Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
186. Capek ?


__ADS_3

Kehamilan Ayu pun kian membesar dan terlihat jelas. Fikri dan Ayu tampak bahagia. Kebahagiaan mereka bertambah saat menjalani pemeriksaan USG di Klinik Bersalin Hilya. Keduanya sempat tertegun sesaat ketika Hilya mengatakan jika jenis kelamin bayi dalam kandungan Ayu adalah laki-laki. Bahkan Fikri menitikkan air mata saking terharunya, hal yang jarang Ayu saksikan selama mereka menikah.


"Kamu nangis Bi," kata Ayu sambil mengulurkan tangannya untuk membantu mengusap air mata yang jatuh di wajah sang suami.


"Iya Mi. Aku bahagia ...," sahut Fikri dengan suara bergetar.


"Iya Aku tau," kata Ayu sambil tersenyum.


Fikri pun tersenyum lalu menarik Ayu ke dalam pelukannya. Keduanya menangis bersama hingga Hilya yang menyaksikan pun ikut menangis.


"Ini kabar bahagia, kenapa Kalian malah nangis sih. Gara-gara Kalian nangis Aku jadi ikut nangis nih ...," kata Hilya sambil mengusap matanya yang basah.


Fikri dan Ayu saling mengurai pelukan lalu tersenyum kearah Hilya.


"Ini karena Kami inget sama Arafah, Hil. Dia ... pernah minta Adik laki-laki dulu. Walau pun permintaannya mungkin belum dia pahami karena usianya yang masih kecil, tapi saat tau keinginannya hampir terwujud justru di saat dia udah meninggal, itu lah yang bikin Kami terharu," kata Ayu dengan suara bergetar.


Hilya pun tersenyum mendengar jawaban Ayu.


"Apa pun jenis kelamin Adiknya Arafah pasti seneng Mbak. Kan Arafah Anak yang manis dan penyayang," kata Hilya sambil mengusap lengan Ayu dengan lembut.


"Iya, Kamu benar Hil. Arafah memang Anak yang manis. Andai dia masih hidup, dia pasti jadi Kakak yang baik dan bertanggung jawab," sahut Ayu sambil menerawang jauh.


Hilya menghela nafas panjang melihat Ayu yang kembali teringat almarhumah Arafah. Tak ingin Ayu larut dalam kesedihan tak berujung itu, Hilya pun menepuk tempat tidur dengan maksud mengusir Ayu.


"Udah cukup nangisnya !. Sekarang Kita harus balik kerja. Dan Kamu Mbak, kerja sana, jangan makan gaji buta ya. Jangn Kamu pikir karena Kamu Kakak iparku terus Aku takut buat negur Kamu !" kata Hilya pura-pura galak.


Ucapan Hilya tak mengejutkan Fikri dan Ayu. Keduanya justru tertawa mendengarnya. Fikri tahu, itu adalah cara Hilya mencairkan suasana karena melihat Ayu hampir terjebak dalam kesedihannya lagi. Dalam hati Fikri berterima kasih pada Hilya yang telah menyentak kesadaran Ayu.


Dibantu suaminya Ayu turun dari tempat tidur sambil merapikan pakaiannya. Setelahnya ia dan Fikri keluar dari ruang kerja Hilya sambil bergandengan tangan.


Saat tiba di luar ruang kerja Hilya, Ayu dan Fikri melihat Rosi sedang berusaha membujuk Afiah yang menangis. Rupanya bayi itu terbangun lalu menangis karena tak mendapati Ayu bersamanya.


"Nah nah, tuh Umminya udah dateng. Cup cup ya Sayang ...," kata Rosi sambil mengarahkan wajah Afiah kearah Ayu dan Fikri.


Lagi-lagi Afiah berhenti menangis saat melihat Ayu. Bayi mungil itu nampak melonjak gembira dalam pelukan Rosi saat Ayu mengulurkan kedua tangan kearahnya. Tentu saja itu membuat Fikri tertawa. Dengan gemas ia mengacak rambut halus Afiah.

__ADS_1


Tanpa Ayu dan Fikri sadari, Hilya tengah menatap iri kearah mereka. Hilya nampak tersenyum tipis lalu perlahan menutup pintu lalu kembali ke mejanya.


\=\=\=\=\=


Malam itu Nathan kembali menjemput Hilya. Seperti biasa, dari kantor Nathan pulang ke rumah lebih dulu untuk mandi dan berganti pakaian. Setelahnya ia meluncur ke klinik untuk menjemput sang istri. Kadang kala ia membeli cemilan untuk dimakannya bersama Hilya nanti. Dan kali ini Nathan kembali membeli makanan dari olahan singkong yang sangat disukai Hilya.


Tiba di klinik Nathan melihat Rosi yang sedang membantu menĸudukkan pasien di kursi roda. Pasien itu nampak tersenyum dan mengucapkan terima kasih berkali-kali pada Rosi. Nathan tersenyum melihat sikap Rosi yang sigap dan tanggap pada keadaan di sekelilingnya meski pun usianya sudah tak muda lagi.


"Eh, ada Mas Nathan. Mau jemput Mbak Hilya ya ?" sapa Rosi ramah.


Rosi memang mengubah panggilan dari 'Ibu' menjadi 'Mbak' sesuai permintaan Hilya. Bahkan Hilya memperbolehkan Rosi memanggil 'Mas' pada suami dan saudara iparnya.


"Iya Bu. Apa Mbak Hilya lagi sibuk ?" tanya Nathan.


"Baru aja selesai Mas. Sekarang lagi ke toilet," sahut Rosi.


"Oh gitu. Saya ke dalam dulu ya Bu," kata Nathan.


"Silakan Mas. Saya juga mau nganterin pasien ke depan cari Taxi," sahut Rosi sambil tersenyum.


Tak lama kemudian Hilya keluar dari toilet dan tersenyum melihat Nathan. Hilya bergegas menghampiri Nathan, mencium punggung tangannya lalu memeluknya erat.


"Aku kangen banget sama Kamu," bisik Hilya hingga membuat Nathan tersenyum.


"Sama, Aku juga kangen sama Kamu," sahut Nathan sambil mengecup bibir Hilya.


"Kangen tapi kok lama banget ke sininya," kata Hilya ketus sambil mendorong Nathan hingga sang suami terhempas ke belakang dan membentur sandaran sofa.


"Masa sih. Perasaan sama kaya biasanya," sahut Nathan sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Ga Sayang !. Kamu datang lebih lambat dari biasanya malam ini !" kata Hilya tak mau kalah.


Nathan terkejut mendengar nada suara Hilya yang sedikit lebih tinggi itu. Apalagi ia juga melihat kedua mata Hilya yang mengembun seolah akan menangis. Nathan tahu jika sang istri sedang tak baik-baik saja sekarang.


Dengan sigap Nathan menarik Hilya ke dalam pelukannya. Awalnya Hilya menolak. Tapi saat Nathan mengecup kepalanya berkali-kali sambil mengusap punggungnya dengan lembut, Hilya pun luluh. Ia pun membalas pelukan suaminya lalu menangis.

__ADS_1


Setelah beberapa saat menangis, Hilya pun kembali tenang. Itu ditandai dengan nafasnya yang mulai teratur meski isaknya masih terdengar sesekali.


Nathan mengurai pelukannya perlahan. Ia merapikan rambut Hilya sambil mengecupi wajah sang istri dengan lembut.


"Udah enakan belum ?" tanya Nathan hati-hati.


"Mmm ...," sahut Hilya sambil mengangguk.


"Kalo gitu Kita pulang sekarang ya. Kamu pasti capek banget seharian ini," ajak Nathan.


"Tapi masih ada dua pasien lagi di luar. Ga bisa dipending karena ini pemeriksaan penting menjelang persalinan," sahut Hilya.


"Setelah itu ?" tanya Nathan.


"Selesai ...," sahut Hilya.


"Ok. Kamu tenangin diri dulu sebentar, abis itu temuin mereka. Kalo udah, Kita pulang. Aku mau ajakin Kamu ke suatu tempat nanti," kata Nathan.


"Kemana ?" tanya Hilya sambil mengelap ingusnya dengan tissu.


"Rahasia. Tapi Aku jamin Kamu pasti suka," sahut Nathan sambil tersenyum penuh makna.


Biasanya Hilya akan mengomel karena harus menebak-nebak kemana suaminya akan membawanya pergi. Tapi kali ini Hilya hanya mengangguk pasrah.


"Bagus. Sekarang makan ini dulu sedikit, baru Kamu boleh lanjut kerja lagi," kata Nathan sambil menyuapi Hilya makanan yang dibelinya tadi.


Mata Hilya berbinar saat tahu apa yang disuapkan ke dalam mulutnya. Makanan yang terbuat dari olahan singkong dengan topping keju dan kismis itu dikunyah cepat oleh Hilya.


"Kamu emang paling ngerti apa yang Aku mau," puji Hilya dengan mulut penuh.


"Karena Aku kan Suami Kamu Sayang ...," bisik Nathan sambil mengacak rambut Hilya dengan gemas.


Hilya tertawa. Akibatnya ia tersedak karena saat itu mulutnya masih terisi makanan. Nathan pun sigap meraih gelas berisi air lalu memberikannya pada Hilya. Setelah meneguk air Hilya menepuk dadanya sambil menatap kesal kearah Nathan.


Gantian Nathan yang tertawa dan itu membuat Hilya tersipu malu.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2