
Rupanya jeritan dokter Yusuf tadi membuat Anna dan Hilya terkejut. Mereka bertambah panik saat mendengar jeritan tiga pria lainnya yang memanggil nama sang dokter dengan lantang.
Belum hilang rasa terkejut Anna dan Hilya, mereka harus menerima serangan siluman kuyang yang datang secara tiba-tiba. Keduanya menjerit lalu bangkit dan berusaha menepis serangan siluman itu dengan tangan kosong meski pun mereka tahu itu sia-sia.
Tak ingin terjadi sesuatu pada ketiga bayi itu, Anna dan Hilya langsung memposisikan diri tidur menelungkup di atas para bayi untuk melindungi mereka. Tentu saja sambil menahan bobot tubuh masing-masing agar tak menyakiti ketiga bayi itu. Aksi Anna dan Hilya membuat siluman itu makin kesal karena gagal mendapatkan mangsanya.
Nampaknya siluman itu tak kehilangan akal. Merasa gagal mendapatkan ketiga bayi itu, ia memanfaatkan kelemahan Hilya untuk mendapatkan keinginannya. Setelah melesat ke atas siluman itu kini menukik ke bawah dengan menyasar bagian bawah tubuh Hilya.
Bayan yang melihat siluman kuyang itu menyerang keluarganya pun bergerak cepat.
"Jangan ganggu keluargaku !" kata Bayan lantang sambil melemparkan besi di tangannya kearah siluman itu.
"Bugh ... !"
Besi tepat mengenai kepala siluman itu hingga terhempas ke dinding. Siluman itu nampak mengibaskan kepalanya sejenak lalu kembali melesat kearah tempat tidur untuk menyerang para bayi.
Suara lantang Bayan menyadarkan Nathan. Ia pun bangkit meninggalkan dokter Yusuf yang terkapar sambil memegangi lehernya itu, lalu berlari cepat kearah tempat tidur untuk menghadang serangan siluman kuyang yang mengarah pada keluarganya.
Tepat saat siluman kuyang membuka lebar mulutnya untuk menancapkan gigi taringnya pada belakang tubuh Hilya, saat itu lah Nathan berhasil meraih rambut sang siluman lalu menariknya ke belakang dengan sangat keras. Setelahnya Nathan melayangkan tinjunya berkali-kali tanpa ampun tepat di wajah siluman itu hingga siluman itu menjerit kesakitan.
Siluman itu menggelepar tak berdaya dalam. cengkraman Nathan.
Tak cukup dengan menghajar siluman itu. Bahkan saking kesalnya Nathan merenggut organ dalam yang menggantung di bagian bawah siluman itu, menariknya dengan keras hingga usus yang menjuntai itu putus. Setelahnya Nathan melemparkan potongan usus itu ke sembarang arah.
Aksi Nathan membuat Bayan, dokter Abraham juga dokter Yusuf yang masih terkapar di lantai sambil memegangi lehernya itu terkejut bukan kepalang. Mereka tak menyangka jika sosok Nathan yang humoris bisa berubah jadi menakutkan saat mengamuk.
"Sekarang apa lagi yang mau Kau lakukan ?. Apa ?!" tanya Nathan lantang sambil menatap wajah siluman kuyang itu dari dekat.
Saat itu Nathan masih mencengkram rambut siluman itu dan memegangnya sedemikian rupa hingga ia bisa berhadapan langsung dengan siluman itu. Wajah siluman kuyang yang menyeramkan tambah tak berbentuk akibat pukulan yang Nathan layangkan tadi. Kedua mata dan wajahnya bengkak dan mengeluarkan darah di beberapa bagian. Tapi itu tak membuat Nathan iba.
__ADS_1
Di luar dugaan, siluman itu tiba-tiba tersenyum. Kedua matanya yang semula terpejam mendadak terbuka. Mulutnya yang semula tertutup pun kini kembali terbuka dan memperlihatkan taringnya.
Meski terkejut tapi Nathan tak gentar. Ia sengaja menatap siluman itu dengan lekat seolah menunggu apa yang akan dilakukan siluman itu.
Dan tanpa disadari semua orang. Tubuh tanpa kepala milik Rosi yang tergeletak di lantai tiba-tiba bergerak. Secara perlahan tubuh itu bangkit, duduk lalu berdiri.
Dokter Yusuf adalah orang pertama yang melihat tubuh Rosi bergerak dan berjalan. Ia menepuk tangan dokter Abraham yang saat itu berjongkok di sampingnya.
"Ada apa dok, kenapa Saya dipukul ?" tanya dokter Abraham.
"I ... itu. Ma-mayat itu," sahut dokter Yusuf lirih sambil menunjuk ke belakang dokter Abraham.
Dokter Abraham menoleh ke belakang dan terkejut bukan kepalang saat melihat tubuh Rosi yang tanpa kepala itu berdiri menjulang di belakangnya.
"Astaghfirullah aladziim !" kata dokter Abraham sambil bangkit berdiri lalu bergeser menjauh.
Bayan dan Nathan refleks menoleh kearah dokter Abraham dan terkejut melihat tubuh tanpa kepala milik Rosi berdiri di belakang sang dokter.
Melihat rekannya disakiti, dokter Abraham tak tinggal diam dan bergegas membantu. Ia menarik tangan wanita tanpa kepala itu dengan maksud agar cekikkannya pada leher dokter Yusuf terlepas. Tapi tindakan dokter Abraham justru membuat cekikan pada leher dokter Yusuf semakin kuat dan membuat dokter Yusuf hampir kehabisan nafas.
Melihat rekannya sekarat akibat tindakannya, dokter Abraham pun melepaskan cekalan tangannya.
Kemudian dokter Abraham meraih besi yang dipegangnya tadi lalu menancapkannya tepat di perpotongan leher wanita tanpa kepala itu. Terdengar suara menggelegak yang menjijikkan saat besi berhasil masuk ke dalam tubuh wanita tanpa kepala itu. Dokter Abraham pun memejamkan mata saat melakukannya karena tak kuasa melihat potongan leher yang dipenuhi potongan kaca.
Saat besi menancap di potongan lehernya, tubuh tanpa kepala itu melepaskan cekikan tangannya dari leher dokter Yusuf. Kemudian Bayan bergegas menarik tubuh sang dokter agar menjauh dari dokter Abraham dan tubuh tanpa kepala milik Rosi. Sambil membawa tubuh dokter Yusuf menjauh, Bayan juga sempat mengingatkan dokter Abraham agar tak larut dalam emosinya.
"Jangan ditekan semua dok !. Sisakan sedikit supaya dia dan kepalanya ga bisa menyatu nanti !" kata Bayan mengingatkan.
Dokter Abraham pun mengangguk. Perlahan ia membuka matanya lalu menjauh karena tak kuasa menahan ngeri menyaksikan darah yang meluap keluar dari potongan leher Rosi.
__ADS_1
Sementara itu siluman kuyang yang berada dalam cengkraman Nathan nampak terkejut melihat apa yang dilakukan dokter Abraham pada tubuhnya. Siluman itu menggeram dan menjerit sambil berusaha melepaskan diri dari cekalan Nathan.
Rupanya hal itu tak hanya mengejutkan sang siluman tapi juga Nathan hingga tak sadar cekalannya pada rambut siluman kuyang sedikit mengendur. Dan kesempatan itu dimanfaatkan dengan baik oleh sang siluman. Dengan hentakan yang keras ia berhasil lepas dari cekalan Nathan lalu melesat ke langit-langit kamar.
Sadar buruannya terlepas, Nathan pun menjerit panik. Ia memaki sambil berusaha mengejar siluman itu. Bayan yang memang selalu siaga itu pun menggeleng pertanda tak ada lagi yang bisa mereka lakukan.
"Lepaskan dia Nath !" kata Bayan.
"Tapi Yah ...," ucapan Nathan terputus saat melihat sang ayah menggelengkan kepala.
"Siluman itu bakal mati tapi bukan di sini tempatnya. Biarkan dia mencari tempat lain untuk tempatnya berakhir karena Kita tak mungkin membereskan kekacauan yang dibuatnya," kata Bayan.
"Baik Yah," sahut Nathan pasrah.
"Dan Kalian, berhenti menelungkup begitu. Kasian Cucuku kalo harus menanggung bobot tubuh Kalian yang ga ringan itu !" kata Bayan sambil menatap kearah Anna dan Hilya.
Sadar jika kalimat itu ditujukan pada mereka, Anna dan Hilya pun bangkit menjauh dari ketiga bayi yang masih terlelap itu.
Anna dan Hilya belum bangkit sempurna saat siluman kuyang itu melesat cepat menuju jendela yang pecah tadi. Dan tanpa bisa dicegah siluman itu keluar diiringi jeritan parau yang keluar dari mulutnya.
Dan sesuatu yang mengejutkan pun terjadi. Tubuh tanpa kepala milik Rosi tiba-tiba bergerak lalu berlari kearah jendela. Dan setelahnya tubuh tanpa kepala itu melompati jendela lalu kabur.
"Jangan dikejar dokter !" cegah Bayan saat melihat dokter Abraham berniat mengejarnya.
"Ini ga masuk akal tapi Saya ga mau membiarkan dia membuat kekacauan lagi Pak Bayan," sahut dokter Abraham gusar.
"Percaya lah, dia ga akan bisa mengacau lagi dokter," sahut Bayan sambil tersenyum getir.
Ucapan Bayan membuat semua orang tertegun. Mereka ingin percaya namun kembali terkejut melihat Bayan yang tiba-tiba berlari kearah pintu dan pergi begitu saja.
__ADS_1
\=\=\=\=\=