
Saat tiba di rumah kost, Ferdi segera menceritakan apa yang baru saja ia lihat. Semua temannya termasuk Mario terkejut lalu berlarian keluar untuk menyaksikan pembakaran kepala siluman kuyang itu.
Mario dan teman-temannya sedikit terlambat. Karena saat tiba di sana sebagian warga telah meninggalkan kediaman orangtua Yulia. Hanya tersisa bola api yang terbakar yang diyakini Mario sebagai tengkorak kepala kuyang.
"Kita terlambat," kata teman Mario.
"Iya," sahut Mario kecewa.
"Balik aja yuk. Percuma, udah ga ada apa-apa di sini," ajak salah seorang teman Mario.
"Ntar dulu, Gue penasaran siapa sih pemilik kepala itu," kata Mario sambil menatap suami Yulia yang membawa ember berisi air untuk memadamkan api.
Teman-teman Mario pun mengurungkan niatnya untuk pergi. Mereka tetap berdiri menunggu bersama beberapa warga yang masih bertahan di sana.
Saat suami Yulia menyiramkan air ke kepala yang masih terbakar itu, tercium bau gosong yang pekat. Meski rambut di kepala makhluk itu terbakar, namun wajah dan kepala kuyang itu masih utuh dan itu membuat semua orang panik.
"Kayanya belum cukup ngebakarnya. Buktinya kepalanya masih utuh. Ini bahaya. Bisa-bisa palasik itu terbang lagi dan menyerang orang lain nanti," kata ayah Yulia gusar.
"Jadi gimana Yah, apa harus dibakar lagi ?" tanya suami Yulia.
"Ga usah. Kita letakkan di wadah kaca aja. Tutup rapat lalu simpan. Kita tunggu kabar siapa yang meninggal tanpa kepala besok," sahut ayah Yulia.
"Baik Yah !" sahut suami Yulia lalu bergegas masuk ke dalam rumah untuk mengambil wadah yang dimaksud mertuanya.
Disaksikan semua orang, ayah Yulia meraih kepala berwarna hitam itu dari tanah. Ia menggunakan kain untuk melapisi telapak tangannya agar tak terluka. Rupanya kepala itu masih bergerak sedikit dan itu cukup mengejutkan semua orang.
Setelahnya ayah Yulia memasukkan kepala itu ke dalam wadah lalu menutupnya rapat-rapat. Sebelumnya ayah Ira juga meminta istrinya untuk meletakkan potongan bawang putih di dalam wadah. Dan saat kepala diletakkan di dalam wadah, kepala itu tampak bergetar seolah kesakitan. Hanya sebentar. Karena detik berikutnya kepala itu diam tak bergerak lagi.
"Ternyata setelah mati terbakar penampilan kuyang itu tetep serem ya," kata warga.
"Betul Pak. Apalagi saat masih berwujud kuyang tadi," sahut ayah Yulia.
Setelah kepala kuyang itu tak bergerak lagi, warga pun meninggalkan rumah orangtua Yulia, termasuk Mario dan teman-temannya.
Tiba di rumah kost mereka disambut oleh Ferdi.
__ADS_1
"Gimana, bener kan kata Gue ?" tanya Ferdi yang baru saja selesai mandi dan telah berganti pakaian.
"Iya," sahut teman-temannya.
"Kok Lo diem aja, Lo takut Mario ?" tanya Ferdi.
"Ga takut, cuma lagi mikir," sahut Mario cepat.
"Mikir apaan ?" tanya Ferdi.
Kemudian Mario menceritakan apa yang dilihatnya saat tiba di rumah orangtua Yulia tadi. Mario juga menceritakan upaya ayah Yulia memasukkan kepala kuyang itu ke dalam wadah kaca.
"Kok Gue ngerasa kepala kuyang itu masih hidup waktu dimasukin ke dalam wadah kaca. Matanya terbuka sedikit, terus ngeliatin Gue kaya mau minta tolong gitu. Entah kenapa, ngeliat matanya bikin Gue sedih. Gue merasa kenal sama dia. Tapi siapa ya, terus kapan dan dimana Gue kenalan sama manusia jelmaan kuyang," kata Mario gusar.
"Perasaan Lo doang kali. Kan bukan cuma Lo tapi semua orang juga ngeliat kalo kepala itu bergerak waktu dipindahin ke dalam wadah tadi," sela teman Mario yang ikut ke rumah orangtua Yulia.
"Iya. Lagian bener kata Ayahnya Mbak Yulia. Kita tunggu aja sampe besok kabar orang yang meninggal dunia tanpa kepala," kata teman lainnya.
Mario dan Ferdi saling menatap sejenak kemudian mengangguk. Mereka hanya bisa menunggu jasad siapa yang akan ditemukan tanpa kepala besok !.
\=\=\=\=\=
"Darimana suaranya Yo ?" tanya Ferdi.
"Kayanya dari rumah Ibu kost !" sahut Mario.
"Ga mungkin !. Dari belakang rumah Kita kok !" sahut teman lainnya.
Untuk sejenak Mario dan Ferdi saling menatap sambil menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Saat jeritan itu terdengar sekali lagi, mereka pun bergegas menghambur ke rumah pemilik kost setelah menutup pintu.
Ferdi pun mengetuk pintu rumah pemilik kost dengan keras sambil memanggil nama Ira berulang kali. Mbok Ti yang memang tinggal di rumah itu pun bergegas membuka pintu lebar-lebar.
"Ada apa Mbok ?"
"Siapa yang teriak barusan ?!"
__ADS_1
"Apa ada yang sakit atau luka Mbok ?"
Tanya Ferdi dan temannya bersamaan.
Bukannya menjawab pertanyaan mereka, Mbok Ti justru lari kearah tangga lalu menunjuk ke lantai atas dimana sang majikan berada.
"Kalian duluan aja. Sa-Saya ngatur nafas dulu," kata Mbok Ti dengan nafas terengah-engah.
Ferdi, Mario dan teman-temannya mengangguk lalu bergegas naik ke lantai atas.
Mereka berhenti di depan kamar dimana Ibu Ira terduduk sambil menangis dengan wajah sepucat mayat. Saat Ferdi dan Mario melihat ke dalam kamar mereka terkejut melihat tubuh Ira terbaring tanpa kepala di atas tempat tidur.
"Astaghfirullah aladziim, Ira !" kata Mario dan Ferdi bersamaan.
Teman-teman Ferdi dan Mario yang baru saja tiba di lantai atas pun ikut menatap ke dalam kamar dan terkejut bukan kepalang melihat kondisi Ira.
"Jadi kuyang itu ternyata Ira ?!" kata salah seorang penghuni kost.
Ucapan pria itu membuat ibu Ira menjerit dan menangis makin keras. Sesaat kemudian tubuh wanita itu limbung lalu jatuh ke lantai dalam kondisi tak sadarkan diri.
\=\=\=\=\=
Penemuan jasad Ira dalam kondisi tak wajar telah membuat gempar. Semua orang datang berbondong-bondong ke rumah pemilik kost hanya untuk membuktikan berita panas itu.
Karena situasi makin tak kondusif, Ferdi berinisiatif menghubungi polisi untuk mengawal proses pengurusan jenasah Ira. Saat polisi tiba di lokasi, justru mereka mengambil alih semuanya. Mulai dari proses pemindahan jasad Ira hingga proses pemakamannya. Bahkan jasad Ira sempat dibawa ke Rumah Sakit untuk diautopsi.
Setelah jasad Ira dilarikan ke Rumah Sakit menggunakan Ambulans, warga yang masih bertahan di sana pun mulai membicarakan Ira. Sebagian menganggap jika Ira meninggal karena dibunuh. Tapi sebagian lain justru berakeyakinan lain. Mereka juga menghubungkan kematian Ira dengan kuyang yang menyerang Yulia di malam sebelumnya.
Meski berusaha menyangkal berita itu, toh ibu Ira tak bisa berkelit lagi. Apalagi hingga detik terakhir kepala Ira tak juga ditemukan.
Yang lebih mengejutkan, selain ditemukan tanpa kepala, tubuh Ira juga kehilangan organ dalam. Tak ada setetes darah pun yang ditemukan tercecer di tempat tidur dan lantai sebagai petunjuk jika kepala Ira hilang karena dimutilasi oleh pembunuhnya. Justru kondisi ruangan yang bersih dari darah menguatkan keyakinan warga dan polisi jika kepala Ira pergi meninggalkan tubuhnya dengan suka rela dan tanpa paksaan. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang menganut ilmu hitam.
Dugaan warga jika Ira adalah jelmaan kuyang pun makin menguat dan membuat semua yang mengenal Ira makin shock.
\=\=\=\=\=
__ADS_1