Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
222. Sekarang Yah ...!


__ADS_3

Bayan membuka pintu kamar rawat inap Hilya dan melihat Nathan sedang meneguk kopi di cangkirnya. Itu pertanda Hilya tak butuh Nathan saat ini.


"Nath ...!" panggil Bayan hingga membuat Nathan menoleh.


"Iya Yah, ada apa ?" tanya Nathan sambil bergegas menghampiri sang ayah.


"Kita bicara di luar sebentar yuk. Penting !" kata Bayan tegas.


Nathan menoleh kearah istrinya yang nampak masih terlelap itu lalu mengangguk. Kemudian Bayan mengajak Nathan bicara di luar kamar.


Saat itu Bayan menceritakan apa yang didengarnya mengenai Rosi. Tentu saja itu membuat Nathan panik. Ia tak mungkin memindahkan Hilya ke Rumah Sakit lain karena ingin menghindari Rosi. Apalagi persalinan Hilya sudah dekat dan semua sudah disiapkan matang-matang.


"Terus sekarang gimana Yah ?" tanya Nathan.


"Sebenernya ini kesempatan terbaik Kita untuk menyerang Rosi, Nath," sahut Bayan.


"Harus sekarang Yah ?!" tanya Nathan.


"Ga juga. Setidaknya Kita serang dia sebelum dia menjalani operasi plastik. Karena menurut Ayah saat itu adalah kondisi terlemahnya," sahut Bayan.


"Tapi Kita kan ga tau dimana kamar Bu Rosi dirawat sekarang Yah," kata Nathan gusar.


Bayan mengangguk dan mencoba berpikir bagaimana caranya mendapatkan informasi tentang keberadaan Rosi sekarang. Karena ia yakin pihak Rumah Sakit tak akan membiarkan data pribadi pasien diketahui oleh orang lain begitu saja.


"Dokter Yusuf !" kata Bayan dan Nathan bersamaan lalu keduanya tertawa.


"Cuma dia yang bisa Kita mintai pertolongan sekarang. Kan dokter Yusuf bersedia membantu Kita membasmi siluman yang udah menyakiti Avin dan Anak-anak lainnya itu Yah," kata Nathan antusias.


"Betul. Hubungi dia Nath, Ayah mau ngobrol penting. Mudah-mudahan dia juga dinas malam ini, jadi rasa penasaran Ayah bisa segera terjawab," kata Bayan.


Nathan pun mengangguk lalu meraih ponsel dari saku bajunya. Sesaat kemudian Nathan berhasil bicara dengan dokter Yusuf. Wajah Nathan nampak sumringah saat mengetahui dokter Yusuf ada di Rumah Sakit saat itu.


"Apa katanya Nath ?" tanya Bayan tak sabar.


"Sebentar lagi dia ke sini Yah. Sekarang lagi ngecek pasien Anak-anak di kamar VIP," sahut Nathan.


"Kok Kamu tau kalo dia lagi ada di ruang VIP Nath ?" tanya Bayan tak mengerti.


"Cuma nebak aja Yah, abisnya sepi banget. Ga ada suara apa pun di belakangnya kecuali suara alat yang berbunyi nyaring," sahut Nathan sambil menggedikkan bahunya.


Jawaban Nathan membuat Bayan tersenyum sambil menggelengkan kepala.


Tak lama kemudian dokter Yusuf nampak berjalan tergesa-gesa mendekat kearah Bayan dan Nathan.


"Pak Bayan !" panggil dokter Yusuf sambil melambaikan tangannya.


"Alhamdulillah akhirnya dokter Yusuf datang juga. Sini dok, ada hal penting yang mau Saya tanyain," kata Bayan sambil menepuk tempat kosong di sampingnya.

__ADS_1


"Apa sekarang waktunya Pak ?" tanya dokter Yusuf tak sabar.


"Maunya sih gitu. Tapi sayangnya Kami ga punya info akurat dimana siluman itu berada sekarang. Keliatannya cuma dokter Yusuf yang bisa bantu Kami untuk nyari info," sahut Bayan sambil tersenyum.


Kemudian Bayan menceritakan apa yang ia ketahui tentang Rosi pada dokter Yusuf. Pria itu nampak mengerutkan keningnya seolah berusaha mengingat pasien kecelakaan yang mengalami luka parah dan harus menjalani operasi plastik.


"Kalo ga salah nama dokter yang menangani pasien itu Mutia, dok," kata Bayan setelah terdiam beberapa saat.


"Oh, dokter Mutia. Iya, Saya kenal sama beliau. Kalo pasien dokter Mutia yang Pak Bayan maksud, jelas Saya tau. Pasien itu ada di kamar rawat inap kelas dua," sahut dokter Yusuf.


"Wah hebat banget Bu Rosi. Bisa-bisanya dapat fasilitas nomor dua. Emangnya dia punya uang buat bayar kamar dan operasi nanti dok ?" tanya Nathan dengan mimik wajah tak suka.


Ucapan Nathan tentu saja membuat dokter Yusuf tersenyum. Ia paham bagaimana perasaan Nathan saat ini. Tapi Bayan justru mengingatkan sang anak agar tak mengumbar kebencian yang tak perlu.


"Nathan ...," panggil Bayan sambil menggelengkan kepala.


"Maaf Yah, Aku keceplosan. Abisnya Aku kesel banget. Waktu kerja di Kliniknya Hilya kan Bu Rosi berlagak jadi orang miskin yang ga punya uang dan keluarga. Tapi dalam waktu beberapa bulan aja dia bisa tinggal di kontrakan yang lumayan bagus dan sekarang dirawat dengan fasilitas yang terbilang mahal," sahut Nathan cepat.


"Kita fokus ya Nath. Abaikan yang lain dan fokus sama tujuan Kita," kata Bayan mengingatkan.


"Ok Yah," sahut Nathan cepat.


"Jadi bisa kan dokter antar Saya ke sana sekarang ?" tanya Bayan sambil menoleh kearah dokter Yusuf.


"Jangan sekarang ya Pak Bayan. Saya masih harus mengecek pasien setelah ini. Saya juga harus menjaga pasien Saya yang satunya lagi. Kalo Saya tinggalin, Saya khawatir terjadi sesuatu yang buruk sama dia nanti," sahut dokter Yusuf tak enak hati.


"Gapapa dok, Saya ngerti kok," kata Bayan sambil berusaha tersenyum.


"Pak Bayan ga usah khawatir. Dia baru akan menjalani operasi beberapa hari ke depan. Jadi kesempatan Kita untuk mematahkan niat jahatnya bisa Kita lakukan besok," kata dokter Yusuf.


"Besok ?" ulang Nathan ragu.


"Iya, kenapa Mas ?" tanya dokter Yusuf.


"Gapapa sih dok. Tapi besok pas banget sama waktu Istri Saya menjalani operasi Caesar," sahut Nathan.


Jawaban Nathan membuat Bayan, dokter Yusuf dan Nathan terdiam beberapa saat.


"Insya Allah Ayah yang bakal selesaikan semuanya nanti Nath. Kamu fokus aja sama Hilya dan bayi Kalian," kata Bayan sambil menepuk bahu Nathan.


Nathan mengangguk ragu. Meski ia percaya sang ayah mampu menghadapi siluman itu seorang diri, namun Nathan berharap bisa menjadi saksi musnahnya siluman pemangsa bayi itu.


\=\=\=\=\=


Sejak siang hari tepatnya usai menunai sholat Dzuhur, Hilya sudah diminta untuk berpuasa. Itu adalah rangkaian persiapan yang dilakukan pasien menjelang operasi.


Nathan tampak mendampingi Hilya dan berusaha memberi motivasi pada sang istri sedangkan keluarga mereka nampak duduk bercengkrama di dalam ruangan.

__ADS_1


Suasana saat itu terbilang kondusif untuk seorang yang akan menjalani operasi.


"Jangan lupa dzikirnya ya Sayang. Walau dibantu murrotal yang distel di HP, tapi akan lebih bermakna kalo Kamunya yang berdzikir," kata Nathan mengingatkan.


"Iya Sayang," sahut Hilya sambil tersenyum.


"Semoga operasinya berjalan lancar ya," kata Nathan sambil mengecup perut Hilya dengan lembut.


"Aamiin ...," sahut Hilya dan semua orang di ruangan itu bersamaan.


"Ini doa yang sama yang Kamu ucapkan kesekian kalinya lho Nath," gurau Anna.


"Iya Bund, maaf. Abis Aku bingung gimana cara membagi rasa sakit yang bakal Hilya rasain nanti," sahut Nathan malu-malu.


"So sweeettt ..., kalo ga denger langsung kayanya Aku ga percaya kalo Kamu yang ngomong gitu barusan Bang," kata Nicko sambil mencibir dan disambut tawa semua orang.


"Udah jangan gangguin Nathan terus. Biar dia fokus sama Istri dan bayinya !" kata nenek Hilya lantang hingga membuat tawa semua orang yang ada di ruangan itu terhenti.


Nathan yang merasa di atas angin karena dibela oleh nenek Hilya nampak tersenyum penuh kemenangan. Hal itu tentu saja membuat Nicko dan tiga sepupu Hilya melengos kesal.


Tiba-tiba Bayan masuk ke dalam ruangan. Wajahnya terlihat tegang dan itu membuat Nathan curiga.


"Ada apa Yah ?" tanya Nathan.


"Mmm ..., Kita ngobrol di luar sebentar Nath," ajak Bayan.


Nathan mengangguk lalu mengikuti Bayan keluar kamar.


"Rosi juga bakal dioperasi sore ini Nath !" kata Bayan saat mereka tiba di luar kamar.


"Artinya apa Yah ?" tanya Nathan tak mengerti karena saat ini pikirannya memang sedang kacau.


"Kesempatan Kita untuk memusnahkan siluman itu bakal hilang Nath. Karena setelah Rosi dioperasi, kondisinya bisa jadi lebih baik dari sekarang. Dan itu bakal menyulitkan Kita nanti," sahut Bayan gusar.


"Astaghfirullah aladziim ..., kalo gitu Kita harus bergerak sekarang Yah. Jangan mengulur waktu lagi karena Aku ga bisa bayangin dia menyerang keluarga Kita untuk membalas dendam nanti !" kata Nathan panik karena rencana mereka menyerang Rosi malam nanti harus dimajukan lebih awal.


Bayan menatap Nathan sejenak lalu mengangguk.


"Kalo gitu siapkan dirimu Nath. Ayah bakal panggil Fikri sekarang," kata Bayan sambil mengeluarkan ponselnya dari saku baju.


"Jangan lupa libatkan dokter Yusuf Yah !" kata Nathan mengingatkan.


Bayan kembali mengangguk lalu menghubungi Fikri dan memintanya datang ke Rumah Sakit segera. Setelahnya Bayan meminta Nathan masuk ke kamar rawat inap Hilya karena ia akan memanggil dokter Yusuf.


Nathan mengalah dan membiarkan sang ayah yang mengatur pertemuan mereka nanti karena ia harus fokus pada Hilya sekarang.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2