan lembut di pipinya menyadarkan Hilya. Wanita itu nampak mengerutkan keningnya karena terusik dengan suara tangis bayi di dekat telinganya. Perlahan Hilya membuka mata lalu menoleh untuk mencari sumber suara.
Melihat Hilya siuman dan membuka mata membuat semua orang menghela nafas lega. Anna bahkan bersorak gembira lalu memeluk Hilya dengan erat.
"Liat mereka Hilya. Anak-anakmu tak sabar mendengarmu menyapa," bisik Anna sambil menunjuk kearah tiga bayi di atas kepala Hilya.
Hilya tersenyum lalu mencium ketiga bayinya satu per satu. Saat itu Hilya tak lagi kuasa menahan tangis. Ia bahagia karena bisa memeluk tiga buah cintanya sekaligus. Sebelumnya Hilya sempat khawatir jika salah satu bayinya tak bisa selamat. Namun kini kekhawatirannya lenyap berganti dengan rasa syukur yang tiada putus.
Saat suasana mengharu biru tengah memenuhi ruangan, tiba-tiba dokter Yusuf menerobos masuk hingga mengejutkan semua orang. Dokter Abraham yang paham dengan keinginan dokter Yusuf pun menganggukkan kepala.
"Apa sekarang waktunya ?" tanya dokter Abraham.
"Iya dok," sahut dokter Yusuf cepat.
__ADS_1
"Baik lah. Mereka boleh masuk sekarang," kata dokter Abraham.
Dokter Yusuf mengangguk lalu keluar dan kembali beberapa saat kemudian bersama Bayan dan Nathan.
Melihat kehadiran suaminya membuat Hilya kembali menangis. Nathan pun menghambur memeluk Hilya dan membiarkan sang istri menangis di sana.
"Maafin Aku Sayang, maaf. Maaf ga bisa menemani Kamu menyambut mereka. Makasih karena udah mau berjuang untuk melahirkan Anak-anakku," kata Nathan dengan suara bergetar.
"Anak Kita," sahut Hilya di dalam pelukan Nathan.
"Iya iya, Anak Kita. Makasih ya," kata Nathan sambil mempererat pelukannya dan menciumi kepala Hilya bertubi-tubi.
Hilya mengangguk sambil tersenyum. Namun senyum Hilya memudar saat mendengar suara bising di sekitarnya. Saat Hilya menoleh ia melihat Bayan dan dokter Yusuf sedang menggendong kedua bayinya. Yang membuat Hilya panik adalah karena wajah kedua pria itu terlihat tegang.
"Ada apa Sayang ?. Mau dibawa kemana mereka ?!" tanya Hilya panik.
"Sssttt ... tenang Sayang. Kita cuma mau pindahin Kamu dan Anak-anak ke kamar kok," sahut Nathan.
"Tapi ...," ucapan Hilya terputus karena Bayan memotong cepat.
"Sekarang Nath !. Gendong bayimu sekarang !" kata Bayan lantang.
"Iya Yah !" sahut Nathan lalu bergegas meraih bayinya dari gendongan perawat.
Setelah memastikan tiga bayi aman karena berada di gendongan orang yang tepat, Bayan pun menoleh kearah dokter Abraham.
"Tolong bantu Kami mengawal Hilya dan bayinya ya dok," pinta Bayan sungguh-sungguh.
"Tentu. Saya akan mengawal mereka sampe tiba di tempat yang aman," sahut dokter Abraham.
Jawaban sang dokter membuat Bayan tersenyum. Ia mengangguk lalu menoleh kearah Anna.
"Bunda ikut juga ya. Jangan jauh-jauh dari dokter Abraham. Tetap di sampingnya dan jangan lupa berdzikir," kata Bayan.
"Baik Yah," sahut Anna tanpa bertanya meski pun benaknya berisi banyak pertanyaan saat itu.
Melihat ketegangan di wajah semua orang membuat Hilya menduga ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi. Karena tak ingin membuat kekacauan, Hilya pun memilih diam dan melantunkan dzikir dalam hati.
\=\=\=\=\=
__ADS_1