
Ternyata Bayan dan Riko mengajak Rama pergi ke sebuah pasar malam di pinggiran kota Jakarta dimana saat itu sedang digelar pertunjukan musik dangdut.
Rama yang semula bingung pun akhirnya tak lagi kuasa menahan tawa mengetahui aksi konyol kedua sahabatnya itu.
"Jadi ini hiburan yang Lo maksud Rik," kata Rama sambil tertawa.
"Iya, seru kan. Jarang-jarang Kita bisa nonton pertunjukan musik dangdut yang diselingi lenong kaya gini," sahut Riko.
" Seru, seru banget. Makasih ya. Ide Lo berdua emang luar biasa dan bikin Gue terhibur. Sampe sakit nih perut Gue gara-gara kebanyakan ketawa," kata Rama di sela tawanya.
"Ini idenya Bayan. Gue sih ikut aja," sahut Riko sambil melirik kearah Bayan yang sedang menatap pertunjukan lenong di atas panggung.
"Gue juga dikasih tau sama tetangga Gue. Kebetulan Gue kenal sama Sodaranya yang tinggal di sekitar sini. Pas dia bilang kalo bakal ada pasar malam plus pertunjukan musik, eh Gue inget Lo berdua. Ga mungkin kan Gue ngajak Anak Istri Gue ke sini. Secara ini ga aman buat mereka. Makanya Gue ngajak Lo berdua supaya Kita bertiga bisa santai sejenak," kata Bayan sambil tersenyum.
Dan malam itu kegundahan Rama lenyap seketika meski jauh di lubuk hatinya masih terasa nyeri saat teringat putri semata wayangnya. Rama dan Bayan yang menemani Rama pun ikut senang karena berhasil membuat Rama tertawa.
\=\=\=\=\=
Usai mengantar Rama dan Riko pulang ke rumah masing-masing, Bayan memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Nampaknya ia tak sabar untuk segera tiba di rumah. Bukan tanpa alasan Bayan melakukan itu.
Bayan ingat jika hari ini adalah hari dimana Arti berjanji untuk kembali setelah cuti tiga hari. Bayan pun penasaran ingin melihat Arti.
Jika Bayan tak salah ingat, ustadz Mustafa pernah mengatakan jelmaan kuyang yang mengganggu keluarganya adalah orang yang mengenal dia dan Anna dengan baik. Bukan kah Arti mengenal dia dan istrinya. Apalagi saat kejadian ditemukannya ceceran darah adalah saat Arti ijin cuti tiga hari. Hal itu membuat Bayan curiga jika Arti adalah jelmaan kuyang yang menyamar jadi pengasuh anaknya.
Bayan berharap dugaannya salah. Tapi Bayan juga khawatir Arti adalah wanita yang dimaksud ustadz Mustafa. Bayan tahu betul jika kuyang pandai berkamuflase. Di keseharian ia akan tampil bak wanita baik-baik, tapi saat menjelma jadi kuyang ia berubah jadi sosok yang kejam dan tak berperi kemanusiaan, begitulah yang ada di benak Bayan saat itu.
Bayan tiba di rumah saat jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Yunus nampak menyambutnya di pagar rumah. Sebelum masuk ke dalam rumah Bayan menyerahkan sekotak martabak manis kepada Yunus.
"Buat temen ngopi Nus," kata Bayan sambil tersenyum.
"Alhamdulillah, makasih Pak !" kata Yunus antusias.
"Sama-sama. Apa Arti udah pulang Nus ?" tanya Bayan.
"Udah Pak. Sekarang lagi ngobrol sama Ibu dan Mbak Yumi di ruang tengah," sahut Yunus.
Bayan pun mengangguk lalu bergegas masuk ke dalam rumah. Dari ambang pintu Bayan bisa melihat Anna, Yumi dan Arti yang berbincang serius. Bayan juga mengamati Arti dan tersenyum saat melihat Arti tak memiliki bekas luka apa pun di wajahnya.
__ADS_1
Bayan pun mengerutkan keningnya saat melihat Anna mengusap matanya berkali-kali hingga membuatnya khawatir.
"Kamu kenapa Bund, kok sedih gitu keliatannya?!" tanya Bayan sambil melangkah mendekati Anna.
"Temennya Ibu, yang namanya Bu Hesti, yang merekomendasikan Saya kerja di sini sekarang lagi sakit dan dirawat di Rumah Sakit Pak," sahut Arti mewakili Anna.
"Oh ya, sakit apa ?" tanya Bayan penasaran.
"Belum tau Pak. Saya juga baru tau tadi pas mau balik ke sini. Saya ga sengaja ketemu temen Saya yang juga pernah ditolongin Bu Hesti. Dia bilang abis jenguk Bu Hesti di Rumah Sakit. Kalo Saya tau lebih awal, Saya pasti sempetin jenguk dulu sebelum balik ke sini. Sayangnya Saya udah terlanjur janji sama Ibu kalo sore ini Saya udah sampe di sini, makanya Saya ga jenguk karena ga enak sama Ibu," sahut Arti.
Bayan pun mengangguk lalu menatap istrinya.
"Jadi itu yang bikin Kamu nangis Bund ?" tanya Bayan.
" Iya Yah. Hesti itu kan salah satu teman terbaik Aku. Setau Aku Hesti itu ga pernah sakit apalagi sampe dirawat di Rumah Sakit segala. Kalo ada kabar dia dirawat di Rumah Sakit, itu berarti sakitnya parah banget," sahut Anna.
Jawaban Anna membuat Bayan gusar. Entah mengapa ia penasaran dengan kondisi Hesti. Mungkin kah Hesti adalah orang yang dimaksud ustadz Mustafa karena Hesti mengenal Anna dengan baik. Untuk menjawab rasa penasarannya, Bayan pun menawarkan diri mengantar Anna mwnjenguk Hesti.
"Kalo Bunda mau, Ayah bisa temenin Bunda jenguk Hesti besok," kata Bayan.
"Maaf kalo lancang. Apa Saya juga boleh ikut jenguk Bu Hesti Pak ?" tanya Arti hati-hati.
"Tentu saja. Kita bisa gantian jenguk supaya ada yang jagain Nicko dan Nathan," sahut Bayan yang diangguki Anna.
"Makasih Pak," sahut Arti senang.
"Sama-sama. Kalo gitu Kita semua istirahat sekarang biar ga kesiangan besok," kata Bayan sambil merengkuh bahu istrinya.
"Baik Pak, selamat malam," kata Yumi dan Arti bersamaan yang disambut anggukan kepala Bayan dan istrinya.
\=\=\=\=\=
Bayan dan Anna sedang tertegun menatap Hesti yang terbujur kaku di hadapan mereka. Saat itu Hesti telah dinyatakan meninggal dunia oleh dokter yang merawatnya.
Sebelumnya Bayan dan Anna yang datang terlambat dibuat terkejut melihat dokter dan perawat mengelilingi tubuh Hesti. Saat itu Hesti sedang sekarat. Anna yang shock melihat kondisi Hesti pun menjerit histeris hingga membuat dokter dan perawat yang sedang berusaha menyelamatkan Hesti terganggu.
"Maaf Pak, tolong bawa Istri Bapak keluar. Kami harus membantu pasien !" pinta sang dokter dengan tegas.
__ADS_1
"Baik dok, maafkan Kami. Permisi," kata Bayan sambil membawa Anna keluar dari ruangan.
Semula Anna menolak dibawa keluar dari ruangan karena ingin menyaksikan detik-detik terakhir kepergian Hesti. Namun Bayan memaksanya pergi karena khawatir dengan kondisi Anna yang akan berimbas pada bayi mereka nanti. Akhirnya Anna menuruti suaminya dan mereka menunggu di luar ruangan.
Beberapa saat kemudian dokter dan perawat keluar dari ruangan dengan wajah lesu. Bayan dan Anna tahu mereka gagal menyelamatkan Hesti.
"Bagaimana kondisi Hesti dok, apa yang terjadi sama dia ?" tanya Anna tak sabar.
Saat Anna bicara dengan sang dokter Bayan menyempatkan diri menoleh ke dalam ruangan. Jantung Bayan berdetak sangat cepat melihat kondisi Hesti yang mengenaskan.
Hesti yang ia kenal adalah seorang wanita cantik, luwes dan ramah. Namun saat itu wajah Hesti terlihat pucat dan tua seperti seorang nenek renta. Ditambah wajah Hesti dipenuhi luka menganga seperti terkena sayatan benda tajam. Yang membuat Bayan makin shock adalah, terdapat luka melingkar berwarna kebiruan di leher Hesti. Entah mengapa luka itu mengingatkan Bayan pada almarhumah Senja.
Bayan terus menatap lekat kearah Hesti. Dan tanpa Bayan sadari, ia telah melangkah masuk menghampiri Hesti dan meninggalkan Anna yang masih bicara dengan dokter.
Hesti yang menyadari arti tatapan Bayan padanya nampak berusaha mengatur nafasnya.
"Jadi Lo kuyang itu Hes. Kuyang yang selama ini mencoba menyakiti Anna dan Anak Kami?!" kata Bayan tak percaya.
"Ma ... af," kata Hesti lirih.
"Jadi Lo terluka karena pecahan kaca itu Hes. Gimana rasanya, sakit ?" tanya Bayan sinis.
Hesti mengangguk lalu menunjuk kearah leher, dada dan perutnya pertanda pecahan kaca itu bersemayam di sana sekarang. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya hanya tatapannya yang kian memudar. Bayan tahu jika Hesti tak akan bisa bertahan dan itu membuatnya iba sekaligus benci di waktu bersamaan.
Tiba-tiba Bayan teringat Kayla. Tanpa basa basi Bayan pun menanyakan keberadaan Kayla pada Hesti.
"Dimana Kayla ?. Lo juga kan yang udah memangsa balita itu ?" tanya Bayan sambil menatap Hesti dengan tatapan penuh kebencian.
Hesti mengangguk sambil membuat gerakan yang mengisyaratkan sesuatu hingga membuat Bayan marah.
"Terkutuk !. Mati aja Lo !" maki Bayan sambil bersiap melayangkan tangannya ke wajah Hesti namun ia urungkan saat Anna memanggilnya.
Bayan menoleh dan melihat mata Anna yang berkaca-kaca. Bayan pun menarik Anna ke dalam pelukannya lalu menoleh kearah Hesti dan terkejut. Ternyata saat itu Hesti telah menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan posisi kedua mata yang terbuka menghadap ke langit-langit ruangan.
Melihat kondisi Hesti membuat tangis Anna pun pecah. Bayan pun sibuk menenangkan istrinya sambil terus mengutuki jasad Hesti yang terbujur kaku di hadapannya.
\=\=\=\=\=
__ADS_1