
Dari tempat duduknya Bayan bisa mengamati interaksi Nathan dan wanita itu. Bayan tahu jika mereka memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman dan Bayan pun tersenyum diam-diam.
Ternyata wanita itu adalah Ira, kekasih Nathan sekaligus anak pemilik kost. Ira datang untuk mengantar sedikit oleh-oleh yang dibawa saudaranya.
"Ada apa Sayang ?" tanya Nathan sambil tersenyum.
"Ck, apaan sih pake Sayang-sayangan segala. Ini ada oleh-oleh dari Om David. Beliau baru pulang dari Palembang. Ada kerupuk sama mpek-mpek, kalo mau makan digoreng dulu ya. Udah ada sausnya juga tuh," sahut Ira sambil menyodorkan plastik berukuran lumayan besar.
"Makasih ya. Wah, bakal rame nih ngeributin ginian," kata Nathan sambil mengintip isi dalam plastik yang terlihat menggiurkan itu.
"Tenang, semua kebagian kok. Ibu yang nyiapin dan jumlahnya sesuai sama jumlah orang yang tinggal di sini. Jadi ga perlu berebut," kata Ira yang diangguki Nathan.
Ira pun melirik ke dalam rumah. Dari tempatnya berdiri ia bisa melihat suasana di ruang tamu yang sedikit berbeda karena nampak lebih ramai dibanding hari biasanya.
"Tumben rame banget, lagi ada tamu ya ?" tanya Ira.
"Iya, kebetulan juga Kamu datang. Masuk yuk, Aku kenalin sama Ayahku," ajak Nathan sambil menggamit jemari Ira.
"Ayah Kamu datang ?, kok ga ngasih tau sih ?!" kata Ira panik.
"Aku juga ga tau, kata Ayah ini mendadak. Udah gapapa, Kamu udah cantik kok," kata Nathan sambil tersenyum.
"Bukan soal itu. Aku tau kalo Aku cantik, tapi Aku belum siapin mental buat ketemu sama Ayah Kamu," kata Ira setengah berbisik.
"Ga perlu siapin apa-apa. Santai aja kaya Kamu ketemu Nicko," sahut Nathan.
"Nicko tuh beda sama Ayah Kamu. Aku malu Nath ...," kata Ira sambil bersiap pergi.
Dengan sigap Nathan menahan lengan Ira hingga gadis itu tak bisa kemana-mana.
Melihat Nathan yang bicara kasak kusuk di teras rumah membuat Bayan dan Rama saling menatap sejenak dengan tatapan bingung. Ferdi yang mengerti pun memberi tahu jika gadis itu adalah kekasih Nathan.
Tak lama kemudian Nathan berhasil mengajak Ira masuk ke dalam rumah. Keduanya nampak melangkah sambil bergandengan tangan hingga membuat semua orang tersenyum.
"Ayah, Om, kenalin ini Ira. Pacar Aku," kata Nathan sambil tersenyum.
"Selamat pagi Om. Kenalin Saya Ira," sapa Ira santun sambil mencium punggung tangan Bayan dan Rama bergantian.
__ADS_1
"Selamat pagi," sahut Bayan dan Rama dengan ramah sambil mengamati Ira.
Kemudian Ferdi dan teman-temannya bergeser supaya Ira bisa duduk di hadapan Bayan. Nathan pun setia mendampingi Ira dengan berdiri di samping sang kekasih.
Perbincangan santai pun mengalir dengan lancar. Sesekali tawa terdengar menggema di ruang itu. Suasana makin ramai saat Mario dan dua temannya kembali dengan membawa beberapa kantong plastik berisi makanan.
Namun sayang kebersamaan mereka harus berakhir karena Bayan dan Rama harus pergi menemui rekan bisnisnya di sebuah hotel. Hal itu membuat Nathan dan teman-temannya sedikit kecewa.
"Kapan ke sini lagi Om ?" tanya Ferdi.
"Insya Allah kalo urusan udah selesai, sebelum balik ke Jakarta Kami mampir lagi ke sini. Iya kan Ram ?" tanya Bayan sambil menoleh kearah Rama.
"Betul," sahut Rama mantap.
"Ga usah tinggal di hotel Om. Tinggal di sini aja. Soal ijin, Ira yang bakal ngurus nanti," kata Mario yang diangguki Ira.
Ucapan Mario membuat Bayan dan Rama saling menatap sejenak lalu tertawa.
"Terus Kami tidur dimana ?. Bukannya ga ada kamar kosong di sini ?" tanya Rama di sela tawanya.
"Gampang, itu bisa diatur Om. Iya kan guys ?" tanya Mario sambil menoleh kearah teman-temannya.
"Wah, kalo gini bikin Kami ga bisa nolak deh. Ok, Kami bakal balik ke sini nanti," kata Bayan hingga membuat semua bersorak bahagia.
Kemudian Nathan mengajak Bayan dan Rama ke kamarnya. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Bayan dan Rama pun pergi menemui rekan bisnisnya.
\=\=\=\=\=
Bayan dan Rama nampak tersenyum puas karena baru saja berhasil menyepakati kerja sama bisnis dengan pengusaha dari Singapura.
"Alhamdulillah ..., ga sia-sia datang nyusul dari Jakarta ya Ram," kata Bayan.
"Iya. Ternyata dia juga emang nungguin Kita walau udah ada perusahaan lain yang datang tadi," sahut Rama.
"Waktu dia bilang dia percaya sama Kita, Gue udah yakin kalo perusahaan Kita yang bakal terpilih. Alhamdulillah terbukti kan," kata Bayan.
"Betul. Tapi sekarang Gue merasa lapar Yan. Makan dulu yuk," kata Rama sambil mengusap perutnya.
__ADS_1
"Wajar Ram, udah jam setengah dua nih. Emang udah waktunya makan siang. Ya udah, Lo pesenin aja sekalian, Gue sholat Dzuhur dulu ya," kata Bayan sambil bangkit dari duduknya.
Rama pun mengangguk lalu memanggil pelayan restoran dan mulai memesan beberapa menu makan siang sedangkan Bayan melangkah cepat menuju musholla kecil yang terletak di samping restoran.
Setelah menunaikan sholat Dzuhur, Bayan pun segera kembali ke restoran untuk menemui Rama. Dari kejauhan Bayan bisa melihat Rama makan dengan lahap dan itu membuatnya tersenyum. Bayan pun mempercepat langkahnya. Namun karena tergesa-gesa, ia tak memperhatikan jalan dan tak sengaja menabrak seorang wanita.
Bayan dan wanita itu sama-sama terkejut lalu menjauhkan diri masing-masing.
"Maaf Pak," kata wanita itu sambil memegangi bahunya yang tadi membentur Bayan.
"Oh gapapa, Saya juga minta maaf. Karena buru-buru jadi ga merhatiin orang di depan Saya. Ada yang luka ga ?" tanya Bayan basa-basi.
"Ga ada Pak, cuma ngilu aja. Ga nyangka tabrakan sama Bapak kaya nabrak beton," gurau wanita itu hingga membuat Bayan tertawa.
"Kamu yang terlalu lemah. Masa nabrak orangtua kaya Saya aja kalah," sahut Bayan di sela tawanya.
Wanita itu ikut tertawa. Setelah berbasa basi sejenak, wanita itu pun pamit. Bayan mengangguk lalu menepi supaya wanita itu bisa lewat dengan leluasa. Namun saat wanita itu melintas di depannya, Bayan mengerutkan keningnya. Bayan mencium aroma yang tak asing dari tubuh wanita itu dan itu membuatnya terkejut.
Bayan terus menatap wanita itu hingga menghilang dari pandangannya. Melihat sang sahabat mematung sambil menatap wanita itu membuat Rama bingung. Ia pun memanggil Bayan dengan lantang dan berhasil membuat Bayan tersadar.
"Ngapain bengong di situ ?. Jangan bilang Lo kesengsem sama cewek itu. Inget Yan, Lo udah punya Anna di rumah," kata Rama sambil menatap Bayan yang berjalan mendekat kearahnya.
"Ck, siapa yang kesengsem sih Ram," sahut Bayan cepat.
"Lah itu buktinya, Lo melotot aja ngeliatin cewek itu. Jangan macem-macem Yan, Gue bisa aduin sama Anna ntar biar Lo tau rasa !" ancam Rama.
Bayan hanya berdecak sebal mendengar ucapan Rama. Kemudian Bayan mulai menyendok nasi dan lauk pauknya. Rama yang telah menyelesaikan makan siangnya pun bangkit dari duduknya.
"Mau kemana Lo ?" tanya Bayan dengan mulut penuh.
"Sholat," sahut Rama sambil berlalu.
Bayan pun mengangguk lalu melanjutkan makan siangnya. Namun sesaat kemudian ia kembali termenung mengingat aroma khas yang menguar dari tubuh wanita itu.
"Kenapa aromanya mirip Senja ya. Jangan-jangan dia ...," gumam Bayan sambil mengunyah pelan.
Dan lamunan Bayan terus berlanjut hingga ia tak menyadari kehadiran Rama yang telah kembali usai menunaikan sholat Dzuhur itu.
__ADS_1
\=\=\=\=\=