Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
45. Nathan Liat Apa ?


__ADS_3

Sidang perceraian Rama dan Dita berjalan lancar. Alasan Rama menceraikan Dita ditambah bukti transfer yang dilakukan Dita pada keluarganya tanpa sepengetahuan Rama membuat Dita tak berkutik. Apalagi jumlahnya terbilang tak wajar dan bisa disebut pencurian terselubung. Dita pun hanya bisa pasrah saat Hakim memutuskan perceraiannya dengan Rama.


Yang mengejutkan Dita adalah karena Rama juga melaporkan kedua kakak laki-lakinya ke pihak kepolisian. Mereka dituduh telah menguasai aset pribadi milik Rama tanpa ijin. Dan itu membuat Dita marah sekaligus malu.


"Apa ga cukup Kamu mempermalukan Aku dengan perceraian ini Bang. Kenapa Kamu masih mempermalukan keluargaku juga ?!" tanya Dita lantang.


"Itu hakku, uangku, hartaku, hasil jerih payahku. Siapa yang ngasih hak sama mereka untuk memiliki semuanya ?. Jangan karena status mereka sebagai kakak ipar bikin mereka lupa diri dan mengakui sesuatu yang bukan miliknya !" kata Rama tak kalah lantang.


"Tapi ini bisa dibicarakan baik-baik kan Bang. Bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan juga, yah walau Kita bukan lagi keluarga sekarang ," kata Dita dengan mata berkaca-kaca.


"Maaf Dit. Ini udah termasuk tindakan kriminal. Kamu bisa pilih, ikut mendekam di penjara sama mereka atau diam !" kata Rama sambil menatap Dita lekat.


Dita pun terdiam takut mendengar ancaman Rama. Akhirnya Dita hanya bisa menyaksikan kedua kakak laki-lakinya digelandang ke kantor polisi.


Kedua orangtua Dita pun nampak meringkuk ketakutan saat melihat polisi berseragam masuk dan meringkus kedua anaknya yang saat itu tengah bersembunyi di rumahnya. Saat itu mereka melihat Rama yang berbeda dari yang selama ini mereka kenal. Ternyata Rama yang mereka anggap bodoh telah berhasil membuktikan jika dirinya pandai dan tak lengah.


Sebelum pergi Rama sempat mendekati kedua mantan mertuanya itu. Ia menyodorkan amplop berisi uang sambil mengatakan sesuatu.


"Terima kasih pernah menganggap Saya anak dan memanfaatkan Saya. Ini ada sedikit uang, gunakan dengan bijak supaya ga kelaparan. Karena Saya yakin mereka akan mendekam di penjara untuk waktu yang lama," kata Rama.


Dita dan kedua orangtuanya saling menatap sambil tersenyum. Mereka senang karena Rama masih peduli pada kehidupan mereka.


"Maafkan Kami Rama, maaf ...," kata ibu Dita sambil berurai air mata.


Rama mengangguk lalu bangkit dan bergegas melangkah. Namun ia berhenti di ambang pintu lalu mengatakan sesuatu yang membuat harapan Dita dan kedua orangtuanya pupus seketika.


"Oh Iya, itu uang terakhir yang bisa Saya kasih. Ke depannya jangan pernah datang menemui Saya apalagi minta uang dari Saya karena Kita bukan siapa-siapa lagi !" kata Rama tegas.


Setelahnya Rama bergegas masuk ke dalam mobil lalu melajukannya dengan cepat meninggalkan rumah mantan mertuanya itu. Dita dan kedua orangtuanya nampak terduduk lunglai di tempat masing-masing karena tak kuasa membayangkan akan hidup susah lagi seperti dulu.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Hari itu Rama mengundang Bayan dan Riko beserta keluarga mereka masing-masing ke rumah barunya. Yah, karena kesal selalu didatangi Dita dan orangtuanya, Rama memutuskan pindah dari rumah itu.


Rama memperlihatkan ruangan yang ada di rumah itu. Sebagian barang sudah ia pindahkan dan sisanya akan mencicil nanti.


Anna dan Mona pun tampak asyik melihat-lihat rumah baru Rama sambil bicara banyak hal. Bersama mereka ada Nathan, Nicko dan Arti.


"Kalo mau Anak-anak bisa istirahat di sini An," kata Rama sambil memperbaiki posisi bantal.


"Ga usah Bang, ga enak lah masa tidur di kamar yang bakal Lo tempatin sama Istri Lo nanti," sahut Anna sambil melirik kearah Mona.


"Jangan mulai lagi deh. Gue emang pengen married, tapi ga dalam waktu dekat ini lah. Gue masih seneng sendiri, enak ga pusing mikirin uang bulanan yang ga ada abisnya," sahut Rama sambil mendengus kesal.


"Uang bulanan itu jumlahnya pasti kok Bang. Yang ga pasti kan pengeluaran tak terduga. Itu pun ga tiap bulan lho. Iya kan Mon ?" tanya Anna sambil menatap Mona yang tengah menggendong Nicko.


"Iya," sahut Mona cepat.


Aksi Rama membuat Anna dan Mona tertawa. Sadar dengan kebodohannya membuat Rama ikut tertawa. Setelahnya Rama keluar dari kamar untuk menyusul kedua sahabatnya di ruang depan.


Anna dan Mona saling menatap dengan perasaan bahagia karena melihat Rama yang telah berhasil move on dari masa kelamnya bersama Dita.


"Menurut Gue, Bang Rama lebih keliatan happy saat sendiri tanpa Dita. Iya ga sih An. Ups, terkesan jahat ga sih anggapan Gue ini ?" tanya Mona sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Ga kok, emang itu yang terlihat. Bang Rama lebih fresh dan optimis sekarang dibanding saat bersama Dita," sahut Anna hingga membuat Mona tersenyum lega.


Setelah menidurkan Nathan dan Nicko, Anna dan Mona pun keluar dari kamar. Anna meminta Arti menemani kedua anaknya karena ia akan bergabung dengan suami dan teman-temannya.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Nathan terbangun lalu membuka matanya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri lalu tersenyum saat menyadari dirinya tak sedang berada di rumah. Di sampingnya terlihat sang adik yang berusia lima bulan sedang terlelap sambil memeluk boneka.


Bocah berusia hampir empat tahun itu ingat jika ia dan keluarganya diajak Rama berkunjung ke rumah barunya. Dan kini ia sedang berada di salah satu kamar di rumah Rama.


Nathan pun mengerjapkan mata dalam posisi tetap berbaring. Ia mencari sosok Arti sang pengasuh dan melihatnya sedang menunaikan sholat di sudut kamar.


Kemudian Nathan menoleh kearah jendela kamar dan ingat jika ia melihat sesuatu di sana tadi. Nathan pun bangkit lalu mendekati jendela untuk memastikan sesuatu yang dilihatnya tadi memang sepasang mata.


Sebelumnya Nathan memang melihat penampakan sepasang mata besar berwarna merah diantara rimbunan daun pohon rambutan. Nathan sempat memberitahu sang bunda tadi. Tapi karena saat itu Nicko juga menangis dengan keras membuat suara Nathan tak terdengar hingga 'laporannya' diabaikan begitu saja.


Dan kini Nathan berdiri di dekat jendela untuk mencari penampakan mata itu lagi. Karena ambang jendela kamar lumayan tinggi untuk Nathan, bocah itu pun menarik kursi lalu menaikinya. Kemudian Nathan mengedarkan pandangannya ke semua pohon rambutan yang berjajar rapi di samping rumah baru Rama itu.


Saat sedang asyik mengamati pohon rambutan, Nathan dikejutkan dengan sosok mirip Arti yang ada di luar sana. Yang membuat Nathan gusar adalah karena Arti berjalan di bawah deretan pohon rambutan sambil menimang Nicko. Bukan kah itu berbahaya untuk bayi seusia Nicko.


Nathan bersiap memanggil Arti namun ia justru terdiam saat mendengar panggilan Arti di sudut kamar. Nathan juga melihat adiknya masih terbaring di tempat yang sama dan belum bergeser sama sekali.


"Eh, Abang Nathan udah bangun yaa ...," sapa Arti sambil tersenyum.


Nathan menoleh dan melihat Arti sedang melipat mukena sambil tersenyum padanya. Nathan pun sigap menoleh keluar dan masih melihat Arti sedang menimang Nicko di bawah pohon rambutan. Berkali-kali Nathan menoleh keluar dan menatap Arti secara bergantian. Hingga saat sosok mirip Arti di luar sana menatap kearahnya, Nathan pun menjerit histeris.


Suara jeritan Nathan terdengar ke ruang depan dan membuat lima orang dewasa yang ada di sana terkejut. Mereka pun bergegas menghampiri Nathan yang saat itu tengah menangis di pelukan Arti. Di saat yang sama Arti juga kebingungan karena harus menenangkan dua anak sekaligus.


Rupanya saat Nathan menjerit, Nicko terkejut dan menangis. Anna bergegas menggendong Nicko sedang Bayan meraih Nathan dari gendongan Arti.


"Abang kenapa, Abang liat apa ?" tanya Bayan.


Nathan hanya menggelengkan kepala sambil menunjuk keluar jendela. Rama dan Riko pun sigap mendekati jendela namun mereka menggelengkan kepala karena tak menemukan apa pun di sana.


Bayan mengangguk maklum dan mengerti jika anaknya baru saja melihat sesuatu yang tak biasa di luar sana.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2