Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
181. Mimpi Buruk Fikri


__ADS_3

Setelah berhasil menetralisir rasa terkejutnya, Ayu pun menceritakan apa yang dialaminya tadi. Fikri mendengarkan cerita istrinya itu dengan seksama.


"Apa itu artinya almarhumah nitipin Anaknya sama Kita Bi ?" tanya Ayu ragu.


"Kayanya sih gitu Mi. Terus, Kamu mau gitu ?" tanya Fikri.


"Aku mau mengasuh Pita kalo Kamu ngijinin Bi. Kalo ga, ya buat apa. Aku kan nikah sama Kamu bukan bayi ini. Kalo Kamu ga bisa menerima bayi ini, meski pun Aku sayang sama dia ya percuma. Aku maunya Kita jadi orangtua yang kompak dan tulus buat dia. Jangan sampe Kamu menyesal di kemudian hari nanti," sahut Ayu cepat.


Jawaban Ayu membuat Fikri terharu. Ia memeluk Ayu sambil mendaratkan kecupan singkat di kening sang istri. Dalam hati ia bahagia karena Ayu memikirkan perasaannya.


"Kalo gitu, ayo Kita adopsi dia," kata Fikri tiba-tiba hingga mengejutkan Ayu.


"Kamu serius Bi ?!" tanya Ayu sambil mendongakkan wajahnya agar bisa menatap sang suami.


"Serius dong. Kita bisa ambil kesempatan pertama sebelum ada orang lain yang ngeduluin. Soalnya Aku liat banyak juga pasangan yang tertarik sama bayi ini. Apalagi Polisi juga bilang kalo ga ada yang mau ngadopsi, bayi ini bakal dititipin di panti sosial," sahut Fikri.


"Makasih ya Bi," kata Ayu sambil memeluk suaminya.


"Jangan makasih dulu Mi. Aku juga punya syarat lho," kata Fikri.


"Syarat apa ?" tanya Ayu cemas.


"Jangan panggil bayi ini Pita karena itu mengingatkan Aku sama Lupita. Walau pun maksud Kamu baik supaya Anak ini tau siapa Ibu kandungnya, tapi Aku ga suka sama nama itu. Kasih nama lain aja. Aku ga mau bayi ini tertular sifat jelek Ibunya itu," kata Fikri gusar namun membuat Ayu tertawa.


"Iya Bi. Aku bakal kasih nama lain nanti," sahut Ayu di sela tawanya.


"Ok," kata Fikri sambil tersenyum dan mempererat pelukannya.


\=\=\=\=\=


Setelah semua prosedur pengadopsian bayi Lupita dijalani, Fikri dan Ayu bisa bernafas lega. Kini mereka mengantongi dokumen resmi yang menandakan bayi itu adalah anak mereka. Tak ada seorang pun yang bisa mengganggu bayi itu atau coba merebutnya dari tangan Fikri dan Ayu, meski pun itu keluarga Lupita.


Dan sebagai ungkapan syukur, Fikri menggelar aqiqah untuk bayi itu yang kemudian ia beri nama Afiah. Hanya Afiah, karena Fikri berharap sang bayi bisa tumbuh sehat secara mental dan fisik.


Ayu menyukai nama itu karena di sana ada gabungan namanya dan nama suaminya.

__ADS_1


Afiah pun tumbuh dalam lingkungan yang sehat dan agamis. Kehadirannya melengkapi kebahagiaan keluarga Bayan yang juga telah memiliki seorang cucu perempuan dari Nicko dan Ramadhanti.


Karena mulai sibuk mengurus Afiah, maka Ayu berniat mengundurkan diri dari Klinik Bersalin Hilya. Namun niatnya ditentang suaminya. Fikri merasa lebih nyaman meninggalkan Ayu bekerja jika sang istri berada di lingkungan klinik yang ramai itu daripada di rumah.


"Akan banyak yang bantu Kamu saat Afiah sakit atau semacamnya Mi," kata Fikri memberi alasan.


"Tapi Aku ga enak sama Hilya Bi. Masa kerja bawa Anak. Terus Aku juga khawatir ga fokus karena harus melakukan dua pekerjaan sekaligus," sahut Hilya.


Tiba-tiba Hilya datang dan mendengar semua pembicaraan Ayu dan Fikri. Hilya terkejut lalu menyela pembicaraan mereka dengan cepat.


"Ga usah pikirin itu Mbak !. Aku juga setuju sama Bang Fikri. Kalo di Klinik, Aku bisa ikut melihat perkembangan Afiah tanpa harus bolak-balik ke rumah Mbak. Atau gini aja, gaji Mbak bakal Aku tambahin asal Mbak ga keluar dari Klinik. Gimana Mbak ?" tanya Hilya namun membuat Ayu menggeleng.


"Ga usah Hil. Itu aja udah cukup kok. Kan kerjaanku ga banyak di sana," sahut Ayu.


"Tapi jangan ngundurin diri ya Mbak. Please ...," pinta Hilya penuh harap sambil menggenggam jemari Ayu erat.


"Iya iya. Kalo kaya gini gimana cara nolaknya sih," gerutu Ayu namun masih terdengar oleh Hilya hingga membuatnya tertawa lepas.


Fikri tersenyum melihat interaksi Ayu dan Hilya. Ia senang karena akhirnya Ayu setuju untuk melanjutkan pekerjaannya di klinik.


Karena tak mungkin mengawasi Ayu dua puluh empat jam, maka Fikri meminta Ayu tetap bekerja agar sang istri selalu ada di lingkungan yang ramai dengan orang.


Mimpi buruk Fikri seperti nyata. Dalam mimpi Fikri seolah melihat ibunya hidup lagi dan mengejar Ayu. Fikri tak sanggup mencegah sang ibu mendekati istrinya. Apalagi saat itu sang ibu sedang menjelma jadi siluman kuyang yang melesat cepat ke udara saat didekati.


\=\=\=\=\=


Pagi itu Fikri duduk di teras sambil mengamati Ayu yang sedang menyuapi Afiah. Sesekali Fikri tertawa mendengar celoteh Afiah yang mulai belajar bicara.


Tak lama kemudian Ayu menitipkan Afiah di pangkuan suaminya karena akan meletakkan mangkuk kotor bekas makan Afiah. Fikri dengan senang hati menerimanya. Ia bahkan mengajak Afiah bersenda gurau hingga bayi itu tertawa.


"Ngomong apa sih Anak Abi ini. Cerewet banget ...," kata Fikri gemas sambil menciumi Afiah yang tertawa kegelian.


Karena Ayu tak kunjung kembali, Fikri pun menoleh ke dalam rumah lalu memanggil istrinya.


"Ummi !. Kok lama banget sih. Ummi ...!" panggil Fikri dengan lantang.

__ADS_1


"Iya Bi. Ini lagi ngambil cemilan !" sahut Ayu dari dalam rumah.


Ayu pun keluar sambil membawa nampan berisi sepiring gorengan lengkap dengan sausnya dan secangkir kopi. Ia tersenyum kearah Fikri yang nampak menatapnya dengan cemas. Rupanya Ayu juga menyadari sikap suaminya yang lebih protektif itu. Namun Ayu menganggap itu hal biasa karena mengira sang suami iri dengan perhatiannya pada Afiah.


Namun sesaat kemudian Ayu mengerutkan keningnya saat melihat wajah Fikri memucat seolah baru saja melihat sesuatu yang menakutkan. Ayu bergegas meletakkan nampan di atas meja lalu meraih Afiah dari pangkuan Fikri.


"Abi kenapa ?. Kok muka Abi pucat gitu ?" tanya Ayu cemas sambil menyentuh wajah sang suami.


"Oh gapapa kok," sahut Fikri gugup.


"Yang bener Bi ?" tanya Ayu.


"I-iya," sahut Fikri sambil meraih gelas berisi kopi lalu meneguknya hingga tandas.


"Itu masih panas Bii ...!" jerit Ayu namun terlambat.


Fikri telah meneguk kopi hingga tandas. Sesuatu yang tak pernah Fikri lakukan apalagi kopi masih panas saat itu.


"Ssshhh ...," Fikri mendesis kepanasan sambil mengipasi mulutnya dengan telapak tangan.


Ayu pun menggeleng lalu membantu meniup bibir Fikri yang memerah itu. Posisi mereka yang sangat dekat membuat siapa pun yang melihatnya tersenyum.


"Ehm ... !. Jangan lakukan adegan dewasa di depan bayi dong Bang, Mbak !" tegur Nicko tiba-tiba hingga mengejutkan Fikri dan Ayu.


Fikri dan Ayu menoleh lalu tersenyum melihat Nicko berdiri di belakang mereka sambil menggendong Nira. Sedangkan di belakang Nicko tampak Ramadhanti yang tersipu malu karena tak sengaja menyaksikan adegan romantis itu.


"Eh, ada Nira. Ayo masuk Sayang ...!" kata Ayu antusias.


Nicko dan Ramadhanti hanya mengangguk ragu tanpa bergeser sedikit pun. Sikap mereka tentu saja membuat Ayu bingung. Ia menoleh untuk menatap suaminya sekaligus bertanya.


"Ada apa sih Bi. Kok suasananya jadi canggung gini ?" tanya Ayu tak mengerti.


"Mmm ..., keliatannya mereka salah paham Mi. Mereka pikir Kita lagi kissing tadi," bisik Fikri sambil tersenyum.


Gantian Ayu yang tersipu malu. Tapi itu hanya sebentar. Karena sesaat kemudian Ayu menjelaskan apa yang terjadi hingga Nicko dan Ramadhanti pun tertawa sambil melihat bibir Fikri yang merah akibat kopi panas tadi.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2