
Arafah dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang. Hasil tes darah membuktikan jika Arafah tak mengidap penyakit yang serius. Arafah kejang karena kelelahan.
"Harusnya saat demam tinggi Arafah istirahat dan bukan bermain ya Bu. Apalagi sampe lompat-lompat. Mungkin saat melompat Arafah tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya lalu jatuh tersungkur dan kepalanya membentur lantai. Dan itu yang menyebabkan Arafah kejang kemarin," kata dokter.
"Iya dok. Anak Saya memang lumayan aktif," sahut Ayu malu-malu.
"Gapapa Bu. Seusia Arafah memang harus aktif. Itu tandanya Arafah normal. Dan sore ini Arafah boleh pulang. Kalo Arafah demam tinggi lagi kaya kemarin cepat dibawa ke Rumah Sakit ya Bu," kata dokter bijak.
"Baik dok. Terimakasih ...," sahut Ayu antusias.
Dokter pun mengangguk. Setelahnya dokter keluar dari ruang rawat inap Arafah. Di luar ia berpapasan dengan Nathan.
"Gimana Mas, berhasil ga nembak Suster Hilya ?" tanya sang dokter.
"Alhamulillah berhasil dok. Akhirnya Hilya mau nerima Saya jadi calon Suaminya," sahut Nathan senang.
"Wah selamat ya. Suster Hilya memang istimewa. Banyak yang tertarik dan mencoba mendekat tapi cuma Mas yang berhasil menaklukkannya," kata sang dokter sambil tertawa.
"Itu juga ga lepas dari dukungan dokter. Kalo dokter ga ngijinin Saya bicara sama Hilya, mungkin sampe sekarang hubungan Kami tetap jalan di tempat. Makasih ya dok," kata Nathan sambil menjabat tangan sang dokter.
"Sama-sama. Jangan lupa undangannya ya ...," kata sang dokter.
"Insya Allah siap dok," sahut Nathan sambil tertawa.
\=\=\=\=\=
Keluarga Bayan sedang duduk di ruang tamu rumah Fikri. Mereka berkumpul usai menjemput Arafah pulang dari Rumah Sakit tadi. Fikri yang baru saja tiba tampak tak sabar ingin menemui anak dan istrinya.
"Tenang Fik, Arafah lagi tidur di kamar sekarang. Dia udah baik-baik aja kok," kata Bayan menenangkan Fikri.
__ADS_1
"Alhamdulillah..., syukur lah. Aku kepikiran terus dari semalam Yah. Aku ga bisa bayangin paniknya Ayu saat sendirian menyaksikan Arafah yang kejang. Apalagi Aku juga ga bisa dapat tiket ke Jakarta kemarin," sahut Fikri gusar.
"Untungnya Ayu sigap dan langsung bawa Arafah ke Rumah Sakit. Sedikit Ayah sesalkan karena Ayu pergi sendiri ke sana tanpa ngasih tau Ayah atau Bunda. Tapi Kami maklum kalo Ayu panik, makanya ga kepikiran ngasih tau siapa pun kemarin," kata Bayan sambil tersenyum.
"Maafin Ayu ya Yah. Nanti Aku bakal kasih tau dia supaya ga sungkan minta tolong sama Ayah atau Bunda dan Adik-adik," kata Fikri.
"Iya iya. Jangan lupa mandi dulu sebelum nemuin Arafah," kata Bayan saat Fikri menerobos masuk ke dalam rumah.
"Siap Yah !" sahut Fikri lantang.
Ayu nampak menyambut kedatangan Fikri dengan senyum mengembang. Bayan pun memilih menggantikan Ayu menjaga Arafah di kamar saat Ayu mengurus suaminya karena Anna sibuk menyiapkan makan malam di dapur.
Bayan menatap Arafah yang terlelap itu sambil tersenyum. Perlahan ia mengulurkan tangannya untuk menepikan anak rambut Arafah yang menjuntai menutupi sebagian wajahnya.
Bersamaan dengan tangan Bayan yang terulur, saat itu Arafah nampak menggeliat kecil. Bayan pun menepuk punggung balita itu perlahan untuk menenangkannya. Arafah kembali terlelap saat Bayan menepuk punggungnya sambil bersholawat.
Bayan nampak tersenyum mengamati Arafah dari samping. Namun sesaat kemudian Bayan nampak mengerutkan keningnya saat melihat sesuatu yang aneh pada diri Arafah.
Saat Bayan masih dilanda rasa terkejut, tiba-tiba pintu kamar terbuka dan Fikri pun memanggilnya.
"Ayah ...," panggil Fikri setengah berbisik namun mampu membuat Bayan menoleh.
"Iya. Kenapa Fik ?" tanya Bayan.
"Ayah makan dulu ya. Bunda udah selesai masak tuh. Yang lain juga udah nunggu Ayah di ruang makan," sahut Fikri sambil mendekat ke tempat tidur Arafah.
"Ayah belum lapar. Kamu aja yang makan duluan, Kamu pasti capek dan belum makan tadi," kata Bayan.
"Aku udah makan di jalan tadi Yah. Ayah makan ya, jangan sampe sakit gara-gara ngurus Arafah. Sekarang kan udah ada Aku yang jaga Arafah, jadi Ayah ga perlu khawatir lagi," bujuk Fikri.
__ADS_1
Bayan pun menghela nafas panjang lalu mengangguk. Ia tahu tak akan mudah meminta Fikri mengalah. Bayan pun keluar dari kamar Arafah saat Anna memanggilnya.
Selama makan malam Bayan nampak gelisah. Tak seorang pun menyadarinya karena Bayan menutupinya dengan baik.
Usai makan malam Bayan pun kembali ke rumah bersama Nathan dan Anna. Sedangkan Nicko memilih pulang ke rumahnya karena tak tega meninggalkan Ramadhanti sendirian.
"Ayah kenapa ?" tanya Anna saat mereka telah masuk ke dalam kamar. Saat itu Bayan baru saja usai membasuh wajahnya di kamar mandi.
"Gapapa Bund," sahut Bayan sambil melepas pakaiannya.
"Yakin ?. Kok wajah Ayah tegang banget," kata Anna sambil mengulurkan pakaian ganti pada suaminya.
"Masa sih. Ayah cuma capek aja Bund. Mungkin karena terlalu khawatir sama Arafah waktu dirawat kemarin," sahut Bayan cepat.
"Kayanya sih gitu. Ya udah, sekarang Ayah istirahat ya biar lebih relaks," saran Anna.
"Iya Bund. Makasih," sahut Bayan sambil merebahkan diri di tempat tidur.
Setelah Bayan memejamkan mata, Anna pun keluar dari kamar karena akan merapikan dapur.
Saat Anna keluar, Bayan pun membuka matanya. Ia menatap langit-langit kamar dengan gelisah karena teringat dengan Arafah. Bayan juga ingat bagaimana tekstur kulit Arafah saat ia menyentuhnya tadi.
"Kenapa kulit Arafah berbeda di sana. Dan kenapa waktu disentuh terasa kasar dan menebal. Apa kah itu pertanda kalo darah siluman itu juga mengalir di tubuhnya ?. Terus gimana, apa yang harus Kulakukan. Aku ga mau Arafah menanggung kutukan itu. Tolong jangan Arafah ya Allah. Aku ga bisa bayangin gimana Anak semanis dan selucu Arafah berubah jadi monster yang menyimpan hasrat membunuh dalam dirinya ...," gumam Bayan gusar.
Sesaat kemudian Bayan pun bangkit lalu melangkah menuju lemari. Ia membukanya dan mencoba mencari sesuatu di sana. Karena tak menemukan benda yang ia cari, Bayan pun keluar dari kamar lalu masuk ke ruang kerjanya.
Ia menggeledah semua tempat termasuk laci dan brankas. Tak lama kemudian Bayan terduduk di sofa karena gagal menemukan benda itu.
Bayan duduk sambil memejamkan mata untuk mengingat dimana ia meletakkan benda itu.
__ADS_1
Entah mengapa bayangan Senja pun melintas di kepalanya. Bayan tersenyum mengingat kebahagiaannya bersama istri pertamanya itu. Dan ia membuka matanya saat ingat dimana ia meletakkan benda pemberian Senja.
\=\=\=\=\=