
Bayan masuk ke dalam rumah dan mendengus kesal saat mendapati pintu kamar terkunci. Ya, Anna lah pelakunya. Rupanya sang istri marah besar kali ini karena mengira ia punya hubungan dengan wanita bernama Rosi yang bekerja di klinik Hilya.
"Ck, kenapa gini sih. Kenapa ga ngasih kesempatan Aku untuk jelasin," gumam Bayan sambil menggelengkan kepala.
Karena lelah mengetuk pintu tapi Anna tak juga merespon, akhirnya Bayan mengalah. Ia pergi ke kamar mandi yang ada di dapur untuk membersihkan diri. Setelahnya ia pergi ke ruang kerja dan berencana tidur di sana malam ini.
Bayan membaringkan tubuhnya di atas sofa bed. Sedikit tak nyaman karena selain ukurannya yang tak besar, tak ada Anna yang berbaring di sampingnya saat itu.
Hampir setengah jam Bayan berbaring sendirian sambil menunggu Anna datang padanya. Namun Bayan harus gigit jari karena nampaknya Anna tak akan mengalah kali ini.
Karena tak bisa tidur, Bayan pun bangkit lalu pergi ke dapur untuk menyeduh kopi. Saat melintas di depan kamar, Bayan mencoba peruntungan dengan mengetuk pintu kamar. Ia berharap Anna mendengar suaranya lalu membuka pintu. Sayangnya harapan Bayan tak jua terwujud.
Bayan menghela nafas panjang. Ia sadar tak akan mudah membujuk istrinya sekarang.
"Ya udah lah. Mungkin dia juga udah tidur karena kelelahan. Lagian ini juga udah terlalu larut untuk bicara," gumam Bayan sambil melangkah kembali ke kamar dengan secangkir kopi di tangannya.
Sementara itu di kamar, Anna juga tak bisa memejamkan mata. Ia dengar saat Bayan memanggilnya sambil terus mengetuk pintu. Biasanya Anna akan mudah luluh. Tapi kali ini jauh berbeda.
Anna marah karena merasa diabaikan dan hampir dicelakai. Bagaimana tidak. Saat melihat wanita itu Bayan sampai kehilangan kendali pada mobilnya dan itu hampir berakibat fatal. Beruntung Bayan masih bisa mengarahkan mobilnya ke tempat yang aman tadi. Jika tidak, mungkin saat ini mereka sudah berbaring di Rumah Sakit dalam kondisi luka parah.
"Siapa Rosi ?. Kenapa ngeliat dia bisa bikin Kak Bayan kehilangan kendali. Kalo Rosi hanya seseorang dari masa lalunya, ga seharusnya dia sekaget itu kan. Pasti ada sesuatu sama wanita itu yang bikin Kak Bayan ga bisa move on sampe sekarang," gumam Anna gusar.
Anna menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur. Ia gelisah dan cemburu. Ia merasa Rosi sudah berhasil membuat Bayan mengalihkan perhatian.
"Sebenernya apa hubungan Rosi dan Kak Bayan. Kenapa Kak Bayan kaget banget ngeliat dia. Kalo kaya gini bikin Aku makin suudzon sama Suamiku. Lebih baik Aku tanya Hilya sekarang," gumam Anna lalu bergegas meraih ponselnya.
__ADS_1
Anna bersiap menghubungi Hilya. Namun saat melihat jam menunjukkan pukul satu dini hari, Anna pun mengurungkan niatnya. Ia hanya bisa mendengus kesal karena tak mungkin mengganggu Hilya selarut itu hanya untuk bertanya tentang Rosi.
"Bisa-bisa Hilya curiga nanti. Lagian jam segini di tempat yang sedingin itu pasti ga akan disia-siakan sama Nathan. Anak itu pasti lagi menggempur Istrinya di tempat tidur. Dia kan mirip banget sama Ayahnya," gumam Anna sambil tersenyum.
Anna pun meletakkan ponselnya lalu kembali berbaring. Ia mencoba memejamkan mata walau sulit. Dan entah di jam berapa akhirnya Anna bisa terlelap.
Dugaan Anna tentang Hilya dan Nathan memang terbukti. Malam itu Nathan dan Hilya bercinta berkali-kali hingga menjelang Subuh. Entah mengapa kali ini Hilya tak menolak keinginan suaminya yang minta lagi dan lagi.
"Ini luar biasa banget. Aku hampir ga pengen berhenti kalo ga inget Kamu juga perlu istirahat Sayang," kata Nathan sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
Hilya tersenyum mendengar ucapan suaminya. Ia juga tak mengerti mengapa ia mengiyakan saja permintaan Nathan yang meminta lagi dan lagi tadi. Mungkin karena jauh di lubuk hatinya Hilya merasa bersalah karena tak rutin memberikan hak suaminya itu. Atau karena ia juga ingin segera hamil seperti Ayu.
Mengingat Ayu membuat Hilya tersentak. Ia pun beringsut bangun hingga membuat Nathan bertanya.
"Mau kemana Sayang ?. Katanya capek dan mau tidur, kok malah bangun. Jangan bilang Kamu mau ngerjain sesuatu ya ?" kata Nathan sambil memeluk perut Hilya dan menahannya agar tetap berbaring.
"Beneran mau pipis ?" tanya Nathan tak percaya sambil menatap Hilya lekat.
Hilya tak kuasa menahan tawanya melihat sikap posessif Nathan. Seolah tersadar dengan sikapnya yang berlebihan, Nathan pun ikut tertawa.
"Aku ga kemana-mana kok Sayang, jadi lepasin ya. Kamu meluknya kenceng banget lho," kata Hilya sambil menepuk lengan Nathan yang melingkar di perutnya.
Nathan pun mengangguk lalu mengurai pelukannya.
"Tapi Kamu tetap berbaring ya. Aku ga mau Kamu mengacau sesuatu yang mungkin sedang berproses di dalam sini. Masa iya sekian banyak sel sp**ma yang Aku keluarkan tadi ga satu pun yang nyangkut di sini. Kan Kita sama-sama ga pernah pake pengaman Sayang,"kata Nathan sambil mengusap perut Hilya dengan lembut.
__ADS_1
Hilya mengangguk sambil tersenyum mendengar ucapan suaminya.
Hilya tahu sebesar apa keinginan Nathan untuk memiliki keturunan. Dan itu sama besar dengan keinginannya. Tapi Hilya bukan Tuhan yang bisa mengatur kapan ia harus hamil dan melahirkan meski pun setiap hari ia bersinggungan dengan wanita hamil dan anak-anak.
Nathan pun menoleh kearah sang istri karena tak mendengar Hilya menjawab pernyataannya tadi.
" Maaf Sayang. Apa ucapanku keterlaluan ?" tanya Nathan hati-hati.
"Ga kok Sayang. Pernikahan Kita udah menjelang setahun, jadi wajar kalo Kita menginginkan Anak. Profesiku sebagai Bidan juga bikin Aku bertanya-tanya kenapa Aku ga hamil-hamil. Padahal semua cara udah Aku lakukan," sahut Hilya gusar.
"Tapi Kita kan udah cek ke dokter kandungan dan dipastikan kondisi Kita Ok. Jadi, ayo Kita berusaha supaya si kecil bisa segera hadir," kata Nathan antusias.
"Ck, ga usah beralibi deh. Apa yang tadi dan malam-malam sebelumnya Kita ga usaha ?!" kata Hilya kesal namun membuat Nathan tertawa.
"Iya sih. Tapi kayanya Kamu kurang semangat Sayang," gurau Nathan.
Hilya melotot karena tak terima dengan ucapan suaminya itu. Ia pun kembali menyerang Nathan dengan cubitan dan pukulan yang tentu saja tak berarti apa-apa untuk sang suami. Nathan tampak tertawa-tawa saat Hilya mencubiti tubuhnya. Dan semua berakhir saat keduanya kembali melakukan penyatuan.
Usai melakukan penyatuan yang ke sekian kalinya, keduanya pun tersenyum. Sebelum memejamkan mata Nathan kembali mengusap perut sang istri sambil berdoa dalam hati.
Meski pun tak tahu apa doa suaminya, Hilya mengaminkannya begitu saja.
"Aamiin ...," kata Hilya sambil memejamkan mata.
"Emang Kamu tau apa doaku barusan ?" tanya Nathan.
__ADS_1
Tak ada jawaban karena Hilya benar-benar telah terlelap. Nathan tersenyum lalu mengecup kening Hilya sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh sang istri. Setelahnya ia ikut memejamkan matanya dan tidur dengan posisi telapak tangan berada di atas perut Hilya.
\=\=\=\=\=