
Setelah anak dan istrinya hampir menjadi korban siluman kuyang, Fikri menjadi lebih protektif. Meski awalnya menolak dan bingung dengan sikap suaminya, lama kelamaan Ayu pun terbiasa.
Sementara itu Nathan juga memperketat penjagaan pada Hilya. Nathan rela bolak balik ke klinik hanya karena ingin memastikan jika istrinya baik-baik saja. Sikap Nathan dimaklumi semua orang yang mengira Nathan hanya sedang mengalami euphoria sejenak atas kehamilan Hilya.
Dan siang itu Nathan kembali mengunjungi Hilya saat jam makan siang. Hilya yang memang telah terbiasa pun nampak menyambut kedatangan Nathan dengan senyum mengembang. Tak ada lagi sikap permusuhan yang ditunjukkan seperti awal kehamilannya dulu.
"Apa menu makan siang Kita kali ini Sayang ?" tanya Nathan.
"Mmm ..., Aku baru minta tolong Bu Rosi buat beliin makan siang. Aku lagi pengen makan nasi Padang siang ini. Apa pun lauknya ga masalah yang penting dibeli di warung nasi Padang," sahut Hilya sambil tersenyum.
Nathan ikut tersenyum. Ia tahu Hilya tak mungkin ceroboh dalam hal makanan karena dia adalah bidan yang paham dengan masalah kehamilan. Nathan yakin sang istri tak akan mengonsumsi makanan atau minuman yang membahayakan janin di dalam rahimnya itu.
Tak lama kemudian pintu ruangan Hilya diketuk. Hilya pun mempersilakan orang yang diduga Rosi itu untuk masuk.
"Gimana Bu, apa pesenan Saya ada ?" tanya Hilya saat Rosi masuk ke dalam ruangan.
"Ada Mbak. Rendang daging, ayam bakar, gulai cumi, pake sambel ijo dan lalapan yang banyak sama krupuk," sahut Rosi sambil menata makan siang itu di hadapan Hilya.
"Betul. Bu Rosi emang hebat. Makasih ya," kata Hilya dengan wajah berbinar menyaksikan makanan yang tersaji di hadapannya.
"Sama-sama Mbak," sahut Rosi sambil tersenyum.
"Bu Rosi beli juga kan ?, apa menunya ?" tanya Hilya.
"Saya ga suka nasi Padang Mbak. Jadi Saya beli gado-gado aja," sahut Rosi.
"Oh gapapa, Saya kan ga bisa maksa orang lain untuk suka sama apa yang Saya suka karena selera orang kan berbeda," kata Hilya sambil tersenyum.
"Iya. Kalo gitu silakan dimakan Mbak, Mas. Saya keluar dulu ya," pamit Rosi.
"Iya Bu," sahut Nathan dan Hilya bersamaan.
Nathan menatap makan siang di hadapannya sambil menggelengkan kepala.
"Ini lemak semua lho Sayang. Emangnya gapapa ya ?" tanya Nathan.
"Gapapa kok, Kamu tenang aja. Yang ga boleh itu kalo makannya banyak. Tapi Aku kan makannya cuma sedikit," sahut Hilya.
__ADS_1
"Terus untuk apa beli sebanyak ini ?" tanya Nathan tak mengerti.
"Kan ada Kamu yang bakal ngabisin," sahut Hilya santai hingga membuat Nathan melongo.
"Astaghfirullah aladziim ..., gimana Aku ga tambah gendut kalo gini caranya Sayang. Kamu beli makanan selalu banyak. Dicolek sedikit, terus sisanya nyuruh Aku ngabisin," kata Nathan tak berdaya.
"Sssttt ..., udah ga usah protes. Makan dulu baru ngomel ya. Aaa ... buka mulutnya biar Aku suapin," kata Hilya sambil menyodorkan nasi dan lauknya ke mulut sang suami.
Nathan nampak pasrah menerima suapan sang istri. Sesekali ia menggeleng saat melihat Hilya mencicipi semua makanan dengan lahap.
Usai makan siang Nathan pun bergegas keluar dari ruangan Hilya. Ia harus kembali ke kantor karena akan ada tamu penting yang datang nanti. Sambil melangkah Nathan nampak mengendurkan ikat pinggangnya akibat perutnya yang membuncit usai makan tadi. Nathan tak nyaman dengan kondisi pakaiannya yang terasa sesak.
Karena terlalu fokus memperbaiki penampilannya, Nathan tak sengaja menabrak Rosi yang saat itu baru saja keluar dari kamar mandi.
"Ups, maaf Bu ...," kata Nathan.
"Iya, gapapa Mas," sahut Rosi gugup sambil mengusap mulutnya yang nampak belepotan dengan punggung tangannya.
Nathan mengerutkan keningnya karena melihat sikap Rosi yang menurutnya tak biasa. Nathan menatap punggung Rosi yang menjauh itu dengan berbagai macam pertanyaan memenuhi benaknya.
"Katanya makan siang pake gado-gado, tapi kenapa mulutnya belepotan kuah berwarna merah gitu. Malah mirip darah daripada kuah sayur. Terus kenapa juga makan di kamar mandi bukan di ruang makan," gerutu Nathan sambil melangkah menuju keluar.
Tiba di dalam klinik Nathan melihat kerumunan orang di depan kamar mandi. Diantara mereka tampak Hilya yang berdiri mematung sambil menatap nanar kearah kamar mandi. Nathan menyeruak masuk lalu mendekati isrinya.
"Sayang, ada apa ?" tanya Nathan sambil menyentuh bahu Hilya dengan lembut.
Hilya menoleh tanpa menjawab lalu menunjuk kearah kamar mandi dengan jari telunjuknya.
Nathan mengikuti arah yang ditunjuk Hilya dan terkejut melihat seorang wanita terduduk di lantai dalam kondisi berlumuran darah. Wajah wanita itu tampak pucat pasi. Kedua matanya nampak menatap kosong kearah depan.
"Ada orang kecelakaan gini kok malah diem aja. Mana security. Security !" panggil Nathan lantang.
"Saya Pak !" sahut Riza lantang.
"Gimana sih Kamu. Ini ada orang jatuh di kamar mandi. Bukannya ditolongin kok malah didiemin aja. Kasian kan dia !" kata Nathan kesal.
"Maaf Pak. Saya baru aja menghubungi kepolisian. Ternyata wanita ini udah meninggal Pak. Saya udah minta Bu Rosi supaya mengunci pintu kamar mandi supaya ga ada yang bisa masuk ke sini tapi kayanya terlambat. Ibu ini terlanjur menerobos masuk ke dalam dan ngeliat semuanya," sahut Riza sambil melirik kearah wanita yang menjerit tadi.
__ADS_1
"Iya, padahal udah Saya tempelin label bertuliskan rusak di depan pintu ini. Tapi Ibu itu tetep aja masuk," sela Rosi dari belakang Nathan.
Nathan menoleh lalu meminta semua orang menjauh dari kamar mandi termasuk Hilya.
Ucapan istirja dan kasak kusuk terdengar silih berganti di sana hingga membuat suasana di dalam klinik menjadi kacau.
"Inna Lillahi wainna ilaihi rojiuun. Kasian banget wanita itu ...,"
"Siapa sih dia, kayanya bukan pasien ya,"
"Saya baru liat wanita itu hari ini. Jangan-jangan keluarga atau kerabat pasien,"
"Tapi ngeliat usianya dan penyebab meninggalnya kayanya bukan karena keguguran ya,"
Tak lama kemudian beberapa polisi tiba dan langsung memasang police line di sekitar kamar mandi. Karena ada kejadian luar biasa di klinik itu maka untuk sementara Klinik Bersalin Hilya ditutup. Semua karyawan dan pasien diminta meninggalkan klinik segera.
Nathan yang sedianya kembali ke kantor pun akhirnya bertahan di sana untuk membantu Hilya berkemas.
Sambil menemani Hilya yang sedang berkemas Nathan pun menghubungi sang ayah.
"Assalamualaikum Yah. Maaf, Aku ga bisa balik ke kantor karena ada kasus di Klinik Hilya," kata Nathan.
"Wa alaikumsalam, kasus apa Nath ?" tanya Bayan dari seberang telephon.
"Ada orang meninggal di kamar mandi Yah. Kematiannya ga wajar dan diduga di bunuh. Makanya Polisi minta semua orang yang ada di Klinik untuk keluar karena Klinik bakal disegel sementara. Aku lagi nemenin Hilya berkemas sekarang, jadi Aku ga bisa balik ke kantor," kata Nathan.
"Inna Lillahi wainna ilaihi rojiuun. Apalagi ini ya Allah ...," gumam Bayan yang masih bisa didengar oleh Nathan.
"Gimana Yah ?. Apa pertemuannya sama klien itu dipending aja dulu ?" tanya Nathan.
"Kamu ga usah cemas soal itu, biar Ayah yang urus nanti. Sekarang temenin Hilya, jangan biarkan dia sendiri. Dan tolong pastikan dia aman dan tetap tenang ya Nath," pinta Bayan.
"Ok. Aku bantu Hilya dulu ya Yah," kata Nathan di akhir kalimatnya.
Kemudian Nathan bergegas mendekati Hilya dan melarang sang istri mengangkat box yang berisi catatan medis para pasien. Hilya nampak menganggukkan kepala lalu mengekori Nathan yang berjalan keluar.
Tiba di luar ruangan mereka melihat polisi tengah menanyai beberapa karyawan klinik termasuk Rosi.
__ADS_1
Nathan berbincang sejenak dengan salah seorang polisi lalu melangkah keluar klinik bersama Hilya.
\=\=\=\=\=