
Bayan meraih Arafah ke dalam gendongannya. Rasa sayangnya pada batita cantik itu tak terbendung sejak ia tahu Fikri adalah keponakannya.
Bayan menoleh untuk mengingatkan Mak Ejah sekali lagi. Tapi ia harus menelan kecewa karena tak melihat Mak Ejah lagi di sana.
Melihat sang ayah menghela nafas panjang membuat Nathan mengerutkan keningnya.
"Kenapa Yah, kok Ayah keliatan kecewa gitu ?" tanya Nathan.
"Ayah tadi ngeliat Ibunya Fikri," sahut Bayan dengan enggan.
"Maksud Ayah Mak Ejah ?" tanya Nathan setengah berbisik.
"Iya," sahut Bayan cepat.
"Tapi Aku ga liat Mak Ejah di sekitar sini Yah," kata Nathan sambil mengedarkan pandangannya ke segala penjuru.
"Pasti dia udah pergi Nath. Abaikan aja. Ayah udah membujuk dia supaya menemui Anaknya tapi dia nolak," kata Bayan sedikit kesal.
"Mungkin Mak Ejah masih butuh waktu Yah. Melihat Anaknya sudah tumbuh dewasa, dengan sosok besarnya dan sekarang sudah berkeluarga, pasti bikin nyali Mak Ejah ciut. Mungkin dia merasa minder untuk datang lalu mengaku ssbagai Ibu kandung Bang Fikri," kata Nathan.
Ucapan Nathan membuat Bayan tersenyum. Namun dalam hati Bayan tahu jika alasan utama Mak Ejah enggan menemui Fikri karena ia telah menyakiti istri dan anak Fikri.
Bayan dan Nathan menoleh saat Anna dan Ayu keluar dari butik. Kemudian keempatnya berjalan beriringan sambil tertawa bahagia. Posisi Bayan yang menggendong Arafah jalan berdampingan dengan Anna, sedang Nathan dan Ayu mengekor di belakang. Nathan mencoba membantu membawakan belanjaan Ayu yang tampak kerepotan itu. Sikap Nathan membuat Ayu, Bayan dan Anna tersenyum namun membuat seorang gadis mencibir kesal. Gadis itu adalah Hilya, sang bidan cantik yang beberapa kali menolak Nathan.
"Dasar cowok. Udah punya Anak Istri masih aja jelalatan cari cewek lain. Untung Aku ga tertipu. Kasian kan Istrinya kalo sampe tau Suaminya tebar pesona di luar sana," gerutu Hilya sambil mempercepat langkahnya.
\=\=\=\=\=
Malam itu suasana Rumah Sakit tempat Hilya bertugas terasa berbeda. Suasana terlihat hening dan hanya sedikit orang yang berlalu lalang. Padahal biasanya Rumah Sakit selalu ramai meski malam hari sekali pun.
"Hoaaamm ... ngantuk banget sih. Jam berapa sekarang Hil ?" tanya seorang rekan Hilya sesama bidan yang juga bertugas malam itu.
"Baru jam setengah dua belas," sahut Hilya sambil menulis sesuatu di buku.
"Ya Allah, daritadi duduk ngerjain semuanya ternyata belum tengah malam toh. Perasaan udah lama banget di sini. Ini waktu yang berjalan lambat atau jamnya yang mati Hil ?" tanya rekan Hilya yang bernama Ranti itu.
__ADS_1
"Apaan sih Lo, ga jelas banget. Yang pasti jamnya ga mati dan Kita duduk di sini baru setengah jam. Ini karena pikiran Lo yang terus ngebayangin kasur makanya semua terasa aneh dan ga semestinya buat Lo," sahut Hilya ketus.
Ranti tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Kemudian ia melangkah meninggalkan meja menuju pantry untuk menyeduh kopi agar bisa meredam rasa kantuknya. Ranti juga menawarkan diri untuk membuatkan Hilya segelas kopi. Hilya pun mengangguk sambil terus menulis sesuatu di buku.
Tak lama kemudian Hilya mendongakkan kepalanya saat melihat Ranti melintas menuju ruang bayi.
"Dasar Bidan labil. Katanya mau nyeduh kopi, eh malah ngeluyur ke kamar bayi," gerutu Hilya sambil menggelengkan kepalanya.
Hilya pun kembali fokus dengan pekerjaannya. Namun sedetik kemudian suara jeritan terdengar dari kamar bayi. Hilya terkejut dan bergegas mendatangi kamar bayi. Ia mematung sejenak saat melihat perawat yang berjaga di depan kamar bayi duduk di lantai dengan wajah pucat sambil tangannya menunjuk ke langit-langit.
"Ada apa Suster ?!" tanya Hilya sambil menepuk pipi sang perawat.
"Han-hantu di ... di atas," sahut sang perawat.
Hilya pun menatap ke atas namun tak menjumpai apa pun di sana. Sesaat kemudian ia menoleh karena perawat lain berdatangan untuk melihat apa yang terjadi. Ranti yang juga ada diantara mereka pun bertanya apa yang terjadi.
"Ada apaan Sus, kenapa jerit-jerit. Bikin kaget aja," kata Ranti.
"Kok Lo malah nanya sih Ran. Kan Lo ada di sini juga tadi," kata Hilya bingung.
"Ngaco Lo Hil. Gue lagi di pantry mau nyeduh kopi buat Kita !" sahut Ranti sambil melotot.
"Jangan ngaco deh. Terus gimana keadaan bayi-bayi itu ?" tanya Ranti.
Hilya pun bergegas membuka pintu kamar bayi dan terkejut saat melihat sebagian dinding kamar bayi dipenuhi noda berwarna merah. Hilya yakin jika itu adalah noda darah.
Dengan jantung berdebar Hilya mengecek satu per satu bayi yang diletakkan di box bayi yang berbaris memanjang itu. Hilya sedikit mengerutkan keningnya karena merasa ada yang aneh di kamar bayi itu. Semua bayi dalam kondisi tertidur nyenyak, tak satu pun terbangun meski pun suara para perawat terdengar bising dan saling bersahutan di luar sana. Padahal biasanya mereka akan menangis jika mendengar suara yang sedikit lantang.
Wajah Hilya pun menegang saat tiba di box bayi paling ujung. Di sana ia mendapati sang bayi ditemukan tak bernyawa dengan luka menganga di bagian kepala.
"Astaghfirullah aladziim ...!" jerit Hilya dengan suara tertahan.
"Kenapa Bu Bidan ?!" tanya para perawat dari ambang pintu kamar bayi.
"Ini ... bayi ini meninggal !. Ada luka di kepalanya kaya abis digerogoti tikus !" sahut Hilya sambil bergidik ngeri.
__ADS_1
Ucapan Hilya membuat semua orang terkejut. Mereka pun panik. Ranti bergegas memanggil security dan meminta mereka untuk mengamankan kamar bayi itu.
Malam itu Rumah Sakit dibuat sibuk dengan penemuan bayi yang meninggal karena luka aneh di kepalanya. Polisi pun didatangkan untuk membantu mengusut kejadian misterius itu.
Semua perawat dan bidan yang bertugas malam itu diinterogasi oleh polisi termasuk Hilya dan Ranti. Dan untuk menghemat waktu polisi menginterogasi mereka berpasangan. Hilya dan Ranti diinterogasi di waktu yang bersamaan.
Ranti nampak kesal saat Hilya menyebutnya masuk ke kamar bayi sesaat sebelum jeritan itu terdengar. Sudah tentu Ranti membantah keterangan Hilya. Bahkan Ranti merasa Hilya tengah menyudutkannya dengan mengatakan hal yang di luar kenyataan.
"Jangan gitu lah Hil. Lo tau banget kan Kalo Gue lagi nyeduh kopi di pantry. Kan Gue nawarin Lo juga tadi," ulang Ranti tak suka.
"Tapi Gue emang ngeliat Lo Ran," sahut Hilya yakin.
"Ngeliat gimana sih maksud Lo ?!" tanya Ranti dengan nada suara tinggi.
"Sebentar, kenapa jadi Kalian yang ribut ?. Saya cuma nanya apa yang Kalian lakukan sebelum jeritan itu terdengar !" kata polisi sambil menatap Hilya dan Ranti bergantian.
"Saya ga suka dituduh membunuh bayi itu Pak Polisi !" sahut Ranti kesal.
"Siapa yang nuduh Lo membunuh bayi itu Ran !. Gue kan cuma bilang kalo Gue ngeliat Lo masuk ke kamar bayi. Apa yang Lo lakukan di sana Gue juga ga tau karena setelah itu Suster Ida menjerit. Cuma itu kok," kata Hilya tak mau kalah.
"Gue ga nyangka kalo Lo sedengki ini sama Gue Hil. Tega-teganya Lo fitnah Gue. Apa Lo merasa Gue ini saingan berat makanya Lo bermaksud menyingkirkan Gue dengan cara kotor ?!" tanya Ranti lantang.
Hilya terkejut mendengar ucapan Ranti. Ia sudah membuka mulutnya dan bersiap menjawab tuduhan Ranti namun batal karena polisi yang menginterogasi mereka berdiri sambil menggebrak meja.
"Cukup !. Tugas Kalian cuma menjawab pertanyaan Saya dan bukan yang lain. Kalo Kalian masih saling tuduh begini, Saya curiga Kalian terlibat dengan kematian bayi itu !" kata sang polisi.
Hilya dan Ranti terdiam sambil saling menatap sejenak. Jelas mereka menolak dijadikan tersangka dalam kasus kematian bayi itu. Dan detik berikutnya keduanya sama-sama melengos kesal.
Melihat dua bidan di hadapannya kembali tenang sang Polisi pun merasa lega. Ia kembali mengajukan pertanyaan pada Hilya dan Ranti.
"Jadi Bidan Hilya, apakah Anda melihat Bidan Ranti diantara mereka yang datang tadi ?" tanya polisi.
Hilya tersentak kaget. Ia ingat jika Ranti ada di kerumunan orang yang baru saja datang ke kamar bayi.
"Iya Pak," sahut Hilya kemudian.
__ADS_1
Jika Ranti ada bersama orang-orang yang datang belakangan, lalu siapakah wanita yang menyelinap masuk ke kamar bayi itu. Kenapa Hilya merasa sosok wanita itu mirip dengan Ranti ?.
\=\=\=\=\=