
Setelah kepergian dokter dan perawat, Rosi masih duduk sambil menatap wajahnya di cermin.
"Kenapa harus separah ini ?. Kalo gini susah untuk bergerak dong," gumam Rosi sambil mengepalkan tangannya.
Kemudian Rosi menatap ke jendela. Ia melihat cahaya bulan menerobos masuk melalui sela gorden ke dalam kamar.
"Harusnya sekarang Aku bisa leluasa menikmati semuanya karena di sini kan tempat yang menyenangkan. Tapi gara-gara luka ini Aku jadi ga bisa kemana-mana. Jangankan untuk mengejar mereka, bergerak sedikit atau kena angin aja lukanya terasa sakit," gerutu Rosi.
Rosi memang harus menahan hasratnya untuk mengonsumsi darah para bayi dan wanita hamil. Kondisi luka di wajah dan lehernya yang membuatnya kesakitan itu menghalangi ruang geraknya.
Karena tak bisa melakukan apa pun meski pun ingin, akhirnya Rosi membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Sedangkan di kamar rawat inap Hilya terlihat Nathan berjaga sambil berbaring dan terus mengusap punggung Hilya dengan lembut.
"Apa Hilya belum tidur Nath ?" tanya Anna.
"Baru tidur Bund," sahut Nathan setengah berbisik.
"Syukur lah akhirnya dia bisa tidur. Bunda perhatiin Hilya gelisah terus beberapa malam ini," kata Anna.
"Bukannya wajar ya Bund," kata Nicko yang saat itu sengaja berkunjung untuk memberi semangat kepada kakak dan iparnya.
"Wajar gimana maksud Kamu ?" tanya Anna.
"Kan wanita yang mau melahirkan emang punya ketakutan sendiri menghadapi saat menegangkan itu Bund," sahut Nicko.
"Oh kalo itu sih Bunda paham. Cuma apa yang Hilya perlihatkan tuh beda. Bunda merasa Hilya jadi lebih posessif. Dia seringkali kedapatan lagi meluk perutnya erat banget. Saking eratnya Bunda sampe khawatir dia melukai bayinya di dalam sana," sahut Anna gusar hingga membuat Nicko mengerutkan keningnya.
"Masa sampe segitunya Bund ?" tanya Nicko sambil menatap wajah sang bunda lekat.
"Iya Nick. Bahkan Bunda sampe ngira kalo Hilya itu lebih memilih bayi-bayinya tetap berada di dalam rahimnya itu daripada lahir tapi harus menghadapi bahaya," kata Anna sambil menatap Hilya.
"Bahaya apa Bund ?" tanya Nicko penasaran.
"Ga tau. Tapi entah kenapa Bunda juga merasa khawatir yang berlebih sama mereka. Ini beda banget sama kelahiran Anakmu dan Fikri. Bunda merasa cemas menunggu kelahiran Cucu, itu pasti. Tapi kenapa yang sekarang lebih deg-degan rasanya," sahut Anna sambil mengusap wajahnya.
Pembicaraan Anna dan Nicko membuat Nathan dan Bayan yang juga ada di ruangan itu saling menatap penuh makna.
"Ga usah terlalu berlebihan Bund, ga baik lho. Sebaiknya Kamu istirahat juga biar lebih relaks," kata Bayan sambil bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Iya. Terus Ayah mau kemana malam-malam begini ?" tanya Anna.
"Cari angin sekalian nganterin Nicko ke depan," sahut Bayan.
Nicko yang tahu dirinya diusir pun tersenyum lalu mencium kening sang bunda.
"Aku pulang ya Bund," kata Nicko.
"Iya, hati-hati. Ga usah mampir kemana-mana lagi, kasian Danti dan Anakmu," kata Anna yang disambut anggukan kepala oleh Nicko.
Kemudian Nicko melambaikan tangan kearah Nathan yang nampak merespon dengan menganggukkan kepala sambil mengacungkan jempolnya. Ia tak ingin bersuara karena bisa membangunkan Hilya yang baru saja terlelap.
Nicko pun keluar dari kamar saat sang ayah membukakan pintu untuknya.
Kemudian Bayan dan Nicko melangkah bersisian menyusuri koridor Rumah Sakit. Keduanya nampak berbincang santai sambil sesekali tertawa.
Saat itu tak sengaja keduanya berpapasan dengan dokter dan perawat yang menangani Rosi. Bayan membisu saat aroma yang diketahui sebagai aroma siluman kuyang menyeruak masuk ke rongga penciumannya. Bayan bahkan berhenti melangkah lalu mengamati dokter dan perawat itu hingga keduanya menjauh.
Aksi Bayan tentu saja mengejutkan Nicko. Ia berdiri menunggu sambil menatap Bayan lekat.
"Ada apa Yah ?. Apa Ayah kenal sama dokter atau perawat itu ?" tanya Nicko.
"Kalo ga kenal kenapa ngeliatinnya sampe kaya gitu ?" tanya Nicko tak percaya.
"Sampe kaya gitu gimana sih maksud Kamu ?" tanya Bayan pura-pura tak mengerti.
"Ck, Ayah tuh ngeliatinnya sampe balik badan lho. Itu artinya Ayah penasaran sama salah satu diantara mereka atau justru keduanya," sahut Nicko sambil berdecak sebal.
Bayan tersenyum lalu merengkuh pundak Nicko dan membawanya melangkah.
"Kamu ga lagi mata-matain Ayah kan Nick ?" tanya Bayan.
"Ga, untuk apa ?" tanya Nicko.
"Kan itu kebiasaan jelek Kamu dulu yang sering bikin Bunda salah paham sama Ayah," sahut Bayan sambil menjitak gemas kepala sang anak.
Nicko pun tertawa karena mengingat caranya mengadukan kelakuan sang ayah. Semula Anna akan bersikap tenang, namun karena terus diprovokasi olehnya maka singa betina itu pun akhirnya mengamuk.
"Kalo dipikir-pikir Aku jahat juga ya karena bikin Bunda sama Ayah berantem hebat dulu," kata Nicko setelah tawanya mereda.
__ADS_1
"Iya. Ayah sampe ga abis pikir kenapa Kamu ngelakuin itu lho Nick," kata Bayan sambil menggelengkan kepala.
"Abisnya Ayah sama Bunda tuh terlalu tenang, adem ayem, ga pernah ribut, kalo ngomong ga ada emosi. Semua selalu berjalan mulus dan itu bikin Aku penasaran. Sebenernya Bunda sama Ayah nih saling cinta atau ga sih ?. Atau justru lagi menyembunyikan bara di dalam hati dan berpura-pura akur di depan Kami. Makanya Aku sengaja provokasi Bunda supaya marah sama Ayah. Nah dari situ Aku bisa liat gimana perasaan Bunda sama Ayah dan sebaliknya," sahut Nicko sambil tertawa.
Bayan ikut tertawa mendengar pengakuan sang anak. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan dan berpisah di loby Rumah Sakit.
Jika Nicko melangkah menuju parkiran Rumah Sakit, maka Bayan bertahan di loby sambil duduk dan mengamati sekelilingnya.
Saat itu Bayan kembali mengingat ucapan istrinya dan apa yang ia temui di koridor tadi.
"Kenapa semuanya saling berhubungan ya. Hilangnya Rosi, apa yang Istriku bilang dan aroma kuyang di tubuh dokter dan perawat itu. Jangan-jangan memang siluman itu sembunyi di sini. Kalo iya, dimana ?," batin Bayan gusar.
Saat itu lah tatapan Bayan melayang ke meja receptionist. Ia melihat dokter dan perawat yang memiliki aroma kuyang itu nampak sedang bicara dengan perawat lain.
Tak ingin membuang kesempatan, Bayan pun mendekat kearah mereka. Rupanya Bayan berniat menguping pembicaraan mereka.
Beruntung ada pilar besar di dekat meja receptionist hingga Bayan bisa sembunyi di sana. Dari jarak dua meter Bayan bisa mendengar isi pembicaraan mereka.
"Siapa namanya ?" tanya dokter yang menangani Rosi yang kemudian diketahui bernama Mutia.
"Katanya sih Zaki dok. Dia ngaku sebagai pengacara Suaminya Bu Rosi yang namanya Pak Suro. Pak Zaki hanya mau memastikan kalo Bu Rosi menggunakan kartu kredit yang dipegangnya untuk membiayai operasinya nanti," sahut perawat di meja receptionist.
"Terus Kamu bilang apa ?" tanya dokter Mutia.
"Saya iya-in aja. Terus Saya minta nemuin dokter Mutia kalo mau tau lebih lanjut gimana kondisi Bu Rosi," sahut sang perawat.
"Ok, bagus itu. Sebenernya Saya heran juga kenapa setelah dirawat beberapa hari di sini ga ada seorang pun yang menjenguk Bu Rosi. Keliatannya lagi ada masalah antara Bu Rosi dan keluarga suaminya itu. Tapi itu bukan urusan Kita Sus. Selagi semua yang menyangkut Rumah Sakit dan pasien diselesaikan dengan baik, Kita ga bisa ikut campur. Dan kalo pengacara Suaminya Bu Rosi datang lagi, tolong suruh temui Saya ya Sus," kata dokter Mutia.
"Baik dok," sahut sang perawat.
Kemudian dokter Mutia melangkah meninggalkan meja receptionist. Sedangkan perawat yang datang bersamanya masih bertahan di sana dan membicarakan Rosi.
Dari sana lah Bayan tahu jika Rosi mengalami kecelakaan dan terluka parah. Bahkan kini Rosi sedang bersiap menjalani operasi plastik.
"Ini gawat dan harus secepatnya dihentikan. Sekarang aja sulit ngejar dia apalagi kalo sampe dia ganti muka," gumam Bayan sambil melangkah meninggalkan loby Rumah Sakit.
Tujuan Bayan hanya satu yaitu menemui Nathan untuk membicarakan keberadaan Rosi di Rumah Sakit itu.
\=\=\=\=\=
__ADS_1