Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
130. Tak Terekam CCTV


__ADS_3

Hilya terus memikirkan keanehan yang ditemuinya itu hingga keesokan harinya. Dan akibat ucapannya itu kini Hilya harus menanggung kemarahan Ranti. Wanita itu nampak sengaja menghindarinya saat mereka berpapasan.


Karena lelah, Hilya memutuskan pulang ke rumah saat pergantian shift kerja tiba. Hilya berharap Ranti tak memusuhinya lagi nanti.


Tapi dugaan Hilya salah besar. Ranti justru mengibarkan bendera perang. Ranti mewanti-wanti rekan-rekannya agar berhati-hati dengan kebaikan Hilya.


"Ga usah kehipnotis sama aksinya yang pura-pura baik itu. Buktinya Gue nih. Udah Gue anggep temen deket, kaya sodara malah. Eh tega-teganya dia laporin Gue ke Polisi. Untungnya Polisi pinter dan ga percaya sama omongannya gitu aja. Kalo ga, mungkin sekarang Gue udah ada di dalam penjara kali. Makanya supaya Kalian ga kejebak kaya Gue, ada baiknya hati-hati mulai sekarang," kata Ranti dengan nada suara yang sengaja ditinggikan.


Sadar dirinya disindir oleh Ranti, Hilya pun berhenti melangkah lalu menegur Ranti.


"Ranti, Lo masih marah sama Gue ?" tanya Hilya.


Ranti mengabaikan pertanyaan Hilya. Wanita itu bergegas melangkah menuju kamar ganti. Hilya hanya bisa menghela nafas panjang melihat sikap rekan seprofesinya itu.


"Padahal Gue ga pernah bermaksud nyudutin Lo Ran. Gue cuma ngomong apa yang Gue liat aja. Kalo Lo ga terlibat sama kematian bayi itu, harusnya Lo ga usah marah dong !" kata Hilya kesal.


"Udah Bu Hilya, cuekin aja. Mungkin Bu Ranti emang masih marah, tapi sebentar lagi juga baik lagi kok. Polisi kan udah ngeliat rekaman CCTV. Mereka juga ngeliat seorang melintas menuju ke kamar bayi seperti yang Bu Hilya bilang. Itu artinya Bu Hilya ga bohong sama sekali. Dan sekarang Polisi masih nyari tau kemana wanita itu pergi. Karena setelah dicek ternyata wanita itu juga ga terlihat di kamar bayi," kata salah seorang perawat menenangkan Hilya.


"Maksud Kamu gimana Suster ?" tanya Hilya tak mengerti.


"Wanita yang Ibu bilang mirip Bu Ranti itu ga keliatan ada si kamar bayi atau keluar dari kamar bayi Bu. Padahal pintu itu adalah satu-satunya akses keluar masuk ke kamar bayi," sahut sang perawat.


"Kalo ga terlihat lagi, jangan-jangan yang Saya liat itu ... hantu ?" tanya Hilya ragu.


"Mungkin. Tapi kalo hantu kan ga mungkin kerekam kamera CCTV Bu," sahut sang perawat cepat.


"Oh Iya. Terus gimana dong, apa Polisi masih belum bisa nemuin jejak pembunuh bayi itu ?. Kasian lho bayi dan Ibunya," kata Hilya gusar.


"Saya juga belum denger kabar apa-apa lagi Bu. Kalo ada kabar baru insya Allah Saya sampaikan sama Ibu nanti," sahut perawat.


"Ok deh. Kalo gitu Saya masuk dulu ya Suster. Makasih lho infonya," kata Hilya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Iya, sama-sama Bu Hilya," sahut sang perawat ikut tersenyum.


Hilya melangkah ringan karena yakin perang dinginnya dengan Ranti akan segera berakhir. Bukti yang ditemukan polisi diharapkan bisa membantu menemukan sosok pembunuh sesungguhnya bayi tak berdosa itu.


\=\=\=\=\=


Hilya baru saja keluar dari Rumah Sakit. Karena motornya rusak, Hilya pun terpaksa jalan kaki menuju halte. Kali ini Hilya memilih naik angkutan umum untuk sekedar refreshing.


Selama ini jalan kaki dan naik angkutan umum adalah salah satu cara yang Hilya ambil untuk menghilangkan kepenatan usai bekerja. Hilya merasa bertemu banyak orang dengan karakter berbeda membuatnya terhibur.


"Kan sama aja Hil. Di Rumah Sakit Kita juga ketemu banyak orang dengan karakter yang berbeda. Jadi apa bedanya sih ?" tanya salah satu rekan Hilya dulu.


"Jelas beda lah. Kalo di Rumah Sakit, semua yang datang pasti memperlihatkan wajah cemas. Entah cemas akan diagnosa dokter atau justru cemas sama biaya yang harus mereka keluarkan nanti. Kalo di halte atau angkutan umum, ekspresi orang itu beragam. Ada yang bahagia, malu-malu, bingung, cemas juga ada. Jadi beragam banget kan," sahut Hilya kala itu.


Dan Hilya membuktikannya lagi sekarang. Saat tiba di halte bus, Hilya disuguhkan pemandangan yang tak lazim. Ada seorang pencopet yang tertangkap oleh warga dan sedang dipukuli beramai-ramai.


Hilya mematung di tempat karena iba dengan kondisi pencopet itu. Namun ia tak bisa berbuat banyak karena khawatir diamuk warga.


"Nathan ...," panggil Hilya lirih.


"Iya. Kamu ngapain di sini, mana motor yang biasa Kamu pake itu ?" tanya Nathan sambil mengedarkan pandangannya ke segala penjuru.


"Motorku rusak. Makanya Aku mau naik angkot aja dari sini. Kamu sendiri ngapain di sini ?" tanya Hilya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Gara-gara ngeliat Kamu makanya Aku berhenti. Tuh mobilku di sana," sahut Nathan sambil menunjuk mobilnya yang terparkir di pinggir jalan.


Tiba-tiba suara sirine polisi terdengar di kejauhan. Refleks Nathan menggandeng tangan Hilya lalu mengajaknya menepi dan menjauh dari halte karena mengira polisi akan mendatangi tempat itu. Tapi dugaan Nathan salah. Ternyata mobil polisi itu justru masuk ke dalam area Rumah Sakit tempat Hilya bekerja.


"Lho kok malah masuk ke Rumah Sakit. Aku pikir Polisi mau nangkap copet di halte itu," kata Nathan.


"Copet udah bonyok gitu mana mungkin dibawa ke kantor Polisi. Paling sebentar lagi dianter masuk ke dalam Rumah Sakit," sahut Hilya sambil mencibir.

__ADS_1


"Masuk akal sih. Tapi ngomong-ngomong ada kejadian apa di Rumah Sakit. Kok Polisi datang ke sana rame-rame kaya gitu. Kalo cuma ngawal pejabat penting kan ga seheboh itu ?" tanya Nathan penasaran.


Merasa tak ada yang perlu disembunyikan dari Nathan, Hilya pun berniat menceritakan apa yang terjadi. Namun sebelumnya Nathan meminta Hilya menemaninya ke toko buku. Nathan hanya berpikir untuk mengulur waktu agar bisa lebih lama berada di dekat Hilya.


Tanpa curiga Hilya mengikuti Nathan. Setelah membantu Nathan memilih barang-barang yang diperlukan, Hilya pun meminta Nathan mentraktirnya. Sikap cuek Hilya membuat Nathan tersenyum. Ia senang karena Hilya tak lagi sungkan untuk meminta sesuatu padanya.


"Ok. Bilang aja tempat mana yang mau Kamu datangi. Abis ini Kita ke sana ya," kata Nathan antusias.


Hilya mengangguk sambil mengetik sesuatu di ponselnya. Saat Nathan bertanya siapa yang dia hubungi, Hilya mengatakan jika ia memberitahu sang nenek jika akan pulang terlambat.


"Nenek taunya Aku pulang sekitar jam tujuh. Kalo lebih dari jam tujuh, Nenek pasti cemas. Makanya, Aku kasih tau dulu kalo mau pulang telat nanti. Kan jam segini aja Kita masih di toko buku," kata Hilya santai.


Jawaban Hilya membuat hati Nathan menghangat. Meski terlihat galak, termyata Hilya adalah sosok yang penyayang. Padahal Hilya bisa pulang semaunya karena dia sudah dewasa dan ikut menanggung beban ekonomi keluarganya. Tapi itu tak Hilya lakukan. Selain Hilya menyayangi sang nenek, Hilya merasa itu sebagai bentuk tanggung jawabnya pada nenek yang telah membesarkannya selama ini.


"Eh, kok bengong sih. Udahan kan belanjanya ?" tanya Hilya sambil menjentikkan jarinya di depan wajah Nathan.


"Udah kok. Sekarang waktunya Kita makan supaya kuat," gurau Nathan hingga membuat Hilya tersenyum.


Tiba di kafe yang dimaksud Hilya, keduanya duduk berhadapan. Setelah mengusap peluh di dahinya, Hilya pun mulai menceritakan apa yang terjadi di kamar bayi beberapa hari yang lalu.


"Jadi cewek yang mirip Ranti ga terekam kamera CCTV ?" tanya Nathan.


"Iya. Aku sempet mikir itu hantu. Tapi pasti Kamu bakal nganggap itu lucu," sahut Hilya ragu.


"Aku percaya !" kata Nathan.


"Maksudnya percaya kalo itu hantu ?" tanya Hilya.


"Iya. Sekarang Kamu ingat baik-baik, apa ada yang beda sama wanita yang mirip Ranti itu ?" tanya Nathan.


Ranti nampak berpikir sejenak lalu membulatkan matanya saat mengingat sesuatu.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2