Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
22. Ngambek


__ADS_3

Setelah mendengar ucapan Arti, Anna pun cemas. Bahkan ia meminta suaminya agar bisa pulang lebih awal setiap harinya. Permintaan sang istri membuat Bayan bingung.


"Kan bayinya udah lahir Bund, masa Kamu masih ngidam aja sih ?" tanya Bayan.


"Ngidam gimana sih maksud Ayah ?" tanya Anna tak mengerti.


"Itu barusan. Kamu kan minta supaya Aku pulang lebih awal tiap hari, padahal Kamu tau kalo kerjaanku itu hampir ga punya limit waktu. Karyawan ku memang ada jam kerjanya, tapi Aku kan beda Bund. Aku ini owner perusahaan yang harus aktif menjalin kerja sama dengan pihak lain supaya perusahaan Kita berkembang pesat. Dan waktu yang dibutuhkan tuh ga singkat Sayang. Justru pertemuan bisnis seringkali terjadi diluar jam kerja. Jadi gimana caranya Aku pulang lebih awal setiap hari," kata Bayan sambil mencubit pipi Anna dengan gemas.


"Tapi Aku minta Kamu pulang cepet selama empat puluh hari aja Yah. Selebihnya Kamu bisa balik kaya biasa lagi deh. Bisa kan Yah ?" tanya Anna penuh harap.


"Kasih Aku satu alasan yang masuk akal, mungkin bisa Aku pertimbangkan nanti," sahut Bayan.


Anna menghela nafas panjang sebelum menjelaskan apa yang dikhawatirkannya. Anna juga menceritakan apa yang diucapkan Arti tadi. Bayan mencoba memberi pemahaman pada sang istri jika itu tak akan terjadi.


"Kita kan tinggal di kota besar Bund. Makhluk yang Arti ceritain itu cuma ada di kampung. Kenapa begitu ?, mungkin karena di kampung suasana dan lingkungannya masih mendukung," kata Bayan sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran tempat tidur.


"Tapi kalo Aku bilang Aku juga ngeliat sesuatu di jendela kamar Kita tadi, apa Kamu percaya Yah ?" tanya Anna sambil menatap Bayan dengan tatapan tajam.


Ucapan Anna membuat Bayan tersentak kaget. Ia balik menatap wajah Anna dan melihat ketakutan di sana. Bayan percaya dengan ucapan Anna namun ia tak ingin sang istri cemas.


Bayan pun mengulurkan kedua tangannya lalu meraih Anna ke dalam pelukannya. Anna meronta karena kesal. Anna yakin suaminya tak percaya padanya dan tak akan mau menuruti permintaannya.


"Jadi Kamu ga percaya Yah. Ya udah gapapa, kalo gitu Aku pulang aja ke rumah orangtuaku. Aku pikir di sana lebih aman. Selain banyak orang yang bakal menjaga Aku dan Anak-anak, mereka juga pasti sepaham sama yang Aku pikirin," kata Anna ketus.


Mendengar ucapan istrinya membuat Bayan panik. Ia berusaha membujuk Anna namun gagal. Anna terlanjur kecewa dan memilih pergi keluar kamar. Bayan tahu kemana tujuan Anna. Bayan ingin menyusul sang istri tapi ia khawatir dengan bayinya jika ditinggal seorang diri.


Sedangkan Anna nampak masuk ke kamar Nathan. Ia berniat tidur bersama sang anak sulung malam itu. Saat membuka pintu kamar, ia melihat Arti sedang menyelimuti Nathan.


"Apa Nathan udah tidur Ti ?" tanya Anna sambil melangkah masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Udah Bu, baru aja tidur," sahut Arti sambil tersenyum.


"Saya mau tidur di sini malam ini Ti," kata Anna sambil membaringkan tubuhnya di samping Nathan.


Ucapan Anna membuat Arti terkejut. Rasanya tak masuk akal Anna meninggalkan bayi yang baru dia lahirkan hanya karena ingin tidur dengan anak sulungnya itu. Arti tahu pasti telah terjadi sesuatu dengan sang majikan.


Karena tak ingin ikut campur dalam urusan pribadi sang majikan, Arti pun mengangguk lalu kembali ke tempat tidurnya di sudut kamar.


Anna nampak tersenyum melihat Nathan tidur dengan tenang. Sesekali ia menciumi sang anak sambil mengatakan banyak hal. Arti yang mendengar ucapan Anna pun tersenyum diam-diam.


"Maafin Bunda ya Nak. Sejak ada Bi Arti, Bunda ga nemenin Nathan bobo lagi. Soalnya Bunda khawatir Nathan nendang perut Bunda, kan Nathan bobonya ga bisa diem. Tapi percaya deh, Bunda sayang sama Kamu selamanya dan ga akan berubah meski pun udah ada Adik sekarang," bisik Anna sambil mengecup kening Nathan.


Setelahnya Anna memeluk Nathan dengan erat. Anna juga mengusap punggung sang bocah sambil membisikkan sesuatu.


Tak lama kemudian keheningan pun menyelimuti ruangan. Saat Arti menoleh, ia melihat Anna telah terlelap sambil memeluk Nathan. Anna menggelengkan kepala sambil tersenyum. Selama ia mengasuh Nathan, baru kali ini Anna tidur bersama mereka di kamar itu.


"Mudah-mudahan masalahnya ga berlarut-larut ya Bu. Kasian si Adik kalo Bundanya ngambek," gumam Arti dengan tulus.


\=\=\=\=\=


dini hari Bayan masih terjaga. Ia tetap duduk sambil mengamati bayinya yang terlelap di box bayi. Bayan bersyukur karena bayinya tak rewel sama sekali hingga ia tak perlu membujuk atau menenangkannya.


Namun Bayan khawatir karena sang bayi tidur terlalu lama. Ia tak ingin sang bayi tak mendapat asupan nutrisi sebagaimana seharusnya. Padahal satu-satunya nutrisi yang bisa bayi dapatkan hanya melalui ASI. Dan sekarang Bayan bingung karena sang pemilik ASI sedang merajuk karena tak dituruti keinginannya.


"Kok lama banget sih bobonya Nak. Beda banget sama Abang Nathan dulu. Kalo Abang Nathan, tiap dua jam sekali pasti bangun buat minum ASI," kata Bayan sambil mengusap pipi sang bayi dengan lembut.


Bayan tersenyum saat melihat bayinya menggeliat karena sentuhannya tadi. Bayan pun meraba ke bagian bawah tubuh sang bayi untuk mengecek kondisi diapers sang bayi. Ia terkejut saat mengetahui diapers yang digunakan bayinya terasa penuh.


Bayan pun mengganti diapers yang penuh dengan diapers baru. Bayan melakukannya dengan baik hingga bayinya sama sekali tak terusik dan menangis.

__ADS_1


"Kenapa Bundanya ga balik-balik ya. Pasti gara-gara ngambek sampe ketiduran deh. Apa ga tau ya kalo Nicko juga butuh ASI," gumam Bayan gusar.


Setelah mengganti day pers, Bayan menggendong bayinya lalu membawanya keluar kamar untuk menjemput Anna.


Bayan langsung menuju ke kamar Nathan dan menggelengkan kepala melihat sang istri terlelap di samping anak sulungnya. Arti yang mendengar suara pintu kamar terbuka pun terbangun. Ia bangkit dan duduk di atas tempat tidur.


"Bapak cari Ibu ?" tanya Arti basa basi.


"Iya Ti. Tolong bangunin Ibu ya, bilang si Adik nangis minta susu," sahut Nathan sambil berlalu.


"Iya Pak," sahut Arti lalu bergegas turun dari tempat tidur.


Perlahan Arti mendekati Anna lalu membangunkannya. Anna nampak berbalik lalu mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan diri.


"Ada apa Ti ?" tanya Anna.


"Adik nangis Bu. Keliatannya dia lapar," sahut Arti.


"Kok Kamu tau, Saya aja ga denger apa-apa kok," kata Anna sambil menguap.


"Barusan Bapak ke sini Bu. Cuma karena khawatir Nathan bangun denger suara tangis Adiknya, makanya Bapak nyuruh Saya yang bangunin Ibu," sahut Arti.


Anna pun menoleh kearah jam dinding dan terkejut saat melihat jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Artinya ia telah meninggalkan bayinya lebih dari lima jam.


Dengan tergesa-gesa Anna pun turun dari tempat tidur lalu melangkah keluar kamar. Ia cemas sekaligus menyesal karena telah membiarkan bayinya tanpa ASI dalam waktu yang relatif lama.


Di depan kamar Anna berpapasan dengan Bayan yang sedang menimang bayi mereka. Tanpa bicara Anna langsung meraih Nicko dari gendongan Bayan lalu membawanya ke ruang tengah.


Melihat sikap diam sang istri Bayan tahu jika Anna masih 'ngambek'. Bayan hanya bisa menggelengkan kepala melihatnya. Dalam hati Bayan bersyukur, meski pun ngambek namun Anna masih mau menyusui bayinya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2