
Ternyata Nathan membawa Hilya ke vila milik keluarga Bayan yang terletak di daerah Bogor Jawa Barat.
Nathan dan Hilya berangkat jam sembilan malam menggunakan mobil. Suasana yang sepi dan dingin membuat hati Hilya yang semula kacau pun perlahan kembali tenang. Ia nampak tersenyum diam-diam karena bisa menebak kemana sang suami membawanya pergi.
Melihat wajah Hilya yang berbinar bahagia membuat Nathan tersenyum.
"Gimana, udah bisa nebak dong mau kemana Kita sekarang ?" tanya Nathan sambil melirik Hilya di sampingnya.
"Iya. Apa Kamu udah pamit sama orang rumah Sayang ?" tanya Hilya.
"Udah. Ayah sama Bunda malah nyaranin Kita nginep di sana beberapa hari," sahut Nathan.
"Aku sih mau aja, tapi gimana sama pasien-pasien yang udah masuk list akan melahirkan dalam waktu dekat ini. Aku ga bisa mengabaikan mereka gitu aja cuma karena keinginan pribadi kan ?" tanya Hilya.
Nathan mengangguk. Dalam hati ia merasa bangga dengan totalitas yang dilakukan istrinya untuk membantu para wanita yang akan melahirkan itu.
"Emangnya Kamu belum dapat calon asisten yang cocok ?" tanya Nathan.
"Belum Sayang, ternyata susah juga nyari asisten yang sesuai sama kriteria Aku," sahut Hilya sambil menggelengkan kepala.
"Kalo Bu Rosi gimana ?. Aku liat dia lumayan sigap juga. Bukannya Kamu bilang Bu Rosi juga punya pengalaman membantu persalinan di kampungnya ?" tanya Nathan.
"Itu betul. Sayangnya dia ga punya ijasah Bidan atau perawat. Dan cara yang dipake untuk membantu persalinan itu juga masih cara tradisional banget. Aku ga tau dia datang darimana, soalnya lucu denger ceritanya waktu bantuin orang melahirkan," kata Hilya sambil tertawa.
"Maksud Kamu lucu gimana sih Sayang. Masa bantuin orang melahirkan dibilang lucu ?" tanya Nathan tak mengerti.
Hilya pun merubah posisi duduknya dari menghadap ke depan berubah menjadi ke samping. Tujuannya agar dia bisa menatap Nathan dengan leluasa saat bicara dengan suaminya itu.
Kemudian Hilya menceritakan apa yang Rosi katakan saat ia bertanya tentang pengalaman Rosi membantu warga yang bersalin. Nathan nampak mendengarkan dengan serius cerita sang istri. Namun saat Hilya mengatakan jika di kampungnya Rosi menggunakan sebilah bambu untuk memotong tali pusat bayi yang terhubung dengan ibunya, Nathan pun mengerutkan keningnya karena tak percaya.
"Masa begitu sih ?. Itu kan cara lama banget, cara kuno. Yang kalo sekarang masih dipake bakal bikin gempar karena diragukan kebersihannya," kata Nathan sambil menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Nah kan, Kamu aja bingung apalagi Aku. Seinget Aku cara itu dipake ya waktu jaman perang dan sebelum perang karena waktu itu kkndisinya ga memungkinkan. Itu pun bambu yang dipake bukan sembarang bambu. Setau Aku sih ada unsur mistisnya juga saat menggunakan bambu untuk memotong tali pusat bayi," kata Hilya.
"Unsur mistisnya dimana Sayang ?" tanya Nathan penasaran.
"Kaya mitos yang dipercaya sebagian orang tentang bambu kuning. Katanya kalo nanam bambu kuning di halaman rumah kan bikin rumah dan penghuninya aman dari gangguan makhluk halus. Tapi kadang yang terjadi justru sebaliknya lho Sayang. Penanaman bambu kuning seolah simbol untuk mengundang makhluk halus supaya datang ke rumah itu. Jadi niat awal untuk melindungi penghuni rumah dari gangguan tak kasat mata dari luar rumah, tapi gangguan justru datang dari dalam rumah karena bambu kuning kan juga disukai beberapa makhluk halus," sahut Hilya yang diangguki Nathan.
"Emang kalo berlindung sama makhluk selain Allah tuh ga akan pernah baik ujungnya. Makanya daripada bingung cari perlindungan diri, lebih baik ya mendekat aja sama Allah karena Allah adalah sebaik-baik tempat berlindung. Taati perintahNya, jauhi laranganNya. Insya Allah kalo Kita istiqomah, makhluk halus jenis apa pun bakal minggir. Iya kan Sayang ?" kata Nathan sambil tersenyum.
"Betul," sahut Hilya cepat.
Tak lama kemudian mobil berbelok memasuki sebuah pekarangan yang luas.
"Nah, Kita sampe juga akhirnya. Malam ini Kita nginep di sini dulu ya Sayang," kata Nathan sambil memarkirkan mobilnya di halaman vila.
Hilya mengangguk lalu meraih tas dari jok belakang. Saat menoleh ke samping ia tersenyum karena melihat sang suami sudah berdiri di ambang pintu mobil sambil mengulurkan tangan kearahnya.
"So sweet banget sih Suamiku ini," kata Hilya sambil tersipu malu.
"Ish, mana mungkin Aku kecantol sama orang lain. Buat Aku tuh Kamu aja udah cukup tau ga ?!" sahut Hilya sambil cemberut.
"Iya iya, maaf. Jangan marah dong Sayang. Kita ke sini kan mau refreshing bukan mau berantem," rayu Nathan.
Hilya pun melirik kearah Nathan lalu tersenyum melihat wajah sang suami yang nampak menyesal itu.
\=\=\=\=\=
Malam itu Bayan dan Anna baru saja pulang usai menghadiri sebuah undangan makan malam. Saat itu Bayan sengaja mengemudi tanpa supir karena Yunus sedang ada urusan keluarga.
"Jakarta emang ga pernah tidur ya Yah. Udah jam segini masih aja rame," kata Anna sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Iya Bund. Namanya juga kota metropolitan," sahut Bayan sambil tersenyum.
__ADS_1
"Di rumah bakal sepi nih Yah. Nathan sama Hilya kan lagi ke vila," kata Anna sambil tersenyum kecut.
"Iya. Gapapa Bund, sekali-sekali Hilya dan Nathan perlu waktu untuk refreshing biar lebih relaks. Mungkin karena kelelahan Hilya jadi sulit hamil," kata Bayan.
Anna mengangguk setuju. Bukan rahasia lagi kalo Hilya dan Nathan memang menunjukkan sikap iri melihat kehamilan Ayu. Sebagai pasangan normal mereka juga ingin memiliki keturunan. Sayangnya usaha mereka selalu gagal dan itu membuat Hilya kecewa.
Nathan juga kecewa, tapi sebagai pria ia lebih bisa menguasai diri dibandingkan istrinya. Jadi kepergian Nathan dan Hilya yang mendadak ini membuat Anna senang. Ia berharap setelah menghabiskan beberapa malam berdua di vila, Nathan dan Hilya akan membawa kabar baik saat pulang nanti.
Lamunan Anna buyar saat ia mengenali jalan yang dilalui suaminya. Karena jalan yang dipilih Bayan akan melewati Klinik Bersalin Hilya. Itu artinya jarak yang mereka tempuh lebih jauh untuk tiba di rumah karena harus memutar arah.
"Kok lewat sini Yah. Ini kan malah lebih jauh ke rumah," kata Anna tak mengerti.
"Ga tau Bund. Ayah juga ngikutin feeling Ayah yang nyuruh ngajak lewat jalan ini," sahut Bayan sambil nyengir.
Anna hanya menggelengkan kepala mendengar jawaban suaminya.
Kemudian mobil yang dikemudikan Bayan melintas di depan klinik. Saat itu kebetulan Rosi sedang berbincang akrab dengan security klinik usai membuang sampah.
Bayan dan Anna pun refleks menoleh kearah klinik dan tersenyum kearah security yang sedang berbincang akrab dengan Rosi. Sang security nampak membalas dengan menganggukkan kepala sambil tersenyum.
Rosi pun ikut menatap kearah yang ditatap sang security. Dan saat itu lah Bayan terkejut bukan kepalang saat melihat Rosi. Bahkan saking terkejutnya Bayang kehilangan kendali. Ia hampir menabrak mobil yang berada di depannya.
Anna yang juga terkejut pun langsung berpegangan pada lengan Bayan sambil menjerit keras.
"Astaghfirullah aladziim ..., Ayaahhh... !" jerit Anna histeris.
Bayan refleks membanting setir ke kiri untuk menghindari tabrakan hingga akhirnya mobil membentur pembatas jalan dengan keras.
Semua orang yang ada di tempat itu terkejut lalu bergegas mendatangi Bayan dan Anna untuk memastikan kondisi mereka.
\=\=\=\=\=
__ADS_1