Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
31. Kepastian


__ADS_3

Entah mengapa letak luka di dahi Mona mengingatkan Bayan pada sosok hitam yang ia lihat di jendela Subuh tadi.


"Jangan bilang kalo si Mona ini makhluk jadi-jadian. Kenapa letak lukanya sama persis sama luka yang Gue buat di sosok hitam itu Subuh tadi," gumam Bayan gusar.


Melihat Bayan terdiam sambil menatap lekat kearah Mona membuat Rama bingung. Dengan ujung bahunya ia menyenggol Bayan hingga pria itu terkejut lalu menoleh.


"Apaan ?" tanya Bayan.


"Lo yang apa-apaan. Ngapain Lo ngeliatin Mona kaya gitu. Lo tau kan gimana Riko, bisa-bisa dia salah paham ntar kalo ngeliat Lo natap Istrinya kaya gitu," bisik Rama sambil melotot.


"Emang Gue ngeliatin Mona kaya gitu?" tanya Bayan tak percaya.


"Iya !" sahut Rama lantang hingga membuat Mona terusik sedangkan Riko nampak mendelik kesal.


Sadar telah membangunkan Mona yang sedang istirahat, Rama pun tersenyum sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada. Riko hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya itu.


Setelah melihat kondisi Mona, Bayan dan Rama pun keluar dari ruangan. Riko menyusul tak lama kemudian.


Pada kesempatan itu Rama menanyakan kenapa Riko tak mengabari dia atau Bayan tentang musibah yang menimpa Mona. Riko beralasan ponselnya tertinggal entah dimana saat dia panik mendengar berita tentang istrinya yang terluka. Mendengar pengakuan Riko membuat Bayan dan Rama menghela nafas lega.


"Gue Kirain Lo sengaja nyembunyiin kondisi Mona dari Kita," kata Rama.


"Ga mungkin lah Ram. Setelah Gue terbuang dari keluarga Gue karena menikahi Mona, Lo dan Bayan adalah keluarga Gue yang tersisa. Jadi sebisa mungkin Gue bakal jujur tentang apa pun yang terjadi sama Gue dan Mona," sahut Riko sambil tersenyum getir.


Bayan dan Rama menepuk pundak Riko untuk sekedar memberi suport pada pria yang tengah gelisah itu.


\=\=\=\=\=


Mona pulih dengan cepat. Selain karena perawatan yang diberikan dokter, Mona juga patuh pada semua larangan dan anjuran dokter. Riko yang setia mendampingi istrinya pun nampak bahagia melihat kondisi Mona yang membaik.

__ADS_1


Luka di kening Mona yang sempat membuat Riko khawatir pun hilang tak berbekas. Hal itu membuat dugaan Bayan terbantahkan namun tak membuat Bayan tenang.


Karenanya Bayan kembali mendatangi ustadz Mustafa untuk berkonsultasi mengenai hantu kepala tanpa badan itu. Selain karena Ustadz Mustafa cukup berpengalaman menangani hantu sejenis, Bayan juga merasa memiliki ikatan batin yang kuat dengan ustadz Mustafa.


Hari itu Bayan sengaja menjemput ustadz Mustafa di Rumah Sakit J. Bayan sudah meminta ijin pada Mirza sebelumnya dan mengatakan dia lah yang akan mengantar ustadz Mustafa pulang nanti. Bayan beralasan ingin menghibur ustadz Mustafa dan membantu mengembalikan ingatannya yang sempat hilang karena kecelakaan itu.


"Saya ingin ustadz Mustafa bisa mengenal Saya lagi, sama seperti dulu. Saya rindu petuah bijak Beliau. Saya sedih melihat kondisinya sekarang. Saya pikir dengan mengajak jalan-jalan dan datang ke tempat yang pernah Kami kunjungi mungkin bisa membantu Ustadz Mustafa ingat akan sesuatu. Bukan kah itu baik untuknya ?" tanya Bayan kala itu.


Mirza nampak merenung sejenak kemudian mengangguk. Sejujurnya Mirza juga ingin melakukan itu, mengajak ayahnya jalan-jalan setelah selesai therapy. Tapi Mirza terlalu sibuk, bukan sibuk, tapi pihak perusahaan tak memberinya ijin cuti karena Mirza telah mengambil jatah cutinya saat menunggui sang ayah yang dirawat di Rumah Sakit.


"Baik Mas Bayan. Tolong jaga Bapak ya. Dan tolong antar Bapak pulang sebelum Maghrib," pinta Mirza kemudian.


Ucapan Mirza membuat Bayan tersenyum. Ia mengangguk mengiyakan permintaan Mirza.


Dan kini Bayan sedang membawa ustadz Mustafa keluar dari Rumah Sakit J. Bayan berniat mengajak ustadz Mustafa mampir ke rumahnya untuk melihat-lihat. Ustadz Mustafa yang memang telah berangsur-angsur pulih itu pun tampak senang karena akhirnya bisa pergi dari tempat yang membosankan itu.


"Saya harap Ustadz bisa menemukan sesuatu di rumah Saya nanti. Oh iya Saya lupa, Minggu lalu Saya melihat sosok hitam melayang di depan kamar tepat saat Saya mau ke musholla untuk sholat Subuh. Saya juga sempat melempar sosok itu dengan batu dan tepat kena sasaran. Saya yakin sosok itu pasti terluka. Tapi waktu Saya telusuri, ga ada bekas darah di sana," kata Bayan.


"Saya ga tau, ga keliatan jelas karena tempatnya samar. Mmm ... sesuatu sebesar kelapa mungkin," sahut Bayan ragu.


"Dan ...?" tanya ustadz Mustafa seolah tahu jika Bayan tengah menyembunyikan sesuatu.


Bayan pun menepikan mobilnya karena merasa apa yang akan ia sampaikan adalah sesuatu yang penting. Bayan khawatir konsentrasinya buyar saat bicara sambil mengemudi tadi.


"Istri Sahabat Saya Riko, mengalami luka di kepala di hari yang sama saat Saya berhasil melukai sosok hitam itu Ustadz. Saya kok jadi suusdzon sama dia ya Ustadz. Walau Saya benci ini, tapi Saya ga bisa menepis bayangan sosok hitam dan luka di kepala Mona itu. Entah mengapa Saya merasa keduanya saling berkaitan. Saya tau, ga seharusnya Saya mencurigai Istri Sahabat Saya sendiri. Tapi bukan kah ini terlalu kebetulan Ustadz ?" tanya Bayan gusar.


Ustadz Mustafa yang sejak tadi mengamati ekspresi wajah Bayan pun mengangguk maklum.


"Kita belum bisa memastikan, jadi ada baiknya Kamu kurangi kecurigaanmu itu Bayan. Bersikap lah biasa saja seolah tak terjadi sesuatu. Andai Mona bukan jelmaan makhluk malam itu, Kamu akan menyesal karena pernah membencinya," kata ustadz Mustafa bijak.

__ADS_1


"Baik Ustadz. Nah, sebentar lagi Kita sampe di rumah. Di depan sana rumah Saya Ustadz," kata Bayan.


Ustadz Mustafa mengangguk. Ia pun mulai mengamati sekelilingnya dengan seksama. Sesekali ia tersenyum kagum karena lingkungan rumah Bayan yang sejuk dan asri karena masih ditumbuhi pohon-pohon besar.


Tiba di halaman rumah, Bayan membantu ustadz Mustafa turun dari mobil. Bayan menoleh saat Yumi dan Arti keluar dari dalam rumah secara bersamaan. Saat itu Bayan ingin marah tapi ia tahu jika Yumi dan Arti melakukannya karena takut. Dalam hati Bayan bersyukur, meski pun takut, tapi Yumi dan Arti masih mau bertahan tinggal di rumahnya.


Bayan pun segera memperkenalkan Yumi dan Arti kepada ustadz Mustafa.


"Ini Yumi yang membantu Istri Saya mengerjakan pekerjaan rumah, dan ini Arti yang mengasuh Nathan," kata Bayan dengan ramah.


Yumi dan Arti pun tersenyum lalu bergegas mencium punggung tangan ustadz Mustafa dengan takzim. Tanpa mereka sadari ustadz Mustafa tengah mencari sesuatu dalam diri mereka. Bayan yang mengamati dari samping pun berharap jika dua wanita di hadapannya bukan sesuatu yang harus ia takuti. Dan Bayan pun menghela nafas lega saat ustadz Mustafa menggelengkan kepala.


"Tolong siapin makan siang ya Yum. Dan Arti, tolong siapin kasur untuk Ustadz Mustafa istirahat," kata Bayan.


"Baik Pak," sahut Yumi dan Arti bersamaan.


"Ga usah di kamar, Aku ingin istirahat di ruang tamu aja," pinta ustadz Mustafa sebelum Arti masuk ke dalam rumah.


Arti menatap Bayan seolah minta persetujuan. Saat Bayan mengangguk, Arti pun ikut mengangguk lalu bergegas masuk ke dalam rumah untuk mengambil kasur cadangan.


Setelah Yumi dan Arti berlalu, Bayan mengajak ustadz Mustafa berkeliling dengan kursi rodanya. Bayan juga menunjukkan tempat ia melihat sosok hitam itu dan membawa ustadz Mustafa mendekat. Saat ustadz Mustafa menyentuh daun jendela, sang ustadz nampak mengerutkan keningnya.


"Apa ada sesuatu Ustadz ?" tanya Bayan.


"Dia memang pernah datang ke sini," sahut ustadz Mustafa.


"Dia siapa Ustadz ?" tanya Bayan tak sabar.


"Makhluk yang pernah mengambil Istri pertamamu dulu," sahut ustadz Mustafa dengan suara bergetar.

__ADS_1


Ucapan ustadz Mustafa membuat Bayan shock. Ia nyaris terjengkang jatuh andai tak berpegangan pada kursi roda ustadz Mustafa.


\=\=\=\=\=


__ADS_2