
Suasana di dalam kamar dimana tubuh Rosi yang tanpa kepala itu tergeletak mendadak hening. Bahkan ketiga bayi yang tadi menggeliat gelisah nampak tidur dengan nyenyak.
"Bund ...," panggil Hilya.
"Hmmm ...," sahut Anna sambil menoleh kearah menantu cantiknya itu.
"Aku ..., maksudku kenapa Anak-anakku mendadak tidur pules gini ya Bund. Padahal baru beberapa detik yang lalu mereka melek dan bersuara," kata Hilya bingung.
"Anak-anak Kita terkena hipnotis yang dikirim siluman itu untuk melumpuhkan calon mangsanya Sayang," sahut Nathan sambil terus menatap ke jendela.
"Apa ?!" kata Hilya tak percaya.
"Sssttt ..., pelankan suaramu. Ada bagusnya Kamu dan Bunda pura-pura tidur supaya siluman itu mengira hipnotisnya juga bekerja pada Kalian," kata Nathan sambil menyilangkan jari telunjuk di depan bibirnya.
"Tapi Aku ...," ucapan Hilya terputus saat Anna memotong cepat.
"Kita turutin aja saran Nathan, Hil. Bunda ga tahan berada dalam situasi ini lebih lama. Ini ga enak banget," kata Anna sambil mulai berbaring.
Hilya nampak ragu. Ia menatap ke sekelilingnya sekali lagi lalu mengangguk. Meski sedikit kesulitan karena luka di perutnya kian lebar dan mengeluarkan darah, namun Hilya berhasil membaringkan diri di samping ketiga anaknya. Kini posisi Hilya dan Anna berbaring mengapit tiga bayi kembar itu.
Melihat Ibu dan istrinya berbaring, Nathan pun tersenyum. Ia mengacungkan jempol kearah mereka hingga membuat Anna dan Hilya ikut tersenyum.
Sementara itu di luar kamar tepat di samping jendela.
Siluman kuyang nampak melayang lebih rendah untuk mengamati kondisi di dalam kamar. Siluman kuyang nampak menyeringai saat mengetahui kamar itu sepi. Rupanya siluman kuyang mengira jika ia berhasil membuat para pria yang mengejarnya keluar dari kamar itu dengan aksi yang ia lakukan di kamar bayi tadi. Karena saat ia amati, ia tak melihat Bayan, Nathan, dokter Abraham dan dokter Yusuf di sana. Ia hanya melihat dua wanita dan tiga bayi yang berbaring berhimpitan di atas tempat tidur.
Siluman kuyang nampak melesat ke atas sekali lagi sebelum masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Semua orang di dalam kamar, kecuali ketiga bayi, nampak menahan nafas menunggu siluman itu masuk ke dalam kamar.
Dan dalam hitungan detik setelah Anna dan Hilya berbaring sambil pura-pura memejamkan mata, siluman kuyang itu masuk ke dalam kamar. Bukan menyerang ketiga bayi Hilya tapi langsung melesat menghampiri tubuhnya.
Saat melihat tubuhnya ditutupi selimut, siluman kuyang nampak bingung. Ia melayang-layang di atas tubuhnya seolah mencari cara agar bisa segera menyatukan diri. Nampaknya siluman itu juga lupa jika lehernya telah ditaburi pecahan kaca oleh Nathan tadi.
"Susah ya ?. Perlu bantuan ga ?" sebuah suara terdengar menyapa secara tiba-tiba dan itu mengejutkan siluman kuyang.
Siluman kuyang menoleh dan terkejut melihat empat pria yang dia kira pergi keluar kamar ternyata ada di belakangnya dalam posisi siaga.
Siluman kuyang pun menggeram marah. Ia panik karena sadar dirinya dijebak.
Saat itu Bayan dan dokter Abraham nampak berdiri gagah sambil memegang besi sepanjang lima puluh sentimeter di tangan masing-masing. Sedangkan dokter Yusuf nampak memegang sapu lidi yang biasa digunakan untuk mengibas tempat tidur. Dan Nathan berdiri sambil bersedekap. Meski pun terlihat santai tapi siluman kuyang itu tahu jika Nathan menyembunyikan sesuatu di dalam genggaman tangannya.
Sadar tak akan bisa lari kemana pun, siluman itu pun menjerit marah. Jeritan siluman kuyang itu membuat Anna dan Hilya bergidik ngeri. Meski penasaran ingin melihat wujud siluman itu dari dekat, namun keduanya memilih tetap memejamkan mata sambil memeluk tiga bayi yang ada bersama mereka dengan erat.
Bayan, dokter Abraham dan dokter Yusuf nampak mengayunkan benda di tangan mereka masing-masing untuk menyambut serangan siluman kuyang. Pertempuran pun tak terelakkan. Yakin jika tiga pria itu bakal mampu menghadapi siluman kuyang, Nathan melangkah cepat kearah tubuh Rosi untuk menarik selimut yang menutupi tubuhnya.
Saat Nathan menyibak selimut, sebuah pemandangan yang tak sedap dipandang mata terpampang di depannya. Ternyata setelah ditinggalkan beberapa waktu, tubuh Rosi yang tanpa kepala itu mulai membusuk. Kondisi kulit nampak mengelupas dan sedikit berlendir. Nathan tak mengerti mengapa proses pembusukan cepat terjadi padahal baru beberapa waktu yang lalu ia menutupi tubuh itu dengan selimut. Bahkan aroma tak sedap yang keluar dari tubuh tanpa kepala itu langsung menguar di dalam ruangan begitu saja hingga membuat semua orang merasa tak nyaman.
Rupanya siluman kuyang juga menyadari ada sesuatu yang tak beres pada tubuhnya. Sambil menyerang Bayan cs, sesekali ia melirik kearah tubuhnya yang terkapar di lantai itu dengan perasaan berkecamuk. Dari ketinggian siluman kuyang bisa melihat kondisi tubuhnya yang mulai membusuk dan itu membuatnya marah hingga siluman itu menggeram sekali lagi.
Saat siluman itu menggeram, dokter Yusuf menyabetkan sapu lidi yang dipegangnya kearah siluman itu dengan keras dan tepat mengenai wajahnya. Akibatnya wajah siluman yang terbilang menyeramkan itu kini memiliki bekas luka bergaris-garis seperti helaian sapu lidi tepat di bagian depan wajahnya, melintang dari kanan ke kiri tepat di atas hidungnya.
Dan melihat keterkejutan siluman kuyang membuat dokter Yusuf tertawa. Nampaknya siluman kuyang itu tak menduga akan diserang diam-diam oleh dokter Yusuf. Nathan yang melihatnya pun ikut tertawa karena merasa ekspresi wajah siluman kuyang terlihat lucu.
Dokter Yusuf menghentikan tawanya saat siluman itu menoleh kearahnya. Setelahnya sang dokter refleks sembunyi di belakang tubuh Nathan karena tak nyaman dengan tatapan siluman kuyang yang mengarah padanya.
__ADS_1
"Kok ngumpet dok ?" tanya Nathan di sela tawanya.
"Gapapa Mas. Saya ga nyaman liat tatapan siluman itu," sahut dokter Yusuf.
"Ga nyaman atau takut ?" goda Nathan.
"Kayanya dua-duanya deh," sahut dokter Yusuf sambil nyengir hingga membuat Nathan kembali tertawa.
Melihat Nathan bersikap santai saat berhadapan dengan siluman kuyang membuat dokter Abraham ikut tersenyum. Ia menduga jika Nathan dan Bayan adalah sepasang anak dan ayah yang biasa menghadapi siluman sejenis.
"Cukup Nath !. Jangan membuang waktu lagi !" kata Bayan mengingatkan.
"Iya Yah, maaf. Aku bakal lebih fokus kalo dokter Yusuf melepaskan tangannya dari bajuku. Aku ga bisa bergerak kalo dokter Yusuf terus begini," sahut Nathan sambil melirik ke belakang tubuhnya.
"Kemari dok !. Atau kalo mau Kamu boleh tunggu di sebelah sana," kata Bayan sambil melirik kearah tempat tidur.
"Ga usah Pak Bayan. Saya bukan pengecut ya. Saya kan laki-laki, masa kumpul sama wanita dan bayi," sahut dokter Yusuf sambil mencibir lalu melepaskan cekalan tangannya dari belakang pakaian Nathan.
Setelahnya dokter Yusuf pun melangkah mendekati dokter Abraham dan Bayan. Namun saat dokter Yusuf sedang melangkah, tiba-tiba siluman kuyang menyerangnya tanpa ampun. Nathan ingin mengingatkan namun terlambat karena siluman kuyang telah menggigit leher dokter Yusuf.
Jeritan pun keluar dari mulut dokter Yusuf saat siluman itu mencabik lehernya.
"Dokter Yusuf !" panggil Bayan, Nathan dan dokter Abraham bersamaan.
Untuk sejenak suasana di dalam kamar menjadi kacau. Siluman kuyang nampak melesat cepat ke langit-langit kamar setelah melukai dokter Yusuf. Dari ketinggian siluman itu bisa melihat apa yang dilakukan Bayan cs di bawah sana. Kemudian siluman itu menoleh kearah tempat tidur dan tersenyum lalu bergegas menukik ke sana.
\=\=\=\=\=
__ADS_1