Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
228. Ucapan Hilya


__ADS_3

Sesaat kemudian Bayan meminta Hilya dipindahkan ke kursi roda meski pun saat itu kondisi Hilya sangat lemah. Bayan ingin agar dokter Abraham tak kerepotan dan mereka lebih mudah bergerak nanti. Para perawat pun mengangguk lalu membantu mendudukkan Hilya di kursi roda.


"Maafin Ayah ya Nak. Tapi Ayah lakukan ini demi kebaikan Kamu dan bayimu," kata Bayan sambil menatap Hilya lekat.


"Iya Yah, Aku ngerti. Aku percaya sama Ayah," sahut Hilya mantap.


Jawaban Hilya membuat semua orang tersentuh. Bahkan Bayan memeluk Hilya saking terharunya. Ia bahagia karena Hilya mempercayainya.


"Makasih ya Nak," bisik Bayan sambil mengecup kepala Hilya dengan sayang.


"Sama-sama Yah," sahut Hilya sambil tersenyum.


Setelah memastikan semua menempati posisinya masing-masing, Bayan pun kembali mengingatkan.


"Segera tutup pintu saat Kami keluar nanti ya Sus !" kata Bayan sambil menatap satu per satu perawat yang ada di ruang bersalin.


"Baik Pak !" sahut para perawat serempak.


" Untuk Bunda dan Hilya. Jangan teriak meski apa pun yang Kalian liat nanti. Tetap dekat, tetap berdzikir dan jangan lengah !" kata Bayan sambil menatap Anna dan Hilya bergantian.


"Iya Yah !" sahut Anna dan Hilya bersamaan.


"Bagus. Kita berangkat sekarang. Bismillahirrahmanirrahim ...!" kata Bayan lantang sambil membuka pintu.


Saat pintu ruang bersalin terbuka terjadi sesuatu yang tak masuk akal. Seluruh lampu padam seketika hingga membuat suasana menjadi gelap gulita. Hilya yang duduk di kursi roda pun terkejut. la segera mencari tangan Anna untuk digenggam agar bisa mengurangi rasa takutnya.


"Bund ...," panggil Hilya sambil mengeratkan genggaman tangannya pada jemari Anna.


"Bunda di sini Hil. Kamu tenang dan inget pesen Ayah tadi ya," kata Anna sambil mengusap kepala Hilya dengan lembut.


"Iya Bund," sahut Hilya sambil mengangguk.


"Jangan lupa berdzikir dan tetap berdekatan !" kata Bayan saat mulai melangkah.


"Siap !" sahut semua orang di dalam rombongan kecil itu.


Rombongan pimpinan Bayan itu mulai bergerak. Bayan berjalan di depan diapit Nathan dan dokter Yusuf. Ketiganya berjalan sambil menggendong bayi yang baru saja Hilya lahirkan. Sedangkan di barisan belakang nampak Hilya yang duduk di kursi roda diapit Anna dan dokter Abraham.


Kondisi ruangan dan lorong Rumah Sakit yang dilewati rombongan Bayan nampak gelap gulita. Itu sebabnya mereka harus melangkah dengan hati-hati.


Hal berbeda justru dirasakan oleh empat orang yang sedang duduk menunggu di depan ruang bersalin. Mereka adalah nenek Hilya dan ketiga sepupu Hilya yang sejak awal setia menunggui persalinan Hilya.

__ADS_1


Sebelumnya keluarga Hilya sempat khawatir saat melihat dokter Yusuf, Bayan dan Nathan bergegas masuk ke ruang bersalin. Namun mereka tak bertanya karena tak ingin membuat konsentrasi ketiga pria itu terganggu.


Senyum pun menghias wajah mereka saat melihat rombongan Bayan keluar dari ruang bersalin. Tak seperti yang Bayan dan rombongannya rasakan, keluarga Hilya justru berada di situasi yang membahagiakan dengan suasana yang juga terang benderang.


"Alhamdulillah ..., itu Kak Hilya Nek !" kata Varel.


"Iya. Syukur lah mereka selamat," kata nenek Hilya sambil tersenyum.


Kemudian keempat keluarga Hilya itu berdiri untuk menyambut rombongan Bayan. Namun mereka harus kecewa karena Bayan dan rombongannya tampak tak mempedulikan mereka. Bahkan Hilya pun hanya menatap ke depan sambil menggenggam jemari Anna dengan erat.


"Eh, kok mereka pergi gitu aja Nek. Mereka bahkan ga nyapa Kita lho Nek. Apa mereka ga ngeliat Kita di sini ?" tanya Angga tak mengerti.


"Iya. Kayanya mereka lagi bingung deh. Liat kan wajah mereka juga tegang banget. Tatapan mereka juga kosong," kata Bima.


"Betul. Jangan-jangan mereka kesurupan. Biar Aku deketin ya," kata Varel sambil bersiap melangkah untuk mengejar rombongan Bayan.


"Jangan Rel !" kata nenek Hilya lantang sambil mencekal lengan Varel dengan erat.


"Tapi Nek ...," ucapan Varel terputus karena sang nenek memotong cepat.


"Jangan ganggu mereka. Kita tetap di sini dan awasi mereka. Baca surah Al Qur'an apa pun yang Kalian hapal atau berdzikir lah," kata nenek Hilya sambil menatap kearah rombongan Bayan dengan tatapan tajam.


Varel, Bima dan Angga saling menatap sejenak kemudian mengangguk. Mereka yakin telah terjadi sesuatu pada Hilya dan ketiga bayinya. Karena tak tahu apa yang terjadi maka mereka memutuskan untuk menuruti saran sang nenek.


Aksi keluarga Hilya sangat membantu Bayan dan rombongan. Jalan yang semula gelap gulita bagi mereka perlahan mulai terlihat meski pun remang-remang.


Tiba-tiba Bayan melihat penampakan siluman kuyang yang menghadang di kejauhan. Siluman kuyang itu melayang sambil menatap kearah mereka dengan tatapan yang tajam menghunus.


"Kalian liat di depan sana kan ?" tanya Bayan sambil menoleh kearah Nathan dan dokter Yusuf.


Saat itu mereka sudah berada di koridor Rumah Sakit. Di samping kanan dan kiri koridor terhampar taman yang ditumbuhi berbagai tanaman hias.


"Iya Yah," sahut Nathan cepat.


"Emang ada apa di depan sana Pak Bayan ?" tanya dokter Yusuf.


"Ck, please jangan ngelawak dong dok. Pake dulu kaca matanya sekarang," kata Nathan gemas.


"Oh iya Saya lupa. Maaf ...," sahut dokter Yusuf lalu bergegas mengenakan kaca matanya.


Rupanya saat diajak berlari oleh Bayan tadi, kaca mata dokter Yusuf hampir terjatuh. Karenanya sang dokter memasukkan kaca matanya itu ke dalam saku baju dan lupa mengenakannya hingga sekarang.

__ADS_1


Setelah mengenakan kaca mata, dokter Yusuf bisa melihat lebih jelas meski pun saat itu suasana remang-remang. Ia terkejut dan berhenti melangkah.


"Kenapa berhenti dok ?" tanya Nathan.


"Itu ..., itu siluman yang Kalian kejar daritadi ?" tanya dokter Yusuf.


"Iya," sahut Bayan dan Nathan bersamaan.


"Subhanallah ..., serem plus jelek banget ya," kata dokter Yusuf sambil menggelengkan kepala.


Percakapan dokter Yusuf, Bayan dan Nathan juga didengar oleh Hilya dan Anna. Dan itu membuat mereka panik. Karena ingat pesan Bayan, mereka hanya bisa saling menguatkan dengan mengeratkan genggaman dan memperkeras bacaan dzikir mereka.


"Astaghfirullah aladziim. Laa Haula walaa quwwata ilaa billahil aliyyil adziim ...!" kata Anna dan Hilya dengan lantang.


Bayan menoleh dan tersenyum mendengar dzikir lantang Anna dan Hilya. Ia kembali menatap ke depan sambil mendekap erat bayi perempuan yang berada dalam gendongannya itu.


Di depan sana siluman kuyang jelmaan Rosi nampak bersiap menyambut calon mangsanya. Tatapannya tertuju pada tiga bayi yang ada dalam dekapan Nathan, Bayan dan dokter Yusuf. Lidahnya terjulur, mulutnya pun tampak terbuka memperlihatkan gigi taringnya yang tajam dan mengkilat.


Siluman kuyang itu nampak melayang dengan gelisah. Ia bergerak ke kanan dan ke kiri seolah tak sabar menanti kedatangan rombongan kecil itu. Siluman itu nampaknya tak berani maju untuk mendekat karena tahu Bayan telah menyiapkan sesuatu untuk menyambutnya.


"Aaarrgghh ...!"


Suara geraman itu terdengar jelas di telinga Anna dan Hilya. Mereka menoleh ke kanan dan ke kiri karena penasaran seperti apa wujud pemilik suara geraman itu. Dan saat menatap ke depan mereka terkejut melihat wujud siluman kuyang yang menghadang mereka di tengah jalan.


Anna dan Hilya sontak menutup mulut mereka dengan telapak tangan untuk menekan suara jeritan yang hampir keluar. Tubuh Anna yang berjalan di samping Hilya terasa bergetar hebat. Hilya bisa merasakannya karena saat itu ia masih menggenggam jemari sang mertua.


"Bunda ..., Bunda gapapa kan ?. Bunda masih kuat kan ?" tanya Hilya sambil menggerakkan tautan jemari mereka.


Anna mengerjapkan matanya sambil berusaha mengatur nafas.


"Astaghfirullah aladziim ..., Astaghfirullah aladziim ..., iya Hil. Insya Allah Bunda kuat kok," sahut Anna dengan suara bergetar.


Hilya tersenyum mendengar jawaban Anna.


"Bagus. Ayo Kita hadapi monster itu Bund. Kita ga sendiri karena ada enam laki-laki hebat bersama Kita !" kata Hilya memberi semangat.


"Enam ?" tanya Anna tak mengerti karena seingatnya hanya ada empat pria di sana.


"Iya Bund. Dua bayi yang Kulahirkan tadi kan juga laki-laki. Mereka pasti sama hebatnya dengan empat pria dewasa yang ada di sini," sahut Hilya sambil tersenyum bangga.


Ucapan Hilya tak hanya membuat Anna tersenyum tapi juga mampu membangkitkan semangat empat pria dewasa yang bersama mereka saat itu.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2