
Jeritan Dita menarik perhatian warga. Dalam waktu singkat warga pun berdatangan untuk melihat apa yang terjadi.
Dita masih menjerit histeris dan menangis sambil memanggil nama anaknya berulang kali. Bahkan ia bicara dengan suara bergetar seperti orang melantur. Saat seorang security menepuk bahunya untuk bertanya apa yang terjadi, Dita menjerit histeris sekali lagi lalu jatuh tak sadarkan diri.
Warga yang iba pun langsung menggotong tubuh Dita dan membawanya ke tempat yang lebih terang. Tepat di bawah lampu penerangan jalan akhirnya warga bisa mengenali Dita. Mereka pun membawa Dita kembali ke rumahnya dan mencoba menghubungi Rama.
Namun setelah beberapa kali gagal menghubungi Rama, warga pun menyerah. Salah satu tetangga yang mengenal keluarga Dita pun akhirnya mencoba menghubungi orangtua Dita. Dan seorang lainnya memanggil Ambulans karena melihat kondisi Dita yang mengenaskan.
\=\=\=\=\=
Sementara itu di rumah Bayan terlihat ketiga sahabat itu masih berbincang santai. Meski pun ponsel Rama berdering berulang-ulang namun Rama nampak tak tertarik untuk menjawab panggilan itu. Rama mengira jika Dita lah yang menelphon dan memintanya pulang secepatnya. Padahal Rama masih kesal mendengar permintaan Dita tadi. Rama berniat memberi Dita pelajaran dengan mengabaikan panggilan telephonnya.
Namun akibatnya justru suara dering ponsel Rama mengganggu kenyamanan Riko dan Bayan. Suaranya yang memekakkan telinga itu membuat Riko kesal hingga mengucapkan sesuatu yang membuat Bayan terkejut.
"Berisik banget sih Ram. Angkat sekarang atau Lo matiin aja sekalian !" kata Riko ketus.
Rupanya Rama memilih opsi kedua. Dengan enggan Rama meraih ponselnya yang masih berdering itu lalu menon aktifkannya. Hal itu mendapat protes dari Bayan.
"Kenapa Lo kasih Rama ide kaya gitu Rik. Ga baik memancing di air keruh. Biarin aja Rama menyelesaikan masalahnya sama Dita, Kita ga usah ikut campur. Lagian siapa tau itu telepon penting," kata Bayan.
"Kalo emang Rama merasa itu telephon penting, harusnya diangkat dong bukan dicuekin aja. Suaranya tuh ganggu banget Yan !" sahut Riko membela diri.
Jawaban Riko membuat Bayan berdecak sebal. Bayan pun bangkit meninggalkan Rama dan Riko yang masih berbaring di sofa ruang tengah.
Tak lama kemudian Bayan kembali lalu mengajak kedua sahabatnya makan malam. Rupanya ia baru saja memastikan Yumi sudah menyiapkan makan malam atau belum.
__ADS_1
Setelah makan malam, ketiga sahabat itu masih melanjutkan perbincangan mereka hingga jam menunjukkan pukul delapan malam. Riko yang lebih dulu pamit karena ingat jika istrinya masih dalam masa pemulihan dan ia ingin menemani sang istri. Rama memilih bertahan di rumah Bayan karena sengaja ingin mengulur waktu.
"Yang bener aja Ram. Kalo Lo kaya gini yang ada si Dita makin benci sama Kita. Dia pasti mikir Suaminya yang ganteng ini telat pulang karena asyik ngobrol dan buang-buang waktu sama Gue dan Bayan," kata Riko.
"Ga lah. Kan sekarang Dita lagi ngambek terus kabur. Paling dia ada di rumah orangtuanya, lagi nangis plus ngaduin Gue sama orangtuanya itu," sahut Rama sambil tersenyum kecut.
"Terserah Lo deh. Gue duluan ya, Assalamualaikum !" pamit Riko.
"Wa alaikumsalam," sahut Bayan dan Rama bersamaan.
\=\=\=\=\=
Saat jam menunjukkan pukul sebelas malam, Rama pun keluar dari rumah Bayan. Ia memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi membelah jalan raya di malam yang dingin itu. Sambil mengemudi, Rama nampak tersenyum. Rama kembali mengingat perjuangannya untuk memiliki mobil yang kini ia kendarai itu.
"Mobil penuh kenangan kaya gini kok mau diganti sama mobil lain. Apa ga salah. Padahal mobil ini masih bagus kok, masih layak dipake juga. Ga ngerti Gue kenapa Dita terus merengek minta ganti mobil semudah ganti mainan. Kalo dipikir-pikir, makin ke sini tingkah Dita tuh makin ngeselin. Ga ada dewasanya sama sekali. Heran, kenapa Gue bisa kepincut sama dia ya dulu," gumam Rama sambil menggelengkan kepala.
Setelah Ambulans menjauh, Rama pun kembali melajukan mobilnya menuju ke rumah. Namun lagi-lagi Rama harus memperlambat laju mobilnya karena terhalang orang-orang yang berkumpul di tengah jalan. Rama yakin jika mereka adalah keluarga pasien yang dibawa dengan Ambulans tadi.
Tak ingin dicap sombong atau dianggap orang yang tak peduli lingkungan, Rama pun menyapa warga. Semua warga yang mengenali suara Rama pun menoleh lalu bergegas menceritakan apa yang dialami Dita.
Meski belum mengerti sepenuhnya apa yang warga ceritakan, tapi Rama tahu jika Ambulans tadi telah membawa istrinya ke Rumah Sakit. Tanpa membuang waktu Rama pun bergegas menyusul Dita ke Rumah Sakit.
Saat di perjalanan Rama merasa sedikit menyesal karena lalai menanyakan kabar anak tunggalnya kepada warga tadi. Tapi Rama mencoba berpikir positif. Ia mengira jika anak tunggalnya telah berada di tangan yang tepat.
"Besok aja deh, sekarang sebaiknya liat Dita dulu," gumam Rama sambil mempercepat laju kendaraannya.
__ADS_1
Tiba di Rumah Sakit, Rama pun bergegas pergi ke ruang UGD. Tiba di sana ia dibuat terkejut saat melihat Dita tengah meronta sambil menjerit histeris. Rama tak tahu apa yang terjadi. Meski ingin, namun Rama memilih menunggu di luar daripada membantu menenangkan istrinya.
Setelah disuntik obat penenang, akhirnya Dita jauh lebih tenang dan tertidur karena kelelahan. Rama pun menemui dokter yang baru saja merawat Dita untuk bertanya kondisi sang istri.
"Istri Bapak belum bisa Kami tanyai karena terus menjerit dan menangis tadi. Jadi Kami juga belum dapat informasi apa pun. Tapi kondisinya saat ini buruk. Keliatannya Istri Bapak mengalami kejadian berat yang cukup mengguncang jiwanya. Saya harap setelah ini kondisinya membaik hingga bisa menceritakan apa yang terjadi," kata sang dokter.
Rama mengangguk pasrah. Karena tak tahu harus berbuat apa, Rama pun masuk ke dalam ruang UGD untuk menemani sang istri. Di sana ia melihat istrinya tertidur dengan wajah yang pucat dan sembab pertanda Dita telah lama menangis. Dan saat itu Rama kembali teringat pada anak semata wayangnya. Ia pun bergegas meraih ponselnya untuk menghubungi pengurus lingkungan.
Namun tiba-tiba dua orangtua Dita nampak tergopoh-gopoh memasuki ruangan. Rama pun mengurungkan niatnya untuk menelephon karena kedua mertuanya bertanya banyak hal padanya.
"Terus dimana Kayla ?" tanya ibu Dita sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Saya ga tau Bu. Saya baru mau nanya sama Pak Rt waktu Ibu datang tadi," sahut Rama.
"Ya udah, sekarang tanya dimana Kayla. Ibu kok jadi khawatir sama dia. Mudah-mudahan dia gapapa ya, pasti Kayla panik ga ketemu Mamanya dalam jangka waktu lama," kata ibu Dita.
Rama mengangguk lalu segera menghubungi pengurus lingkungan dan terkejut karena ternyata mereka juga tak tahu menahu tentang Kayla. Mereka bahkan mengatakan jika menemukan Dita dalam kondisi histeris di pinggir jalan tak jauh dari rumahnya.
Mengetahui hal itu membuat Rama panik. Ia bahkan mengguncang tubuh Dita dengan kasar untuk membangunkannya. Melihat sikap Rama membuat kedua orangtua Dita marah. Mereka berdebat hingga menarik perhatian semua orang. Bahkan beberapa perawat datang melerai.
"Ga usah marahin Saya Bu !. Saya ga bakal kaya gini kalo Saya tau dimana Kayla. Asal Ibu tau ya, Dita ini ngambek dan berniat minggat dari rumah karena keinginannya ga Saya turutin !" kata Rama marah.
"Tapi sekarang kan Dita sakit, tolong perlakukan dia dengan baik dong !" sahut ibu Dita tak mau kalah.
"Terserah Ibu. Pokoknya kalo sampe terjadi sesuatu sama Kayla, Saya ga bakal maafin Dita !" kata Rama lantang sambil berjalan keluar kamar.
__ADS_1
Orangtua Dita nampak saling menatap bingung. Satu sisi mereka iba dengan kondisi Dita, tapi sisi lain mereka juga khawatir dengan keselamatan sang cucu.
\=\=\=\=\=