
Setelah mengetahui Bayan bukan lah mantan suami yang ia tinggalkan dulu membuat Mak Ejah patah semangat. Apalagi saat mengetahui sang mantan suami telah meninggal dunia dua puluh tahun yang lalu.
"Kalo si breng*ek itu mati dua puluh tahun yang lalu, itu artinya Anakku sudah berumur delapan tahun. Dan saat itu Aku sedang sibuk mencari siapa yang mengadopsi Saba," gumam Mak Ejah.
Pikiran Mak Ejah melayang pada masa dua puluh tahun lalu. Saat itu ia baru saja pindah ke rumah yang ia beli dengan uangnya sendiri. Setelah merasa bisa mandiri tanpa bantuan bapak dan mantan suaminya, Mak Ejah berniat menjemput anaknya. Ia ingin tinggal bersama dengan anak yang ia lahirkan di rumah miliknya itu.
Mak Ejah mulai berkelana mendatangi setiap panti asuhan untuk mencari anaknya. Ia selalu menyebut nama Saba di tiap panti asuhan berharap agar ada yang mengenalnya. Namun usahanya sia-sia. Tak seorang pengurus panti pun yang mengetahui keberadaan Saba.
Setelah setahun mencari, Mak Ejah pun merasa lelah. Akhirnya ia pasrah dan kembali ke rumah tanpa hasil. Sejak saat itu Mak Ejah mulai menutup diri dari lingkungan sekitarnya. Apalagi tak lama berselang sang bapak meninggal dunia karena sakit. Mak Ejah merasa penderitaannya tak berujung.
Namun suatu pagi Mak Ejah bertemu seorang anak perempuan yang sedang menangis di pinggir jalan. Nampaknya anak itu tersesat. Karena iba Mak Ejah pun mendekatinya dan memberinya minum. Bahkan Mak Ejah ikut menemani anak perempuan yang kemudian ia ketahui bernama Rosiana itu duduk menunggu kedatangan orangtuanya.
"Apa bener mereka mau jemput Kamu nanti?" tanya Mak Ejah kala itu.
"Iya," sahut Rosiana cepat.
"Emang mereka bilang mau kemana ?, kenapa Kamu ga diajak ?" tanya Mak Ejah.
"Bapak sama Ibu bilang mau ke rumah sodara sebentar. Aku disuruh nunggu di sini. Ibu bilang jangan kemana-mana," sahut Rosiana gusar.
"Tapi ini udah malam banget, gimana kalo Kamu ikut sama Mak aja ke rumah. Ntar Mak bilang sama yang punya warung itu kalo ada yang nyari biar langsung ke Rumah Mak aja. Yang punya warung itu kenal kok sama Mak," kata Mak Ejah.
Rosiana kecil nampak berpikir sejenak kemudian mengangguk. Nampaknya ia juga lelah menunggu dan butuh tempat untuk istirahat.
Kemudian Mak Ejah membawa Rosiana pulang dan kembali ke tempat itu keesokan harinya.
__ADS_1
Namun kabar mengejutkan diterima Mak Ejah. Ternyata sehari ssbelumnya telah terjadi kecelakaan antara motor dan truk tangki pengangkut minyak yang menewaskan sepasang suami istri. Lokasinya tak jauh dari tempat Rosiana menunggu. Jika dilihat dari ciri-cirinya bisa dipastikan mereka adalah orangtua Rosiana.
"Mungkin mereka buru-buru mau jemput Anaknya yang ditinggal di sini makanya ga ngeliat kalo ada truk yang datang dari arah berlawanan," kata pemilik warung sambil menatap Rosiana iba.
Mak Ejah pun ikut menatap Rosiana yang sedang berdiri di pinggir jalan dengan tatapan sedih. Detik itu juga Mak Ejah memutuskan akan mengadopsi Rosiana. Ia meminta pemilik warung menyimpan rapat informasi tentang kedua orangtua Rosiana.
"Saya sendiri yang bakal bilang sama dia nanti saat dia sudah cukup dewasa," kata Mak Ejah.
"Iya, Saya setuju. Saya juga ga tega ngomong sama Anak itu kalo Orangtuanya meninggal karena kecelakaan," sahut pemilik warung.
Dan sejak saat itu Rosiana tinggal bersama Mak Ejah dan menjadi anaknya. Mak Ejah sangat menyayangi Rosiana. Ia menyekolahkan Rosiana dan membesarkannya dengan baik. Karena Rosiana pintar, dengan mudah ia menyusul ketinggalannya dalam belajar dan itu membuat Mak Ejah bangga.
Rupanya tanpa Mak Ejah beritahu pun Rosiana sudah tahu jika kedua orangtuanya meninggal karena kecelakaan. Dan itu membuat rasa sayang Rosiana pada Mak Ejah sangat besar.
Nampaknya Rosiana juga tahu balas budi. Ia bertekad membahagiakan ibu angkatnya itu dengan bekerja keras.
"Cincin ini lebih mirip cincin tunangan daripada cincin Ibu dan Anak Ci," kata Mak Ejah kala itu.
"Biarin Mak. Aku suka karena bentuknya bagus," sahut Rosiana.
"Tapi ini bikin cowok-cowok yang naksir Kamu salah paham karena mengira Kamu udah punya tunangan Ci. Ntar Kamu malah ga dapat jodoh lho," kata Mak Ejah mengingatkan.
"Mak ga usah khawatir. Jodohku udah diatur sama Allah. Ga usah dicari ntar juga datang sendiri," sahut Rosiana santai.
Dan ucapan Rosiana terbukti. Usman yang memang mencintai Rosiana sejak remaja pun datang menghampiri meski pun Rosiana sudah menolaknya berkali-kali. Bahkan setelah bercerai dari istrinya Usman tetap kembali dan berharap Rosiana mau menerima cintanya.
__ADS_1
Meski akhirnya Rosiana mau menerima cinta Usman, tapi semua terasa terlambat karena cinta mereka terhalang dinding penjara. Dan apakah Usman masih mau menunggu hingga Rosiana bebas kelak, Mak Ejah pun tak tahu pasti.
Mengingat Rosiana membuat Mak Ejah kembali menangis. Ia sedih karena harus pergi meninggalkan Rosiana sendiri di kota itu. Tapi Mak Ejah merasa tenang karena ada Usman yang akan menjaganya nanti.
\=\=\=\=\=
Bayan masih terdiam dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Sedangkan Jojo dan Nathan nampak asyik berbincang di hadapannya.
"Liat tuh Ayah Kamu. Keliatan banget kan kalo dia 'orang yang pemikir. Apa-apa serba dipikirin. Beda banget sama Alan kembarannya," kata Jojo sambil menyenggol lengan Nathan.
"Bagus dong Om. Ayah kan orangnya hati-hati dan ga gegabah mutusin sesuatu. Meski pun buat sebagian orang terkesan lambat, tapi Aku paham kenapa Ayah begitu," sahut Nathan sambil tersenyum bangga.
Jojo pun mengangguk dan kembali meneguk kopi di gelasnya perlahan.
"Aku belum sempat ketemu dan kenal sama Om Alan. Aku cuma tau Ayah punya kembaran yang udah meninggal. Apa mereka benar-benar ga bisa akur Om ?" tanya Nathan.
"Ya gitu deh. Awalnya Om pikir cuma kenakalan biasa antara dua bersaudara. Tapi semakin besar dan Kami dewasa, Om liat Alan itu emang punya sifat yang buruk. Dia selalu ingin merebut apa yang Ayah Kamu miliki. Opa dan Oma Kamu aja sampe angkat tangan menghadapi kenakalannya. Tapi saat Alan meninggal justru mereka lah yang paling terpukul," sahut Jojo.
"Om bilang Om Alan ingin merebut apa yang Ayah miliki. Apa itu termasuk pacar juga Om?" tanya Nathan penasaran.
"Ga lah. Ayah Kamu dan Om Alanmu itu punya selera yang berbeda dalam menentukan pasangan. Kamu liat aja Mak Ejah dan Bunda Kamu. Sampe sini Kamu paham kan maksud Om ?" tanya Jojo sambil tersenyum penuh makna.
Nathan pun ikut tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Bayan yang saat itu duduk di hadapan Jojo dan Nathan nampak gelisah. Ia teringat aroma yang mirip dengan aroma siluman kuyang saat meninggalkan rumah kontrakan Mak Ejah tadi.
__ADS_1
"Jangan-jangan Ejah juga menganut ilmu hitam itu. Aroma di sana pekat banget tadi. Apalagi kata Nathan lokasi rumah Ejah berdekatan dengan rumah kontrakan Ustadz Fikri, mungkin aja dia yang udah mencelakai Ayu dan Anaknya. Bukan kah Ayu bilang sebelum jatuh dia diserang oleh kepala yang melayang tanpa tubuh ?" batin Bayan gusar.
\=\=\=\=\=